Erza berdiri dengan tegap di ambang gerbang sekolah, memandang Naya yang mulai menghilang terhalangq dinding. Ia menyandarkan tubuhnya pada pilar gerbang dan tersenyum gemas mengingat Naya yang semalaman tidak ingin lepas darinya, sampai akhirnya mereka tertidur dengan saling memeluk. Puk. Seseorang menepuk bahu kirinya. Erza berbalik dan, "Papah..." Karan mengangkat sebelah alisnya. "Semalam kamu tidur di mana? Dan, ngapain kamu di sini?" "Aku--" "Naya, kamu pasti abis nemuin dia, benar kan?" Erza mengangguk jujur. "Iya, maaf Pah." "Pulang dan siap-siap berangkat kuliah." Ucap Karan yang kemudian berlalu masuk ke area sekolah yang berada dalam pengelolaan perusahaannya. Erza mengernyit heran. Namun di detik kemudian, ia tersadar, Erza langsung berlari menyusul sang Ayah dan menah

