“Kai, aku nggak hujan-hujanan.” Ren masih mencoba meyakinkan Kaito.
“Ssst.” Kaito menempelkan telunjuk di bibirnya. “Kak Ren diem dulu. Kan aku nanya Papa.”
“Emang kamu pikir Ren mau hujan-hujanan?” tanya Papa.
Bola mata Kaito berputar ke atas, memikirkan pertanyaan papa.
“Nggak, ‘kan? Sejak kapan kakak kamu mau hujan-hujanan?” tanya Papa lagi.
“Emm, iya juga, sih. Jangankan hujan-hujanan pas malam. Keluar rumah pas hujan aja Kak Ren nggak mau.” Akhirnya ucapan papa yang berhasil meyakinkan Kaito. “Eh, tapi kenapa mukanya Kak Ren bisa pucat?”
“Ck. Ini nggak pucat namanya, Kai. Udah aku bilang mata kamu minus,” sahut Ren.
Baru saja Kaito kembali melihat ke pintu kamar, papa sudah menghilang. “Masa sih mata aku minus? Emm, apa perlu ke klinik mata, ya? Kak Ren, yuk anter aku ke klinik. Pulang-pulang aku udah jadi Kaito yang baru. Berkacamata, hahaha.”
Ren merapatkan alisnya melihat tingkah Kaito yang aneh. “Nggak usah ke klinik. Lebay banget.”
“Kan tadi Kak Ren bilang mata aku minus. Kalo nggak ke klinik, kan bisa bahaya. Kak Ren mau aku kenapa-napa?”
“Ck. Mata kamu nggak minus. Aku bercanda aja tadi.”
“Ih, Kak Ren! Tuh kan bener yang aku bilang tadi kalo Kak Ren itu emang kemungkinan besar bohong. Berarti bener dong yang aku liat kalo muka Kak Ren pucat.”
“Iya, emang pucat. Gara-gara aku lupa pake lisptik.” Ren beranjak dari kursinya lalu keluar dari kamar Kaito karena semakin kesal.
“Lho, Kak Ren! Aku masih mau dikipasin!”
Harusnya Minami tertawa mendengar kalimat terakhir Ren tadi. Namun, kepala dan hatinya masih dipenuhi rasa bersalah.
***
Setelah berpamitan pada Kaito, Minami bergegas keluar dari rumah megah itu dan berdiri di depan pintu gerbang kediaman Sanjaya. Sebelumnya dia telah meminta Ren untuk berbicara empat mata sebentar saja, tanpa ada Kaito di sana.
Tak butuh waktu lama, Ren datang. “Ada apa?”
“Aku mau minta maaf sama kamu. Harusnya aku nggak bilang yang aku liat kemarin ke Kaito.”
“Nggak usah pikirin itu dan pulang aja sekarang.”
Entah Minami yang perasaannya sedang sensitif atau memang benar bahwa Ren sedang sangat marah padanya, perkataan laki-laki itu membuatnya merasa diusir. Minami tetap diam di tempatnya dengan kepala agak tertunduk.
“Untung aja tadi Kaito mau percaya sama perkataannya papa kami. Papa kami udah nyelamatin aku dari kemungkinan Kaito bakal mikir yang macem-macem. Aku nggak mau ambil pusing orang lain ngerasa bersalah, kekeuh pingin minta maaf, atau yang lainnya. Itu nggak akan pernah masuk dalam kepala aku. Yang aku pikirin cuma keluarga aku. Sekarang masalahnya udah selesai. Kamu pulang aja.”
Deg!
Kalimat itu bahkan jauh lebih menyakiti Minami. Bukannya merasa marah pada Ren, gadis itu justru merasa semakin bersalah, ditambah lagi sekarang dia merasa tidak akan bisa mengambil hati Ren.
“Ya, udah kalo gitu. Aku pamit.” Minami membalikkan badannya dan mulai melangkah menjauhi Ren.
Sambil melangkah, kedua tangan Minami meremas roknya. Dia merasa bodoh. Mengapa dia harus mengadu pada Kaito? Ah, menjengkelkan sekali. Baru saja tadi pagi dia dibuat berbunga-bunga, sekarang dia justru harus merasa sakit seperti ini. Memang benar kata orang bahwa suka dan duka itu datang beriringan.
Ren agak lama memperhatikan kepergian Minami. Akhirnya, begitu wujud gadis itu tak terlihat lagi, Ren menutup gerbangnya.
Pip-pip!
“Kak Ren!”
Ren sontak menoleh ke belakang. Sebuah mobil berwarna putih mengkilat ada di sana. Dia bisa melihat Papa dan mama yang duduk di kursi depan.
Kepala Kaito keluar dari jendela yang berada di belakang tempat duduk orang tuanya. “Kak Ren, ayo masuk!”
