Untuk Ren

1887 Kata
Sore itu, Kaito dan Minami bersama-sama masuk ke ruang les mereka. Ya, seperti kesepakatan kemarin bahwa mulai hari ini Minami akan terus pergi dan pulang les bersama Kaito. Mereka menjatuhkan b****g di kursi yang tersambung dengan meja berwarna putih itu. Kaito lalu meletakkan tasnya di sebelah kaki kursi, kemudian menghela napas berat. Dia memegang pelan luka di pipi kirinya yang masih meninggalkan sedikit rasa sakit. “Masih sakit?” tanya Minami. Kaito mengangguk pelan dengan wajah murung dan tampak lesu. “Kan aku udah peringatin berkali-kali, jangan cari masalah. Eh, kamunya malah terusin bahkan memperparah keadaan. Lain kali jangan gitu lagi ya, Kai.” Kaito mengangguk lagi. “Tapi ada yang jauh lebih sakit dibanding pipi aku, Minami.” Minami mengernyitkan dahinya. “Apa?” “Ini.” Kaito menunjuk dadanya. Minami semakin bingung. Seingatnya Jin tidak memukul d**a Kaito tadi. “Walaupun gara-gara kejadian tadi aku harus kena pukul, tapi aku sama sekali nggak nyesel. Justru bagus kalo tadi aku terus mancing amarahnya Jin. Coba kalo nggak, aku pasti nggak akan masuk ruang BK.” Minami menggaruk pelipisnya. Entah sudah berada di level mana tingkat kebingungannya sekarang. Kaito menoleh pada Minami dengan wajah agak datar. Minami agak terkejut. Dia kira Ren saja yang bisa memasang wajah seperti itu. “Berkat kejadian tadi, aku jadi tau ternyata itu bukan pertama kalinya Kak Ren masuk ruang BK. Selama ini dia nggak pernah cerita apa-apa.” Kaito tertawa sinis. “Oh, iya. Aku baru ingat. Selama ini Kak Ren emang nggak pernah cerita apa-apa. Aku yang selalu bercerita, Kak Ren yang selalu jadi pendengar. Selain beberapa kali udah masuk ruang BK, Kak Ren juga ternyata sering bermasalah sama siswa lain bahkan sampe kena pukul. Mirisnya, semua itu karena aku.” Minami mendekatkan kursinya pada Kaito lalu memegang lembut tangan kanan laki-laki yang berada di atas meja itu untuk menunjukkan empatinya. “Aku ingat beberapa kali Kak Ren pulang dari sekolah dengan memar dan luka kecil di wajah. Pas aku tanya, dia bilang itu bukan urusan aku. Aku bodoh. Kenapa aku nggak cari tau lebih dalam lagi?” “Kamu nggak bodoh, Kai. Kamu cuma nurutin perkataan Ren yang secara nggak langsung minta kamu untuk nggak kepo sama keadaannya waktu itu dengan bilang itu bukan urusan kamu.” “Minami .…” Kaito diam sejenak. Terlihat jelas ada rasa berkecamuk dalam hatinya. “Kak Ren selalu ngasih perlindungan untuk aku. Tapi aku malah ngasih luka untuk dia. Aku jahat, ya?” Minami menggeleng cepat. “Kai, tolong jangan bilang kayak gitu. Sebelumnya kan kamu nggak tau kalo penyebab luka itu karena Ren ikut campur urusan kamu sama siswa lain. Ikut campur itu juga keinginan Ren sendiri, ‘kan?” Sekarang giliran Kaito yang menggeleng. “Itu keinginan orang tua kami. Aku yakin Kak Ren pasti sebenarnya udah capek terus ikut campur.” “Dia harus ikut campur karena dia kakak kamu, Kai. Kamu denger sendiri kan tadi dia bilang tugasnya itu untuk ngelindungin kamu?” Kaito mengangguk sebelum akhirnya dia sadar akan sesuatu. “Eh, kok kamu tau? Kamu kan nggak ada di ruang BK tadi.” Minami nyengir kuda. “Hehehe. Aku diam di depan ruang BK tadi dan nggak sengaja kedengaran obrolan kalian. Pintunya kebuka dikit.” Kaito akhirnya tertawa juga, walau hanya tawa kecil. “Kamu ngerasa bersalah sama Ren?” tanya Minami dan dibalas anggukan dari Kaito. “Kalo gitu mending sekarang kamu keluar, temui Ren dan minta maaf sama dia. Aku yakin itu akan buat kamu ngerasa lebih tenang.” “Ah, iya. Kamu bener juga.” Kaito agak lama menatap Minami dalam diam. “Terima kasih, Minami. Curhat ke kamu itu tepat banget.” Minami tersenyum dan mengangguk sedikit. “Pergilah.” *** Kaito sampai dan berdiri tepat di sebelah mobil. Dari luar dia mengetuk kaca mobil. Ren yang melihatnya bergegas menurunkan kaca mobil. “Apaan?” tanya Ren. “Ada yang kelupaan, Kak Ren.” “Ya, udah masuk.” Ren menonaktifkan pintu mobil yang terkunci. Kaito bergegas masuk lalu duduk di tempat biasanya dia duduk. Ren kemudian menyalakan mesin mobilnya. “Lho, Kak Ren. Mau ke mana?” Mendengar pertanyaan aneh Kaito, Ren batal menjalankan mobil, tetapi tetap membiarkan mesin menyala. “Katanya ada yang kelupaan. Ya, kita ambil lah.” “Ehehe. Kak Ren, nih.” “Ck. Apaan, sih? Yang jelas kalo ngomong. Jangan setengah-setengah.” “Iya, Kak Ren, iya. Maksud aku itu bukan barang yang kelupaan, tapi minta maaf sama Kak Ren.” “Emang siapa yang salah sampe harus minta maaf?” Kaito menunjuk dadanya. “Aku.” “Ck. Nggak usah bercanda. Udah sana masuk aja ke kelas.” “Tapi aku mau minta maaf dulu sama Kak Ren.” “Kamu nggak salah. Kalaupun ada yang salah, itu aku. Udah sana cepetan masuk.” “Kak Ren .…” “Ck. Mau masuk atau aku pulang sekarang?” “Eh, iya-iya. Aku masuk sekarang.” Kaito bergegas keluar dari mobil sebelum Ren benar-benar meninggalkannya. Setelah berada di luar mobil, Kaito diam dan belum menutup kembali pintunya. “Kak Ren jangan pulang, ya.” Ren hanya mengangkat-turunkan alisnya sebagai jawaban. *** Les berakhir. Kaito dan Minami berjalan melewati beberapa ruangan yang lain. Langkah mereka agak pelan. Sengaja. Obrolan mereka ini memang sebaiknya dibicarakan sebelum masuk ke mobil. “Minami, harusnya sepulang sekolah tadi kita beli barang untuk Kak Ren kayak yang udah kita rencanain sebelumnya. Tapi orang tua aku malah suruh aku langsung pulang gara-gara masalah tadi.” “Nggak apa-apa, Kai. Kan masih bisa besok.” “Tapi aku maunya sekarang. Aku nggak sabar pingin kasih barangnya ke Kak Ren dan liat ekspresi bahagianya. Aku nggak tau kapan terakhir kali aku liat Kak Ren bahagia.” Minami tersenyum kecil. “Kalo sekarang kita beli, gimana?” Kaito seketika semringah. “Ah, iya. Kamu bener.” Kalimat yang sering keluar dari mulutnya tiap kali mendiskusikan sesuatu dengan Minami. “Ngomong-ngomong, kamu mau beliin apa untuk Ren?” “Jaket. Kemarin mama beli jaket kesukaan Kak Ren. Sayangnya jaket itu untuk aku. Aku udah pernah cerita ke kamu atau belum, ya?” “Oh, itu. Udah, kok. Tapi, Kai. Menurut aku jangan beliin jaket, deh. Kesannya tu kayak pingin ganti jaket yang kemarin. Mungkin Ren bakal nolak.” “Ah, iya juga.” Kalimat itu lagi. “Terus apa, ya?” Cukup lama mereka berpikir hingga akhirnya ide yang tercetus cukup sederhana. Baju. … Kaito dan Minami tiba di samping mobil. Baru saja Kaito akan membuka pintu, Minami tiba-tiba mencegahnya dengan menarik pelan tangan kiri Kaito. Minami melihat sebentar pada orang yang berada di dalam mobil sebelum akhirnya menatap Kaito. “Kai, tolong jangan cari masalah lagi, ya. Aku harap kejadian di sekolah hari ini adalah yang terakhir kalinya. Kalo kamu khilaf, pasti bakal langsung aku ingetin. Tapi inget, jangan abaikan aku.” Tiba-tiba ada rasa takut kalau dua kakak beradik itu akan terluka seperti hari ini. Kaito tersenyum. Dia tahu betul seberapa besar perhatian sahabatnya ini padanya. “Iya, Minami. Aku usahain, demi kamu dan Kak Ren.” Minami tersenyum lega lalu mereka masuk ke mobil. “Kak Ren,” panggil Kaito saat sudah berada di dalam mobil kemudian menutup pintunya. “Kita ke mall dulu, ya. Aku pingin beli sesuatu.” Ren mengangguk sedikit lalu mulai menjalankan mobil. “Kak Ren nggak mau nanya aku mau ngapain atau beli apa di sana?” Minami yang berada di belakang sontak menyipitkan matanya mendengar pertanyaan Kaito itu. Jelas-jelas mereka sepakat untuk tidak memberitahu ini dulu pada Ren dan ingin menjadikannya kejutan, tetapi mengapa Kaito malah memancing Ren untuk mengetahuinya? “Nggak.” Jawaban Ren itu membuat Minami lega. Dalam perjalanan, Kaito memikirkan kira-kira baju seperti apa yang akan dia belikan untuk Ren. Kalau soal warna, tentu hitam, satu-satunya warna kesukaan kakaknya dan memang mencerminkan seorang Ren. Untuk modelnya, apakah kaos, kemeja, atau yang lainnya? Ya, Kaito memang harus menetapkannya dari sekarang. Di mall nanti akan ada banyak pilihan yang tentunya membuat mata ingin membeli semuanya. Tidak terasa mobil sudah berhenti di tempat parkir mall. Untunglah Kaito sudah menetapkan baju seperti apa yang akan dia beli. “Kak Ren tunggu di sini, ya. Jangan ikut kami ke dalam dan jangan juga pulang duluan.” “Hem.” Kaito tersenyum. “Ayo, Minami.” *** “Kamu mau beli berapa baju?” tanya Minami saat dia dan Kaito sedang berada di dalam lift. “3 cukup kali, ya?” “Em, kalo 1 dulu, gimana? Kamu tau kan gimana Ren? Takutnya dia bakal nolak sedangkan kamu udah terlanjur beli banyak. Kamu kan nggak suka pake baju hitam.” “Ah, kamu tau aja aku mau beli yang warna hitam.” Kaito berpikir sebentar sambil mengedarkan pandangannya ke langit-langit lift. “Iya juga, sih. Okelah, aku beli 1 dulu. Nanti kalo Kak Ren suka, kamu temenin aku untuk beli lagi, ya.” Minami mengangguk semangat. Ingin sekali rasanya dia juga membelikan sesuatu untuk diberikan kepada Ren. Namun, bukankah itu akan terasa aneh bagi Ren? Ah, nanti sajalah jika situasinya sudah memungkinkan. … Kaito dan Minami kembali ke mobil setelah hampir setengah jam mereka dibuat bingung memilih baju mana yang akan dibeli. “Kak Ren, tau nggak ini isinya apa?” tanya Kaito sambil menunjukkan paperbag berukuran sedang di tangannya. Di kursi tengah, Minami menepuk jidat. Lagi-lagi Kaito memancing Ren. “Nggak tau dan nggak mau tau,” jawab Ren. “Bagus .…” Kaito mengacungkan jempol kanannya. Di sepanjang jalan, Kaito terus memperhatikan paperbag kemudian Ren secara bergantian. Dia membayangkan akan seperti apa respon Ren nanti saat menerima barang pemberiannya itu dan itu akan menjadi yang pertama kalinya. Secara logika, seharusnya Ren tidak akan menolak ini. Toh bajunya bagus, warna kesukaan Ren dan yang paling penting adalah ini akan menjadi baju baru pertama Ren, bukan bekas Kaito. Setelah hijau dan kuning, sekarang giliran lampu merah yang unjuk gigi dan membuat kendaraan bermotor berhenti. Ren yang sejak tadi merasa risih karena terus dipelototi oleh Kaito dengan senyumnya yang menurut Ren menyeramkan akhirnya tak bisa menahan diri lebih lama lagi untuk mengomeli adiknya itu. “Ngapain sih ngeliatin aku terus? Ada rencana jahat apa?” Kaito tertawa dan itu membuat Ren semakin takut. “Kak Ren ini ada-ada aja, deh. Orang sebaik dan semenggemaskan kayak aku mana mungkin punya rencana jahat apalagi sama Kak Ren?” “Ya terus?” “Kak Ren ganteng. Aku suka mandangin wajah Kak Ren dan nggak akan pernah bosan.” Ya, terbukti dengan dijadikannya Ren sebagai wallpaper di ponsel dan laptop Kaito. Ren sontak menatap tajam pada Kaito. “Aneh kamu.” Kaito tertawa lagi. “Iya, kayak Minami, ‘kan?” Minami yang duduk anteng refleks mendongakkan kepalanya. Ada apa? Mengapa namanya dibawa-bawa? “Ck. Apaan sih, Kai?” Ren semakin kesal. “Lho. Kak Ren lupa, ya? Waktu itu kan aku pernah bilang Minami aneh.” Kaito melihat sebentar ke belakang. “Maaf ya, Minami. Waktu situasinya emang sikap kamu aneh.” Kembali melihat Ren. “Terus Kak Ren bilang ‘aneh kayak Kaito’. Nah, kalo sekarang Kak Ren bilang aku aneh, ya bener dong yang aku bilang tadi kalo Minami juga sama.” Ren menjadi merasa tidak enak pada Minami yang sejak tadi diam tetapi malah kena juga. “Jangan didengerin orang nggak jelas ini, Minami. Jam segini emang harusnya dia nggak ada di luar rumah.” Kaito tertawa lagi. Aneh memang. ~bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN