Bukan Milik Ren

1765 Kata
Setelah mengantar Minami sampai di depan rumahnya, kini Ren sudah berada di rumah dan berjalan menuju kamarnya. Sejak mulai masuk ke rumah tadi dia sudah merasa bahwa ada yang mengikutinya dari belakang, tetapi tidak dia hiraukan. Orang aneh itu memang lebih baik tidak dihiraukan. Hanya menambah masalah saja, pikir Ren. Sampai akhirnya Ren masuk ke kamarnya, suara langkah kaki orang aneh itu tetap mengiringi Ren. Dengan agak kesal, Ren membalikkan badannya. “Ck. Kamar kamu di mana sih sebenarnya?” “Ehehe.” Kaito terus berjalan hingga masuk lebih dalam ke kamar Ren. Dia lalu duduk di atas tempat tidur dan mengelus-elus spreinya. “Wah. Lembut. Ehehe.” Aneh memang. Ren menghela napas. “Keluar nggak?” Kaito menggeleng. “Aku ada urusan sama Kak Ren.” “Kenapa nggak bilang dari tadi? Malah diam aja dan ngekor terus.” “Ehehehe.” “Ck. Bisa nggak sih to the point aja dan nggak usah cengengesan terus?” “Bisa kok, Kak Ren, bisa. Kak Ren jangan marah-marah terus, dong. Nanti disangka kita beda 5 tahun atau lebih. Mau?” Lagi, Ren menghela napas, masih berusaha sabar menghadapi adiknya itu. Kaito tersenyum sambil memperlihatkan deretan giginya. “Sini, Kak Ren. Duduk.” Kaito menepuk-nepuk kasur di sebelah bokongnya. Ren tak berkutik dan hanya membuang muka dengan malas. “Sini!” Kaito menarik paksa tangan Ren hingga membuatnya duduk tepat sebelah Kaito. Ren yang kaget dan dibuat semakin kesal melempar tatapan tajam pada Kaito. “Ehehe. Maaf, Kak Ren. Kak Ren sih keras kepala, nggak mau nurutin perkataan aku.” Kaito memperbaiki posisi duduknya. “Taraaa!” Dia menunjukkan paperbag yang sejak tadi sengaja dia sembunyikan di punggungnya, padahal itu terlihat jelas oleh Ren. Ren hanya menatap datar pada paperbag itu. Kaito mendekatkan tangannya yang memegang tali dari paperbag tersebut kepada Ren sebagai isyarat ingin Ren segera mengambilnya. Namun, Ren tetap diam. “Ih, Kak Ren. Ambil, dong. Ini dari aku, special untuk Kak Ren tersayang.” Kaito tersenyum manis. Dengan malas tangan Ren meraih paperbag tersebut lalu mengeluarkan isinya. Sebuah kemeja dengan warna dominan hitam. “Sekarang Kak Ren punya satu baju yang bukan bekas aku. Kak Ren suka, ‘kan? Cobain, dong. Harusnya sih pas. Tadi aku nyoba itu.” Kaito memegang kedua pinggangnya. “Badan kita kan sama.” Bukannya melakukan apa yang Kaito minta, Ren malah mengembalikan kemeja beserta paperbagnya dengan meletakkannya di atas paha Kaito. “Jangan buat masalah lagi.” Dia beranjak dari tempat tidur. “Lho. Kok masalah, sih?” “Papa sama mama nggak akan suka kalo kamu kasih itu ke aku.” Kaito merapatkan alisnya. “Kak Ren tau dari mana mereka nggak akan suka?” “Nggak usah banyak tanya dan keluar sekarang dari kamar aku.” “Nggak, sebelum Kak Ren mau terima kemeja ini dan cobain.” “Jangan keras kepala, Kai.” “Kak Ren juga keras kepala.” Kaito berusaha memakaikan sendiri kemeja tersebut ke badan Ren. “Ayo, Kak Ren, cobain.” “Ck. Aku nggak mau, Kai.” Ren juga berusaha menghindari Kaito. Ren berjalan cepat berputar-putar di dalam kamarnya, tetapi Kaito tak berhenti dan tetap berusaha membuat Ren memakai kemeja itu sambil terus meminta agar kakaknya itu mau menerimanya. “Kai, ada apa ini?” tanya Papa yang tiba-tiba muncul di pintu kamar Ren karena mendengar suara Kaito tadi. Ren dan Kaito kompak terdiam. “Ini, Pa. Aku barusan beliin Kak Ren kemeja tapi malah nggak mau diterima sama Kak Ren.” “Kamu beliin Ren kemeja?” Papa memastikan bahwa dia tidak salah dengar. Kaito mengangguk yakin. “Untuk apa?” “Ya, untuk dipake lah, Pa.” “Emanya kenapa sama kemejanya Ren yang lain? Udah rusak? Nggak muat?” Kaito menggeleng. “Aku pingin Kak Ren punya yang baru.” Papa menghela napas lalu masuk sedikit ke kamar Ren. Setelah berdiri tepat di sebelah Kaito, dia mengambil kemeja dari tangan anaknya itu. “Nggak ada bedanya mau yang baru atau bekas. Selagi masih bisa dipake, kenapa harus beli baru? Itu kan kegunaan pakaian? Daripada uangnya dipake beli barang yang seharusnya nggak dibeli, kan lebih baik ditabung atau dipake buat beli buku pelajaran kamu, Kai.” “Iya, Kai. Papa bener,” kata Ren. Kaito mendadak murung, selain karena kemeja itu sudah tak berada di tangannya melainkan di tangan papa, juga karena Ren lebih dan selalu memihak pada orang tua mereka dibanding dirinya. “Terus gimana sama kemeja itu sekarang kalo nggak dikasih ke Kak Ren?” “Disimpan aja dulu. Siapa tau nanti mau kamu pake,” jawab Papa. “Tapi kan aku nggak suka warna hitam, Pa.” “Suatu saat nanti pasti suka, kok. Kamu simpan aja ini di lemari kamu, ya.” “I--iya udah, deh.” Kaito mengambil kembali kemeja tersebut lalu berjalan lesu keluar dari kamar Ren. “Ren,” panggil Papa yang tadinya melihat kepergian Kaito, sekarang menoleh pada yang dipanggil. “Tolong yakinin Kaito kalo kamu nggak keberatan pake baju bekasnya dia, ya.” “Iya, Pa. Aku udah sering bilang kayak gitu sama dia.” “Tapi buktinya sekarang dia sampe beliin kamu pakaian. Itu artinya kamu belum bisa yakinin dia kalo kamu emang nggak keberatan.” “Iya, Pa. Aku akan berusaha untuk yakinin dia lagi.” Papa diam beberapa saat. “Terima kasih, Ren. Papa serahin Kaito sama kamu.” Ren mengangguk pelan. *** Suasana mulai terasa dingin. Angin berhembus semakin lama semakin kencang hingga membuat tirai-tirai yang berada di kamar berkibar. Tak lama setelah itu samar-samar terdengar suara gemuruh. Sebagai pelengkap sore yang tenang itu, hujan mulai mengguyur kota Jakarta. Ren sangat menyukai suasana seperti ini. Dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil merentangkan kedua tangannya. Matanya mulai terpejam. “Kak Ren~” Samar-samar terdengar teriakan Kaito. Ren cukup terusik, tetapi dia diam saja. Toh juga biasanya teriakan itu akan disusul dengan kedatangan Kaito di tempat Ren berdiam diri. “Kak Ren~” Ya, ini pertama kalinya Kaito sudah memanggil sebanyak dua kali, tetapi tak kunjung mendatangi Ren. “Kak Ren~” Teriakan itu terdengar lagi. Ren seketika membangunkan tubuhnya begitu menyadari bahwa suara itu berasal dari luar rumah. Dia bergegas pergi ke balkon kamarnya dan mendapati Kaito sedang bermain hujan di bawah sana. Kaito menoleh ke atas, tempat Ren berdiri. Senyumannya semakin mengembang. Tangannya melambai-lambai. “Kak Ren! Udah lama banget sejak terakhir kalinya kita main di bawah hujan! Sekarang akhirnya aku bisa lakuin itu lagi! Tinggal Kak Ren yang kurang! Ayo, Kak Ren! Ke sini! Kita ulangin masa-masa kecil dulu!” “Masuk, Kai!” Kaito tertawa lalu menggelengkan kepalanya. “Ayo, Kak Ren!” Ren bergegas keluar dari kamarnya. Dia ingat terakhir kali bermain hujan, Kaito sampai jatuh sakit. Kakinya semakin cepat berlari hingga tiba di depan pintu utama. “Kai! Masuk!” “Dikit lagi, Kak Ren. Baru juga aku main.” “Kai, ingat umur dong. Ayo, cepetan masuk!” “Ih! Kak Ren selalu aja nggak pernah bisa kayak papa sama mama yang nggak pernah nolak permintaan aku.” Ren menggaruk frustasi kepalanya. “Cepetan masuk! Nanti sakit baru tau rasa.” Kaito malah tersenyum. “Seperti biasa, kalo aku sakit pasti Kak Ren mendadak jadi ramah sama aku. Sakit seenak itu, Kak Ren.” Ren yang semakin muak akhirnya menerobos hujan dan menarik tangan Kaito dengan paksa. Namun, itu tak berhasil karena adiknya itu bersikeras menahan dirinya untuk tetap berada di bawah hujan. Kalau sudah begini tak ada cari lain selain .… Ren mengangkat tubuh Kaito dan membawanya masuk ke rumah. Kaito malah tertawa terbahak-bahak berada di atas punggung kakaknya. Dia tak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Dia memeluk Ren dengan erat, hal yang begitu dia sukai selama ini. *** Papa dan mama bangun dari tidur siang mereka. Tidur di saat hujan sedang mengguyur memang sangat nikmat. Mereka lalu pergi ke kamar Kaito untuk melihat apakah anak itu masih tidur atau tidak. Rencananya mereka ingin mengajaknya keluar jalan-jalan dengan mobil. Begitu mereka membuka pintu kamar Kaito, didapatinya Ren sedang mengeringkan rambut Kaito dengan handuk. Ren yang melihat orang tuanya mendadak memiliki firasat buruk. “Lho, Kai. Kamu cuci rambut pas hujan-hujan gini? Emangnya nggak dingin?” tanya Mama. Kaito tersenyum. “Barusan aku mandi hujan, Ma. Kak Ren juga. Tapi, dia sebentar aja.” Kaito menatap kesal pada Ren. Oh tidak. Ren lupa membuat kesepakatan dengan Kaito untuk tidak memberitahukan hal itu pada orang tua mereka. “Kamu mandi hujan?” Seperti biasa, papa selalu memastikan. Kaito mengangguk semangat. “Seru banget. Hachuu!” Ya, satu bersin itu saja sudah cukup membuat jantung Ren berdegup kencang, terlebih lagi di sana ada orang tua mereka. Dia semakin merasa bersalah. Papa dan mama cepat-cepat menghampiri Kaito dengan raut panik. Mama meraba kening putranya itu dan ya, demam. “Ren, kamu nggak tau kalo adik kamu demam?” tanya Mama dengan sorot mata cukup tajam. Ren menggeleng pelan. “Aku belum sempat cek suhu tubuhnya tadi.” Mama mengela napas dan itu menunjukkan kekecewaannya pada Ren. “Ikut Papa, Ren,” suruh Papa sembari berjalan keluar dari kamar Kaito. Ya, Kaito tak perlu mengkhawatirkan apapun. Dia tahu orang tuanya adalah orang yang lembut dan hangat. “Sekarang kamu rebahan. Mama siapin perlengkapan kompres dulu, ya.” *** Sekarang Ren dan papa sudah berdiri tepat di depan kamar Kaito setelah baru saja papa menutupnya. “Kamu tau ‘kan Kaito paling nggak bisa kena hujan? Kamu ingat ‘kan kapan terakhir kali Papa dan Mama larang dia mandi hujan dan kasih kepercayaan ke kamu untuk urus dia?” tanya Papa bertubi-tubi. Ren mengangguk pelan dengan kepala agak tertunduk. “Terus kenapa sekarang jadi kayak gini?” “Maaf, Pa. Aku nggak tau kalo tadi dia udah di luar dan hujan-hujanan.” “Emangnya kamu ke mana aja tadi sampe nggak tau? Tidur?” Ren menggeleng lagi. “Maaf, Pa. Aku salah.” “Kamu selalu salah dan nggak pernah perbaiki itu, Ren. Semua kesalahan yang sama selalu terjadi lagi dan lagi. Kamu mau buat Kaito mati karena hujan?” Kepala Ren refleks menjadi tegak dan menggeleng cepat. “Aku janji ini yang terakhir.” “Papa tau kamu nggak sayang sama Kaito. Papa tau kamu terpaksa terima tanggung jawab untuk jagain dia. Tapi nggak gini caranya untuk nunjukkin keenggaksukaan kamu itu, Ren. Kasian Kaito.” “Aku sayang sama dia.” “Nggak. Kamu sama sekali nggak sayang sama dia. Mumpung ini masih hujan, sekarang kamu berdiri di halaman belakang di bawah langit. Jangan masuk sebelum kamu ngerasa meriang. Yang terjadi sama Kaito juga harus terjadi sama kamu. Satu lagi, jangan sampai Kaito tau ini.” Ren mengangguk pelan lalu pergi. ~bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN