Hadiah dari Mama

1757 Kata
“Kami pulang.” Ren dan Kaito kompak saat memasuki rumah. Mama yang sejak tadi duduk di ruang keluarga, bergegas bangkit dari sofa dan menghampiri Kaito. “Selamat datang.” Mama tersenyum ramah. “Gimana lesnya hari ini, Kai?” “Menyenangkan banget, Ma. Semua temen les aku yang liat fotonya Kak Ren bilang kalau Kak Ren itu menggemaskan, manis dan ganteng banget.” Kaito melirik Ren sambil tersenyum dengan memperlihatkan deretan giginya. Mendengar perkataan Kaito itu, Ren hanya bisa menatap kesal kemudian memalingkan wajahnya. Kaito kembali melihat Mama. “Tadi juga aku dipuji sama guru les aku karna aku bisa jelasin materi les hari ini sebelum dijelasin sama sama guru les.” “Oh, ya? Wah. Anak Mama ini emang hebat banget.” Kaito tertawa kecil mengiyakan perkataan Mama. “Habis itu aku bilang aja kalo yang ajarin aku itu Kak Ren.” Perlahan tapi pasti, senyum Mama memudar. Ren yang tadinya hanya melihat rak sepatu di sebelah kirinya, sontak kembali menatap kesal pada Kaito. Kali ini lebih kesal lagi. Sekarang dia merasa adiknya itu mulai bermain-main. Jelas-jelas dalam hal akademik Kaito berada jauh di atas Ren. Lucu juga kalau Ren yang tidak tahu apa-apa itu mengajari Kaito yang serba tahu. “Kapan aku ngajarin kamu?” Ren tak terima. Takutnya juga Mama akan berpikir kalau dia yang meminta adiknya itu untuk berbohong demi dipandang baik oleh guru dan teman-teman les Kaito. “Tiap malam ‘kan Kak Ren selalu duduk di depan aku pas aku lagi belajar.” “Aku nemenin dan ngawasin kamu, bukan ngajarin kamu.” “Kalo Kak Ren nggak nemenin dan ngawasin aku, aku pasti nggak akan belajar. Kalo aku nggak belajar, aku pasti nggak akan bisa jelasin materi les tadi. Jadi ini semua karena Kak Ren, ‘kan?” Ren masih tidak bisa menerimanya. Baru saja dia menarik napas untuk menyanggah perkataan Kaito, Mama yang lebih suka membicarakan tentang Kaito tiba-tiba langsung membahas hal lain untuk menghentikan pembicaraan tentang Ren. “Kai, untuk kamu, Sayang.” Mama menunjukkan sebuah tas belanja yang sejak tadi ditentengnya. “Wah. Apa, nih?” tanya Kaito sambil mengambil alih tas itu dari tangan Mama. Kaito mengeluarkan sesuatu yang berwarna hitam dari dalam sana. Benda itu terlipat rapi. Saat membuka lipatan itu, seketika matanya berbinar-binar dan langsung menunjukkannya pada Ren. “Kak Ren, liat!” “Waktu itu Mama nitip dibeliin jaket sama temen Mama yang pergi ke Bandung. Tadi dia balik dan kasih jaket itu. Katanya itu lagi trend banget dan dijual terbatas.” Kaito tersenyum lebar pada Mama. “Makasih, Mama. Aku suka banget sama jaket ini.” Mama tersenyum puas. Kaito kembali berbalik melihat Ren. Sekarang perasaan Ren tidak enak. “Kak Ren, aku ingat banget waktu itu kita lagi liat-liat majalah, terus Kak Ren bilang kalo jaket ini bagus. Sekarang, Mama beli jaket ini. Pas banget, ya. Padahal aku nggak bilang, lho sebelumnya.” Kaito mencocokkan ukuran jaket itu pada Ren. Sontak Ren menjauh. “Lho, Kak Ren. Sini, dong. Walaupun keliatannya ini pas sama Kak Ren, tetap aja harus dicoba dulu biar pasti. Ayo, cobain!” Kaito bersemangat. “Kai,” panggil Mama sambil meraih tangan Kaito yang sedang memegang jaket tersebut dan membuat kedua tangan anaknya itu turun perlahan. Mereka saling berhadapan. “Jaket ini Mama beli untuk kamu, bukan Ren.” “Tapi jaket aku udah banyak banget, Ma.” “Ren juga udah punya, ‘kan?” Mama mencoba meyakinkan Kaito untuk menerima jaket tersebut. “Iya. Kak Ren punya satu.” “Seenggaknya ada, Sayang. Jaket ini kamu aja yang pake. Biar nanti Mama beli yang lain untuk Ren.” “Ck. Nggak bisa, Ma. Kak Ren sukanya yang ini. Terus kata Mama tadi ini dijual terbatas, ‘kan?” “Kai!” panggil Ren tiba-tiba dan membuat Kaito dan Mama kompak menoleh. “Aku cukup punya satu aja. Aku nggak mau jaket itu.” Ren diam beberapa saat. “Aku mau ke kamar.” Kaito melihat kepergian Ren, sementara Mama sudah kembali menatap Kaito. “Ma.” Kaito juga telah kembali menatap Mama. “Please. Jaket ini untuk Kak Ren aja, ya? Aku nggak tau kapan terakhir kali Kak Ren dibeliin barang baru sama Papa dan Mama. Aku nggak mau Kak Ren selalu pake bekas aku. Aku bakal seneng banget kalo jaket ini dikasih ke Kak Ren, sebelum jadi bekas aku. Seenggaknya lakuin ini demi aku.” Kaito memasang wajah memelas untuk menyempurnakan permintaannya. Mama diam sejenak. Dia menghela napas panjang. Dia kemudian mengangguk sedikit dengan senyum kecut. Seketika Kaito semringah. Dia mengecup pipi kiri Mama. “Makasih, Ma.” Lalu berlari menuju kamar Ren. *** Kaito yang melihat pintu kamar Ren setengah terbuka, langsung masuk saja. Di dalam sana dia melihat Ren sedang duduk di atas ujung tempat tidur. Karena Ren membelakanginya, Kaito tidak tahu apa yang sedang kakaknya itu lakukan. Mungkin melamun? Pelan-pelan Kaito melangkah agar tidak ketahuan, lalu ketika dia sudah sangat dekat dengan Ren, dia memakaikan jaket itu menutupi punggung Ren. Cepat-cepat dia berlari dan berdiri di depan Ren, kemudian memotret laki-laki yang masih agak kaget itu dengan ponselnya. “Kak Ren, liat!” Masih dengan posisi berdiri, Kaito menunjukkan hasil potretnya. “Kak Ren keliatan cocok banget pake jaket itu.” Ren menyingkirkan jaket itu dari punggunya, kemudian memberikannya pada Kaito. “Ambil ini. Ini bukan punya aku.” Kaito tak menerima jaket itu dan membiarkannya tetap berada di tangan Ren. “Itu milik Kak Ren.” “Kamu denger ‘kan tadi apa kata Mama?” Kaito mengangguk yakin. “Mama udah setuju kok kalo jaket ini jadi milik Kak Ren. Kak Ren, sih buru-buru masuk kamar.” “Nggak mungkin. Ambil jaket ini dan simpan di lemari pakaian kamu.” “Aaah. Nggak percaya lagi sama aku. Kak Ren perlu bukti? Perlu aku panggil Mama ke sini?” Ren beranjak dari duduknya. “Kai, kamu ngerti nggak sih gimana situasinya? Mama beli ini untuk kamu, bukan aku. Mama mau kamu yang pake ini, bukan aku. Mama pingin liat sekeren apa kamu pake ini, bukan aku. Mama pasti udah bayangin gimana ekspresi seneng kamu pas dihadiahin jaket ini, penampilan kamu pas pake ini, ucapan bahagia dan terima kasih kamu. Tapi kenyataannya kamu nggak lakuin itu dan malah maksa Mama untuk kasih jaket ini ke aku.” “Aku nggak maksa Mama.” “Mama nggak akan mungkin setuju untuk ngasih ini ke aku kalo nggak dipaksa sama kamu.” Wajah Kaito seketika murung. “Aku nggak mau Kak Ren selalu pake bekas aku. Apa salahnya kalo aku pingin Kak Ren punya barang baru?” “Aku selalu seneng pake bekas adik aku.” Ren meletakkan jaket itu di atas tempat tidurnya. “Bawa ini ke kamar kamu dan kasih tau sama Mama kalo kamu adalah pemilik jaket itu.” Ren berjalan keluar dari kamarnya. Agak lama Kaito menatap jaket yang terbaring di atas tempat tidur Ren itu. Perlahan kakinya melangkah lalu duduk di atas sana sambil mengambil jaket itu. Dia lalu membaringkan tubuhnya sambil menggenggamnya dengan erat. Tak terasa matanya terpejam dan dia terlelap. *** Keesokan paginya, Ren duduk bersandar di tembok di depan kamar Kaito. Sejak tadi tiap kali dia memanggil Kaito untuk sarapan, anak itu selalu saja mengatakan “tunggu” tetapi tidak kunjung keluar dari kamar. Ren melihat jam tangannya. Kalau sampai 5 menit lagi Kaito masih juga belum keluar, dia akan kembali menggedor-gedor pintunya. “Kak Ren!” Akhirnya Kaito keluar juga, tetapi dia malah tidak menemukan Ren di sana. “Ck. Aku di sini.” Kaito menoleh ke bawah. “Lho. Kok di situ duduk? Harusnya masuk aja ke kamar aku. Ini ‘kan bukan kamar Papa dan Mama.” Ren beranjak. Dia menatap Kaito sebentar. “Cepetan. Udah ditunggu sama Papa dan Mama di meja makan.” Kaito mengacungkan kedua jempolnya sambil tersenyum ceria seperti biasa, lalu berjalan di depan Ren. Ya, Kaito selalu berada di depan, sementara Ren di belakangnya dalam segala hal adalah sesuatu yang seolah sudah menjadi keharusan. *** “Selamat pagi, Papa, Mama!” Kaito berhenti di tengah-tengah orang tuanya duduk. Papa dan Mama kompak menoleh pada Kaito. “Pagi, Sayang.” “Kai ....” Mama beranjak dan tersenyum agak lebar. “Kamu pake jaket yang kemarin Mama kasih?” Kaito mengangguk. “Ini ‘kan untuk aku, ya harus aku pake, dong.” Mama tertawa kecil. “Liat, Pa. Anak kita keliatan ganteng dan keren banget, ‘kan?” Papa tersenyum melihat penampilan Kaito. “Banget. ‘Kan buah jatuh nggak jauh dari pohonnya.” Sekarang giliran Kaito yang tertawa kecil. “Yuk, makan sekarang!” Kaito duduk di kursinya, baru setelah itu disusul Ren. *** Di dalam kelas, Kaito duduk sambil menopang dagunya dengan tangannya di atas meja. Minami yang baru saja tiba duduk di sebelah Kaito dan meletakkan tasnya di atas meja. “Pagi, Kai.” Kaito mengangkat kepalanya dan duduk tegap. “Pagi, Minami.” “Kenapa, nih? Ada masalah? Kok murung gitu?” Kaito menghela napas panjang, lalu mengubah arah duduknya dan menghadap Minami. “Kemarin aku dibeliin barang baru lagi sama Mama. Jaket kesukaan Kak Ren. Seperti biasa, Kak Ren nggak dibeliin apa-apa dan dia selalu nolak pas aku mau ngasih barang itu ke dia.” Minami diam. Dia merapatkan bibirnya. “Minami, aku harus apa? Walaupun Kak Ren bilang kalo dia seneng pake barang bekas aku, aku tetap pingin dia pake barang baru. Aku selalu ngerasa berdosa tiap kali liat Kak Ren pake barang bekas aku.” “Coba kamu beliin dia sesuatu pake uang kamu sendiri, Kai. Selama ini dia selalu nolak mungkin karena itu pemberian orang tua kalian untuk kamu. Dia ngerasa itu bukan hak dia.” “Ah, iya juga, ya. Oke, deh. Pulang sekolah entar temenin aku beli, ya.” Minami mengangguk senang. “Pagi, semuanya!” Kaito dan Minami kompak menoleh ke pintu kelas, sumber suara tadi. Itu Kana, gadis cantik yang selalu membuat hati Kaito berbunga-bunga. “Pagi, Kana!” Kaito setengah berteriak. Kana menoleh lalu melempar senyumannya. Dia kemudian duduk diikuti seorang siswa yang juga merupakan bagian dari kelas itu. Kaito terus memperhatikan Kana sambil tersenyum kecil. Ah. Dia begitu mengagumi kecantikan Kana. Minami menepuk-nepuk pelan pundak kanan Kaito. “Cukup, Kai. Jangan cari masalah.” Tanpa menoleh pada Minami dan tetap fokus pada Kana, Kaito berkata, “Tenang aja, Minami. Nggak akan ada masalah apa-apa selama ada Kak Ren.” Perkataan Kaito malah membuat Minami semakin cemas. Minami lalu mencuri pandang pada siswa yang duduk di sebelah Kana, takut kalau siswa itu tahu Kaito sedang memperhatikan Kana apalagi sambil tersenyum seperti ini. ~bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN