Bertemu Abang Tria

1432 Kata
"Buk, yok pulang kita. Dah jam 8 ini" Ajaknya. "Yok..." Kami pun beranjak sambil membenahi diri. Setelah rapi, tak lupa menyampirkan tas di pundak, lalu melangkah bersama menuju Nurse station tuk absen pulang sambil berpamitan kepada para kakak pegawai. Aku dan Tria berjalan beriringan menuju ke luar gedung rumah sakit. Sampai di depan, kami pun terlebih dahulu duduk di bangku teras rumah sakit yang telah tersedia disana, sambil menunggu Abang Tria datang. Karna katanya tadi dia disuruh Abangnya tuk menunggu disini juga, sama seperti ketika Abangnya mengantar dirinya tadi siang. "Kok lama kali Abangku ya buk? Belom nongol-nongol daritadi" Sungutnya. "Sabarlah. Mungkin masih di jalan Abangmu. Tunggu aja bentar lagi" Pujukku. Drrttt... drrttt Ponsel Tria bergetar. "Halo, assalamualaikum. Abang dimana? Kok lama kali datangnya?". ............... "Oaleeee... Jadi adek pulang naek angkot gitu?". ............... "Kenapa kok bisa gitu? Gak Abang bilang rupanya tadi?". ............... "Ya udahlah, gak pa-pa. Biar naek angkot aja adek sama kawan adek". .............. "Iya loh iyaaa. Langsung pulang lah ini. Paling nanti beli makan dulu, baru pulang". ............. "Ya udah iya. Ati-ati Abang yaa??". ............. "Wa'alaikum salam...". Ku tengok jelek kali mukaknya si Tria. Rasa ku gak jadi Abangnya jemput. "Yok buk, pulang kita naek angkot". "Gak jadi dijemput kau ya?" Tanyaku. "Iyaaa... Dah di jalan dia kata Abangku tadi mau jemput aku. Tetiba di telpon pula dia sama kawannya. Katanya ada kerjaan orang itu. Dah di bilangnya bentar mau jemput aku, tapi kawannya gak sabaran. Ya udahlah, balek lagi dia" Jawabnya panjang lebar. "Yaaahhhh... Gak jadi dong aku jumpa orang ganteng?? Belom rezeki ku berarti buk" Rungutku pura-pura sedih. "Hahaha... Ngarep kali kau jumpa Abangku buk??? Hahaha... Makanya jangan terlalu berharap kau" Ejeknya padaku sambil ketawa-ketawa gak jelas. "Bukannya ngarep sih buk, cuman penasaran aja kekgimana kali sih gantengnya Abangmu itu, yang kau bilang kayak orang Korea". "Abangku putih buk, matanya rada sipit kek kau gitu. Trus tinggi lah..." Bangganya. "Iya, tinggi. Gak kayak kau kan, yang semekott. Hahahaha..." Ejekku. "Kayak kau dah tinggi kali laaahhh..." Sungutnya. "Cup cup cuuuppp... Adek manis jangan kebanyakan cemberut, nanti ilang kupingnya. Hahaha...". "Kupingmu lah yang ilang" Rungutnya. "Hahh... Berarti belom jodohku ketemu Abangmu lah Tri, ya kan??". "Baguslah... Sempat kau berjodoh sama Abangku, amit-amiiiitttt lah aku punya ipar kayak kau!!" Ucapnya sambil getok-getokkan tangannya berulang kali dari kepalanya lalu ke atas bangku. "Aku pun ogah punya ipar modelan kayak kau gini. Yang ada ribuuutttt mulu tiap hari. Tambah gak tenang idopp ku nanti" Balasku sambil menjulurkan lidah. "Bonengg lah kau buk!!" Sungutnya. "Udah ayok pulang kita. Malah betekak pula disini gegara Abangku" Repetnya. "Tapi sebelum pulang beli makan dulu kita yaaa??? Dah lapar kali aku loh buk. Padahal gaknya ngapain-ngapain kan??? Tapi kok rasanya letoyy kali badan ku. Macam orang yang dah gak makan berhari-hari" Ujarnya panjaaaaanngggg lebar. Ck ck ckkk... "Lebay kali kau. Gak makan berhari-hari. Emang dasarnya kau tukang makan, jadi gak ngunyah bentar aja mulutmu berasa hampa rasamu. Jadi lemess gini lah kau!" Repetku. "Hehehe... Sesama tukang makan gak boleh saling menghinaa buuukkk..." Cengirrnya. "Ya udahlah, yok cari makanan kita, jadi laper juga aku karna betekak samamu" Ajakku. "Kok jadi gegara aku pula kau kelaparan?!" Sungutnya tak terima. "Lah, iya kaann??? Karna betekak samamu lah jadi tebuang sia-sia tenaga ku. Lapar lah jadinya". "Ayoklah cepat cari makan kita, biar cepat pulang kita. Makin lama betekak disini gak siap-siap nanti, gak jadi pulang kita" Repetnya sambil menarik tanganku mengikutinya yang berjalan di depan. Dan aku cuma nyengir-nyengir gak jelas. Hehehe... Akhirnya kami memutuskan membeli nasi goreng yang berjualan di depan rumah sakit ini. Nasi gorengnya enak kali loh weee... Pas mantabbbbb lah pokoke. Berasa kayak ada bumbu rendangnya. Pokoknya enak laaahhhh... Hehehe... Harganya juga terjangkau. Iya, terjangkau bagi kami yang anak kos-kosan ini. Setelah selesai membeli makanan, kami pun mencari angkot yang lewatnya searah dengan tempat tinggal kami. Dan tak lama nongoll juga tuh angkot. Sambil melambaikan tangan, angkot tadi berhenti di depan kami. Kami pun naik. Seperti biasanya, kalo' dah di dalam angkot gini, adaaa aja bahan cerita kami. Bukan nyeritain orang yaaa??? Gak suka kami modelan begitu itu. Paling nyeritain seputaran kampus, kayak tugas kampus, atau laporan dinas lapangan kami. Tak terasa aku sudah sampai di tempat tujuan ku. Sedang si Tria masih lanjut beberapa meter ke depan lagi, karna jarak kos si Tria dan kos ku lumayan jauh juga. Aaahhhh akhirnya... Sampai juga di kamar kos ku yang sepetak ini, yang berukuran 2x3 meter. Sambil duduk di tepi tempat tidur, ku teguk air tuk meredakan kerongkongan ku yang rasanya mengering. Lanjut membuka baju, mengambil handuk dan melangkah menuju kamar mandi tuk membersihkan diri dari segala kuman atau pun mungkin virus yang nyangkut di tubuh ini selama dari melangkah kan kaki keluar kos-kosan sampai kembali lagi ke kos-kosan. Virus dan kuman itukan ada dimana-mana, dan tak kasat mata. Maksudnya tak kasat mata disini bukan berarti jadi horor yaaa... Jangan klen pikir virus dan kuman itu 1 spesies dengan makhluk astral. Nooo... Maksudnya itu lebih ke ukurannya yang keciiiiilllll sekali, sampai-sampai tuk ukuran jarak pandang kita gak kan bisa melihatnya secara langsung. Terkecuali menggunakan alat, seperti mikroskop. Mikroskop sendiri pun di ciptakan memang untuk melihat benda-benda yang teraaaaamat kecil, yang tak kan pernah bisa langsung kita lihat dengan mata telanjangg. Ngerti laaahhhh??? Ngerti doonnggg... Masa' gak ngerti!! Hehehe Apalagi aku yang berjam-jam lalu berada di rumah sakit. Jelas dong rumah sakit itu tempatnya orang sakit dengan bermacam-macam jenis penyakit. Jadi gak usah di jabarin lagi deh seberapa banyaknya jumlah virus atau kuman yang terbang bebas di sekeliling kita. Selesai membersihkan diri, ku kenakan baju dinas rumahan ku. Jangan klen pikir baju dinas kurang bahan kayak yang biasa di pakek emak-emak tuk ngerayuu lakiknya ya weee??? Daster... Itulah baju dinas rumahan