Chapter 16 - Long Distance Relationshit

1986 Kata
Alexa terbangun dari ranjang besar milik Gerald. Ia masih memperhatikan Gerald yang sedang tertidur pulas dan mengagumi ketampanannya. Sekali lagi Alexa jatuh cinta pada anak sahabat mamahnya ini. Sesekali Alexaa mengecek email di ponselnya berharap mendapatkan pemberitahuan menyenangkan dari kampus terkait pengajuan dirinya untuk student exchange. Karena batas pemberitahuan yang lolos hanya sampai hari ini, tepatnya pukul 12.00 WIB. Alexa beranjak dari kasur, ingin berusaha romantis membuatkan dan membawakan Gerald sarapan. Alexa keluar kamar Gerald dengan mengendap-endap, berharap Mbok Iyem tidak melihat. Tante Ira dan Om Setyono sedang berada di luar kota, sehingga Gerald berani membawa Alexa menginap di rumahnya. Lebih tepatnya di ranjangnya. Alexa merasa lega, karena sepertinya Mbok Iyem sedang ke pasar, sehingga kondisi rumah sepi. Alexa menuruni anak tangga dan menuju ke dapur. Beberapa bahan makan untuk membuat pancake telah disiapkannya. Mulai dari adonan pancake hingga topingnya. Untuk urusan memasak pancake, Alexa sudah ahlinya. Ia menambahkan s**u bubuk ke dalam adonan dan mulai menuangkan adonan ke wajan yang sudah dipanaskannya dengan mentega. Tercium aroma wangi dari pancake yang sudah hampir matang. Tidak lupa Alexa juga membuatkan pancake untuk Mbok Iyem, Mbak Ningsih dan Pak Udin. Spesial untuk Gerald Alexa langsung memberikan toping, mulai dari madu hingga ice cream vanilla. Tidak lupa Alexa membuatkan Gerald kopi yang dicampur dengan s**u cair. Berkat kebiasaan Alexa mengamati orang-orang di sekitarnya, Alexa jadi tahu kebiasaan dan kesuakaan yang mereka lakukan, terutama Gerald. Setelah selesai menyiapkan sarapan, Alexa beranjak menuju kamar Gerald. Terlihat Gerald sedang sibuk dengan ponselnya. "Kamu darimana? aku tadi bangun-bangun liat kamu gakada langsung nelfonin", ucap Gerald. "ini nih.. aku abis buatin pancake. Di makan awas kalau nggak!" ancam Alexa. Gerald langsung meraih piring pancake yang dibawakan Alexa. "Enak baby", ucapnya. Sejak kapan Gerald memiliki panggilan sayang untuknya. "Tumben bisa masak, aku kira kamu tipe yang pesen makanan hahaha", ejeknya. Tidak terima dengan ejekan Gerald, Alexa buru-buru menarik piring pancake "Gausah dimakan, aku aja yang abisin!" sebal. Gerald tertawa senang, dan menarik pelan piring tersebut lagi. Dalam hitungan detik semua pancake telah berada di mulut Gerald. "Udah gabisa, udah di mulut semua", ejek Gerald lagi. Kesal, Alexa langsung meninggalkan Gerald. Sambil mengganti-ganti saluran di televisi, Alexa kembali mengecek inbox di emailnya. Tanpa diduga-duga, email pemberitahuan masuk, menyatakan bahwa Alexa salah satu mahasiswi yang terpilih untuk study exchange. Senang bukan main Alexa sontak berjingkrak-jingrak. Tidak lupa Alexa mengucapkan rasa syukur dan buru-buru menelfon mamahnya. Terdengar suara kegemibiran dari sebrang telepon. Kak Dila yang mendengar info dari adiknya tersebut juga ikut bangga dengan Alexa. "Aduh, apa kan mamah bilang. Kamu tuh pasti lolos nak. Kamu kan giat belajar, pasti orang yang bersungguh-sungguh akan diberikan jalan", ucapnya. Tanpa disadari kebahagiaan Alexa berubah, Alexa baru sadar, jika Ia akan LDR dengan Gerald sampai enam bulan kedepan. Sejujurnya jika tau akan LDR Alexa tidak akan mengikuti program ini. Cuman kan saat itu, Gerald dan Alexa masih sering bertengkar dan tidak ada hubungan apapun. Alexa sudah memutuskan untuk membicarakan terkait hal ini esok hari. Ia ingin hari ini dipenuhi dengan perasaan bahagia. Alexa menonton siaran komedi, sesekali Ia tertawa-tawa tanpa menyadari sosok Gerald sudah berdiri di dekatnya dan mencium lembut kepala Alexa. "Sabtu-Minggu ini mau kemana kita sayang?" tanyanya sambil duduk di samping Alexa. "Gak tau.. Aku kan gak terlalu tau Malang, kamu salah nanya deh.." ucap Alexa seadanya tanpa menoleh memperhatikan Gerald. "Main ke Jakarta yuk?" ajaknya. "Ketemu mamah kamu", Gerald melanjutkan. Alexa seketika menoleh dan sangat senang. Ia memang sudah berencana untuk mengunjungi mamahnya karena rindu. Jadwal mamah Alexa yang terlalu padat membuatnya susah untuk mengunjunginya di Malang. "Mau Rald.. Mau, Mau banget asik..." Alexa histeris. "Yaudah sana siap-siap, aku tadi udh minta Mbok Iyem buat ambil barang-barang kamu, yaa karena ini ke Jakarta, kamu gausah bawa pakaian lah ya, di rumah kamu mah ada pakaian kamu kan? Soalnya Mbok Iyem cuma bawa baju buat hari ini aja. Kebetulan aku pesen tiket yang jam 10.30, cukup lah sekarang masih jam setengah 8" ucapnya. Alexa bergegas mencium pipi Gerald dan beranjak untuk bersiap-siap. Pantas saja penampilan Gerald sudah super rapih, ternyata dia memang sudah merencanakan agenda ke Jakarta ini duluan. Tidak membutuhkan waktu lama, Alexa sudah siap. Ia hanya membawa tas kecilnya saja sedangkan Gerald menggerek koper kecil yang Ia isi 2-3 baju untuk ganti dan perlengkapan lainnya. Perjalanan ke bandara tidak butuh waktu lama. Jalanan di Kota Malang hari ini juga tergolong sepi. Gerald turun terlebih dahulu, dan membukakan pintu untuk Alexa. Sepanjang perjalanan di bandara Gerald terus mengenggam tangan Alexa dan tidak melepaskannya. Gerald lantas mencetak tiket pesawat yang akan Ia naiki. Setelah itu, Ia menuju ke ruang tunggu boarding dan memesan dua minuman dingin. Alexa terlihat sangat ceria dan semangat. Sesekali Gerald mencium telapak tangan kecil Alexa yang membuatnya gemas. Gate untuk pesawat yang akan mereka naiki telah terbuka. Mereka berdua bergegas menuju ke dalam. Alexa sengaja tidak menginfokan hal ini ke mamahnya, karena Ia ingin membuat kejutan. Namun Kak Dila sudah tahu jika adiknya itu akan ke Jakarta dan berjanji akan diam-diam di rumah dan menemani adiknya tersebut dalam dua hari kedepan. Alexa memang sangat dekat dengan kakaknya, sampai-sampai entah bagaimana Alexa akan student exchange ke Malaysia, dan kakaknya juga akan ada pekerjaan di Malaysia selama tiga bulan lebih. Nantinya Alexa akan tinggal dengan Kakaknya di apartment yang Ia sewa. Tanpa disadari, Alexa tertidur bersandar di Gerald. Gerald yang sedang membaca makalah salah satu murid yang Ia ajar seketika kehilangan fokus. Alexa memang selalu membuatnya kehilangan dari fokus dan kesadarannya. Dulu saat Ia bersama Luna, Gerald tidak pernah sampai melebihi batas. Namun dengan Alexa, Gerald tidak bisa bersabar untuk menunggu hingga menikah. Untuk bisa memiliki Alexa seutuhnya, bahkan Gerald terlalu childist, sampai harus mengambil hal yang paling berharga bagi Alexa agar Alexa tidak meninggalkannya. Tanpa disadari, mereka sudah mendarat di Soekarno Hatta. Untung sebelumnya Alexa sudah mengabari Kakaknya terkait jadwal keberangkatan dan sampainya Alexa sehingga Kak Dila dapat memprediksikan waktu untuk menjemput. Betul saja ketika Alexa sudah sampai, sosok Kak Dila sudah sampai. Kak Dila sempat kaget melihat tangan adiknya yang lugu itu ada yang genggam. Namun Kak Dila merasa lega, karena laki-laki yang mengenggam adiknya itu adalah Gerald. "Hai Rald, apa kabar? masih inget gak lo sama gue?" tanya Kak Dila membuka percakapan. "Hai Dil, wah inget dong.. gue malah ingetnya sama lo, lupanya sama ini anak", ejek Gerald sambil menunjuk ke Alexa. Alexa mencibirkan bibirnya "Yee.. lupa-lupa tapi cinta mati lo sekarang sama gue!" ejeknya. Mereka bertigapun tertawa lepas. "Eh Kak, mamah belum tau kan aku dateng? Jadi ini ceritanya surpirse", ucap Alexa. "Iya belum, pasti surprise lah.. kalau kamu dateng sendiri ya surprise aja, lah ini kamu dateng bawa calon, Gerald lagi calonnya, surprise banget pasti mamah seneng bukan main", ledek Kak Dila. "Calon apa si kak.. orang aku lulus aja masih 3 tahun lagi", ucap Alexa malu-malu. Mereka bertigapun berjalan ke parkiran. Gerald memasukan kopernya ke dalam mobil, kali ini Gerald yang menyetir. Tidak mungkin kan Gerald membiarkan Kak Dila yang menyetir. Perjalanan dari Bandara ke rumah Alexa membutuhkan waktu 1 jaman. Alexa sengaja tidak mengeluarkan suara ketika sudah sampai di depan pintu rumahnya. Ia hanya menekan tombol bell. Tidak lama Mbak Dwi telah membukakan pintu rumahnya. Dengan wajah senang, hampir saja Mbak Dwi ingin berteriak memanggil mamah Alexa karena senang melihat kedatangan Alexa namun buru-buru Alexa mengeluarkan kode untuk diam. Mbak Dwi juga kaget dengan sosok laki-laki tampan yang terlihat memang sudah jauh lebih tua dari Alexa berada di belakang Alexa. Sepertinya laki-laki tersebut sepantaran dengan Dila, batin Mbak Dwi. Mbak Dwi pun memberikan kode ke Alexa, Ia pikir itu adalah pasangan Dila, namun Mbak Dwi semakin kaget karena itu adalah pasangan Alexa. Tanpa disadari Mbak Dwi senyum-senyum dan memberikan isyarat oke pada jarinya. Kebetulan mamah Alexa sedang berada di dalam kamar, Alexa mengetuk pintu kamar mamahnya.. tok..tok..tok.. "Yaa, kenapa Dwi? Masuk aja, elu pake ketok-ketok", ucap mamah Alexa yang memang lucu orangnya. Namun ketika sudah masuk terlihat wajah mamahnya histeris bahagia melihat Alexa. "Aduh yaampun sayang aku.." ucap Mamahnya sambil berlari memeluk Alexa. "Aduh.. mamahku sayang yang super sibuk sampai lupa ada anaknya di Malang" ejek Alexa. "Mana ada orang tua yang lupa sama anak" baru saja mamah Alexa ingin melanjutkan kata-katanya namun tatapnya terhenti ke sosok Gerald. Mamahnya terlihat semakin histeris "Yaampun Gerald nak, udah lama banget ga liat kamu", ucapnya yang sudah mengenali sosok Gerald. "Halo tante, apa kabar?" sapanya sambil memberikan salam. "Mah.. ada yang udah kebelet nikahin anak mamah tuh", ejek Dila. Gerald hanya terkekeh. Alexa cemberut. "Apa sih nikah-nikah.. nggak belom boleh. Nggak ya anak mamah kuliah dulu sampai lulus!" ucap mamah Alexa tegas. Alexa tersenyum puas sambil menunjuk-nunjuk mamahnya. Terlihat ada kekecewaan di wajah Gerald. "Tapi kalau tuker cicin dulu mah gapapa.. kan biar menandakan sudah di ikat", lanjutnya. "Nah iya Tante, kalau tunangan atau tukar cincin dulu boleh ya tante", renggek Gerald yang sudah tidak sabar menandai bahwa Alexa memang sudah officialy miliknya. "Yaa gapapa.. emang Gerald udah yakin banget sama Alexa? Ini anak loh kelakuannya masih kayak anak SMA", ucap Mamahnya jujur. Gerald setuju dengan menganggukan kepala, Kak Dila pun melakukan hal yang sama. Hanya Alexa yang cemberut merasa mamahnya terlalu kejujuran. "Yah gimana ya tante, abis aku udah kena pesona ini anak, jadi jatuh cinta banget" ucap Gerald sambil mengacak-acak rambut Alexa. "Hadeuhh anak muda lagi kasmaran" ucap mamahnya. "Mbak Dwi... buatin minuman Mbak.. tanyain deh tuh ke anak-anak pada mau yg dingin-dingin apa panas. Kalau si Alexa mah pasti pengennya es coklat", ucap mamahnya yang sudah tau kebiasaan anaknya. "Eh tante telfon mamah kamu dulu ya rald, mau pamer anaknya bakal jadi akan aku. Hahahah." "Apa sih mamah geli sendiri", ejek Alexa. Hari itu sangat menyenangkan, namun Gerald harus bisa menjaga jarak agar tidak lupa diri untuk bersikap ke Alexa. Ia sedang di rumah Alexa, ada mamah dan kakanya. Sedangkan Alexa sangat senang untuk menggodanya. Sampai Gerald kehabisan akal. Mereka pun kumpul kembali untuk makan malam, pembicaraan berjalan dengan baik sampai Mamah Alexa membuka topik terkait pertukaran pelajar Alexa. "Nak, kamu udah urus yang buat pertukaran pelajar kamu? Itu tinggal 2 minggu lagi loh nak. Dila, kamu jadi juga kan sayang ke Malaysia? Jadi kan nanti disana tinggal bareng?" tanya mamahnya. Alexa hampir tersedak. Gerald seketika menoleh ke Alexa tanpa mengedipkan matanya. Tangan Gerald meraih paha Alexa, sedikit menekannya. Gerald membutuhkan penjelasan dari Alexa. Mengapa Alexa tidak membicarakan hal ini dengannya terlebih dahulu. "Pertukaran pelajar berapa lama?" tanyanya terus menatap Alexa. Alexa sudah tersudut. Memang mungkin ini saatnya Ia harus jujur. " 1 semester" ucapnya pelan. "Yah.. Berantem nih.." ledek Kak Dila berusaha mencairkan suasana. Terlihat sekali dari raut wajah Gerald, dari rahang yang mengeras Gerald kesal dengan sikap Alexa yang tidak izin ataupun memberitahukan hal ini padanya. Enam bulan bukan waktu yang sebentar. Bagaimana jika saat di Malaysia Alexa bertemu dengan laki-laki lain? Bagaimana jika Alexa senaif itu untuk percaya dengan laki-laki lain dan berhasil merebut hati Alexa? Pikiran-pikiran tersebut terus berputar di kepala Gerald. Terlihat Gerald berusaha menutupi kegelisahannya dan tidak melanjutkan pertanyaanya. Alexa sesekali berusaha menyentuh Gerlad, namun Gerald menangkis sentuhan Alexa dengan kasar. "Duh... pusing nih gue, dia marah", batin Alexa. Sesekali Alexa melihat ke Kak Dila dan Mamahnya. Mamahnya menggerakan bibirnya mengatakan sorry tanpa bersuara. Alexa hanya cemberut. *** Setelah selesai makan malam, Alexa langsung menarik tangan Gerald. Memberikan penjelasan dan meminta maaf. "Maafin aku sayang..."ucap Alexa lembut berusaha membujuk. "Aku kan sama Kak Dila juga Rald disana, aku kan belajar disana biar makin pinter biar gak malu-maluin Gerald Setyono dan keluarga," ucapnya. "Kamu kenapa si selalu ngambil keputusan tanpa persetujuan aku? kamu tuh anggep aku apa si Xa? Aku tuh apa di mata kamu?" tanyanya terus. "Yaampun, aku apply itu kan dari sebelum hubungan kita gini. Aku juga gak expect jadi salah satu murid yang keterima", ucap Alexa memelas. Gerald hanya diam, menatap ke arah balkon. Alexa berusaha terus menempel-nempel dengan dirinya. "Aku setiap weekend kalau lagi gak ada jadwal di rumah sakit ke sana. Weekend kamu sama aku pokoknya", ucapnya pasrah masih dengan nada kecewa. Secepat kilat Alexa mengangguk tanda setuju.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN