Chapter 10 - Bimbang

1788 Kata
Rasanya sangat kikuk harus duduk berdekatan seperti ini dengan Gerald. Huh, kapan si Tante Ira dan Om Setyono pulang, batin Alexa. Gerald dengan santai mengganti saluran televisi di depannya. Sesekali Gerald mengelus tumit Alexa yang sedang duduk bersila di atas sofa. Dertt...Derttt... Nada dering dari ponsel Alexa berbunyi. Terlihat nama Aldiansyah tertera di layar ponsel. "Astaga.. Kok bisa-bisanya aku lupa soal Aldiansyah. Bagaimana aku harus menjelaskan ke Aldiansyah terkait apa yang udah aku lakuin sama Gerald. Pasti Ia akan berpkiran aku cewek murahan", batin Alexa panik dengan kebodohan yang baru saja Ia buat. Bagaimana tidak, di hari yang sama setelah Ia menerima pengakuan cinta Aldiansyah, Alexa malah bisa-bisanya tidur dengan dosennya sendiri, Gerald! Alexa mulai menggeser kakinya yang saat ini sedang bersentuhan dengan lengan Gerald. Sekejap Alexa sudan beranjak dari sofa menuju ke kamaraya. "Mau kemana? Siapa yang nelfon? Angkat aja disini, gausah pake naik-naik ke kamar segala", ucap Gerald ketus. Gerald tentunya sudah sadar siapa yang menghubungi wanitanya itu. Yang Gerald tidak habis pikir adalah bagaimana Alexa masih bisa-bisanya mengangkat telepon Aldiansyah sedangkan mereka telah tidur bersama. Bukan kah sudah jelas, jika mereka seharusnya bersama. "Emm.. sebentar", pinta Alexa sambil menoleh ke arah Gerald. Alexa sudah berada di kamarnya dan sudah siap untuk mengangkat telepon Aldiansyah. "Halo Al", ucap Alexa dengan nada pelan. "Xa, kok ga ngehubungin gue pas udah sampe villa? Lagi ngapain sekarang? Masih canggung yaa sama hubungan kita ini? hahahaha", terdengar tawa Aldiansyah dari sebrang telepon. "Eh iya, maaf Al. Iya belum terbiasa dan masih bingung. Sekarang lagi nonton aja di ruang keluarga", ucap Alexa dengan nada yang sangat bersalah. Bagaimana tidak, baru hari pertama Alexa punya pacar, Alexa sudah merasa bahwa Ia telah berselingkuh. "Nonton sama siapa Xa? Pak Gerald ya?" tanya Aldiansyah hati-hati. "Iya Al, tapi Tante Ira udah pulang kok jadi gak berduaan aja", ucap Alexa berbohong karena merasa tidak enak. "Mengapa aku harus berbohong sih!! Yaampun Alexa, pacar macam apa lo. Sekalinya pacaran malah kayak gini", batinnya. "Oalah, seru dong yah. Eh Iya Xa, besok gue sama anak-anak balik ke Malang. Lo juga kan Xa?" Aldiansyah bertanya memastikan bahwa Alexa tidak memperpanjang masa liburannya. "Iya Al, besok jam 10 pagi udah start otw dari sini. Al, gue mandi dulu yah.. See you Al" ucap Alexa berinisiatif memutuskan sambungan telepon tersebut. Tidak lama setelah telepon selesai, Gerald mengirimkan sebuah pesan. Jangan lama-lama teleponnya, inget, kamu sekarang punya aku. Duh.. baru juga selesai telepon eh itu orang nyebelin udah chat aja. Dukun kali ya dia, serba tau, batin Alexa sebal. Baru Alexa akan membalas chat Gerald, chat lainnya masuk. Putus sama Aldiansyah. Atau aku yang akan ngomong ke dia kalau aku sama kamu udah dijodohin tinggal nikah tahun depan. Jadi hubungan kalian ya sia-sia. "Wah... bener-bener nyebelin itu orang! Nyebelin-nyebelin tapi lo demen juga Xa. Gimana si lo Xa, labil banget jadi cewek. Jadiannya sama Aldiansyah tidurnya sama Gerald. Nice! Udah kayak buaya betina.. Padahal baru Pertama kali pacaran", batin Alexa kesal dengan dirinya sendiri. Y. Gerald yang sedang memandangi layar ponselnya seraya terseyum melihat balasan dari Alexa. "Nah gitu dong", batinnya bahagia merasa lega. Setelah membalas pesan Gerald, Alexa memutuskan untuk tidur. Tidak lupa Ia mengunci pintu kamarnya dan mengunci connecting room yang kuncinya sudah Ia ambil dari Gerald. Ia berdoa agar apa yang terjadi hari ini hanyalah sebuah mimpi. *** Waktu sudah menunjukkan pukul 09.45 pagi. Tante Ira, Om Setyono, Mbok Iyem, Gerald dan Alexa terlihat sudah sibuk merapikan barang-barang yang akan mereka bawa kembali ke Malang. Sesekali Gerald ke Kamar Alexa untuk membantu Alexa membawa koper dan barang-barangnya. Tidak hanya itu, Gerald juga memastikan bahwa tidak ada barang yang tertinggal. Karena Gerald tahu pasti, Alexa termasuk anak yang ceroboh yang sering meninggalkan barang-barangnya. "Gerald, Alexa.. yuk ke bawah kita udah harus jalan jam 10 nih, biar di jalan ga harus buru-buru banget, bisa nyantai", terdengar suara Tante Ira yang cukup menggelegar. Membuat Gerald dan Alexa buru-buru turun. Semua personil sudah komplit. Tidak lupa Tante Ira memimpin doa agar perjalan mereka lancar dan selamat sampai tujuan. Kali ini Om Setyono yang menyetir terlebih dahulu. Semua cemilan sudah disiapkan dan dibawa oleh Mbok Iyem sebelumnya. Sesekali Gerald mencuri untuk mengenggam tangan Alexa dan mengelus kepala Alexa. "Duh ngantuk, mau senderan", celetuk Gerald. "Yaudah itu ada bantal kecil sayang, pake aja itu", Tante Ira menimpali. "Gak enak mah, enaknya di bahu Alexa", celetuk Gerald tanpa ragu. Alexa yang mendengar hal tersebut seketika malu dan terasa tidak enak dengan Tante Ira. "Apa-apaan si ini anak, bikin malu aja", batin Alexa. "Hahahaha.. tuh Mah lihat si Gerald jago banget kan ngedeketin cewek kayak Papahnya", ucap Om Setyono sambil melirik ke arah belakang dari spion mobilnya. "Iya yah pah, duh Mamah kayak salah denger apa gimana gitu. Gerald biasanya sama cewek aja ketus banget. Inget kan waktu itu yang sama anaknya temen kantor papah tuh yang dokter juga. Gerald ditanya jawabnya cuma sekalimat", ucap Tante Ira sambil mengingat-ingat betapa berbeda sifat anaknya ketika sedang berada di dekat Alexa. Alexa hanya bisa geleng-geleng kepala, sesekali mencubit tangan Gerald yang jahil mengelus-ngelus badan belakangnya. Mengelus dengan genit. Mereka pun telah sampai di pelabuhan menunggu antrian untuk masuk ke dalam kapal penyebrangan. Antrian terlihat cukup panjang yang mayoritas adalah kendaraan roda empat jenis mini bus dan truk besar. Alexa sangat antusias melihat bagaimana cara mobil masuk ke dalam kapal besar ini. Jalanan yang menanjak curam membuat mereka semua seraya menahan nafas sambil berdoa. Hanya Gerald yang terlihat santai saja. "Memang tidak ada ekspresi itu anak", batin Alexa. Mobil mereka sudah berada di atas kapal. Ada seruan agar mobil dapat dimatikan dan penumpang bisa keluar mobil untuk menunggu di ruang tunggu atau dapat menikmati deruan ombak laut. "Tante, di kapal ini ada toiletnya gak ya? Aku kebelet tante", tanya Alexa. "Oh ada sayang, tapi Tante worry, takutnya toiletnya gak bersih", Tante Ira menjelaskan. "Hmm.. gakpapa deh tante", ucap Alexa sembari izin. "Aku temenin!" pinta Gerald menarik tangan Alexa. "Jangan sendiri, sebentar aku titip tas dulu sama Papah". Sepanjang perjalanan menuju ke toilet, Gerald tidak melepaskan genggamannya dari Alexa. Ketika sampai di toilet, Gerald memang sedikit menjauh, sekalian untuk mencari angin dan melihat-lihat. Belum berapa lama terdengar suara Alexa yang sedang marah. "Hah? Itu suara Alexa marah kenapa," batinnya. Gerald mempercepat langkahnya. Betul saja, Ia mendapati Alexa yang sedang marah dengan salah seorang laki-laki yaa mungkin berumur sekitar 35 - 40 tahun. Ada seorang ibu-ibu yang ikut memarahi laki-laki tersebut. "Bapak, jadi laki-laki itu talong ya bisa menghormati perempuan. Dengan bapak menggoda Ibu-Ibu ini, walaupun hanya verbal, Bapak tuh bisa saya laporin tau gak sih terkait kasus pelecehan seksual!" maki Alexa. Terlihat dari wajah Alexa, Ia sangat kesal. Laki-laki tersebut akhirnya meminta maaf ke Ibu-Ibu tersebut dan meninggalkan mereka. "Terima kasih yah Mbak, yaampun saya kaget banget dia berani banget goda-goda seperti itu", ucap Ibu-Ibu tersebut. Alexa tersenyum mengangguk "Iya ibu, gapapah. Ibu hati-hati ya. Aku juga kaget Pertama kali lihat ada laki-laki yang kayak gitu", ucap Alexa. Gerald yang memperhatikan kejadian tersebut hanya tersenyum, Gerald semakin yakin bahwa Ia tidak salah untuk jatuh cinta lagi. Wanita yang ada di tatapannya ini, bagaikan takdir yang Gerald tidak bisa jauhkan. Dari awal kedatangannya, radar Gerald sudah radar ada angin segar yang menyejukkan hatinya yang penuh dengan bara. Sampai di ruang tunggu, Alexa langsung menceritakan kejadian yang baru saja Ia alami. Tante Ira menunjukkan wajah khawatir sambil sesekali mengangguk setuju dengan perkataan Alexa. Om Setyono bertepuk tangan kagum dengan keberanian Alexa. "Kok kamu diem aja si Rald? Kok gak bantuin Alexa. Kamu laki-laki harusnya jadi pembela dong!" ucap Tante Ira sebal dengan kecuekan anaknya. "Oh nggak tante, bukannya Gerald gak bantuin. Tapi tadi posisinya Gerald lagi gak ada, mungkin lagi jalan-jalan dikit sambil nungguin aku keluar dari toilet", bela Alexa yaa karena memang Ia tahu posisinya saat itu Gerald tidak bersamanya. "Oh gitu..." Tante Ira menganggangguk seraya menunjukkan tanda paham dengan penjelasan Alexa. Tidak beberapa terlihat semuanya mulai terlelap. Hanya Om Setyono dan Gerald yang sedang mengobrol santai. Sesekali dalam keadaan setengah tidur dan tidak, Alexa mendengar nama dia disebut-sebut dalam percakapan tersebut. Alexa merasa semakin penaspran saat Om Setyono mulai mengatakan kata-kata pernikahan. Sesekali Alexa membuka matanya, dan sesekali berpura-pura masih tidur. Gerald yang sadar dengan kelucuan Alexa, seketika menghampiri, dan mengigit tangan Alexa dengan lembut. " Ih..." teriak Alexa sambil mencubit Gerald. "Lagi pura-pura tidur sih, bisa-bisanya yaa ini anak kecil acting tidur", Gerald gemas sambil mengacak-acak rambut Alexa. Om Setyono terlihat hanya terkekeh melihat tingkah kedua anak di depannya. *** Merekapun akhirnya sampai di kediaman Om Setyono. Tante Ira menyuruh Gerald untuk mengantarkan Alexa kembali ke kostannya setelah perdebatan dan bujuk rayuan Tante Ira tidak berhasil untuk membuat Alexa menginap di rumahnya. Di perjalanan menuju ke kostan, Gerald kembali memastikan bahwa Alexa Sudan memutuskan hubungannya dengan Gerald. Alexa yang malas berdebat memilih berbohong dan mengangguk. Alexa memang sengaja tidak membuka-buka tasnya untuk mengeluarkan ponselnya. Karena jika Iya, Alexa yakin 100% Gerald akan kepo dan mengecek ponselnya untuk memastikan orang yang sedang berkontakan dengan Alexa bukan Aldiansyah ataupun laki-laki lainnya yang berusaha mendekatinya. "Sampai ketemu di kampus Xa", ucap Gerald lembut. Baru Gerald ingin mencium mening Alexa, Alexa sudah memasang jurus menghilang dan membuka pintu. "Makasih Pak Gerald", ucap Alexa. Berusaha membiasakan dirinya kembali untuk memanggil Gerald dengan sebutan Bapak. Sesampai di kamarnya, Alexa melihat ada lima panggilan telepon. 1 dari Mamahnya, 1 dari Sarah, 1 dari Angga, entah apa yang ingin Angga katakan hingga meneleponnya dan 2 dari Aldiansyah. Tidak hanya ganggilan telepon, terdapat pula 10 pesan yang lima diantaranya berasal dari Mamah dan Kak Dila. Sayangku, anakku, Kalau lagi liburan lupa deh sama mamahnya. Jangan lupa kirimin foto-foto Alexa pas di Bali yah.. Mamah mau lihat. Hihihi... Alexa tersenyum melihat pesan dari mamahnya. Tangannya mulai mengetik balasan pesan tersebut dan memilih lima foto saat dirinya di Bali. Alexa lalu mengklik pesan selanjutnya dari Kak Dila. ALEXA........ Tas Kakak kamu yah ternyata! Cubit dari jarak jauh... Alexa seketika terbayang wajah Kakaknya yang pasti sudah menyeramkan. "Hehehe.. Maafin ya Kakakku cantik. Kak Dila kan uangnya banyak, bisa beli lagi tas kayak gitu 10", balas Alexa sambil ketawa. Setelah membalas pesan Kak Dila, Alexa melihat kembali pesan masuk lainnya. Aldiansyah. Xa, udah sampai Malang? Kabarin gue ya Xa, masih belum sampai? Xa, mau makan malem di nasi timbel deket kampus gak? Xa, apa udah tidur? Yaudah See u besok di kampus ya Xa Bagaimana Alexa harus menjelaskan ke Aldiansyah, bahwa Ia harus putus dengannya. Masa pacaran cuma dua hari. Alexa benar-benar merasa bersalah karena begitu cepat memutuskan untuk menerima cinta Aldiansyah, sedangkan Ia belum tahu hatinya kini milik siapa. Terlebih lagi, Alexa sudah berbohong dengan Gerald, Ia dan Aldiansyah belum putus. Apa yang akan Gerald lakukan jika tahu. Namun, apapun drama yang terjadi besok, biarlah terjadi. Untuk saat ini Alexa sudah sangat mengantuk. Alexa memutuskan untuk mandi sebentar dan tidur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN