Pindah ruangan

1471 Kata
Gak terasa waktu seminggu tlah berlalu. Waktunya bagi kami pindah ke ruang berikutnya, yang pasti masih seputaran anak. Buku laporan tuk seminggu pertama sudah dikumpulkan, akan dinilai dulu oleh dosen yang bersangkutan, baru setelahnya di kembalikan lagi kepada kami. Sama seperti sebelumnya, masih dinas sore. Cuma berada diruang yang berbeda, dan ketemu orang-orang baru lagi. Interaksi baru lagi, perkenalan baru lagi, pasien baru lagi, pokoknya serba baru tuk kami. Ehh ada deh yang masih lama, tetap dengan gandengan yang sama, Tria. Hahaha... "Buk, dah kau kumpulkannya laporanmu?" Tanya Tria. "Udah lah. Punyamu?" Aku balik bertanya padanya. "Ya udahlah... Tria gitu looohhhh. Makanya ku tanya punyamu dah dikumpul belom?" Jawabnya songongg. "Emang kalo' punya ku belum dikumpul mau kau bantuin aku buat laporannya?" Tanyaku penasaran. "Ogaaahhhh" Jawabnya sambil berlalu. "Bonenggg..." Sungutku. "Woy buk, ngapaen lagi kau disitu? Gak mau pulang kau? Nanti telat pigi dinas baru nyahokk looohhhh!!" Ujarnya sambil agak berteriak karna posisinya yang sudah mendekati undakan tangga. Dengan wajah dicemberut-cemberutkan ku langkahkan kaki menuju ke arahnya. "Uluu..uluuu... Ada yang merajoookkk. Cup cup cuuuppp... Tayang-tayang. Cini-cini bial dipeyuk" Pujuknya seperti seorang Ibu yang sedang membujuk anaknya ketika merajok manjahhh. "Jijik tau gak?!" Sungutku sambil menghindarinya. "Kau kira aku anak-anak, yang mesti dipujuk-pujuk gitu? Sambungku. Sambil ku perhatikan dirinya dari atas sampai kebawah, "Tapi dah cocok kok Tri, dah pas kali kau jadi emak-emak. Kan kekgitu kalo emak bujuk anaknya". "Muncuungmuuuu lah dowerr" Ujarnya sambil melett-melett gak jelas. Aku cuma cekikikan disampingnya. "Gak usah melett-melett gitu kau, gak sekssi. Malah kayak ulat kekett ku tengok". Hahaha... "Aida... Tria...". Karna merasa dipanggil kami pun serempak menoleh ke belakang. Ternyata si Anggi, kiraen siapa. Soalnya seingat kami dah pada turun semua kawan-kawan yang lainnya. Sepi gitu cuma tinggal kami berdua tetiba ada yang manggil, apa gak mikir yang aneh-aneh jadinya. "Apa Nggik?" Tanyaku. "Aku mau nanyak, kita pindah ruangan kan? Ke ruangan mana lagi nanti?" Tanyanya lagi. "Iya, kita pindah ruangan. Ke..." Akupun menyebutkan nama ruangannya, dan memberitahukan kepadanya dimana letak ruangannya. "Enggak kau catat rupanya Nggik, ruangan mana aja tempat kita dinas?" Tanya si Tria menyelidik. "Udah, udahnya ku catat. Tapi ntah kemana catatannya hilang. Dah ku cari-cari gak dapat juga" Jawabnya sungguh-sungguh. "Bisalah pulak ilang, kau tarok mana rupanya? Kau aja pun dinas gak ada bawa apa-apa. Cuma nyelamatin badan doang. Yang dah kau kerjakannya laporanmu? Kita 1 ruangan tapi jarang ku tengok kau diruangan, kemana ajanya kau?" Cerocos Tria. Mulai deh mulaaaiii, kumat lagi mode emak-emaknya. Aku cuman bisa meringis. Kesiannya si Anggi, sekalinya nanyak kok yaaa malah dapat ceramah gratis. Hihihi... Setelah tau dimana ruangannya, si Anggi pun berlalu dari hadapan kami. Tak lupa diucapkannya terimakasih kepada kami. Dari awal sebenarnya bukan cuma aku dan Tria yang 1 ruangan, kami bertiga. Si Anggi lah kawan kami seorang lagi. Tapi karna sikapnya yang cuek dan memang keseharian di kampus pun kami kurang dekat, jadilah si Anggi menyendiri, menjauh dari kami. Ketika di ruangan pun banyak yang bertanya kenapa seakan kami cuma heboh berdua saja, karna kemana-mana pun kami berdua. Karna si Anggi orangnya terkesan cuek, jadi yang lainnya merasa dia sombong. Padahal emang orangnya gak terlalu banyak omong kayak kami berdua ini. Sehabis makan siang dan beberes ganti baju, aku pun melesatkan kaki ke pinggir jalan tuk mencari angkot. Sambil melambaikan tangan gak lama angkot yang menuju ke arahku berhenti, akupun naik. Tidak seperti awal-awal masa dinas yang hampir setiap harinya berangkat berbarengan dengan si Tria. Kali ini aku berangkat sendiri. Ku arahkan pandanganku ke luar jendela angkot. Seirama dengan angkot yang berjalan, mataku pun perlahan menelusuri apa yang kami lewati. "Pinggir bang" Ucapku pada sang sopir. Angkot yang kunaiki pun perlahan menepi dan berhenti. Setelah membayar jasa angkot, aku pun menepi ke pinggir jalan kembali. Menunggu kendaraan sepi baru bisa menyebrangi jalan. Pandangan ku menyapu pada banyaknya pengendara jalanan yang berlomba-lomba tuk segera sampai pada tujuannya. Setelah ku rasa sepi barulah ku ayunkan langkah tuk menyebrangi jalan, menuju ke rumah sakit tempat ku dinas praktek lapangan. Begitu sampai di ruangan, "Lama kali kau datang buk, bentar lagi dah mau absen kita ini" Ocehan si Tria yang pertama ku dapatkan. "Sabarlah kau, namanya naek angkot aku. Rame kali tadi di jalan, makanya lama lah" Jawabku. "Kau naek apa rupanya cepat kali dah sampek?" Tanyaku kemudian. "Aku tadi diantar Abangku buk" Jawabnya. "Ceileeeee... Diantar Abang apa Abang???" Tanyaku lagi sambil memberi tanda isyarat kutip dengan kedua tangan menyebut kata Abang yang terakhir. "Issh kaaaannnn... Bener Abangku Looohhhh..." Jelasnya frustasi. "Dari tadi gak ada yang percaya loh kalo itu memang Abangku kandung. Mana boleh aku pacaran-pacaran sama Abangku. Abislah aku nanti diunyell-unyellnyaaa..." Sambungnya. "Ya gak usah macam cacing kepanasan gitulah kau menjelaskannya sama ku. Frustasi kali kau ku tengok. Sabar ya sayangkuuu... Sabar...sabar. Orang sabar pantattnya lebar loh Tri" Ujarku. Bukannya makasih dah di hibur, malah kena gepukk awak baahhh... "Muncungg kau lah yang tambah lebar!!" Pelotottnya padaku. "Taunya aku, kalo aku gak mirip sama Abangku. Abangku ganteng loh buuukkk. Mirip mamakku dianya" Terangnya lagi. Aku pun sontak tertawa terbahak-bahak, "Hahahaha... Ngeness kali kau ku tengok laaahhh. Hahahaha... Kau muji Abangmu ganteng, otomatis ngaku kau kan punya wajah rata-rata?" Aku masih tergelak sangkingkan lucunya liat raut wajahnya yang nelangsa. Sampek sakit perut ku. Setelah reda tawaku, ku bilang padanya. "Tenang kau buk, gak kau ajanya yang punya muka pas-pasan. 11-12 lah kita, jadi adakan kawanmu?" Ku pujukk dia biar tenang hatinya. Karna suara tawa ku yang kuat, sampai-sampai kena tegur dengan kakak pegawainya. "Dek, kuat kali suaramu ketawa. Rumah sakit ini loohhh... Jangan bising klien, gak kesian kau nengok pasien itu terganggu jadinya karna suara tawamu?! Pelan-pelan aja kalo' mau ketawa, yaaa??? Peringatnya padaku. "Iya kak, maaf. Kelepasan tadi kak" Sesalku. "Ya udah laen kali jangan gitu lagi ya??? Udah sana ke depan klen, biar absen. Soalnya dah jam 2 ini" Suruhnya. Kami pun mengangguk sambil ikut mengekori kakak pegawai tadi sampai ke Nurse station, tuk absen. Selesai absen, "Nanti kenalin aku ya sama Abangmu, biar gak penasaran lagi aku kau bikin. Cemana kali rupanya gantengnya a Abangmu itu?" Ujarku. "Penasaran kau yaaa??? Hahahaha..." Meledak tawa si Tria karna dengar ucapan ku tadi. Langsung ku tutup mulutnya pakek tangan. "Ketawamu lah Triii... Dah lah tadi aku kena tegor, mau kau lagi yang ngulangi?! Biar kenak marah kita sama-sama, iya??" Tanyaku. "Ya maaf..." Ucapnya sambil meringis menunjukkan deretan giginya. "Udah tutup mulutmu, kering nanti gigimu. Susah kau!" Ujarku. Langsung mingkemm mulutnya. Cuma sisa senyumnya aja yang tinggal. "Gak usah sok kau buat manis-manis mukamu, masih normal aku" Ujarku lagi. Keplakk "Addoowwww... Sakit bengakk. Kepala ini loh, tiap tahun di pitrahi. Tempat otakku juga disini, kalo' sampek onengg aku tanggung jawab kau yaaa?!" Rungutku sambil meringis merasakan nyut-nyutan di kepala yang abis digetokk sama uwak satu ini. "Gak usah digetokk dulu pun dah onengg juganya kau buk. Hahaha... Makanya muncungg kau jangan asal jeplakk aja. Enak aja kau bilang pula Tepe-Tepe aku samamu!! Yang kau kiranya dah belok aku? Masih normal juga aku yaaa?!" Ceramahnya panjang lebar. Udah awak yang jadi korban, masih salah pulak itu lagi. Ck..ck..ck... Oya, bagi yang gak tau apa itu Tepe-Tepe. Itu singkatan dari Tebar Pesona. "Ya udahlah damai kita yaaa??? Tapi ingat, jangan lupa kau kenalkan aku nanti sama Abangmu yaaa?!" Pujukku. "Ada maunya aja gini, baek-baek. Awas loh kesemsemm nanti kau sama Abangku!! Soalnya Abangku ganteng macam artis Korea buk" Pujinya tuk sang Abang. "Iye iyeee yang demenn Korea. Kalo aku tetap Indiahe aca-aca nehi-nehi. Wleee..." Sambil ku julurkan lidahku padanya. "Eh, bukannya kau pun suka buk sama Korea??? Gak seneng rupanya kau punya cowok mirip artis Korea??" Tanyanya penasaran padaku. "Aku emang demen sama Korea, apalagi liat cowoknya yang ganteng-ganteng. Tapi gak niat tuh punya gandengan model begituan. Pengennya yang keIndia-india_an atau kalo dapet yang kearab-araban pun boleh" Terangku panjang lebar sambil mencoba menerawang, kira-kira gimana yaaa wujud jodohku nanti. Tanpa sadar aku pun senyum-senyum sendiri. Tetiba kesadaran ku kembali karna ada yang seperti mendorong kepala ku. Siapa lagi pelakunya kalo' bukan si Wak Tria. "Menghayal aja terooosss... Dah kek orang begokk kau senyam senyum sendiri. Awas loh kesambet, masih siang ini loooooohhhhh... Apalagi kita di rumah sakit ini" Ujarnya sambil melengos sambil geleng-geleng. "Baru mau menghayal Triiii... Tri, dah kau patahkan" Sungutku. "Dah ku bilang jangan banyak menghayal kau disini, kesurupan nanti kau, kejang-kejang, abis tu ngesot-ngesot lah kau disitu" Balasnya. "Enak aja kau. Ngesot-ngesot, kau kira aku suster ngesot apa?!" Rajukku. "Manatau kan mau nyari kawan baru kau buk, aku sih ogahhh..." Lengossnya. "Ya udahlah, pokoknya nanti kau kenal kan aku sama Abangmu itu. Titik gak pakek koma!! Apalagi tanda seru atau tanda tanya" Senyumku jumawa. "Heeehhhh... Iya-iyaaa... Nanti pulang dinas. Kalo' dijemput Abangku aku ya buk? Soalnya Abangku itu termasuk orang sibuk, jadi jam terbangnya banyak" Sombongnya. "Iya lah iyaaa... Jam terbaannggg... jam terbang, dah macam pesawat Abangmu ku tengok. Hahaha..." Gelakku. Cuma 1 kata jawabannya, "Looooosssssshhhhhhh...." Sambil monyong-monyong tuh bibir minta di gaplokk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN