82. Di bawah atap

1500 Kata

Harpa menguap. Keduanya terlalu lama berdiam diri hingga rasa kantuk menyerang. Jika terus dibiarkan mungkin semua ini akan berakhir dengan kegagalan. Adras melihat ke arah jam dinding. "Aku gak boleh nyerah. Aku harus memenangkan perasaan Harpa," batinnya. "Tadi Gera marah-marah saat rapat. Dia beralasan merasa dikhianati akibat Anda mengganti line debut tanpa persetujuan direktur," ungkap Adras. "Terus apa yang kamu bilang?" Harpa terlihat penasaran. Adras menghadap ke arah Harpa. Kini keduanya saling bertatapan. "Saya bilang selama ada orang sirik di dalam ruangan itu, CEO tak bisa melakukan sesuatu dengan apa adanya," jawab Adras. Harpa terkekeh. "Pasti dia kena mental banget, kan? Makin kesal dia pasti sama kamu." "Sudah pasti. Matanya saja sangat tajam saat menatap saya. Pas say

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN