Lorong rumah sakit yang dingin mencekam. Aura Rayyan begitu dominan. Tak lama kemudian, Jena, Rissa, dan Tuan Wijaya tiba dengan napas tersengal. Tuan Wijaya yang melihat istrinya menangis histeris segera mendekat dengan penuh tanda tanya. "Ada apa sebenarnya?" Tuan Wijaya memberanikan diri bersuara di tengah tatapan tajam Rayyan. "Dan... benarkah berita yang kudengar tadi? Benarkah dia adalah Zefa, anak kita?" Nyonya Wijaya tergugu, suaranya hilang oleh isak tangis yang menyesakkan. Hatinya perih, saat mengingat kembali bagaimana ia menghina dan menyiksa Nara tadi. "Aku tidak tahu, Pah... tapi... dia memiliki tanda lahir yang sama persis dengan Zefa. Di belakang telinganya," jawab Nyonya Wijaya terbata. Mungkinkah tanganku sendiri yang menjadi penyebab kematian putriku? batin Nyonya

