Chapter 9 - Cemburu

1326 Kata
Gerald merasa sangat marah melihat sikap Alexa, seperti Alexa memang sengaja menerima Aldiansyah untuk membuatnya marah. Sungguh Gerald tidak tahu harus melakukan apa lagi. Aldiansyah sudah tersenyum bahagia mendengar Alexa menerima pernyataan cintanya. Alexa sebetulnya ragu terkait perasaanya pada Aldiansyah. Ia merasa senang mengetahui jika cintanya terbalaskan, namun Ia juga merasa takut akan menyakiti Aldiansyah. Rasa cinta yang Alexa miliki saat ini benar-benar berbeda dari saat mereka masih bersekolah. Alexa melihat Gerald sekilas, terlihat kemarahan di wajahnya. Setelah mendengar ucapan Alexa, Gerald bergegas meninggalkannya dan teman-temannya. Ia pulang ke villa sendiri. Aldiansyah mencium pipi Alexa dan memeluknya dengan bahagia. Deon terlihat bahagia akhirnya sahabatnya berani menyatakan perasaanya. Angga terlihat sedikit kecewa karena Ia keduluan oleh Aldiansyah, sudah tidak ada lagi harapan baginya untuk mendekati Alexa. Sedangkan Sarah hanya memperhatikan wajah temannya tersebut. Sarah menyadari raut wajah Alexa terkesan dipaksakan untuk bahagia, sedangkan kedua matanya berusaha mencari sosok dosen yang menurutnya menyebalkan itu. Apakah Alexa yakin dengan keputusannya menerima Aldiansiah, apakah Ia tidak sadar bahwa perasaannya dengan Aldiansyah mungkin sudah berubah, batin Sarah dalam hati. Sadar bahwa sosok Gerald sudah tidak ada, Alexa hanya dapat menghembuskan nafas beratnya. Huf.. "Kenapa Xa?" tanya Aldiansyah sadar dengan ketidaknyamanan Alexa. "Gapapa Al", imbuh Alexa. "Tenang xa, bukan berarti karena sekarang kita udah officialy pacaran, kita jadi kikuk atau gimana-gimana. Gue gak masalah kita ngejalaninnya pelan-pelan, toh kita yang sekarang juga udah sangat menyenangkan", ucap Aldiansyah berusaha menenangkan apa yang ada dipikiran Alexa. "Eh, iya-iya Al. Abis ini gue pamit pulang duluan kali yah? Gue gak enak sama tante Ira kalau main kelamaan", ucap Alexa. Alexa memang sudah tidak ingin berlama-lama. Selain karena tidak enak dengan Tante Ira, Alexa merasa tidak mood saja. *** Gerald yang sudah sampai di rumah lebih dulu terlihat mondar-mandir, sambil sesekali melakukan panggilan telepon. Alexa. Ya, Gerald menghubungi Alexa berkali-kali menyuruhnya untuk pulang ke villa. Namun panggilan tersebut sepertinya sia-sia. Ada dua kemungkinan, handphone Alexa mati, atau Alexa memang tidak ingin mengangkat panggilan darinya. Gerald menunggu di ruang tamunya sambil sesekali melanjutkan pekerjaanya. Ia sudah meminta Mbok Iyem untuk mengambil laptopnya agar bisa sambil bekerja. Yaa walaupun fokus pikirannya saat ini terbagi antara kerjaan dengan Alexa. Terdengar suara pintu gerbang villa yang terbuka. Gerald beranjak mengintip dan melihat sosok Alexa mulai memasuki perkarangan rumah. Buru-buru Gerald merapihkan laptopnya dan bergegas menuju ke meja di dekat ruang makan. Berpura-pura fokus bekerja. "Dasar, cewek apaan tuh diajak pacaran langsung terima. Gak ada basa-basinya dulu. Bilang kek masih dipikir-pikir. Gampangan banget dih" ucap Gerald ketus ketika sosok Alexa sudah memasuki villa. Alexa yang mendengar ucapan Gerald masih berusaha sabar dan cuek berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya. Sial, kenapa Alexa diam saja. Apa Ia benar-benar masih mencintai Aldiansyah? gerutu Gerald dalam hati. Sesampai di kamar Alexa berkomentar sendiri."Gampangan? Bukannya dia yang cowok gampangan. Dipikir gue tadi gak liat, dia main cipika-cipiki sama cewek di tempat burger. Genit banget. Keliatannya aja ketus, aslinya mah playboy cap naga. Nyebelin banget", Alexa mengumpat di dalam kamar. Tok..Tok..Tok.. suara ketukan pintu terdengar. Krek.. "Gerald?" tanya Alexa sepontan. Tumben sekali anak itu mengetuk pintu dan bukan main masuk dari connecting room. Gerald melangkah memasuki kamar. "Kamu kenapa si Xa terima cowok itu?" tanyanya dengan nada tenang. "Yaa.. karena dari dulu emang suka sama dia, terus akhirnya pertama kalinya cinta gue terbalaskan", ucap Alexa sambil memperhatikan ekspresi Gerald. "Kamu kan udah dijodohin sama aku Xa, masa pacaran sama cowok lain. Nikahnya kan nanti sama aku Xa. Kalau cowok itu macem-macemin kamu gimana?" tanyanya. "Bukannya kamu yang suka macem-macemin aku?" ucap Alexa polos dan kesal. "Ya.. aku berani kayak gitu karena kamu bakal jadi isteri aku, jadi icip-icip dulu lah..", ucap Gerald menjawab sambil bercanda. "Mana ada kayak gitu" ucap Alexa kesal. "Yaudah, jadi jujur kenapa kamu jadian sama dia? Padahal kamu gak akan bisa nikah juga sama dia?" ucap Gerald berhati-hati. "Ya terserah dong aku mau jadian sama siapa. Kamu aja bebas cipika cipiki sama cewek yang gatau itu siapa. Keliatannya aja jutek, judes jadi cowok, padahal buaya darat", Alexa memalingkan wajahnya. "Udah sana keluar, aku mau tidur-tiduran", tambahnya. "Yaudah aku juga mau tidur-tiduran", ucap Gerald sembari tiduran di kasur Alexa. Seketika Alexa bangun, "ih... tiduran di kamarmu sana. Ini kan kamar aku", ucapnya. "Yagapapa, kan kita lagi latihan jadi suami-istri yang tidur seranjang", ucap Gerald asal sambil tertawa. Sangkin kesal dan malasanya Alexa tidak merespon. Alexa hanya menaruh tumpukan bantal dan guling yang Ia jadikan benteng dan sekat agar Gerald tidak mendekat. "Lihat ya, ini batesan, kamu gak boleh ngelewatin batas ini", ucap Alexa sambil menunjukkan benteng yang telah Ia buat. Gerald hanya menggangguk. Tidak begitu lama terdengar suara deru napas Alexa yang tampak tenang. Sepertinya Ia sudah tertidur. Gerald bangun dari tidurnya dan melihat sekilas ke sosok Alexa yang sudah pulas. Gemas rasanya melihat Alexa yang bawel menjadi super pendiam seperti ini. Gerald mengelus pipi Alexa lembut. Beberapa menit berlalu hingga Gerald pun terlelap. Benteng yang telah mereka bangun sudah tidak ada lagi. Tubuh Alexa sudah berada tepat di samping Gerald. Lengan Gerald yang kokoh merengkuhnya di dalam pelukan. Waktu menunjukka pukul 21.00, alunan lagu dari radio terdengan samar-sama. Alexa yang terbangun lebih dahulu shock dengan kondisi Ia tidur. Bagaimana bisa Ia tidur dipelukannya Gerald, batinnya. Alexa berusaha menyingkirkan lengan Gerald yang berada di pingganggnya. Bukannya tersingkir, pelukan Gerald semakin erat. Mau tidak mau Alexa harus membangunkan Gerald. "Rald, Gerald, bangun ih... berat tau lengan lo", ucapnya sambil menepuk ringan lengan Gerald. "Hmm..." ucap Gerald lirih dengan kesadaran yang belum penuh. "Buruan bangun ih, nanti dilihat Tante Ira gaenak tau." ucap Alexa mulai sebal. Bukannya bergegas bangun, Gerald malah menarik Alexa hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa cm saja. Alexa tertegun dengan polosnya, membuat Gerald tidak dapat tahan untuk segera menciumnya. Bibir Alexa sudah berada di dalam lumatan bibir Gerald. Sesekali Gerald mendesah sambil menyelusuri rongga mulut Alexa. Alexa pun mulai tidak dapat mengontrol dirinya ketika lengan Gerald sudah berada di bawah bokongnya, menyelinap masuk diantara kedua pahanya. Sesekali jari Gerald menyentuh ke dalam lapisan kain yang menutupi Alexa. Menyentuh pusat kenikmatan yang ada. Alexa tidak berhenti mendesah. Keduanya pun b******u semakin liar. Gerald berusaha membuka satu persatu kancing piama yang telah Alexa gunakan. Ketika baju tersebut terbuka, semakin terlihat indah lekuk tubuh Alexa yang hanya dilapisi bra berwana peach. Alexa pun membantu Gerald untuk melepaskan kaos yang Ia kenakan. Otot-otot perut Gerald yang biasanya Ia sembunyikan telah terlihat jelas. Sentuhan demi sentuhan dirasakan Alexa, hingga akhirnya Alexa sampai puncaknya. Ia tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Tidak lama Alexa sampai puncaknya, Gerald pun merasakan hal yang sama. Gerald mencium kening Alexa, Alexa hanya diam. Apa yang sudah Ia lakukan?! batinnya. Alexa berusaha tenang, tidak lama Ia bergegas menarik selimut dan melangkah ke kamar mandi. Alexa menyalakan keran shower dan membasuh seluruh tubuhnya. Setelah selesai, pikirannya sudah kembali jernih, mengingat apa yang telah Ia lakukan. "Kenapa aku bodoh banget sih, aku kasih hal yang paling berharga dalam hidupku ke playboy macam Gerald itu", batinnya. Setelah selesai mengeringkan tubuhnya dan berganti baju, Alexa membuka pintu kamar mandi pelan-pelan. Berusaha mengintip apakah Gerald masih ada di kasurnya. Ternyata Gerald sedang tertidur pulas. Buru-buru Alexa keluar dari kamar mandi dan mengambil handphone yang Ia letakkan di meja samping kasurnya. Alexa enggan jika harus menjelaskan atau mengingat apa yang baru saja Ia lakukan. Buru-buru Alexa ke ruang keluarga dan menyetel drama korea kesukaanya. *** Gerald terbangun. Lengannya langsung mencari sosok Alexa. "Alexa tidak ada. Kemana dia", pikir Gerald. Gerald tersenyum mengingat kejadian yang baru saja mereka lakukan. Bagaimana bisa Ia menjadi seseorang yang sangat egois. Gerald terlalu terbawa cemburu sehingga menginginkan Alexa seutuhnya menjadi miliknya. Toh, pada akhirnya Alexa akan menjadi miliknya. Gerald beranjak meninggalkan kamar Alexa. Menelusuri anak tangga, mencari keberadaan Alexa. Terdengar suara tawa kecil dari ruang keluarga. Alexa sudah berada di atas sofa dengan nyaman sambil menikmati cemilan yang telah disediakan Mbok Iyem. Gerald dengan jail menghampiri dan mengelus lembut pucuk kepala Alexa. "Hai, sayang.. kok ninggalin aku si?" edeknya. Alexa yang sadar dengan sentuhan Gerald panik dan seketika memerah. "emm.. hai", sapanya lugu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN