Dewi duduk di sisi Bram yang kini tertidur nyaman di ranjang rawat rumah sakit. Lelaki itu seperti tengah menikmati kedamaian sejati. Wajah pucatnya masih terlihat tak karuan. Tetapi ekspresinya sungguh tenang. Sebuah infus tersambung di lengan kirinya. Beberapa perban tampak membalut di lengan tangan dan kakinya. Wajah Bram masih terlihat bengkak. Kali ini bengkaknya berubah biru kehitaman. Di pelipis, atas mata, dagu, dan hidung. Bibirnya juga masih tampak mengerikan. Ada bekas robek yang jelas terlihat di sisi bawahnya. Di bagian tubuhnya, ada bilur-bilur biru yang menunjukkan bahwa Bram dihajar habis-habisan. Lengan tangannya dipasangi gips, mungkin mengalami retak tulang. Pintu ruang rawat Bram terbuka tiba-tiba. Ada seorang doker dan seorang perawat berusia muda memasuki ruangan.

