Ralia meletakkan tasnya di meja ruang tamu lantas pergi ke ruang tengah. Di sana ia melihat sang ayah sedang menulis sesuatu dan sesekali menghitung uang. Ralia menarik pegangan pintu lemari pendingin lalu meraih botol air. “Ayah pergi ke pasar, ya?” tanya Ralia setelah menuangkan air dalam botol ke dalam gelas. Arif menoleh. “Enggak. Tadi Yono ke sini. Setor.” Ralia meletakkan kembali gelas setelah isinya habis. “Ayah, untuk sekarang, sebaiknya Ayah enggak perlu pikirkan soal toko di pasar dulu. Urusan itu biar karyawan Ayah yang urus. Kita, 'kan sudah percaya sama Mas Yono.” Arif membalik selembar kertas di buku catatannya. “Iya, Ralia. Ayah hanya hitung saja. Kita juga harus tetap mengawasi.” “Ayah enggak percaya sama Mas Yono?” “Percaya. Ayah hanya menghitung saja, mencatat yang

