Hampir tiga jam Ren berdiri di halaman belakang untuk menjalani hukumannya. Langit semakin gelap. Mungkin ini sudah sekitar pukul delapan malam. Namun, Ren masih belum merasa meriang. Mungkin daya tahan tubuhnya memang kuat. Padahal dia ingin sekali menemui Kaito, melihat kondisi adiknya itu. Semoga saja tidak apa-apa.
Hujan juga sepertinya betah sekali mengguyur Jakarta. Ren sedikit mengangkat wajahnya menghadap langit dengan mata terpejam, membiarkan derasnya hujan itu mengenai wajahnya secara langsung. Senyum kecil tercipta di wajahnya. Hujan memang sangat menangkan dan menyenangkan. Pantas saja Kaito sangat suka bermain di bawah hujan.
Tiba-tiba kedua alis Ren saling merapat. Terasa sesuatu yang berbeda sedang terjadi. Derasnya hujan masih terdengar jelas, tetapi tak terasa lagi airnya menimpa kulitnya. Dia mengembalikan posisi kepalanya menjadi lurus ke depan dan perlahan membuka matanya. Di depannya sudah berdiri Minami. Mereka sekarang berada di bawah sebuah payung yang sama. Ren sontak mundur beberapa langkah dan kembali membiarkan tubuhnya diguyur hujan.
Sekarang giliran alis Minami yang merapat. “Kenapa, Ren? Kamu sengaja hujan-hujanan? Jam segini?”
“Kenapa kamu ada di sini?” tanya Ren dengan datar dan tak mengindahkan pertanyaan Minami barusan.
Minami menunjukkan sebuah rantang yang ditenteng tangan kirinya. “Aku mau kasih ini ke keluarga kamu. Tadi nenek aku masak banyak. Berkali-kali aku manggil di pintu utama tapi nggak ada yang keluar. Pas liat gerbang belakang kebuka, jadinya aku mutusin untuk masuk lewat sini.”
“Kalo gitu langsung masuk aja dari pintu belakang. Kalo kamu teriak, kayaknya akan kedengeran.”
Minami hanya diam dan tak mengambil langkah sedikit pun.
“Kamu denger aku?” tanya Ren.
Minami mengangguk sedikit. “Kenapa kamu hujan-hujanan?” Pertanyaan yang sama sengaja diulangnya karena tak mendapat jawaban tadi.
“Bukan urusan kamu.”
Ya, benar juga. Ren hanyalah kakak dari sahabat Minami dan itu tidak memberinya hak untuk bertanya banyak pada Ren. Berbeda ceritanya jika orang yang ada di hadapannya ini adalah Kaito. Rasa ingin tahu tentang Ren pasti ada, tetapi dia tahu benar jika Ren sudah berkata ‘ini bukan urusan kamu’ itu artinya dia tidak boleh melanjutkan pertanyaannya. Dia tahu Ren tidak menyukai Kaito yang selalu menanyakan ini dan itu walaupun sudah berkali-kali Ren mengatakan jika itu bukan urusannya. Dia tidak mau menjadi orang yang juga tidak disukai oleh Ren.
Minami semakin tak bersemangat. “Ya udah kalo gitu.” Lalu melangkah pelan menuju dapur.
“Permisi!” teriak Minami.
Akhirnya penghuni rumah datang juga. Mama.
“Eh, Minami. Mau cari Kaito, ya? Dia lagi di kamar. Demam.”
“Demam? Kok bisa, Tante?”
“Dia habis hujan-hujanan tadi.”
Minami diam sejenak. Matanya tertuju keluar, tempat dia melihat Ren tadi. Sekarang dia paham alasan apa yang membuat laki-laki itu berdiri di sana.
“Minami mau jenguk Kaito?” tanya Mama dan menyadarkan Minami.
“Eh, em nggak, Tante. Biarin Kaito istirahat aja dulu. Besok pagi sebelum ke sekolah, aku akan mampir ke sini dulu.”
Mama mengangguk dengan senyum hangatnya.
“Oh iya, Tante. Ini buat Tante sekeluarga.” Minami menyerahkan rantang yang sejak tadi ditentengnya. “Nenek aku masak banyak tadi.”
“Wah .… Terima kasih, Minami.” Mama menerima rantang tersebut. “Tunggu sebentar, ya. Tante pindahin ke wadah lain dulu.”
“Em, nggak usah, Tante. Besok pagi aja dikembaliin sekalian pas aku mau jenguk Kaito.”
“Oh, ya udah kalo gitu. Minami mau Tante antar pulang?”
Minami menggeleng sambil tersenyum. “Nggak perlu, Tante. Nanti sampein salam aku ke Kaito ya, Tante. Semoga dia cepet membaik.”
“Iya, Minami. Terima kasih,” kata Mama dan ditutup dengan senyuman.
Minami kembali berjalan melewati Ren. Dilihatnya laki-laki itu tengah menatap hampa ke depan. Kasihan. Sayangnya, Minami tidak bisa melakukan apa-apa.
***
Setelah sekian lama, akhirnya yang ditunggu-tunggu Ren datang juga. Meriang. Hujan sudah berhenti sejak setengah jam yang lalu dan menyisakan hembusan angin yang begitu dingin. Rasa ingin tahu keadaan Kaito semakin besar. Ren bergegas masuk melalui pintu belakang.
Dia memelankan langkah kakinya begitu tiba di depan kamar Kaito. Untung saja pintunya setengah terbuka. Di dalam sana dia melihat mama sedang berbaring di samping tubuh Kaito sambil mengelus lembut kepala anaknya itu. Kaito tampak tertidur pulas. Ya, semoga saja benar tidur, bukan pingsan. Sementara papa sedang membaca label yang tertempel di sebuah botol obat.
Untunglah dari tempat Ren berdiri cukup terlihat wajah Kaito. Wajah yang biasanya selalu menunjukkan ekspresi ceria itu kini tampak suram dengan warna kulitnya yang agak kemerahan. Ren semakin merasa bersalah. Harusnya begitu hujan mulai turun tadi, dia langsung memastikan Kaito tidak keluar rumah.
Ren duduk melantai di depan kamar Kaito. Dia masih betah melihat wajah adiknya itu. Sebelum warna kemerahan itu pergi meninggalkan wajah Kaito, Ren tidak akan bisa tidur nyenyak malam ini. Semoga saja orang tuanya tidak menyadari kehadirannya di sana.
Ah, sial! Mengapa rasa ingin batuk harus datang sekarang? Ren cepat-cepat beranjak dan berlari ke kamarnya, menutup pintunya lalu batuk sepuasnya di sana. Batuk yang tak kunjung pergi memaksanya untuk tidak lagi berdiam diri di depan kamar Kaito.
***
Pagi itu pukul enam, Ren keluar dari kamarnya dan langsung menuju kamar Kaito untuk membangunkannya seperti biasa. Pintunya sama seperti tadi malam, setengah terbuka. Di sana juga masih ada papa dan mama. Mereka masing-masing tidur di kanan dan kiri Kaito. Kalau sudah begini, Ren tidak berani membangunkannya. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan bersiap-siap pergi ke sekolah.
Hampir 30 menit berlalu, Ren kini sudah berpenampilan rapi dengan seragam dan tasnya. Lagi, dia pergi ke depan kamar Kaito. Tiga orang di dalam sana masih tidur. Terlihat pulas sekali. Dia mendekatkan sedikit kepalanya ke kamar itu untuk melihat wajah Kaito. Masih kemerahan. Baiklah, itu artinya Kaito belum bisa masuk sekolah hari ini. Ren juga membiarkan orang tuanya tetap tidur di sana mengingat ini hari Sabtu di mana mereka libur bekerja.
Ren tiba di pintu utama kemudian membukanya. Lalu, dilihatnya ada Minami di sana yang baru saja akan mengetuk pintu. Gadis itu mendadak terlihat kikuk.
“Pa--pagi, Ren.”
“Pagi,” balas Ren.
“Em, Kaito di dalam?”
Ren mengangguk. “Dia masih tidur. Hari ini dia izin dulu.”
“Oh, gitu. Kalo gitu aku duluan, ya.”
Ren mengangguk lagi.
Minami membalikkan tubuhnya dengan agak kecewa. Mengapa Ren tidak mengajaknya pergi sekolah bersama saja mumpung mereka bertemu di jam begini? Ah, ya sudahlah.
***
Di halte bus, Minami bergegas naik ke bus yang baru saja tiba. Di dalam sana, seluruh bangku sudah terisi dan mengharuskannya berdiri sambil berpegangan pada pengait yang bergelantungan di langit-langit. Tak lama saat dia mulai berpegangan pada pengait itu, hidungnya berhasil menangkap aroma yang selalu membuat jantungnya berdegup tak karuan. Sontak kepalanya menoleh ke belakang dan ya, itu Ren. Mata Minami seketika membelalak.
Ren yang juga sedang berpegangan pada pengait itu tengah melihat ke sisi kanannya, tepatnya ke luar jendela. Dia tahu di depannya adalah Minami, tetapi tidak menyadari jika gadis itu tengah melihatnya sekarang.
Si supir yang mendadak menekan klakson membuat Ren spontan melihat ke depan untuk melihat ada apa di sana. Namun, pandangannya malah teralihkan pada Minami yang masih menatapnya dengan mata membelalak.
Minami yang menyadarinya sontak kembali membalikkan kepalanya dan kembali menatap ke depan.
“Ah, bodoh!” batin Minami mengumpati dirinya sendiri.
Bus yang mulai berjalan menimbulkan gaya tarik dan membuat tubuh Minami terdorong ke belakang. Keadaan bus yang semakin ramai dan sempit tentunya membuat Minami merasakan dengan jelas punggungnya mengenai tubuh Ren yang berada di belakangnya. Dia merasa tidak enak, tetapi jauh di dalam sana pastinya ada perasaan berbunga-bunga.
***
Di rumah, mama terbangun dari tidurnya. Di sebelah kanannya dia mendapati Kaito dan papa masih tidur. Dia mengecek suhu tubuh anaknya itu. Masih tinggi. Dia lalu beranjak dan keluar dari ruangan itu.
Ketika melewati kamar Ren, iseng-iseng mama melihat ke dalam. Tak ada siapapun di sana. Tas sekolah pun sudah tak ada. Itu artinya Ren pergi ke sekolah tanpa Kaito.
Mama lalu pergi ke luar rumah. Di garasi, dia melihat masih ada mobil yang biasa digunakan Ren dan Kaito di sana. Itu berarti Ren mengingat peraturan yang dulu pernah ditetapkan oleh dirinya dan suaminya bahwa Ren tidak boleh menggunakan mobil itu jika tidak pergi bersama Kaito.
Mama mengecek jam di ponselnya. Pukul setengah 10. Dia lalu menghubungi pihak sekolah untuk menyuruh Ren agar segera pulang. Begitu panggilan berakhir, papa muncul dari arah belakang mama.
“Pagi, Sayang,” ucap Papa.
Mama membalikkan badannya untuk melihat papa lalu tersenyum. “Pagi, Sayang. Mandilah sekarang. Begitu Ren pulang, kita ke sekolah untuk membicarakan obrolan kita tempo hari pada wali kelasnya.”
***
Papa dan mama sudah tiba di sekolah dan sekarang mereka tengah duduk di depan meja wali kelas Ren yang bernama Kiara Pramesti itu.
“Jadi, ada perlu apa ya Bapak dan Ibu membuat janji untuk bertemu dengan saya?” tanya ibu Kiara.
“Kami ingin Ren pindah kelas, Bu,” jawab Papa.
“Pindah kelas? Kenapa?”
“Supaya dia bisa lindungin adiknya dan langsung tau ketika adiknya sedang mengalami masalah.” Kali ini Mama yang menjawab.
“Tunggu. Jadi, maksudnya Ren mau turun kelas?”
Papa dan mama kompak mengangguk.
Ibu Kiara tertawa kecil. “Mohon maaf, Pak, Bu. Tidak bisa. Selama ini juga belum pernah ada kejadian siswa turun kelas. Yang ada hanyalah naik kelas dan tinggal kelas. Tinggal kelas itupun disebabkan karena nilai siswa yang bersangkutan tidak mencapai rata-rata KKM.”
Papa dan mama saling melempar pandang sebentar sebelum akhirnya kembali melihat pada Ibu Kiara.
“Kami mohon, Bu. Ini demi kebaikan Kaito. Dia membutuhkan Ren untuk selalu berada di dekatnya,” kata Papa.
“Kalau alasannya agar Ren bisa melindungi Kaito, selama ini dia sudah melakukannya dengan baik, Pak, Bu. Beberapa kali dia harus izin keluar kelas saat jam pelajaran masih berlangsung karena mengetahui adiknya sedang dalam masalah. Apa itu tidak cukup?”
“Kami nggak mau kejadian seperti kemarin terulang, Bu. Gara-gara Ren nggak sekelas dengan Kaito, dia terlambat datang menyelamatkan Kaito dan membuat Kaito terlanjur dipukuli oleh teman sekelasnya.” Mama mulai bersikeras.
Ibu Kiara tersenyum. “Bu, kalau mau agar kejadian kemarin tidak terulang, bukankah lebih baik jika Kaito yang tidak membuat masalah dengan siswa lain?”
“Kalau situasinya siswa lain yang mencari gara-gara dengan Kaito karena suatu alasan sampai membuat dia ingin menyakiti Kaito bagaimana? Kami mohon, Bu. Ini demi kebaikan Kaito dan Ren pasti nggak akan keberatan.”
“Sekali lagi mohon maaf ya, Pak, Bu. Saya tetap tidak bisa membuat Ren turun kelas.”
Papa dan mama tidak tahu lagi bagaimana cara meyakinkan Ibu Kiara untuk membuat Ren turun kelas. Sekuat apapun mereka berusaha meyakinkannya, Ibu Kiara jauh lebih teguh pendiriannya. Pada akhirnya, dengan sangat terpaksa mereka harus pulang dengan tangan kosong.
~bersambung