“Nggak usah marah-marah gitu, Kak Ren. Aku cuma mau tanya, Kak Ren punya uang nggak?” tanya Kaito.
“Aku nggak pernah punya uang.”
Kaito mengangguk-angguk dengan ekspresi yang menyebalkan untuk dilihat oleh Ren. “Terus gimana cara Kak Ren bayar barang-barang itu?”
“Ya pake uang kamu lah.”
Kaito mengangguk-angguk lagi. Masih dengan ekspresi yang menyebalkan. “Terus Kak Ren udah minta uangnya atau kartu ATM ke aku?”
“Belum. Eh.” Ren baru tersadar.
Kaito tertawa puas. “Tuh, kan. Pikun. Makanya jangan amarah aja isi kepalanya.”
Ren menatap kesal pada Kaito. Dia berjalan menghampiri Kaito lalu menengadahkan tangan kanannya agar segera diberi uang atau kartu ATM.
…
Antrian masih sangat panjang. Masih ada empat orang di depan Ren dengan barang belanjaan yang tidak sedikit. Ren lalu menoleh ke belakang, tempat Kaito duduk untuk memastikan bahwa anak itu masih berada di sana dan baik-baik saja. Dilihatnya kepala Kaito tertunduk dengan tangan memegang kepala. Tidak beres, pikir Ren.
“Permisi.” Ren menepuk pelan pundak seorang lelaki di depannya dan membuat lelaki itu menoleh. “Boleh saya yang di depan?” Ren menunjuk Kaito. “Adik saya harus cepat-cepat pulang. Dia lagi sakit.”
Lelaki itu menoleh pada Kaito beberapa saat lalu kembali melihat Ren sambil menggelengkan kepalanya, kemudian kembali menoleh ke meja kasir.
Ren menghela napas. Dia melirik Kaito lagi. Cemas.
…
Ah, akhirnya sekarang giliran Ren. Cepat-cepat dia meletakkan barang belanjaan yang serba kuning itu di atas meja kasir.
“Mbak, tolong cepetan, ya,” pintanya dan dibalas dengan anggukan dari si kasir.
Begitu dia selesai membayar, dia bergegas menghampiri Kaito yang masih memegang kepalanya. Namun, kali ini jemarinya sampai meremas rambutnya.
“Kai,” panggil Ren sambil memegang pundak Kaito.
Kaito mengangkat kepalanya pelan. Rasanya berat sekali. Matanya sayup-sayup menatap Ren.
Dengan posisi membelakangi, Ren berjongkok di depan Kaito. “Naik,” suruhnya.
Pelan-pelan Kaito beranjak dari bangku lalu naik ke punggung Ren. Kepalanya dia sandarkan di pundak kakaknya itu. Matanya perlahan mulai terpejam.
Sepanjang perjalan menuju mobil, hampir semua pasang mata yang berada di mall menatap Ren yang tengah menggendong Kaito. Ya, itu memang pemandangan yang aneh apalagi di tempat umum seperti ini. Tetapi Ren bersikap masa bodoh saja. Yang terpenting Kaito segera dibawa pulang.
Ren dan Kaito tiba di sebelah mobil papa. Mobil masih tampak kosong. Itu artinya orang tua mereka masih berada di dalam mall. Ren cepat-cepat mengambil ponselnya dan menghubungi papa untuk memintanya segera ke mobil karena Kaito butuh istirahat. Makin lama tubuh anak itu makin berat saja.
Hampir sekitar 10 menit kemudian, papa dan mama datang. Mama menghampiri Kaito dan mengusap rambutnya yang mulai basah oleh keringat.
“Papa, cepet,” suruh Mama pada papa yang berjarak semeter dengan mobil.
Papa lalu membuka kunci mobil dan mereka berempat masuk bersamaan. Di kursi tengah, seperti pada saat akan ke mall tadi, Ren membiarkan kepala Kaito berada di atas pahanya.
“Kak Ren, dingin,” kata Kaito dengan lirih.
Tanpa pikir panjang Ren melepas jaket hitamnya dan membalutnya di atas badan Kaito. Dia lalu membungkukkan badannya dan memeluk Kaito untuk menambah kehangatannya.
***
Ah. Pagi yang menenangkan. Kicauan burung terdengar sampai di dalam kamar Ren. Matanya perlahan terbuka, kemudian dia bangkit dari tidurnya. Tangannya merentang dan membuat kekauan otot-ototnya berkurang. Dia melirik jam. Pukul 06.00. Yap, seperti biasa dia memang selalu terbangun di jam itu, tak peduli jam berapa pun dia tidur di malam hari.
Hari Minggu seperti ini, biasanya dia dan Kaito akan jogging. Namun, mengingat Kaito masih kurang enak badan, Ren diam dulu sejenak duduk di atas tempat tidurnya. Tidak mungkin dia akan jogging tanpa Kaito. Mau tidur lagi juga tidak mungkin. Sudah tidak ada rasa kantuk. Papa dan mama pun pasti tidak akan suka jika mereka sudah bangun, tetapi Ren masih tidur.
“Ah, iya. Tugas.” Ren beranjak dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Baru setelah itu dia akan mengerjakan tugas sekolahnya.
Ren kini telah duduk kembali di atas tempat tidurnya. Dia meretakkan tulang jemarinya, lalu mulai mengerjakan tugasnya.
“Ren,” panggil Papa yang tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu kamar Ren.
Ren menoleh. “Iya, Pa?”
“Tolong bersihin gudang. Terakhir kali Papa masuk, tikus, debu dan sarang laba-laba ada di mana-mana.”
“Baik, Pa.” Ren langsung menutup bukunya yang belum sempat dia baca, lalu beranjak dari tempat tidurnya dan pergi ke gudang.
Ren berjalan dan melewati papa yang masih berdiri di depan pintu kamarnya. Hilangnya Ren dari pandangan papa digantikan dengan kemunculan mama yang akan ke dapur untuk membuat sarapan.
“Mama!” panggil Papa dan membuat mama menoleh sebentar kemudian berjalan menghampiri papa.
“Iya, Pa. Ada apa?” tanya Mama.
“Mulai sekarang, kita harus awasin Ren. Jangan sampai dia belajar. Nggak lama lagi dia ujian kelulusan, ‘kan? Dia nggak boleh lulus supaya Kaito bisa nyusul dia dan mereka bisa sekelas bareng.”
Mama terdiam. Dia tidak tega pada Ren. Entah bagaimana perasaan anak itu ketika harus tinggal kelas dan sekelas dengan juniornya.
“Hanya ini satu-satunya jalan, Ma. Kalau ada jalan lain yang nggak terlalu merugikan Ren, pasti udah Papa pilih.”
Mama menghela napas. “Iya, Pa. Mama akan lakuin kayak yang Papa bilang. Demi Kaito.”
***
Sesampainya di gudang, Ren tidak langsung membersihkannya, melainkan dia masih menerawang isi ruangan itu. Kotor dan berantakan sekali memang. Dia lalu memulai pekerjaannya, mulai dari membersihkan barang-barang dari debu sekalian mencari dan membuang tikus yang dijumpainya, merapikan posisi barang-barang, menyingkirkan sarang laba-laba dari plafon, dinding, sudut ruangan dan barang-barang, menyapu dan mengepel lantainya, hingga yang terakhir menyemprotkan pengharum ruangan.
Setelah lebih dari 30 menit berjibaku dengan ruangan itu, akhirnya selesai juga tugas dari papa. Dengan napas yang agak cepat dan baju yang sedikit basah karena keringat, Ren beristirahat dengan duduk di sebelah lemari kayu. Lagi, dia menerawang isi gudang, mungkin ada bagian yang tadi terlewatkan untuk dibersihkan.
Matanya lalu terpaku pada sebuah rak buku. Mungkin dia bisa menemukan “harta karun” di sana. Dia tiba-tiba tertawa sedetik karena malah memikirkan hal bodoh yang tadi pikirannya sebut “harta karun”. Bola matanya bergerak dari kiri ke kanan, hingga akhirnya tampak sebuah buku yang bercorak folkador. Entah mengapa dia merasa sangat penasaran dan beranjak untuk mengambil buku itu.
“Ah, album foto ternyata,” batinnya. Namun, alisnya tiba-tiba merapat begitu melihat namanya tercantum dengan indah diikuti tulisan ‘Vol. 1’ di sampul album itu. Itu membuatnya semakin penasaran.
Ren kembali duduk bersandar pada tembok lalu membuka isi album foto itu. Isinya diawali dengan beberapa foto seorang bayi. Dia meragukan kalau bayi itu adalah dirinya walaupun di sampulnya tertera namanya. Beberapa lembaran berikutnya masih diisi oleh foto bayi yang sama. Lebih tepatnya bayi itu bersama papa dan mama. Ren tersenyum sinis. Kaito rupanya, pikirnya.
Hingga akhirnya dia tiba di lembar kesekian dan mendapati beberapa foto yang berisikan bayi yang berada di awal tadi, tetapi kali ini bayi itu sudah mulai bertumbuh. Di depan bayi itu tampak sebuah kue ulang tahun yang bertuliskan “Ren”. Mata Ren agak membulat. Dia melihat orang yang tengah menggendong bayi itu. Mama. Di sebelah mama ada papa yang merangkul pundaknya. Mereka tampak sangat bahagia dengan senyum mengembang, bersiap meniup lilin berbentuk angka 1.
Napas Ren kembali cepat dengan jantung berdegup kencang. Kini dia sampai di lembaran terakhir. Isinya bayi bersama papa dan mama bersama-sama sedang membuka kado. Ren tersadar. Bayi itu bukan Kaito, melainkan dirinya. Dia ingat wajah Kaito saat bayi tidak seperti yang ada pada album foto ini.
Ren bergegas beranjak dari duduknya lalu mencari lagi album-album foto lain. Sayangnya, ternyata album foto yang dia temui tadi adalah satu-satunya. Sisanya hanya buku kuliah orang tuanya. Dia lalu teringat pada lemari besar yang berada di ruang keluarga. Isinya dipenuhi oleh album foto Kaito mulai dari baru lahir hingga sekarang.
Ren diam sejenak, mencoba memaknai apa yang baru saja dilihatnya ini dan yang selama ini dia ketahui. Akhirnya, muncul sebuah kesimpulan dalam otaknya. Selama ini dia salah mengira bahwa orang tuanya tak pernah menyayanginya. Sebenarnya dia pernah mendapatkan kasih sayang yang selama ini dia harapkan. Namun, itu hanya berlangsung selama 1 tahun. Kasih sayang itu tak ada lagi ketika Kaito lahir.
***
“Kak Ren!”
Kaito berjalan sambil terus memanggil Ren, setelah dia tak menemukan sosok itu di kamar Ren. Dia sangat benci ketika bangun pagi, bukan Ren yang paling pertama dilihatnya. Wajar saja, dia sudah terbiasa dibangunkan oleh Ren dan tentunya wajah sendu itu yang paling pertama dilihatnya saat membuka mata.
“Kak Ren!” panggilnya lagi.
Matanya membulat ketika melihat Ren berjalan dengan kepala agak tertunduk menuju arahnya. Kaito memasang senyum terbaiknya untuk diberikan pada Ren, tetapi kakaknya itu malah melewatinya begitu saja.
“Lho, Kak Ren!” Kaito menarik tangan Ren dan membuat Ren berhenti di depannya. “Kok malah ngelewatin aku gitu aja? Kak Ren dari mana? Dari tadi aku cariin tapi nggak ketemu. Suara aku yang nyaring manggil-manggil Kak Ren nggak mungkin nggak kedengaran, ‘kan?”
Ren terdiam melihat Kaito. Satu kalimat yang memenuhi kepalanya adalah ‘kasih sayang Papa dan Mama untuknya hilang ketika Kaito lahir’. Tetapi tunggu, apa ini akan membuat Ren membenci Kaito? Mengapa dia harus membencinya? Memangnya apa kesalahan Kaito? Lahir ke dunia ini dan menjadi adiknya? Tidak. Itu bukan kehendak Kaito. Semuanya sudah ditakdirkan oleh Yang Maha Kuasa, ‘kan? Tidak mendapat kasih sayang dari orang tua, hidup untuk melindungi Kaito, dengan lapang d**a harus menerima kenyataan bahwa dia tidak bisa memiliki apapun mulai dari benda-benda fisik sampai ilmu pengetahuan yang terbilang cukup, semua itu adalah takdir yang telah digariskan untuknya. Jalan hidupnya memang harus seperti ini. Lalu, apa pantas dia membenci Kaito, seseorang yang jelas-jelas selama ini telah memberi warna dalam hidupnya? Orang yang menyadarkannya bahwa dia memiliki tujuan dalam hidup ini.
Kaito melompat-lompat di depan Ren untuk menyadarkannya. “Kak Ren! Kak Ren!”
“Ck. Ngapain, sih?”
Kaito berhenti melompat dan tersenyum begitu mengetahui Ren sudah tersadar. “Kak Ren dari mana aja?”
“Bukan urusan kamu.” Ren berjalan melewati Kaito lagi.
“Kak Ren!” panggil Kaito dan membuat Ren menoleh malas. “Aku lapar. Suapin aku kayak kemarin, ya.”
Ren mengernyitkan dahinya. “Keliatannya kamu udah baik-baik aja. Bahkan tadi kamu bisa lompat-lompat, ‘kan? Harusnya kalo cuma makan sendiri bisa.”
Kaito memanyunkan bibirnya. “Apa aku harus sakit lagi biar Kak Ren mau suap aku kayak kemarin?”
“Ck. Apaan, sih?”
“Aku emang udah mendingan sekarang, tapi tetap aja masih harus minum obat. Aku nggak akan makan kalo Kak Ren nggak suapin aku. Nggak makan artinya nggak minum obat. Iya, ‘kan?”
“Kai, ingat umur. Jangan terlalu kekanak-kanakan.”
“Kak Ren juga ingat umur. Jangan terlalu dewasa.”
“Dasar manja.”
“Hah? Apa? Manja? Apaan, tuh? Yang aku tau aku cuma mau dapat semua kasih sayang dan perhatian dari Kak Ren. Selain dari itu, aku nggak mau apa-apa lagi.”
~bersambung