Penolakan Tak Berujung

1879 Kata
Ren diam menatap kesal pada Kaito. “Gimana, Kak Ren? Mau 'kan suapin aku?” “Hem.” Ren kembali berjalan meninggalkan Kaito. “Yey!” sorak Kaito. Kaito berlari mengejar Ren. Begitu dia sudah tepat berada di belakang Ren, dia langsung melompat ke punggung Ren. Kepala Ren mendongak ke belakang. “Ck. Kai! Turun!” “Aaah. Jangan mendadak pelit gini, dong. Aku kan pinjam punggungnya Kak Ren sebentar aja. Di mall kemarin Kak Ren nggak keberatan, tuh.” “Itu karena kamu lagi sakit dan nggak mampu jalan.” “Sekarang juga aku nggak mampu jalan. Kak Ren nggak liat tadi aku lompat-lompat? Itu buat kaki aku sakit dan tenaga aku terkuras banget. Apalagi aku belum makan apa-apa.” “Ck. Cerewet.” Akhirnya Ren pasrah saja menggendong Kaito. Kaito tersenyum senang. Dia mempererat pelukannya pada Ren. “Aku sayang Kak Ren.” *** Malam itu di kamar Kaito, Ren duduk di depan adiknya untuk mengawasinya belajar, seperti biasa. Kaito tampak serius membaca isi bukunya. Beberapa kali dia terlihat mengangguk-angguk yang menandakan bahwa dia memahami apa yang sedang dibacanya. “Oo, gitu ternyata konsepnya,” kata Kaito sambil mengangguk-angguk lagi. Dia masuk ke halaman berikutnya. Kali ini wajahnya tampak lebih serius lagi. Tangan kanannya mengelus-elus dagunya. Dia tampak sedang berpikir keras. “Kalo kepalanya sakit, istirahat aja dulu,” kata Ren. Kaito yang mendengarnya berhenti menatap buku dan berbalik melihat Ren. “Kepala aku nggak sakit, kok.” “KALO.” Ren mempertegas kata kuncinya. “Hehehe. Iya, Kak Ren. Kalo kepala aku sakit, pusing, atau yang lain, pasti aku bilang ke Kak Ren. Oo ya, Kak Ren. Aku nggak ngerti sama materi yang ini.” Kaito mendekatkan bukunya pada Ren lalu menunjuk bagian yang dia maksud. “Kak Ren ngerti nggak? Jelasin dong ke aku.” Bukannya melihat isi buku itu, Ren malah menatap sinis pada Kaito. “Kamu mau ngejek aku? Sesuatu yang kamu ngerti aja aku nggak ngerti, apalagi yang kamu nggak ngerti.” “Lho. Bisa aja, ‘kan?” “Nggak bisa. Coba aja searching di internet. Siapa tau penjelasan di sana lebih gampang dipahami.” Kaito mengacungkan kedua jempolnya. “Eh, tapi tunggu. Kayaknya lebih bagus kalo Kak Ren ngawasin aku belajar sambil Kak Ren belajar juga. Ngerjain tugas atau pelajari pelajaran Senin besok misalnya.” Ren terdiam karena memikirkan perkataan Kaito. Anak itu ada benarnya juga. Apalagi tadi pagi Ren tidak jadi mengerjakan PR-nya karena keburu disuruh papa membersihkan gudang. “Tapi, dulu mama bilang aku harus fokus ngawasin kamu belajar.” Ren mulai ragu untuk ikut belajar. “Emangnya kalo Kak Ren sambil belajar, Kak Ren jadi nggak fokus ngawasin aku? Apapun yang aku lakuin, pasti bakal ketahuan sama Kak Ren. Toh juga kita duduknya berhadapan. Jadi harusnya nggak masalah kalo Kak Ren sambil belajar. Ambil aja bukunya, Kak Ren.” Akhirnya Ren berhasil diyakinkan. Dia beranjak dari kursinya lalu berjalan keluar menuju kamarnya. Sementara itu, Kaito mulai menjelajahi internet sesuai saran Ren di awal tadi. Sekitar tiga menit kemudian, Ren kembali. Kaito yang menyadari kedatangannya langsung menoleh. “Lho, Kak Ren. Mana bukunya?” tanya Kaito yang melihat Ren datang dengan tangan kosong.” Ren kembali duduk di depan Kaito. “Nggak ada dan nggak usah banyak tanya. Udah, lanjut aja belajarnya.” Kaito menggaruk leher bagian belakangnya. “Iya, tapi kenapa nggak jadi belajarnya?” “Entaran aja. Sekarang aku masih males,” bohong Ren agar Kaito berhenti bertanya dan kembali belajar. Tadi, saat keluar dari kamar Kaito, pas sekali Ren berpapasan dengan mama. Mama pastinya bertanya mau ke mana Ren di jam belajar Kaito ini. Ren tentu saja memberitahu alasan yang sebenarnya. Mama yang sebelumnya telah membuat kesepakatan dengan papa tentu tidak mengizinkan Ren belajar dan memintanya kembali ke kamar Kaito. Alasannya hanya agar Ren fokus mengawasi Kaito. … “Aaah. Akhirnya selesai juga belajarnya.” Kaito meregangkan tubuhnya dengan cara merentangkan tangan. “Materi yang tadi kamu nggak paham gimana?” tanya Ren. “Tenang aja, Kak Ren. Udah beres. Aku udah paham pas baca dari internet tadi. Terima kasih, Kak Ren.” “Hem.” Sekarang tugas Ren sudah selesai. Dia beranjak dari kursinya. “Kak Ren!” panggil Kaito dan membuat Ren menoleh. “Malam ini aku tidur di kamar Kak Ren, ya.” Ren mengernyitkan dahinya. “Ada apa sama kamar kamu?” “Kamar aku nggak senyaman kamar Kak Ren.” “Kalo gitu tukeran kamar aja.” “Eh, nggak gitu. Bukan cuma kamar Kak Ren yang nyaman, tapi orangnya juga.” “Ck. Nggak boleh.” Ren berjalan keluar dari kamar Kaito. *** Di kamarnya, Ren sudah bersiap-siap untuk tidur. Awalnya dia berniat mengerjakan PR-nya. Namun, mama yang tiba-tiba melintas di depan kamarnya menyuruhnya untuk segera tidur. Ya, papa dan mama terlihat jelas sedang mengawasi Ren. Ceklek! Pintu Ren terbuka. Kaito rupanya yang membukanya. Laki-laki itu kemudian menutupnya kembali kemudian berjalan menghampiri Ren dan duduk di atas tempat tidur, di sebelah tubuh Ren yang sudah berbaring. “Kamu nggak denger yang aku bilang tadi?” tanya Ren dengan tatapan tajam. Kaito tersenyum. Dia memasukkan kakinya ke dalam selimut yang sama dengan yang Ren gunakan. “Tapi gimana, ya? Aku pingin banget tidur di sini. Hoaaam.” Dia merebahkan tubuhnya. “Selamat tidur, Kak Ren.” Matanya langsung terpejam dengan kepala menghadap Ren. “Dasar,” batin Ren. *** Pagi itu, Ren terbangun dari tidurnya. Dia melihat jam di ponselnya. Pukul 05.30. Ya, dia sengaja bangun setengah jam lebih awal untuk mengerjakan PR-nya. Pelan-pelan dia beranjak dari tempat tidur agar Kaito yang tidurnya masih sangat pulas tidak terganggu. Dia membuka resleting tasnya dan mengambil bukunya di dalam sana. Tunggu. Buku yang dia cari tidak ada. Dia mencarinya kembali di dalam tas. Mungkin terselip. Sayangnya, dia masih tidak menemukannya. Dia lalu menggeledah isi kamarnya. Namun, tidak ada juga. Bola matanya bergerak ke kiri bawah, mencoba untuk mengingat-ingat di mana terakhir kali dia menyimpan bukunya itu. Hampir semenit dia berpikir, dia merasa yakin tadi malam dia menaruhnya di dalam tas. *** “Wah, Minami rajin banget pagi-pagi gini nyapu di halaman,” puji Mama yang lewat di depan gerbang Minami. Minami berhenti menyapu dan melihat pada mama setelah mendengar namanya disebut. Dia tertawa kecil. “Nggak juga, Tante. Ngomong-ngomong, tumben aku liat Tante jogging. Biasanya setiap kali aku nyapu di sini, cuma Ren dan Kaito yang aku liat jogging.” Sekarang giliran mama yang tertawa kecil. “Iya nih, Minami. Tumben tadi Tante bangunnya cepet. Karna nggak tau mau ngapain, akhirnya mutusin untuk jogging aja. Lumayan lah biar bisa jaga berat badan juga.” Mereka lalu tertawa receh bersama. “Kaito gimana kondisinya, Tan? Udah baik-baik aja, ‘kan?” Mama mengangguk. “Dia udah baik-baik aja dan hari ini bisa masuk sekolah lagi.” “Ah, untunglah. Kelas rasanya sepi banget tanpa dia.” *** Bel sekolah berbunyi. Seluruh murid bergerombol menuju tengah lapangan dan membentuk barisan untuk segera mengikuti upacara bendera. Kaito berbaris paling belakang karena bertubuh paling tinggi dibanding teman-teman sekelasnya. Matanya lalu berhasil menangkap bayangan yang datang dan berdiri di belakangnya. Kepalanya menoleh ke belakang. Dia tersenyum. Itu Ren. Ini sudah menjadi rutinitas di mana setiap kali berbaris di lapangan seperti ini, Ren menyelinap dan ikut berdiri di barisan kelas Kaito. Untung saja tubuhnya sedikit lebih tinggi dari Kaito sehingga dia tidak perlu khawatir jika ada guru yang memintanya untuk berbaris di depan adiknya itu. Ini Ren lakukan agar bisa langsung menolong Kaito jika tidak mampu lagi mengikuti upacara. “Eh, kita ketemu lagi, Kak Ren.” Kaito tersenyum dengan deretan gigi putihnya. Namun, Ren hanya menatap sinis. “Kak Ren, pulang sekolah entar, kita singgah ke toko buku dulu, ya. Ada buku yang mau aku beli.” Perkataan Kaito itu hanya dibalas dengan sedikit anggukan dari Ren. “Oo ya, Kak Ren. Tau nggak, masa’ tadi malam aku mimpi Kak Ren nikah sama Minami? Hahaha,” lanjut Kaito. “Heh, yang di belakang sana!” teriak seorang guru menggunakan microfon. Kaito spontan menoleh ke depan. “Kalian mau saya suruh berdiri di samping tiang bendera, hah?!” Menyadari diri mereka yang dimaksud, Ren dan Kaito kompak menggeleng. *** Ren dan Kaito sekarang sudah berada di toko buku. Buku-buku itu sejak tadi seakan memanggil-manggil Kaito untuk segera membacanya. Kaito pun tergiur. Ingin sekali membeli semuanya. “Kak Ren, aku mau ke sana dulu, ya,” katanya menunjuk sebuh rak panjang. “Kak Ren mau ikut?” Ren menggeleng. Kaito berjalan dengan semangat menghampiri rak buku yang ditunjuknya tadi. Rak yang berisi deretan buku sains, buku yang menjadi alasannya ke tempat itu. Setelah sekitar 10 menit melihat-lihat, akhirnya Kaito memutuskan membeli dua buku, padahal awalnya dia berniat membeli satu saja. Dia lalu langsung mendatangi Ren tepat di tempat dia meninggalkannya tadi. Orang yang dicari pun masih berdiri di sana. “Kak Ren mau beli buku juga? Emm, kayaknya bagus deh kalo beli buku persiapan ujian kelulusan. Cocok untuk Kak Ren. Oo, ya. Beli juga buku yang isinya cara nentuin jurusan kuliah yang tepat biar Kak Ren nggak bingung mau ambil jurusan apa. Aaah, satu lagi. Buku yang mengulas tentang kampus-kampus ternama di Jakarta juga harus Kak Ren beli.” “Ck. Nggak usah. Yuk, pulang.” Kaito menahan langkah Ren. “Kok nggak usah, sih? Buku-buku yang aku sebutin tadi kan penting banget untuk Kak Ren.” Ren menggaruk kesal kepalanya. “Udah aku bilang nggak usah.” “Pasti takut bakal diambil sama papa dan mama, ya? Kayak kejadian pas aku beliin Kak Ren kemeja waktu itu.” “Nah, itu tau. Ayo, pulang.” Kaito masih saja menahan langkah Ren. “Beli aja, Kak Ren. Tapi jangan kasih tau papa dan mama.” “Nggak.” Ren yang sudah muak tanpa pikir panjang langsung menarik paksa tangan Kaito untuk segera meninggalkan tempat itu. *** Ren dan Kaito tiba di rumah. Di depan pintu utama, Kaito berhenti sejenak memperhatikan alas kaki yang berada di bawah sana. Dia lalu bergegas masuk. “Mama!” teriak Kaito. “Mama!” Ren yang berada di sebelah Kaito menutup telinga dengan jari telunjuknya. Telinganya terasa berdenyut akibat suara nyaring Kaito. “Di dapur, Kai!” Akhirnya ada jawaban dari Mama. Kaito langsung bergegas ke dapur. “Kai!” cegah Ren dan berhasil membatalkan perjalanan Kaito menuju dapur. “Sini tasnya.” Kaito melepas tasnya lalu memberikannya pada Ren. “Panggil ‘Kai-chan’ aja kayak kita masih kecil dulu, Kak Ren.” “Ck. Nggak cocok sama penampilan kamu yang sekarang.” “Ah, masa’ sih? Emang sekarang aku udah nggak imut kayak dulu? Tapi Papa, Mama dan Minami masih sering tuh bilang kalo aku ini menggemaskan sampe sekarang.” Bola mata ren bergerak malas ke kanan. Malas melihat tampang menyebalkan Kaito kalau membahas tentang nilai bagus yang ada pada dirinya. *** Kaito tiba di dapur. Di sana dia tidak terkejut melihat ada Minami karena tadi dia sudah melihat ada alas kaki sahabatnya itu di depan pintu utama. Yang membuatnya bingung adalah tumben sekali Minami memasak bersama Mama seperti ini. “Eh, selamat datang di rumah, Kai.” Mama baru menyadari kehadiran Kaito di sana. Minami menoleh lalu melempar senyum pada Kaito. “Dalam rangka apa nih Mama dan Minami masak bareng?” tanya Kaito. “Dalam rangka nyenengin anak Mama yang ganteng ini,” jawab Mama. Kaito mengernyitkan dahinya tidak mengerti. ~bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN