Ren beranjak dari sofa dan bergegas ke kamar orang tuanya. Kakinya melangkah cepat. Dia tahu tidak akan baik jika barang miliknya ada di tangan Kaito. Langkahnya lalu terhenti ketika pintu kamar orang tuanya kini tak sampai semeter di depannya.
“Kai, buka pintunya!” Ren menggedor-gedor pintu.
“Masuk aja, Kak Ren!” teriak Kaito dari dalam.
Ren terdiam. Dia ragu apakah dia harus masuk sesuai dengan perintah Kaito, atau tetap diam menunggu Kaito sendiri yang membawakan album foto itu padanya.
“Tenang aja, Kak Ren!” teriak Kaito lagi. Dia tahu Ren ragu, “Papa dan Mama nggak akan tau kalo Kak Ren masuk ke sini! Aku juga nggak akan ngadu!”
Ren menarik napas panjang lalu mengembuskannya. Dia berusaha untuk meyakinkan dirinya. Ini akan menjadi yang pertama kalinya dia memasuki ruangan yang ada di depannya ini. Perlahan tapi pasti tangan kanannya meraih gagang pintu, dan ya! Sekarang dia berhasil menggenggamnya, tetapi tunggu. Mengapa pintunya tidak bisa dibuka? Berkali-kali Ren mencoba membukanya, tetap saja tidak bisa dibuka.
Di sisi lain, Kaito yang berada di dalam melihat gagang pintu yang bergerak naik-turun. Dia tertawa hingga suaranya terdengar di tempat Ren berdiri.
“Ck. Sial,” umpat Ren ketika menyadari Kaito mengusili dirinya.
Pip-pip!
Mendengar klakson mobil Papa, Ren bergegas berlari ke luar untuk membukakan gerbang. Ren memang sedang tidak beruntung hari ini karena dia selalu saja gagal mendapatkan kembali album fotonya.
***
“Kaito mana, Ren?” tanya Papa begitu keluar dari mobilnya.
“Di kamar Papa,” jawab Ren.
“Dia udah makan siang ‘kan tadi?”
“Iya, udah.”
Papa mengangguk lalu berjalan ke dalam rumah mendahului Ren.
***
“Ya, stop!” Kaito bersemangat seperti biasa.
“Iya, tau.” Ren menghentikan mobil di halaman tempat les Kaito.
Sempat hening beberapa saat. Ini membuat Ren merasa aneh lalu menoleh pada Kaito.
“Cepetan turun!” suruh Ren.
Kaito menoleh pada Ren sambil tersenyum jahil. “Ah, pasti Kak Ren masih marah ya sama aku gara-gara kejadian tadi siang? Iya, ‘kan? Jujur aja sama aku.”
“Ngapain juga bohong sama kamu? Iya, aku marah.”
“Tapi walaupun Kak Ren marah, aku tetap nggak akan kasih album foto itu.”
“Aku tau. Udah, cepetan sana turun.”
Kaito semakin mengembangkan senyumannya. “Aku sayang sama Kak Ren.”
“Aku benci sama kamu.”
“Aaah .… Masih nggak mau ngaku kalo sebenarnya Kak Ren sayang sama aku.”
Ren menghela napas panjang lalu mengalihkan pandangannya ke jendela mobil yang berada di sebelah kanannya. Bahkan saat terdengar suara pintu mobil terbuka yang berarti Kaito telah keluar, Ren tetap tidak menoleh.
“Daaa, Kak Ren!”
***
Minami, gadis cantik berambut pendek yang merupakan teman les sekaligus teman sekelas Kaito itu masuk ke sebuah ruangan dingin dan sunyi. Di dalam sana dia mendapati Kaito sedang duduk seorang diri sambil tersenyum melihat sebuah album foto yang berada di atas mejanya.
Kaito yang menyadari ada Minami dari aroma parfumnya, mendongakkan kepalanya dan benar saja itu Minami yang akan menjatuhkan bokongnya tepat di bangku yang berada di sebelah kanan Kaito.
“Minami, liat, deh.” Kaito menggeser sedikit album foto ke arah Minami agar gadis itu bisa lebih jelas melihat isinya.
“Ini Ren?” tanya Minami yang tak butuh waktu lama untuk mengenali wajah anak kecil yang berada di dalam sana.
Kaito mengangguk. “Menggemaskan, ‘kan?”
Minami tersenyum kecil dan terdiam sesaat. “Iya, Kai. Banget.”
Sekitar lima menit tak ada suara yang terdengar, seakan Kaito dan Minami sama-sama terkesima pada tiap-tiap foto itu. Entah terkesima karena pengambilan fotonya yang bagus atau karena orang yang ada dalam foto itu.
Terdengar suara pintu yang dibuka. Namun, itu tak membuat Kaito dan Minami berhenti melihat foto-foto Ren.
“Cieee. Ada yang makin lengket aja nih tiap harinya,” kata salah satu teman les mereka.
“Percaya, deh sama aku. Nggak akan lama lagi mereka pasti jadian,” kata yang lainnya.
“Eh, liat, deh. Ini foto masa SD Kak Ren,” kata Kaito. Lagi.
Hanya beberapa yang menghampiri Kaito untuk melihat foto itu. Sisanya tak peduli.
“Siapa pun di antara kalian yang memuji foto Kak Ren ini, aku beliin kuota internet.”
Sontak kalimat itu membuat orang-orang yang baru saja masuk tadi berbondong-bondong mengerumuni Kaito dan Minami untuk melihat foto-foto tersebut.
“Astaga, Kai! Kakak kamu imut banget,” kata seorang teman.
“Sumpah, ganteng banget.”
“Gantengnya awet, ya. Nggak berkurang sedikit pun sampe sekarang.”
“Aku nggak nyangka Ren yang judes itu kalo senyum ternyata semanis ini.”
“Ya ya ya. Kalian semua bener. Sekarang langsung chat aku biar aku tau dan inget siapa aja yang bakal aku beliin kuota internet,” kata Kaito.
Mendengar itu, Minami hanya bisa tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
***
Les hari itu dimulai. Semuanya telah hadir dan duduk rapi, siap untuk menerima materi. Guru les pun sudah berdiri tegap di depan papan tulis putih sambil memegang spidol berwarna biru.
“Oke. Hari ini kita akan membahas tentang sel,” kata guru les lalu menuliskan sel di papan tulis, “Sebelum saya jelaskan, mungkin dari kalian ada yang sudah pernah mendengar atau membaca tentang materi kita hari ini, silakan beri tau apa yang kalian ketahui.”
Merasa orang di sebelahnya mengangkat tangan, Minami menoleh. Itu Kaito.
“Iya, Kaito. Silakan.”
“Kata sel dikemukakan oleh Robert Hooke yang pengertiannya adalah unit organisasi terkecil yang menjadi dasar kehidupan. Schwaan dan Schleiden mengatakan bahwa tumbuhan dan hewan memiliki persamaan yaitu tubuhnya tersusun atas sel-sel. Struktur sel sendiri terdiri dari tiga bagian utama yaitu membran sel, inti sel dan sitoplasma.” Hampir semenit Kaito menjelaskan dan akhirnya dia berhenti meskipun dia masih tahu beberapa penjelasan lain mengenai materi lesnya hari itu. Dia sadar bahwa dia juga harus memberikan kesempatan pada gurunya untuk memberikan pelajaran, terlebih lagi waktu les mereka terbatas.
Guru terdiam beberapa saat. “Wah. Kamu tau banyak, ya, tentang materi kita hari ini. Bagus, Kaito.”
Kaito tersenyum bangga. “Kak Ren yang ajarin saya, Bu.”
“Kak Ren? Kakak kamu yang selalu nunggu di luar itu?”
Kaito mengangguk mantap.
Guru mengangguk-angguk. “Bagus.” Hanya itu kata yang bisa keluar dari mulutnya.
Sekarang Minami berpikir, Ren yang judes seperti itu, bagaimana kalau sedang mengajari Kaito? Bagaimana caranya mengajar hingga Kaito bisa sepaham ini tentang materi les hari ini?
Les hari itu berakhir. Kaito dan Minami bersama-sama berjalan ke luar. Kaito sudah membuka pintu mobil, tetapi langkahnya terhenti ketika melihat Minami berdiri di depan gerbang. Ren yang melihat hal itu memilih tak ambil pusing dan tetap menunggu aba-aba Kaito untuk menjalankan mobil.
“Minami!” panggil Kaito dan membuat gadis itu menoleh, “Yuk, pulang bareng!”
Minami diam sebentar, lalu melihat ke arah dalam mobil. Samar-samar Ren terlihat. Gadis itu cepat-cepat membatalkan pesanan ojek onlinenya, kemudian mengangguk sambil tersenyum kepada Kaito.
Kaito yang mengetahui ajakannya diterima, ikut tersenyum senang lalu bergegas masuk ke mobil dan duduk di kursi depan.
Di dalam mobil, kedua tangan Minami saling bertaut di atas paha. Sesekali dia melihat kaca spion depan. Dari sana terlihat jelas sepasang mata berwarna coklat yang sangat dia sukai. Tanpa dia sadari, seutas senyum tercipta di wajah sendunya.
“Kak Ren!” teriak Kaito tiba-tiba.
“Ck. Bisa nggak sih jangan ngegas kalo manggil? Ada apa?” kesal Ren. Seperti biasa.
“Aku mau pipis.”
Ren menghela napas panjang. “Tahan dikit.”
Tak sampai semenit, akhirnya Ren menemukan toilet umum kemudian menepikan mobil, mengingat rumah masih cukup jauh.
Merasa semakin tidak tahan, Kaito cepat-cepat keluar dari mobil. Sebelum dia berlari ke toilet, dia menoleh ke dalam mobil melalui jendela. “Minami, temenin aku dong.”
“Hah?” Minami agak terkejut.
“Ck.” Ren dibuat kesal lagi pada permintaan adiknya itu.
Kaito paham. Dia hanya nyengir kuda lalu berlari terbirit-b***t menuju toilet.
Sekarang di dalam mobil hanya menyisakan Ren dan Minami. Mungkin Ren biasa saja, tetapi tidak dengan Minami. Kalau mau ge’er, gadis itu akan berpikir bahwa Ren ingin berduaan dengan dirinya. Itu sebabnya laki-laki yang 1 tahun lebih tua darinya itu menunjukkan kekesalannya pada Kaito saat meminta Minami menemaninya. Namun, yang paling masuk akal adalah Ren melakukan itu karena kesal Kaito yang hanya ingin buang air kecil sampai harus meminta permintaan seperti tadi.
Suasana di dalam mobil terasa sangat sunyi. Bagi Ren, lucu juga Kaito si cacing kepanasan itu bisa bersahabat dengan orang setenang Minami. Sekadar penasaran, Ren melihat kaca spion yang berada di atas kepalanya untuk mencari tahu apa yang sedang gadis itu lakukan di kursi tengah. Untung saja saat itu Minami sudah tidak melihat kaca spion.
Ren tersenyum sinis dan berhenti melihat kaca spion. “Tegang banget mukanya. Lagi liat hantu, ya?”
Sontak mata Minami melotot dan refleks memeluk kursi yang berada di depannya beserta dengan orangnya. Ren.
Ren terkejut bukan main dan sontak melihat ke kanan. Didapatinya Minami sedang memejamkan matanya dengan erat. Minami yang tiba-tiba menyadari sedang memeluk seseorang, langsung membuka matanya dan ya! Mata mereka bertemu. Gadis itu cepat-cepat melepas pelukannya.
Suasana semakin sunyi, bahkan ditambah dengan perasaan canggung di antara keduanya. Kedua tangan Minami saling menggenggam erat. Dia benar-benar malu. Di antara banyaknya gerakan refleks, mengapa harus memeluk yang dia lakukan?
Di sisi lain, Ren hanya bisa melihat jendela mobil di sebelah kanannya sambil memikirkan mengapa dia harus menyebut hantu tadi? Dia yakin itu adalah penyebab Minami memeluknya. Kalau Kaito tahu hal ini, ini pasti akan menjadi bahan candaannya setiap detik.
Pintu mobil terbuka dan Kaito masuk. “Huh. Legaaa …. Selama aku nggak ada di sini tadi, kalian ngapain aja? Ada kejadian apa?”
Sontak Ren dan Minami menatap kaget pada Kaito. Pertanyaan Kaito seakan menunjukkan bahwa dia tahu kejadian memalukan apa yang baru saja terjadi.
“Kami nggak ngapa-ngapain. Nggak ada yang terjadi,” jawab Ren cepat lalu segera menyalakan mesin mobil kemudian menjalankannya.
***
Ren menghentikan mobil di depan gerbang rumah Minami. Setelah ini, dia hanya tinggal belok kanan dan sampai di rumahnya. Ya, rumah mereka saling berhadapan yang hanya dipisahkan oleh jalan kompleks.
Dengan suara pelan dan agak bergetar, Minami berkata, “Te—terima kasih atas tumpangannya.”
Kaito menatap heran pada sahabatnya itu lalu mengangguk sambil tersenyum. “Sama-sama, Minami. Les berikutnya, kita pergi dan pulang bareng aja, ya.”
Sontak Minami menatap kaget lagi pada Kaito. Sekarang giliran tangannya yang bergetar. Untuk membalas perkataan Kaito, dia hanya tersenyum kecut lalu cepat-cepat membuka pintu mobil dan pergi.
Kaito diam menatap kepergian Minami. “Minami aneh.”
Ren tertawa sinis. “Iya. Sama kayak kamu.”