Mencari Ren

1701 Kata
Di waktu yang lain, begitu selesai menutup pintu gerbang setelah mobil orang tuanya keluar dari kediaman Sanjaya, Ren bergegas masuk ke rumah dengan melangkah cepat, menaiki anak tangga, hingga akhirnya dia berhenti di depan kamar Kaito. Ren membiarkan tubuhnya tetap dilapisi seragam sekolah. Yang dia tahu, dia sangat merindukan sosok yang sedang terbaring di atas tempat tidur itu. Pelan-pelan Ren melangkah mendekati Kaito agar tidurnya tidak terusik. Begitu berdiri tepat di sebelah Kaito, Ren menggeser kursi belajar yang berada di belakangnya dan mendekatkannya di sebelah tubuh adiknya itu, lalu dia duduk di sana. Dia meraba kening Kaito. Masih hangat. Wajahnya pun masih kemerahan. Saat akhirnya Ren bisa melepas rindu untuk melihat wajah Kaito, rasa kantuk dan kepala yang seakan bertambah berat membuatnya terpaksa menidurkan kepalanya di atas tangan Kaito. Semoga saja saat tangan itu bergerak walau hanya sedikit, dia bisa merasakannya dan langsung terbangun. Dia tidak akan membiarkan adiknya keluar dari kamar tanpa sepengetahuannya. Jangan sampai kejadian seperti kemarin sore terulang. Tak butuh waktu lama, mata Ren terpejam dan dia hilang kesadaran. Hanya berselang sekitar 15 menit setelah itu, pelan-pelan kelopak mata Kaito bergerak hingga akhirnya matanya terbuka. Matanya terasa sangat berat. Wajar saja, dia tidur dalam kurun waktu yang sangat lama. Merasa ada sesuatu yang berat di atas tangan kanannya, kepalanya bergerak sedikit ke arah itu dan mendapati Ren sedang tertidur di sana. Kaito tersenyum. Ini adalah kesempatan emas. Dia membalikkan sedikit tubuhnya menghadap Ren, lalu mengusap rambut kakaknya itu. Kalau Ren tahu ini, dia pasti akan marah bahkan hingga urat lehernya timbul. Namun, sudah hampir 5 detik Kaito mengusap rambut Ren, Ren tak memberi respon apapun. Itu artinya tidurnya benar-benar nyenyak. Setelah puas mengusap rambut Ren, kini Kaito memeluk kepala laki-laki itu. Makin lama makin erat. Dia sangat menikmati ini. Hanya saat Ren sedang tertidur dia bisa melakukan apapun pada Ren yang dia mau yang tentunya tak akan bisa dia lakukan ketika Ren dalam kondisi terjaga. Benar, ‘kan? Bagi Kaito sakit semenyenangkan ini. Kalau saja dia tidak sakit, mana mungkin Ren akan tidur di atas tangannya seperti ini? Perlahan tapi pasti, Kaito kembali memejamkan matanya. Tidak, dia tidak tidur lagi. Tidur berbelas-belas jam itu sudah sangat lama hingga membuatnya merasa bosan tidur. Namun, tidak ada salahnya dia memeluk kepala Ren sambil memejamkan mata. 15 menit berlalu lagi. Papa dan mama tiba di rumah. Papa yang masih kesal karena tidak berhasil merayu wali kelas Ren untuk membuat Ren turun kelas langsung masuk ke kamarnya. Berdiam diri di sana mungkin akan memunculkan ide bagaimana caranya agar Ren selalu bisa melindungi Kaito tanpa terlambat sedikit pun. Sementara mama, dia masuk ke kamar Kaito. Dia mengguncangkan pundak Ren dengan pelan. “Ren, bangun,” katanya dengan setengah berbisik. Tak butuh waktu lama, Ren terbangun. Dia agak terkejut ketika menyadari kepalanya berada dalam dekapan Kaito. Pelan-pelan dia menyingkirkan tangan Kaito lalu keluar dari dekapan itu, kemudian mendongak ke atas untuk melihat mama. Mama membuat gerakan kepala yang mengisyaratkan Ren untuk pergi ke kamarnya. Ren mengangguk kecil lalu beranjak dari duduknya. “Kai Sayang, ayo bangun. Udah cukup tidurnya,” bisik Mama. Mendengar suara mama itu, Kaito langsung membuka matanya. “Liat, Mama beliin kamu bubur. Kamu makan dulu sekarang, setelah itu minum obat, ya.” Kaito mengangguk lemas. Lalu, begitu melihat Ren yang punggungnya hampir menghilang dari balik pintu membuatnya cepat-cepat memanggil kakaknya itu sebelum terlambat. “Kak Ren!” Ren spontan menoleh. “Sini!” pinta Kaito. Ren tak langsung menghampiri Kaito. Terlebih dulu dia melihat mama. Begitu mama mengangguk sedikit sebagai tanda izin, baru Ren mendatangi Kaito. “Kak Ren di sini aja. Jangan ke mana-mana.” Ren mengangguk sedikit lalu duduk di atas tempat tidur Kaito, tepatnya di sebelah kaki Kaito. Dia lalu memijatnya perlahan. Kaito tersenyum. Manis sekali. Itu adalah salah satu hal yang paling dirindukan oleh Ren pada Kaito setelah dalam waktu yang cukup lama tertidur. Mama memberikan Kaito segelas air putih dan langsung diterima oleh Kaito lalu meminumnya seteguk. Mama kemudian membukan bungkusan bubur yang tadi dibelinya dalam perjalan menuju rumah dan menyuapi Kaito. “Harus habis ya, Kai,” suruh Mama. Kaito mengangguk. “Ma, Kak Ren aja ya yang suapin aku.” Ren tetap fokus memijat kaki Kaito, sementara mama terdiam beberapa saat hingga akhirnya mengangguk pasrah. Anggukan itu membuat Kaito seketika semringah. Mama beranjak dari duduknya lalu memberikan bubur itu pada Ren. “Suap Kaito, ya,” pinta Mama. Ren mengangguk kemudian mengambil alih bubur itu. “Mama mau temui Papa dulu.” “Oke, Ma!” balas Kaito. Kali ini lebih ceria. Ren kembali duduk di kursi belajar Kaito dan mulai menyuapi adiknya itu. Namun, Kaito malah tidak mau membuka mulutnya. “Ada apa?” Ren bingung. “Tadi mama suap aku sambil senyum,” jawab Kaito. “Terus?” “Kak Ren gitu juga, dong.” “Aku bukan mama.” “Ya, emang. Tapi aku nggak mau makan kalo orang yang suap aku nggak senyum. Gimana, dong?” “Kalo gitu suruh aja mama yang suapin kamu.” “Aaah, Kak Ren. Nggak peka banget, sih. Aku cuma mau disuapin sama Kak Ren, tapi Kak Ren harus sambil senyum.” “Kalo nggak, gimana?” tantang Ren. “Aku bakal ngadu sama mama bahwa Kak Ren nggak ikhlas suapin aku. Hem, mama harusnya langsung percaya, sih. Seperti biasa.” Ren mengalihkan pandangannya dengan malas dari Kaito. “Kak Ren?” Ren kembali menatap Kaito, tetapi kali ini dengan sebuah senyuman kecil. Kaito langsung tersenyum lebar melihat itu. “Kak Ren, cepetan suapin aku. Aku laper banget, nih. Aaaa.” Yap, suapan pertama dari tangan Ren masuk ke mulut Kaito. Sambil menguyah buburnya yang tak terlalu terasa penyedapnya itu, Kaito masih sempat-sempatnya mengatakan sesuatu. “Aku sayang banget sama Kak Ren.” *** Bel pulang berbunyi. Begitu guru keluar dari kelasnya, Minami bergegas keluar juga. Lalu, dia sengaja berjalan pelan ketika melewati kelas Ren. Dipandanginya isi kelas itu baik-baik. Sayangnya, yang dia cari tak ada di sana. Mungkin sudah pulang, pikirnya. Minami kembali mempercepat langkahnya menuju gerbang sekolah. Sesampainya di sana, dia melihat ke sekeliling, mungkin Ren masih berada di sekitar sana. Namun, tak ada juga. Lagi, Minami lanjut ke halte bus terdekat. Jika Ren berangkat ke sekolah dengan menaiki bus seperti tadi pagi, kemungkinan besar dia juga akan menaiki bus untuk pulang. Sayangnya lagi, di halte bus juga tak ada Ren. Sembari menunggu bus, Minami melihat ke kanan dan kirinya, berharap muncul sosok Ren di sana. Lagi, dia terpaksa menelan kekecewaan. Bahkan hingga bus datang, orang yang dicarinya itu tetap saja tidak tampak. Akhirnya, dengan berat hati dia memasuki bus. Pupus sudah harapannya sejak tadi yang ingin sekali sebus lagi dengan Ren. *** Minami turun dari bus tepat di depan rumahnya. Dia diam sejenak melihat rumah yang berada di seberang rumahnya. “Mungkin lebih baik aku jenguk Kaito dulu,” bathinnya. Ketika sedang menapaki halaman rumah Sanjaya, Minami masih menebak-nebak kira-kira mengapa Ren tidak terlihat sepulang sekolah? Apakah dia diantar pulang oleh temannya? “Permisi!” sahutnya begitu berdiri tepat di depan pintu utama yang tertutup. Tak butuh waktu lama, pintu terbuka. Itu mama. “Siang, Tante.” Minami tersenyum. “Siang, Minami. Mau ketemu Kaito, ya?” Minami mengangguk. “Yuk,” ajak Mama. Sesampainya di kamar Kaito, Minami agak terkejut melihat Ren sudah berada di sana, sedang mengipasi wajah Kaito menggunakan buku. Kondisi Kaito aneh juga. Dia kepanasan. Dinyalakan AC, katanya terlalu dingin. Dinyalakan kipas angin, masih terlalu dingin juga. Alhasil, Ren iseng-iseng mengipasinya menggunakan buku, barulah dia merasa puas. “Kai, ini ada Minami,” kata Mama. “Hai, Minami,” sapa Kaito. Sifat cerianya tampak mulai pulih. Minami tersenyum sambil melambaikan tangannya agak pelan pada Kaito. “Kalian ngobrol aja dulu, ya. Mama mau ke belakang.” Kaito dan Minami kompak mengangguk. Setelah mama pergi, Minami berjalan menghampiri Kaito. “Gimana, Kai? Udah mendingan? Besok udah bisa sekolah lagi?” “Emmm. Kayaknya sih bisa. Kangen, ya? Pastinya.” Minami tertawa kecil. Dia lalu menoleh sedikit pada Ren yang masih fokus mengipasi Kaito. Wajah laki-laki dingin itu tampak pucat. Pasti karena hujan-hujanan tadi malam. Apa Kaito tidak menyadari wajah pucat Ren itu, ya? Pikir Minami. Lebih lama Minami mencuri pandang pada Ren, dia jadi teringat saat dirinya berdiri tepat di depan Ren pagi tadi di dalam bus. “Minami? Ada apa? Kok ngeliatin Kak Ren terus?” tanya Kaito. Minami sontak menatap Kaito dengan mata agak membulat, takut Ren akan berpikir macam-macam mendengar itu. “Eh, Kak Ren! Liat, deh. Pipi Minami merah.” “Demam kayak kamu mungkin,” kata Ren. Minami memegang kedua pipinya dengan wajah cemberut. Apa harus Kaito mengadu tentang kondisi wajahnya pada Ren? Membuat malu saja. “Lho, Kak Ren. Kok muka Kak Ren pucat?” Kaito baru menyadarinya. “Ck. Mata kamu minus.” “Ih. Serius.” “Emang kamu pikir aku nggak serius?” Minami menyingkirkan tangan dari pipinya. “Pasti karna hujan-hujanan tadi malam.” Sontak Ren dan Kaito kompak menatap kaget pada Minami. Minami baru sadar pada ucapannya dan langsung menutup mulut dengan telapak tangannya. Mengapa dia malah ikut-ikutan mengadu seperti Kaito? “Hujan-hujanan tadi malam?” tanya Kaito lagi. Minami tak bisa menyembunyikan rasa paniknya. Pasti Ren marah padanya. Padahal jelas-jelas dia tahu laki-laki itu tidak akan suka jika dia memberitahu pada Kaito apa yang telah terjadi sebenarnya. “Maaf, Ren,” batin Minami. Kaito berbalik menatap Ren. “Kak Ren hujan-hujanan tadi malam?” “Nggak,” jawab Ren cepat dan terkesan agak cuek. “Tapi Minami nggak mungkin bohong.” “Jadi maksud kamu, aku memungkinkan banget untuk bohong?” “Emmm, maybe.” “Em … Kai.” Minami berusaha menghentikan pertengkaran kecil di depannya itu. “Ka--kayaknya aku salah lihat. Atau mungkin mimpi, ya?” “Terus kenapa bisa pucat?” tanya Kaito. Tiba-tiba papa berjalan di depan kamar Kaito. Pas sekali. “Papa!” teriak Kaito. Sekarang giliran Ren yang panik. “Kai, nggak usah ditanya.” “Ada apa, Kai?” tanya Papa yang berhenti di depan pintu kamar Kaito. “Kak Ren tadi malam hujan-hujanan, ya?” Astaga, Kaito. Sontak papa menatap Ren. Ren menggeleng pelan sebagai isyarat bahwa dia tidak memberitahu apapun tentang kejadian kemarin pada Kaito. “Pa, kok diem dan malah ngeliatin Kak Ren?” ~bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN