Bab 1. Hancur
Hujan masih mengguyur tatkala hasrat bejad seorang remaja telah mencapai puncaknya, Yohan Adhiasta menegapkan tubuh dengan kaki yang masih tertekuk, ia menatap gadis yang masih berada dibawah kendalinya dan sedari tadi ia menutup mulut gadis itu dengan tangan, tatapan tajam yang menusuk itu terasa menyakitkan bagi Yohan, yang lebih menyakitkan lagi adalah dirinya baru saja merenggut paksa kesucian seorang gadis bernama Shea Zavara, gadis yang begitu ia cintai, seseorang yang membuat hatinya berdebar setiap kali bertemu.
Sedari tadi Shea memberontak, berusaha melepaskan dirinya dari cengkeraman tangan Yohan, namun, tenaganya tidak sebanding dengan remaja yang terkenal akan kecerdasan serta ketangkasannya, Yohan bahkan menutup mulutnya rapat dengan tangan kiri, hingga sulit baginya untuk berteriak, ia telah begitu banyak mengeluarkan tenaga dengan memberontak hingga tubuhnya kini sangat lemas. Yohan yang dikenalnya sebagai sosok pria yang baik dan sopan, satu-satunya orang yang bersikap baik padanya selama di Sekolah, tidak lebih dari seorang penjahat.
Apa yang baru saja Yohan lakukan, Shea sama sekali tidak menikmatinya, yang ada hanya rasa sakit dan panas yang mendera d**a hingga terasa sangat sesak, Shea merasa hidupnya hancur seketika, ingin rasanya ia melemparkan ribuan cercaan pada pemuda yang tengah menatap sendu ini, melampiaskan seluruh amarah serta kekecewaan yang telah memucak.
Hati Yohan begitu tercabik melihat air mata Shea yang telah membasahi telinga sampai ke rambut, tanda bahwa ia telah menancapkan luka yang begitu dalam. Walau merasa takut, Yohan beranjak dari posisinya dan turun dari atas tubuh Shea, ia juga melepas tangannya yang sedari tadi membungkam mulut seseorang yang telah menganggapnya sebagai teman.
Segera, Shea pun beranjak, ia merasa miris dengan tubuh yang tidak tertutup sehelai benang pun sehingga Yohan bisa melihat dirinya yang begitu polos, Shea menekuk lutut dan menutupi bagian d**a dengan tangan, ia tidak mau tubuhnya kembali dilihat oleh pemuda bajing*n yang hanya berjarak lima puluh cm darinya itu. Beberapa saat kemudian, nampak dalam netranya Yohan memberikan pakaian yang tadi ditanggalkan secara paksa.
Shea mengambil pakaian miliknya dengan kasar, ia kemudian bergegas memakai kembali seluruh pakaian itu. Padahal, dalam hati ingin sekali ia berteriak, tapi, entah mengapa mulutnya seakan terkunci hingga sulit baginya untuk bersuara.
Yohan pun berbalik membelakangi Shea, dengan hati yang masih teriris, Yohan juga mengenakan kembali seluruh pakaian untuk menutup tubuh polos yang putih dan atletis untuk ukuran seorang remaja.
Shea berdiri dari tempatnya terduduk, sesaat Shea meringis kesakitan, untuk berjalan saja rasanya begitu sulit karena rasa sakit dan ngilu yang mendera. Namun, dirinya tidak ingin berada satu ruangan dengan seseorang yang telah melukainya.
"Shea," panggil Yohan dengan suara lemah, pemuda itupun telah selesai memakai kembali pakaian yang belum lama teronggok dilantai. Ia berdiri dan berusaha memberi penjelasan pada Shea yang membelakanginya, "Aku tidak bermaksud melakukan hal itu."
Mendengar apa yang baru saja Yohan ucapkan, Shea tersenyum miris, "Jika kau tidak bermaksud melakukannya, aku tidak akan berakhir seperti ini!" ucap Shea dingin, ia melangkahkan kaki dengan tertatih, tubuhnya bahkan masih gemetar.
"Shea." Yohan meraih pergelangan tangan gadis yang sangat ia cintai. Tapi, karena ketidakberaniannya, ia memendam perasaan itu sendirian.
PLAK!
Sebuah tamparan keras mendarat pada pipi Yohan, tatapan kemarahan disertai kekecewaan mendalam terlihat dari sorot mata Shea, ia yang sudah sangat lemah seolah mendapat energi berkali-kali lipat begitu pemuda yang telah menghancurkan mahkotanya ini menyentuh tangannya. Shea pun, menarik kasar tangannya dari genggaman tangan Yohan.
"Siapa dirimu berani menyentuhku?!" teriak Shea dengan seluruh amarah yang menggelora.
"A-aku ..." tatapan dan nada bicara itu sungguh sangat menusuk hingga Yohan tidak mampu menahan rasa bersalah serta penyesalannya.
"Menjauhlah dariku mulai dari sekarang!" tegas Shea, ia kembali melanjutkan langkahnya keluar dari Klinik tempatnya bekerja, Klinik yang menjadi saksi bisu tindakan keji yang Yohan lakukan.
Shea Zavara merupakan seorang anak yatim piatu, ia timbuh dalam asuhan sang Nenek. Namun, ketika satu-satunya keluarga yang ia miliki itu meninggal empat bulan yang lalu, Shea pindah ke Desa terpencil ini, ia tinggal bersama kerabat jauh yang bersedia memberinya tempat tinggal dan pendidikan. Shea memang bukan seorang murid yang sangat pintar, tapi ia seorang yang gigih, terbukti dari dirinya yang menduduki peringkat sepuluh berturut-turut selama ia bersekolah di Sekolah lamanya.
Keluarga yang mau menampungnya memiliki dua orang anak, namun anak-anak mereka telah sukses berkuliah di Luar Negeri, bisa dibilang Bibi Zehra dan Paman Heru adalah orang terpandang, mereka dikenal sebagai orang kaya di Desa karena memiliki kebuh teh yang luas beserta Pabriknya, mereka juga seorang yang terkenal dermawan. Meski begitu, Shea tidak ingin terlalu membebani mereka dengan meminta sesuatu untuk kebutuhan pribadi. Oleh karena itu, Shea bekerja pada Klinik milik Devas Rahadian, kakak kandung dari Yohan yang baru dibuka satu bulan yang lalu.
Dibawah guyuran hujan, Shea menangis tersedu meratapi apa yang belum lama ia alami, dirinya sama sekali tidak terpikir untuk menjalin hubungan dengan siapapun sampai saatnya nanti ia bisa meraih segala impiannya dan membalas budi pada Zehra dan Heru, dua orang yang sangat baik dan berjasa untuknya. Namun, akankah dirinya bisa meraih impian itu dengan diri yang sudah hancur berkeping-keping?
Ada banyak hal yang Shea pikirkan, ia begitu ketakutan hingga dirinya ingin sekali menyerah akan hidup, terlalu sulit baginya untuk meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja.
***
Yohan kembali ke Rumah yang jaraknya hanya sekitar sepuluh meter dari Klinik dengan tubuh yang basah akibat guyuran hujan. Begitu dirinya masuk, ia disambut oleh senyum simpul Dev, kakaknya itu menutup buku bersampul biru ketika dirinya masuk ke Rumah. Rasa sesak merayap dalam d**a membuat air matanya turun, ia merasa bersalah pada sang Kakak yang telah mendidiknya dengan begitu baik juga menanamkan nilai-nilai moral.
Sejak kecil, Yohan dan Dev memang tinggal bersama Nenek mereka, Yuniarti, sedangkan sang Ibu, Hasna Lestari memiliki bisnis toko peninggalan sang Suami yang cukup besar di Kota, ia merupakan tulang punggung keluarga. Ayah kedua bersaudara ini telah meninggal ketika Yohan masih begitu kecil, dimata Yohan, Devas adalah kakak sekaligus sosok Ayah baginya, ia mendapatkan kasih sayang dan didikan yang baik dari Dev walau jarak usia mereka hanya terpaut enam tahun.
"Sudah pulang? Kenapa main hujan-hujanan malam-malam begini?" tanya Dev menatap kearah Yohan dengan raut wajah cerah mendapati adiknya yang bertingkah seperti anak kecil.
Yohan hanya menggeleng pelan, ia tak mampu untuk berkata. Apalagi, mendengar suara Dev saja sudah membuat batinnya tersiksa oleh penyesalan hingga terasa begitu sakit, tanpa terasa bulir air mata jatuh dari sudut mata Yohan.
Dev meletakan buku yang berada dalam genggamannya itu keatas meja, raut wajah Dev berubah khawatir mendapati Yohan yang terlihat sangat sedih, Dev beranjak, "Ada apa? Apa kamu ada masalah, Han?"
Yohan tidak mampu menjelaskan apapun, ia hanya menanggapi pertanyaan Dev dengan senyum, senyum yang terlihat jelas sangat dipaksakan. Segera, Yohan berlari menuju kamarnya yang terletak tepat disamping ruang tamu, ia tidak ingin menangis pilu didepan Devas.
Dev bingung dengan tingkah Yohan yang tidak biasa ini, 'Apa yang membuatnya begitu sedih? Apa nilainya turun? Atau berkelahi dengan teman-temannya?' berbagai macam spekulasi muncul dikepala Dev, ia menatap pintu kamar Yohan yang baru saja ditutup dengan kasar.
Dev melangkahkan kakinya menuju pintu kamar Yohan, tidak butuh waktu lama karena jaraknya cukup dekat, ia mengetuk pintu tersebut, "Kamu kenapa, Yohan? Apa ada masalah?" tanya Dev kembali dengan kekhawatiran yang masih sama.
Yohan duduk diatas lantai dan bersandar pada pintu dengan memeluk lutut, ia menenggelamkan wajahnya disana. Mendengar pertanyaan Dev membuat d**a Yohan semakin sesak, ia terlalu kecewa pada dirinya sendiri hingga tak ada kata yang bisa mengungkapkan seluruh rasa sakit dan luka yang ia tancapkan sendiri.
Seandainya saja dirinya bisa mengendalikan diri dan tidak terbujuk oleh iming-iming temannya akan uang lima ratus ribu yang dijadikan hadiah untuk taruhan, taruhan tentang siapa yang bisa meniduri si anak baru, Shea, dialah pemenangnya. Maka, dirinya tidak akan berakhir semenyedihkan ini.
Yohan merutuki dirinya yang tidak ingin menanggung rasa malu karena olokan mereka yang menyebut ia menyukai Shea. Padahal, hal tersebut memang benar adanya, Yohan akhirnya berani untuk melakukan hal keji itu secara paksa pada Shea demi menjaga nama baiknya yang terkenal tidak akan terkalahkan dari siapapun.