Alis Ren merapat. “Mau ke mana?”
“Jalan-jalan ke mall.”
“Bukannya kamu masih sakit?”
“Emang. Tapi aku bosen di rumah terus.”
“Ck. Jangan cari masalah.”
“Nggak akan ada masalah kalo ada Kak Ren di deket aku.”
“Ren,” panggil Mama yang kini kepalanya juga sudah keluar melalui jendela. “Ayo, ikut. Jagain Kaito.”
Ren langsung mengangguk.
…
Di dalam mobil, kepala Ren menoleh ke jendela yang berada di sebelah kanannya. Tampak pemandangan pepohonan lebat yang begitu menyejukkan memanjakan mata.
“Kak Ren,” panggil Kaito dan membuat Ren menoleh. “Kepala aku pusing.”
“Ya, udah. Sandarin aja di bantalan kursi.”
“Susah, Kak Ren. Kalo mobilnya belok kiri, kepala aku jadi jatuh ke kanan. Kalo mobilnya belok kanan, kepala aku jatuh ke kiri. Jadi nambah pusing.”
“Ck. Bilang aja mau tidur di paha aku. Sini.”
Kaito tersenyum dengan memperlihatkan deretan giginya. “Yey! Hehehe.”
…
Sesampainya di mall, Kaito berjalan dengan papa dan mama masing-masing di kanan dan kirinya, sementara Ren berjalan di belakang mereka.
“Kai, kalo mau beli sesuatu, langsung bilang aja, ya,” kata Papa.
Kaito mengangguk dengan senyum khasnya yang ceria.
Tak lama setelah itu, dari arah berlawanan tampak sepasang suami istri yang merupakan teman kerja papa.
“Eh, hai!” Mereka saling menyapa sambil melambaikan tangan hingga akhirnya sama-sama berhenti untuk mengobrol.
“Cari apa, nih?” tanya Mama.
“Biasalah. Sesuatu yang nggak ada di rumah,” jawab seorang lelaki paruh baya lalu diakhiri tawa kecil.
“Pa, Ma,” panggil Kaito.
“Iya, Kai?” tanya Mama.
“Aku keliling ya sama Kak Ren.”
Mama tersenyum lalu mengangguk. Dia kemudian menoleh pada Ren yang berada di belakang. “Ren, jaga Kaito baik-baik, ya.”
“Iya, Ma,” jawab Ren.
…
Ren dan Kaito berjalan beriringan menyusuri tiap tempat yang berada di dalam mall. Mata Ren fokus ke depan, sedangkan Kaito melihat ke kanan dan kiri, tak lupa dengan sebuah senyuman.
“Kak Ren, liat deh.” Langkah kaki Kaito terhenti dan telunjuknya terarah pada seorang gadis berbaju kuning yang tengah melihat-lihat tas selempang.
Mata Ren ikut menoleh pada arah yang ditunjuk Kaito.
“Cantik, ya,” kata Kaito.
Ren spontan berhenti melihat gadis itu dan berbalik menatap Kaito dengan alis merapat. “Kamu tau dari mana dia cantik? Dari punggungnya?”
Kaito tertawa receh. “Hahaha. Bukan, Kak Ren. Semua perempuan itu kan cantik.”
“Terus kenapa harus dia yang kamu tunjuk?”
“Karena dia pake baju kuning.”
“Hah?”
“Aku suka kuning.”
“Iya, yang biasanya ngambang di kali. Udah. Nggak usah macem-macem. Sekarang kamu mau cari apa?”
“Cari pacar.”
“Astaga, Kai.”
“Hehehe. Nggak-nggak. Aku bercanda. Emm, aku laper.”
“Mau makan apa?”
“Apa aja asalkan Kak Ren yang suapin.”
“Ck. Jangan gila.”
“Siapa yang gila, sih? Kan aku lagi sakit.”
“Terus?”
“Ya, suapin. Kayak di rumah tadi.”
“Ck. Ingat tempat, umur sama jenis kelamin. Udah. Jadi mau makan apa? Awas ya kalo jawab ngawur lagi.”
Kaito memanyunkan bibirnya karena kesal. Dia kembali melangkah dengan malas.
Ren langsung mengikutinya. “Heh. Kok diem? Mau makan apa?”
“Terserah.”
“Ck. Pake ngambek segala.”
Setelah hampir tiga menit berjalan, akhirnya langkah Ren terhenti begitu melihat stan yang menjual sup. Itu salah satu makanan kesukaan Kaito.
“Makan sup, mau nggak?” tanya Ren.
“Udah dibilang terserah.”
Ren menghela napas sedikit. “Duduk di sana. Aku pesen dulu.”
“Nggak mau. Aku mau ikut Kak Ren pesen.”
Akhirnya mereka bersama-sama menghampiri stan tersebut dan memesan dua mangkuk sup.
…
Entah Ren yang terlalu cepat atau Kaito yang terlalu lambat, baru saja Kaito memasukkan suapan keempat ke mulutnya, Ren sudah menyingkirkan mangkuk sup dari hadapannya.
Kaito yang melihatnya mempercepat makannya. “Uhuk-uhuk!” Yah, batuk pasti. Tersedak karena terlalu terburu-buru.
“Ck. Pelan-pelan aja. Aku nggak akan kabur cuma gara-gara kamu makannya lama.” Ren memberikan sebotol air mineral pada Kaito.
…
Setelah makan, mereka kembali berjalan-jalan mengitari isi mall. Mata Kaito tak bisa berhenti melihat kanan dan kirinya. Ada banyak sekali gadis-gadis cantik berpakaian modis. Ya, inilah salah satu yang dia suka ketika berkunjung ke mall.
“Kak Ren, kalo aku pacaran, Kak Ren setuju nggak?” tanya Kaito di antara langkah kakinya.
“Nggak. Kasian ceweknya.”
“Ah, ngeselin.”
“Emang. Makanya jangan ajak aku ngobrol.”
“Hehehe. Nggak, Kak Ren. Ngobrol sama Kak Ren asiiik banget. Sama sekali nggak ngeselin. Aku bercanda aja tadi.”
“Hum.”
Mereka lalu memutuskan mengunjungi tempat yang menjual berbagai macam pakaian pria. Kaito, dia tidak bisa menahan dirinya untuk mengambil kemeja, kaos, celana dan jaket yang dinilainya bagus, keren dan berwarna kuning pastinya.
“Kai, bisa nggak sih cari warna lain aja? Hitam gitu,” kata Ren saat Kaito meletakkan jaket berwarna kuning di tangan Ren untuk dibawakan.
“Hah? Hitam? Suram banget. Nggak kayak hidup aku yang cerah kayak warna kuning.”
“Kamu tu kalo keluar rumah pake kaos kuning, jaket kuning, sama celana kuning pasti bakal dikira kotoran kesasar.”
Kaito seketika memasang ekspresi duck face pada Ren.
Sekitar 30 menit berbelanja ini dan itu, kini tangan Ren sudah penuh dengan berbagai macam barang belanjaan Kaito. Ren melirik sedikit benda-benda yang memenuhi tangannya yang tentunya semua berwarna kuning. Ah, tampak menjijikkan baginya.
“Kak Ren, ayo dong belanja.”
“Heh. Segini nggak cukup?” Ren menunjukkan tangannya.
“Bukan, Kak Ren Sayang. Maksud aku, sekarang giliran Kak Ren yang belanja. Dari tadi disuruh selalu aja nolak.”
“Udah tau aku selalu nolak, ngapain nyuruh terus?”
“Ah, ngeselin lagi. Kalo gitu aku aja yang pilihin sesuatu untuk Kak Ren. Emm, bagusnya apa, ya? Sesuatu yang berwarna suram. Oops, hitam maksudnya.” Kaito melirik Ren, berniat mengejeknya.
Ren hanya menatap sinis pada adiknya itu. “Udah aku bilang nggak usah. Ingat kan kata Papa uangnya lebih baik ditabung atau pake beli buku pelajaran?”
“Aaah, papa itu, kalo pake beliin barang untuk Kak Ren, selalu nyuruh uangnya ditabung aja. Giliran pake beli barang untuk aku, selalu ditanya ‘mau yang mana lagi, Kai?’’ Nggak adil banget.”
Ren terdiam beberapa saat. “Papa tau aku nggak butuh apa-apa.”
“Lho, nggak .…” perkataan Kaito terputus. Ren sudah lebih dulu menutup mulut adiknya itu dengan tangan kanannya.
“Cerewet banget.”
…
Ren dan Kaito akhirnya tiba di meja kasir. Tampak antrian begitu panjang di sana. Memang malam ini mall lebih ramai dari biasanya. Malam minggu.
“Kai, duduk aja di sana.” Ren menunjuk sebuah bangku panjang tak jauh dari meja kasir.
“Lho. Kalo duduk, terus siapa yang bawa barang belanjaan ke kasir?”
“Ck. Kamu nganggap aku ada atau nggak, sih? Udah sana duduk. Aku yang bawa ini ke kasir.”
Ren bergegas meninggalkan Kaito sebelum anak itu mulai konser lagi.
“Kak Ren!”
Astaga. Ren mendengus kesal. Anak manja mulai lagi. Padahal belum sampai lima detik Ren berjalan.
“Apaan lagi, sih?” Ren menoleh pada Kaito.
~bersambung