Nara berjalan dengan langkah berat menuju ruang ganti yang terletak di area kolam renang lantai atas. Di belakangnya, Nyonya Wijaya, Jena, dan Rissa sempat berhenti sejenak untuk berbicara serius. "Jena, ingat! Rayyan dan keluarganya bukan orang bodoh. Kita harus sangat berhati-hati dalam bertindak," bisik Nyonya Wijaya tajam. Jena yang cemas akan kebenaran hubungan Rayyan dan Nara pun mulai panik. Wajahnya pucat pasi. "Ma, terus aku harus bagaimana? Kalau benar dia mengandung anak Rayyan, posisiku akan terancam!" Nyonya Wijaya menyipitkan mata, raut wajahnya mengeras. "Tenang saja. Kita akan paksa dia untuk menggugurkan janin itu." "Oke, Ma. Aku ingin lihat, apakah setelah janin itu tiada, Rayyan masih mau mendekatinya," seru Jena dengan senyum sumringah. Merasa rencana mereka sudah m

