Chapter 14 - Jatuh Cinta

972 Kata
Luna melihat Alexa yang sedang berjalan ke arah ruangan Gerald. Dengan sengaja, Luna berpura-pura seperti tidak sadar ada Alexa dan mengetuk pintu ruangan Gerald. Gerald yang mengira sosok tersebut adalah Alexa langsung membuka pintu dan seketika Luna memeluk Gerald. Gerald yang sadar bahwa sosok yang memeluknya adalah Luna langsung melepaskan pelukan tersebut. Luna berpura-pura menangis seolah-olah seakan memberikan alasan bahwa Ia butuh Gerald sebagai tempatnya berkeluh. Alexa yang melihat adegan kedua orang tersebut merasa kesal. Sangkin kesalnya Ia sengaja berjalan melewati Gerald dan Luna. Gerald terlihat panik ketika sadar jika Alexa melihatnya sedang bersama Luna. Buru-buru Gerald menarik tangan Alexa, menyuruhnya untuk masuk. "Ngapain? Udah sana ada pacar bapak juga! Ngapain ngajak-ngajak saya masuk ke ruangan Bapak!" ucap Alexa dengan nada tinggi sambil menangkis genggaman Gerald pada lengannya. Luna tersenyum sinis melirik ke arah Alexa. Rasanya tangan Alexa sudah tidak sabar untuk menjambak rambut Luna. "Sengaja banget dia, dasar nenek lampir", batin Alexa. Gerald yang melihat respon Alexa semakin bersalah. "Gak gitu xa, aku bukan sengaja pelukan sama Luna. Kamu tau sendiri ini kan kampus, aku gamungkin gitu", Gerald memberikan penjelasan. "Yee... bodoamat sengaja juga gapapa", balas Alexa. Alexa juga sebenarnya heran mengapa Ia harus bersikap seperti itu. Hatinya terasa panas, seperti tidak terima ada wanita lain yang terlalu dekat sama Gerald. Toh, bukannya bagus jika Gerald sama Luna? Jadi kan dia bisa bersama Aldiansyah. Cinta pertamanya, tanpa harus ada drama berpura-pura sudah putus. Gerald menatap wajah Alexa dengan tatapan bersalah. Alexa baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba lengan kekar Gerald sudah menariknya masuk ke ruangan Gerald. "Lun, sorry, gue kayaknya harus ngomong bentar sama Alexa. Kalau ada yang mau lo omongin sama gue, bisa tunggu dulu di lobby?"tanya Gerald tanpa basa basi. Luna yang melihat adegan tersebut kesal, karena lagi-lagi Gerald lebih memilih Alexa daripada dirinya. Apa benar Gerald benar-benar sudah melupakannya, batinnya. Gerald mengunci pintu ruangannya. Menarik Alexa kepelukannya. Tentu saja Alexa memberontak kesal. Kesal karena melihat adegan romantis pagi-pagi dan kesal, karena respon dirinya sendiri. "Ngapain meluk-meluk? Enak banget abis peluk yang tadi, terus peluk-peluk gue", cibir Alexa. Gerald sudah tidak bisa menahan kegemasannya dengan kecemburuan Alexa. Gerald memegang wajah Alexa dengan kedua tangannya. Melumat bibir Alexa dengan lembut. Alexa yang masih sangat kesal tidak terima, Gerald mencium dirinya. Namun, kepala dan tenaga Alexa seperti terhanyut dalam kelembutan bibir Gerald. Wangi mint dari tubuh Gerald semakin tercium dengan jarak yang sangat dekat ini. Sesekali Gerald mengelus tubuh belakang Alexa. Ciuman lembut mulai berubah menjadi ciuman penuh gairah. Alexa tidak tahu mengapa tangannya bisa dengan lihat membuka gesper yang tertaut di celana panjang Gerald. Gerald membantu Alexa untuk menurunkan celananya. Menarik dress hitam yang Alexa kenakan dan mulai menyentuh bagian di dalamnya. Alexa mengerang menandakan bahwa Ia benar-benar sudah di luar kontrol. Gerald mendengar desahan yang keluar dari mulut Alexa semakin bersemangat menunduk untuk mencium setiap bagian yang berada di antara kedua paha Alexa. "Rald, ayo, aku mau sekarang!" perintah Alexa sontak membuat Gerald tertegun sebentar. Alexa yang saat ini di hadapannya sunguh berbeda. Gerald semakin tidak tertahankan. Tanpa melihat situasi dan lokasi, Gerald memutuskan untuk memasukan miliknya ke Alexa. Dengan meja yang menyanggah mereka berdua sampai pada puncaknya. Gerald mencium kening Alexa dengan lembut dan penuh kasih sayang. Alexa berusaha kembali kebatas kesadarannya. Ada apa dengand irinya! Kenapa Ia selalu tidak dapat mengkontrol dirinya ketika bersama Gerald. Ia benar-benar sudah keluar batasan! Alexa malu sendiri.. Buru-buru Alexa membetulkan penampilannya, mencubit lengan Gerald dan melangkah kan kaki ke luar ruangan Gerald. Gerald benar-benar merasa puas. Alexa sangat tepat baginya. Baik dari sifat maupun hal seksualitas. Gerald merasa betul-betul penuh. Gerald semakin yakin untuk segera mengikat Alexa dengan dirinya. Bukan hanya dengan hubungan seperti itu, namun juga sah secara hukum. Gerald sedang menimbang-nimbang kapan Ia harus berbicara dengan orang tuanya, lalu dengan orang tua Alexa tentunya. *** "Xa darimana si? Kok Kayak Gerah banget gitu gue liat lo. Kayaknya nih kampus dingin dah", ucap Sarah polos. "Sar, gue mau cerita, tapi please jangan hujat gue ya..", ucap Alexa sambil menarik tangan Sarah menuju ke kantin. Ayu terlihat sedang mengobrol dengan teman lainnya. "Kenapa si Xa?" tanya Sarah penasaran. "Gue abis dari ruangan Pak Gerald, terus gue ketemu gebetan dari masa lalunya dia. Okeh.. langsung aja kali ya ke inti. Kayaknya gue bener-bener udah sayang deh Sar sama dia. Gue cemburu liat dia sama cewek lain. Terus pas gue ngomel-ngomel tadi, Pak Gerald berusaha nenangin gue, dia narik gue ke ruangannya, dan kita kayak gitu lagi Sar... buat kedua kalinya!! Bisa-bisanya Sar gue kebablasan lagi..", ucap Alexa bingung. "Hahahahha.. Kan gue bilang, pesona Pak Gerald tuh susah banget buat ditolak, ujung-ujungnya luluh deh.. Kalau gue jadi lo mah dalam sehari juga udah luluh Xa", ungkap Sarah sambil tertawa. "Gue harus gimana dong Sar? Gue tuh pacarnya Aldiansyah.. Tapi kok gue udah kayak gak ada rasa apa-apa sama dia. Kayak gue cewek jahat gitu loh main terima cowok asal-asal aja. Apa gue jujur aja ya ke Aldiansyah?" tanya Alexa. "Nah saran gue mending lo jujur deh Xa sama Aldiansyah secepatnya", saran Sarah. "Tapi nanti kalau si Gerald malah balik ke nenek lampir gimana? Terus kayak gue jadi membuang kesempatan gue buat coba sama Aldiansyah. Padahal kayak Aldiansyah tuh cowo yang gue impikan", ucap Alexa memastikan jawaban dari temannya tersebut. "Haduh.. ya di gas dulu aja. Toh kan si Pak Gerald sendiri yang sering bilang udah tunangan sama lo. Gue yakin kok Tante Ira pasti bakal ada di pihak lo!" ucap Sarah sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Seraya menyemangati sahabatnya ini. "Okeh kalau gitu gue nanti malem ajak si Aldiansyah makan bareng kali ya, karena ga etis gak sih kalau gue ngomongnya di chat. Kayak anak SMP mau mutusin pacar dengan alasan UN", ucap Alexa. "Ya iyalah Xa, dihujat se RT lo kalau gitu. Udah nanti malem lo chat dia ajak ketemu pokoknya!" celetuk Sarah gemas. Mereka pun masuk ke kelas dan matapelajaran hari tersebut di mulai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN