Hari demi hari, semua berangsur membaik. Keluarga Erza pun sudah menerima hubungan Erza dan Naya. Kehidupan Naya pun sudah mulai tertata kembali, ia mulai terbiasa hidup sendiri di rumahnya. Tapi ia masih saja belum bisa menerima kehadiran Ibu barunya. Ia bahkan lebih memilih menjual rumah tersebut di bandingkan harus satu atap dengan ibu sambung dan juga adik tirinya. Siang ini, Naya terlihat berdiri di depan pedagang rujak keliling dengan Erza yang berdiri di sampingnya. "Ayo pulang! Kamu mau bengong di situ terus?" Naya memberengut kesal. "Aku mau rujaknya! Beliin..." Rengeknya. Erza menggelengkan kepalanya dan menarik lengan Naya untuk pergi dari sana. Dengan terpaksa, Naya mengikuti langkah Erza. "Pelit banget sih, padahal cuma rujak..." Ujar Naya seraya bersandar pada mobil meli