ku. Hehehe... Ku rasa gak cuma aku yang hojii kali pakek daster di rumah, mungkin pun klen sama ya kan??? Kalo' memang iya, selamat... kita satu server. Hahahaha Baru setelah itu aku pun mengisi asupan gizi ku tuk menetralkan perut yang dangdutan and otak yang sempat mampet dan mungkin juga bentar lagi kosong karna dah kebanyakan di pakek buat mikir. Asal klen tau ya weee... Otak itu juga perlu asupan gizi supaya selain bisa di pakek buat mikir juga bisa di pakek buat kerja. Kenapa ku bilang demikian??? Karna pada dasarnya yang memberi perintah kepada seluruh anggota tubuh kita itu ya otak. Gini yaaa ku bantu jabarin lagi biar klen gak penapsaran. Otak itu bekerja sama dengan saraf tulang belakang kita tuk berperan sebagai pusat kendali tubuh dan menyusun sistem saraf pusat (SSP). Itulah fungsi otak yg sesungguhnya. Jadi bukan cuman tuk dibuat mikir doang ya weee. Apalagi mikirin mantan. Hahahaha... Sooo... segala tindak tanduk dan gerakan kita itu sudah di konfirmasi duluan dari otak, barulah kita bergerak. Cuma 1 yang tak bisa di kendalikan otak, yaitu jantung. Sempat bisa di suruh otak berhenti jantung kita, apa gak matek weee??? Hehehe... Kalo' itu hanya Tuhan Yang Maha Kuasa lah yang tau kapan waktunya. Teruuussss... pernah gak klen dengar akhir-akhir ini berita tentang adanya otak di dalam perut kita??? Yuuuuppppzzzz tepat sekaleee... Ternyata ada weee... Tapi tunggu dulu, jangan klen trus berkhayal kalo' ada otak yang sama kayak di dalam kepala kita itu di letakkan di dalam perut. Nooo... Ternyata begini penjelasannya. Perkembangan Ilmu pengetahuan mengungkap, sebenernya manusia memiliki otak kedua yang berada di perut. Para ahli dari ASAP Science mengatakan, otak kedua manusia ini mengandung bakteri yang mirip dengan struktur otak, serta mempengaruhi mood, perilaku, dan kesehatan mental manusia. Dah pada ngerti belom??? Kalo' gak ngerti klen tanya aja lagi penjelasan yang sejelas-jelasnya sama mbah Google. Okay??? Mandi, udah... Makan, juga udah... Waktunya sekarang menuju ke pulau kapuk, tuk mengarungi mimpi indah yang ku harap bisa membuat hari-hari ku cerah pada esok harinya, serta berharap bisa bertemu si "Dia". Iyaaaa Si Dia... Yang masih di antah berantah sana keberadaannya. Karna ingat si "Dia" jadi pengen dangdutan euyyy. Hahahaha... Berhubung karna dah malam ini, gak mungkin kan aku koar-koar sendiri dangdutan disini. Yang ada ntar dinding kamarku yang cuma di batasi triplek dengan kamar sebelah, bakal kena gedor. Sambil di teriakin "Ribut kali kau!!" Hahahaha... Aku pilih aman aja lah weee... Ku ambil hettset ku, tros ku colokkan kabelnya ke colokan yang ada di hp ku, abis tu ku pasang ke kuping ku. Lanjootttt.... Sambil merem dengarin dangdut, ngikutinya dalam hati aja biar gak ribut. Hihihi... Hanya diaaaaaa Dia dia dia dia dia dia dia hanya dia Hanya diaaaaaa Yang ada di antara jantung hati Tempat bermanjaaaa Tempatnya rinduuu Tempat curahan hati yaaannnggg daaamaaaiii Entah apaaaaa Bagaikan kayu basah dimakan apiii Api curigaaa Api cemburuuu Api kerinduan yang membaaaraaa Ohh angin, kabarkan Melati di depan rumah ku Menantiii muuu
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN