Minami kaget ketika melihat siswa yang bernama Jin itu menoleh pada Kaito. Bahaya! Itu membuatnya semakin panik ditambah lagi Kaito masih asyik memperhatikan Kana. Tangan gadis itu semakin cepat dan berulang-ulang menepuk pundak Kaito.
“Kai, udahan dong liatin Kana,” pinta Minami dengan khawatir.
Sayangnya Kaito tetap saja tak menghiraukannya.
Mata Minami seketika membelalak ketika Jin beranjak dari bangkunya dan berjalan mendekati Kaito.
Buk!
Kaito dan Minami tersentak bahkan pukulan meja yang cukup keras itu berhasil membuat jantung mereka berdegup kencang karena kaget. Minami cepat-cepat merogoh kantung seragamnya lalu mengambil ponselnya.
“Aku perhatiin dari tadi kamu liatin pacar aku terus, ya.” Suara Jin masih terdengar agak santai.
Kaito mendongak ke atas melihat Jin yang berdiri di depannya itu. Dia tersenyum lalu mengangguk dengan santai pula.
“Bisa nggak kalo kamu berhenti perhatiin Kana dan fokus aja sama pacar kamu yang itu?” Mata Jin kemudian tertuju pada Minami.
Sontak kepala Minami mundur beberapa senti, matanya menyipit dan telunjuk kanannya menunjuk dirinya sendiri.
Kaito malah tertawa. “Minami? Pacar aku? Semua orang tau kalo kami sahabatan.”
“Kalo gitu tembak aja dia sekarang dan berhenti lempar tatapan genit ke Kana.”
“Nggak bisa, Jin. Aku maunya pacaran sama dia.” Kaito menunjuk Kana.
Oh tidak. Minami menepuk jidatnya. Kaito lagi-lagi berulah. Kebiasaannya yang selalu menganggap santai segala hal dan suka memancing amarah orang kumat lagi.
Jin yang emosinya semakin tersulut langsung menarik kerah baju Kaito hingga membuat laki-laki itu beranjak dari bangkunya. Minami terkejut bukan main dan spontan ikut berdiri. Kaito, orang yang dikhawatirkan Minami malah tetap tersenyum sambil memasang raut wajah menantang.
“Jaga ya omongan kamu. Jangan mentang-mentang orang yang selalu lindungin kamu sekolah di sini juga buat kamu seenaknya kayak gini.”
“Iyaps. Kalo nggak ada Kak Ren di sini, mana berani aku ngomong kayak tadi?” Kaito tertawa. “Karena ada dia di sekolah ini, jadinya aku bisa lakuin apapun yang aku mau.” Kaito melihat Minami. “Iya, ‘kan?”
Lagi, mata Minami membelalak. Kepalanya menggeleng kaku, berusaha memberikan isyarat pada Kaito agar menghentikan semua ini.
Kaito berbalik melihat pada Kana. “Kana!” teriaknya, “Kamu mau nggak putusin Jin dan jadi pacar aku?”
“Sialan!” Jin langsung melayangkan sebuah pukulan di pipi kiri Kaito.
Kuatnya pukulan Jin sampai membuat Kaito terjatuh. Dia memegang pipi kirinya yang terasa perih dan berdenyut. Minami langsung ikut menunduk dan memeluk Kaito untuk melindungi sahabatnya itu dari kemungkinan pukulan berikutnya.
Kelas seketika gaduh. Semua pasang mata tertuju pada meja Kaito dan Minami. Beberapa di antara mereka sampai berkumpul di sana untuk bisa melihat lebih jelas perkelahian itu.
“Mana Kak Ren kamu, hah?!” tantang Jin.
Dari belakang Jin, Ren datang dan menarik tangannya kemudian memukul pipi kirinya seperti yang dia lakukan pada Kaito tadi. Jin yang tak terima kembali melayangkan pukulan dan tepat mengenai ujung bibir kiri Ren.
“Ini urusan aku sama anak manja itu!” teriak Jin.
“Apapun yang berkaitan sama Kaito, itu urusan aku juga,” kata Ren.
“Halah!” Jin memukul Ren lagi.
Kelas semakin ricuh. Ada yang menjadikan perkelahian itu sebagai tontonan, ada yang berusaha melerai, ada juga yang berteriak bahkan berlari keluar kelas untuk memanggil guru.
Merasa kekesalannya belum sepenuhnya tersalurkan, Jin kembali melihat Kaito yang masih duduk di atas lantai kemudian menendangnya. Sayangnya dia tak tepat sasaran dan justru menendang kaki meja. Sial, kaki meja bergeser dengan cepat dan mengenai kaki Kaito hingga membuatnya menjerit.
Ren geram dan membalasnya dengan menendang kaki Jin. Apapun yang orang lakukan pada Kaito, itu juga yang akan Ren lakukan pada orang itu. Ren bisa saja diam saat Jin memukulnya tadi. Namun, dia tidak mungkin bisa diam jika Kaito yang diperlakukan seperti itu.
“Berhenti!” teriak seorang guru yang ternyata sudah berada tepat di depan pintu.
***
Ren, Kaito, Jin dan masing-masing orang tua mereka sudah berada di ruang BK. Ketiga siswa tersebut berdiri di sebelah meja guru BK, sementara orang tua mereka duduk berseberangan dengan guru BK.
Beberapa saat ruangan tampak sunyi. Tak ada seorang pun yang membuka suara.
“Kalian bertiga, ayo siapa yang mau bicara duluan?” Guru BK mempersilakan.
Merasa Ren dan Kaito lama membuka suara, Jin mengambil kesempatan lebih dulu. “Kaito yang mulai, Pak.”
“Memangnya apa yang Kaito lakukan?”
Jin diam beberapa saat. Dia ragu mengatakan penyebab pertengkaran tadi. Soal pacar.
“Jin?”
Jin menarik napas perlahan untuk meyakinkan dirinya. Dia lalu mulai menceritakan awal mula kejadian tadi sesuai fakta.
“Karena itu?” tanya guru BK.
Yap. Sesuai ekspektasi Jin. Ini pasti akan terdengar sepele di telinga guru dan orang tua mereka.
“Kaito ngelakuin itu berulang-ulang walaupun udah berkali-kali saya peringatin, Pak. Dia juga seolah nantang saya bahwa saya nggak akan berani macam-macam sama dia karena ada kakaknya di sini. Saya nggak suka dan nggak mau terus-terusan kayak gitu. Karena ngerasa dia nggak akan berhenti dengan cara verbal, makanya saya main fisik,” aku Jin.
Guru BK menghela napas panjang. “Baik, Jin. Terima kasih karena sudah mengakui itu. Kaito, sekarang kamu.”
“Udah jelas kan Pak kalo yang salah dan jadi pemicu keributan ini adalah Jin? Jangankan mukul, sentuh dia aja saya nggak pernah. Saya cuma liatin Kana. Sesimpel itu. Harusnya dia nggak perlu semarah itu kalo saya cuma ngeliatin pacarnya,” jelas Kaito.
“Baik Kaito, terima kasih. Ren.”
“Sederhana, Pak. Saya cuma mau ngelindungin adik saya.”
Guru BK menatap Ren lebih dalam. “Saya nggak lupa sebelumnya udah beberapa kali kamu masuk ruang BK karena dipukul sama siswa lain.”
Sontak Kaito dan orang tuanya melihat Ren. Mereka tidak mengetahui itu sebelumnya.
Guru BK melanjutkan. “Masalanya sama. Berhubungan sama Kaito. Siswa-siswa itu kesal karena kamu selalu ikut campur masalah di antara mereka dan Kaito. Tapi saya nggak pernah panggil orang tua kalian karena semuanya selalu berakhir dengan permintaan maaf dan memaafkan antar siswa. Sekarang penyebab pertengkarannya lebih sepele, tapi kenapa bisa sekacau ini akhirnya?”
“Karena adik saya dipukul, Pak.”
“Sebelumnya kan kamu juga dipukul.”
“Tugas saya melindungi adik saya, bukan melindungi diri saya sendiri.”
Kaito menyeka setitik air yang berada di ujung matanya. Kepalanya sedikit menunduk untuk menyembunyikan kesedihannya dari orang lain.
Guru BK menghela napas panjang lagi. “Baik. Siapapun di antara kalian yang merasa bersalah, silakan minta maaf.”
Ren berjalan sedikit melewati Kaito dan berhenti di depan Jin. “Jin, aku minta maaf. Aku harap pukulan dan tendangan aku tadi nggak terlalu menyakiti kamu. Selama kamu nggak nyakitin Kaito, aku janji nggak akan pernah nyakitin kamu juga. Misalkan suatu saat nanti Kaito buat kamu marah lagi, tolong jangan lakuin apa-apa ke dia. Kamu cukup datang ke aku dan bilang semuanya. Kamu boleh lampiasin semuanya dengan cara apa aja ke aku dan aku pastiin aku nggak akan lakuin apa-apa ke kamu. Setelah itu biar aku yang ngomong sama Kaito agar dia nggak lakuin kesalahan itu lagi.” Ren diam beberapa saat menatap sendu pada Jin. “Kamu mau maafin aku?”
“Ren…” Jin juga terdiam beberapa saat. “Aku akan maafin kamu kalo kamu maafin aku.”
Ren tersenyum kecil lalu mengangguk. Jin ikut tersenyum, hanya saja lebih lebar. Dia kemudian memeluk Ren.
Begitu mereka selesai berpelukan, Ren kini berjalan lagi dan berhenti tepat di depan orang tua Jin. Dia lalu membungkukkan badannya. “Atas nama Kaito dan diri saya sendiri, saya minta maaf karena udah nyakitin anak Om dan Tante.”
Ibu Jin tak mampu lagi menahan rasa harunya. Dia beranjak dari kursinya dan memeluk Ren.
Dari luar ruangan BK, Minami melihat semuanya dari balik jendela. Sebenarnya ada rasa bersalah juga karena jika dia tidak mengirim pesan pada Ren tadi, Ren tidak akan datang dan menerima pukulan itu. Tetapi untunglah semuanya berakhir baik-baik saja.
***
Ren dan Kaito tiba di rumah. Di sana, orang tua mereka sudah menunggu sejak tadi.
“Ren, tolong ambilkan kotak P3K,” suruh Papa saat Ren dan Kaito sedang membuka sepatu.
Ren mengangguk sedikit lalu bergegas mengambilnya. Tak butuh waktu lama, dia kembali dengan kotak P3K di tangannya dan memberikannya pada papa. Papa membukanya lalu memberikan alkohol, obat merah serta kapas pada mama.
“Sini, Sayang.” Mama menarik lembut tangan Kaito lalu mereka duduk di sofa yang ada di ruang tamu. “Tahan dikit, ya.” Mama mulai dengan membersihkan darah yang mulai mengering di tulang pipi Kaito.
“Ah!” jerit Kaito.
Mama tersentak. “Sakit, ya? Maaf, ya. Mama akan lebih lembut.”
“Pa, Ma,” panggil Ren pelan, “Maaf. Harusnya aku datang lebih cepat.”
Tok tok tok!
Ren bergegas berjalan menuju pintu. Ketika dia membukanya, rupanya itu Minami. Gadis itu tersenyum kecil.
“Kaito ada di dalam. Silakan masuk,” kata Ren.
Dari tempat Minami berdiri, terlihat apa yang sedang dilakukan Kaito, papa dan mama di ruang tamu. Minami sudah menduganya. Itu sebabnya dia berada di sini.
“Bukan Kaito, tapi kamu,” kata Minami, “Kalo kamu nggak keberatan, mungkin kita bisa di luar aja.”
Ren melihat sebentar ke dalam. Merasa dia sedang tidak dibutuhkan, dia mengangguk pada Minami untuk mengiyakan ajakan gadis itu.
…
Ren dan Minami duduk beralaskan rumput di pekarangan rumah Ren. Minami lalu memberikan kotak P3K kepada Ren dan membiarkan laki-laki itu mengobati luka-lukanya sendiri.
“Terima kasih,” ucap Ren kemudian membuka kotak P3K tersebut.
Dalam tundukan kepala Ren, muncul tangan Minami yang sedang memberikan sebuah cermin kecil pada Ren. Itu akan memudahkan Ren dalam mengobati lukanya.
Ren menatap Minami sedetik. “Terima kasih,” katanya lagi.
Minami mengangguk sambil tersenyum. Beberapa kali dia melihat Ren, memastikan bahwa laki-laki itu memilih obat dan mengobati lukanya dengan benar.
Kalau saja Minami bukan gadis pemalu dan Ren bukan laki-laki dingin, mungkin gadis itu sudah menawarkan dirinya untuk mengobati luka Ren.
~bersambung