bc

Hidup untuk Kaito

book_age16+
3.0K
IKUTI
10.7K
BACA
family
drama
no-couple
icy
male lead
city
highschool
school
brothers
stubborn
like
intro-logo
Uraian

Ren Sanjaya, laki-laki berusia 17 tahun itu adalah anak angkat dari Nathan dan Sarah. Selain Ren, Nathan dan Sarah memiliki anak laki-laki lain bernama Kaito yang adalah anak kandung mereka dan terpaut 1 tahun lebih muda dari Ren. Sejak kecil, Nathan dan Sarah selalu menanamkan stigma dalam diri Ren bahwa Ren hidup di dunia ini hanya untuk menjaga dan merawat Kaito. Hidup Ren harus didedikasikan untuk Kaito. Apa pun yang terjadi pada Kaito, maka itu adalah tanggung jawab Ren.

Segala tekanan dan tuntutan yang tanpa dibarengi dengan kasih sayang menciptakan karakter yang dingin dan tidak pernah mau peduli dengan hal lain selain Kaito dalam diri Ren. Yang Ren tahu, hidupnya selalu tentang Kaito dan tidak ada hal lain yang perlu dipikirkan.

Keadaan semakin diperparah dengan sebuah pengakuan cinta dari seorang gadis cantik bernama Minami pada Ren, sedangkan di sisi lain Minami adalah gadis yang paling diinginkan oleh Nathan dan Sarah untuk menjadi pasangan Kaito. Hal itu membuat Nathan dan Sarah sangat marah dan ingin membuang Ren jauh dari hidup Kaito, meskipun mereka tahu bahwa Kaito telah sangat bergantung dan tidak ingin berpisah dengan Ren, kakak kesayangannya yang selama ini begitu dia idolakan. Lalu, apakah Ren dan Kaito berhasil dipisahkan dan siapa yang akan menjadi pasangan hidup Minami pada akhirnya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Kehilangan Senyum
Ah, pagi yang indah. Kicauan beberapa ekor burung sampai terdengar di dalam ruang kelas dan membuat suasana terasa semakin menenangkan. Ren, siswa kelas 3 SD itu duduk manis di bangkunya dengan tangan kanan berdiri di atas meja sambil menopang dagunya. Matanya menatap kagum pada jendela yang berada tepat di sebelah kirinya. Pemandangan selalu terlihat sangat indah jika dilihat dari jendela seperti ini. Inilah mengapa Ren sangat menyukai duduk bersebelahan dengan jendela. “Berdiri!” Ren agak terkejut. Ketua kelas sudah memberi aba-aba dan itu berarti guru sudah masuk ke kelas mereka, bersiap memulai pelajaran. Ini yang sejak tadi dia tunggu-tunggu. Dia tak pernah tak bersemangat tiap kali akan mendapat pelajaran sastra, terlebih lagi kalau topiknya adalah bercerita. “Hari ini kita akan belajar tentang bahasa baku dan non baku, ya, anak-anak. Sebagai pembuka, ibu ingin secara bergiliran kalian ke depan dan ceritakan apa saja yang ingin kalian ceritakan. Ibu ingin tau sebaku apa bahasa kalian dalam bercerita.” “Pas banget,” kata Ren dalam hati. Anak laki-laki yang terkenal dengan senyum manisnya itu dengan semangat dan penuh keyakinan mengangkat tangannya. Guru tersenyum melihat kepercayaan diri dan antusiasme siswanya itu. “Silakan, Ren,” kata guru dengan sikap tangan mempersilakan Ren ke depan untuk bercerita. Ren beranjak dari bangkunya dan mulai melangkahkan kakinya hingga akhirnya dia berdiri tepat di depan teman-temannya. “Namaku Ren.” Ren mulai bercerita. “Di rumah, aku tinggal bersama kedua orang tua dan adikku yang bernama Kaito. Papa dan mama adalah orang tua terbaik di dunia ini. Tiap kali aku kembali dari sekolah, mereka selalu menyambutku dengan senyuman yang begitu hangat dan pertanyaan bagaimana sekolahmu hari ini, Sayang? Menyenangkan, kan? Lalu mereka akan mengusap rambutku dengan penuh kasih sayang. Papa dan Mama selalu adil dalam memperlakukan aku dan Kaito. Aku menyukainya. Kaito, dia adalah adik laki-laki yang paling imut. Kami sangat akrab. Dia selalu bermain bersamaku, menuruti semua perkataanku dan tak pernah menggangguku. Aku sangat menyayangi keluargaku, begitupun sebaliknya.” “Cukup, Ren,” kata guru tiba-tiba. Ren spontan berhenti berbicara dan kepalanya mendongak ke atas untuk melihat si pemilik wajah sendu yang baru saja berbicara padanya itu. “Cerita yang bagus. Sekarang kita dengarkan cerita dari teman-teman kamu yang lain. Kamu bisa duduk. Terima kasih, Ren. Ibu akan berikan kamu nilai yang bagus.” Ren tersenyum manis. *** Sepulang sekolah, seperti biasa Ren dan Kaito berjalan beriringan. Sejak tadi hanya suara Kaito yang terdengar. Banyak hal yang dia ceritakan. Sedangkan Ren, dia hanya diam dengan raut wajah datar menatap ke depan. “Kami pulang.” Ren dan Kaito kompak begitu tiba di rumah. “Selamat datang ….” Papa dan Mama juga kompak menyambut kedatangan anak mereka. “Gimana sekolahnya hari ini, Sayang? Menyenangkan, 'kan?” tanya Mama dengan senyum hangatnya pada Kaito. “Menyenangkan banget, Mama. Tadi di sekolah aku dan teman-teman main petak umpet. Waktu giliran aku yang sembunyi, nggak ada yang bisa temuin aku.” Kaito bercerita dengan girang. “Oh, ya? Memangnya Kaito sembunyi di mana?” tanya Papa. “Di ruang guru. Hahaha.” Papa menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil lalu mengusap lembut kepala Kaito. Kepala Ren berputar sedikit ke belakang menghadap pintu untuk mencari oksigen lebih banyak. Setelah merasa cukup, dia kembali melihat keharmonisan keluarga yang ada di depannya itu. “Tuhan, aku juga ingin ada di antara mereka,” batin Ren. “Kak Ren!” Kaito meraih tangan kiri Ren. “Yuk, ke kamar!” Kaito berlari semangat. Mau tidak mau Ren juga harus ikut berlari karena tangannya masih berada di dalam genggaman Kaito. *** Keesokan harinya di sekolah, Ren kembali dari toilet dan berjalan menyusuri koridor menuju kelasnya. Begitu tiba di depan kelasnya, langkah kakinya terhenti ketika melihat teman-temannya berkumpul di mejanya. Seingatnya sebelum dia pergi ke toilet tadi, mejanya sepi dari kerumunan seperti ini. Kira-kira apa yang membuat teman-temannya berkumpul di sana? Ren masih diam di depan pintu, masih asyik mengira-ngira alasan adanya kerumunan itu. Deg! Tiba-tiba mata Ren membelalak dengan jantung berdegup kencang. Cepat-cepat dia berlari menuju mejanya dan menerobos masuk ke kerumunan itu. Di sana didapatinya tasnya sudah terbuka. Semua mata teman-temannya tertuju padanya. “Kamu anak angkat, Ren?” “Orang tua kamu pasti lebih sayang sama Kaito, ya, dibanding kamu?” “Tapi kemarin dia cerita kalo orang tuanya memperlakukan mereka dengan adil.” “Nggak mungkin. Itu pasti bohong. Orang tuanya mungkin aja sayang sama anak angkatnya, tapi nggak mungkin adil sama anak angkat dan anak kandung.” “Itu artinya yang Ren ceritain kemarin cuma khayalannya, dong.” “Ren pembohong!” “Iya! Pembohong!” “Anak angkat!” “Kasian banget, ya.” Ren mengepalkan kedua tangannya. Napasnya semakin cepat dan dadanya kembang-kempis. Cepat-cepat dia merebut kartu keluarganya dari tangan salah satu teman kelasnya. “Jangan nangis, Ren,” kata salah satu siswa begitu menyadari mata Ren mulai berkaca-kaca, “Cukup julukan pembohong dan anak angkat aja. Jangan ada julukan si cengeng. Masa iya dalam sehari langsung dapat tiga julukan sekaligus, sih?” “Eh, ngomong-ngomong ada yang berhasil liat nama orang tuanya nggak tadi? Kita ambil kartu keluarganya ‘kan untuk liat itu biar bisa dijadiin bahan ledekan,” kata salah satu siswa dan diakhiri dengan tawa. “Nggak. Tulisan anak angkat di sana lebih menarik perhatian tadi.” Ren mengambil tasnya dan berlari dengan cepat meninggalkan teman-temannya. Tangisnya pecah di sepanjang jalan pulang. “Kenapa Bu guru harus nyuruh bawa kartu keluarga? Kenapa tadi aku harus ke toilet? Kenapa mereka berani buka tas aku dan ambil kartu keluarga aku? Kenapa ini harus terjadi? Kenapa harus ada hari ini? Kenapa?!” Hari itu adalah awal di mana Ren benci khayalan-khayalan indahnya. Dia tidak lagi menyukai yang namanya sastra apalagi bercerita. Dia benci membicarakan tentang keluarganya. Dia berhenti membagikan senyum manisnya pada orang lain. Untuk apa dia tersenyum kalau pada akhirnya orang akan tahu jika itu hanya senyum palsu? Senyum yang tercipta dari sebuah khayalan. *** 9 tahun telah berlalu. Itu bukan waktu yang singkat. Namun, tetap saja masih belum bisa menghapus suatu memori, terlebih lagi memori buruk. Ren yang sudah hampir satu jam duduk di atas tempat tidurnya sambil memandangi album foto masa SD-nya, kini beranjak dan berjalan menuju pintu kamarnya. “Kak Ren!” Kaito tiba-tiba muncul di depan pintu. “Sekarang apa lagi?” tanya Ren datar. Melihat Ren menenteng album foto membuat Kaito lupa apa alasan dia datang menemui kakaknya itu. “Mau dibawa ke mana album fotonya?” tanya Kaito. “Ke belakang,” jawab Ren. “Mau diapain?” “Bakar.” “Hah? Kenapa?” “Bukan urusan kamu.” Ren berjalan melewati Kaito. Kaito diam sejenak sampai akhirnya …. “Buat aku aja!” Kaito merampas album foto itu dari tangan Ren dan langsung berlari sekencang mungkin. Akhirnya aksi kejar-kejaran antara Ren dan Kaito tak terelakkan. Kaito berlari menuju kamar orang tua mereka karena itulah tempat yang paling aman, tempat yang tak mungkin berani Ren masuki. Kaito berhasil masuk ke kamar orang tua mereka. Pintu tetap terbuka, tetapi Ren tidak berani masuk. Dia hanya bisa menatap diam di depan pintu. “Kai, ada apa ini?” tanya Mama yang tengah duduk di meja rias. Kaito menoleh. “Hehehe. Nggak apa-apa, Ma.” Lalu kembali melihat Ren. Dia memasang wajah dengan ekspresi kemenangan sambil mengangkat-turunkan alisnya. Di sisi lain, Ren hanya bisa menatap adiknya itu dengan penuh kekesalan. *** Dengan posisi tengkurap di atas tempat tidur orang tuanya, Kaito melihat satu per satu foto dari album yang tadi direbutnya dari Ren. Mulai dari foto pertama hingga entah yang keberapa, senyumnya tak pernah pudar. Dia seperti sedang melihat foto idolanya. Tidak, bukan seperti. Ren memang adalah idolanya. “Lagi liat apa sih, Kai? Kayaknya seneng banget,” kata Mama yang berjalan mendekati Kaito. “Foto SD-nya Kak Ren. Coba liat. Mama pasti suka.” Perlahan tapi pasti, langkah kaki Mama semakin pelan hingga akhirnya dia berbalik badan dan mengambil tasnya yang tergeletak di atas meja rias. “Mama, ayo sini liat foto masa SD-nya Kak Ren!” ajak Kaito lagi. “Nanti, ya, Kai. Mama ada urusan.” Dengan menenteng tas, Mama berjalan mendekati Kaito lalu mengecup kepalanya. *** Ren duduk di ruang keluarga menonton TV. Suara wedges Mama terdengar melangkah ke arahnya. Namun, karena namanya tidak dipanggil, laki-laki itu tidak mengalihkan pandangannya dari TV, tetapi memasang telinga untuk memastikan bahwa dia akan langsung menoleh ketika wanita paruh baya itu menyebut namanya. “Ren,” panggil Mama. Yap. Ren langsung menoleh. “Tolong ingetin Kaito, ya untuk les entar sore.” “Iya, Ma.” Setelah mendengar jawaban Ren, Mama bergegas pergi. Tak lama setelah Mama pergi, Ren kembali teringat pada album fotonya. Bola matanya bergerak ke kiri, arah kamar orang tuanya. Dia diam sejenak. Mama sedang ada urusan di luar. Papa masih di tempat kerja. Yap! Ini adalah waktu yang tepat untuk meminta album fotonya dari Kaito.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Perfect Revenge (Indonesia)

read
5.1K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.1K
bc

Super Psycho Love (Bahasa Indonesia)

read
88.6K
bc

GARKA 2

read
6.2K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.1K
bc

TERNODA

read
199.0K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook