Hujan rintik-rintik turun begitu Keenan sampai di rumahnya kembali. “Hai, sayang,” sapanya seraya tersenyum selepas mencium dahi dan bibir Ingga, hal yang selalu dilakukannya setiap kali dirinya baru pulang dari kantor. Ingga hanya tersenyum tipis, tak merespon apapun. Keenan lanjut bertanya, “Elena dan Enzo sudah makan?” Ingga mengangguk, “Sudah.” “Kamu?” Ingga menggeleng perlahan, “Belum, aku tidak lapar.” “Kenapa?” ucap Keenan seraya mengernyitkan dahinya. Ingga menaikkan kedua bahunya. “Tidak tahu, sedang tidak lapar saja,” bohongnya. Padahal nyatanya Ingga jadi tak nafsu makan karena terus memikirkan Keenan. “Mau aku buatkan makanan?” “Terserah kamu,” ucap Ingga acuh tak acuh. “Ada apa, hm?” ucap Keenan seraya mengelus perlahan pipi mulus Ingga dengan ibu jarinya—bertanya se

