Sepuluh

1945 Kata

Kai memeluk lututnya di sudut lantai yang lembab. Piyama di tubuhnya terasa dingin. Giginya gemeletuk. Di luar sana ibunya tengah bercengkerama dengan kakaknya membicarakan makanan-makanan enak. Tidak lama, terdengar Jennifer meminta dibelikan pakaian baru. "Tolong keluarkan aku dari sini," Kai merengek sesopan mungkin. Ia tidak berani bersuara lebih keras. Pengasuhnya mungkin sudah tidur saat ini. Seringkali, kala bertindak tidak sesuai kemauan Widya, ibunya, Kai dikurung di kamar mandi. Tanpa lampu. Widya tidak akan bertindak sejauh itu bila ada ayahnya. Sayang sekali, ayahnya sering bepergian. "Aku takut," ulangnya merintih. Kai takut gelap. Sembari menunggu, entah pintu dibukakan atau jatuh tertidur, Kai menghitung mundur mulai dari seratus. Ia mengulangnya lagi, dan lagi, sampai pa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN