“Tadi neneknya Minami cerita ke Mama kalo Minami itu jago masak. Pas Mama nanya Minami bisa buat ramen atau nggak, ternyata neneknya bilang bisa. Karena Mama tau Kaito suka banget sama ramen, ya Mama ajak aja Minami ke sini buat masak untuk Kaito,” jelas Mama.
“Oo, gitu sejarahnya. Ya, udah deh kalo gitu. Nanti panggil aku ya kalo ramennya udah jadi. Aku mau ke kamar Kak Ren.”
Minami tersentak. Dia tak pernah tak deg-degan begitu mendengar nama Ren disebut. Ingin sekali rasanya dia ikut bersama Kaito untuk menemui Ren. Dia juga masih belum bisa melupakan bagaimana hubungannya saat terakhir kali bertemu dengan laki-laki yang dicintainya itu.
***
“Kak Ren!” Kaito langsung membuka pintu kamar Ren tanpa mengetuk. Dia duduk di atas tempat tidur sambil melihat Ren yang sedang mengganti baju.
Kalau saja ini adalah yang pertama kalinya Kaito bersikap lancang seperti itu, Ren pasti sudah terkejut dan akan marah-marah. Untungnya tidak.
Sambil menutup pintu lemarinya dan selesai memakai baju, Ren melihat malas pada Kaito. “Apaan?”
“Di dapur ada Minami. Dia lagi masak bareng Mama. Mereka masak ramen. Kesukaan aku.” Kaito tampak girang.
“Terus?”
“Yuk, ke meja makan. Bentar lagi pasti ramennya udah tersaji di sana.”
Ren meraih tangan Kaito lalu menariknya. Tarikan Ren yang kuat memaksa Kaito harus berjalan cepat untuk mengikuti langkah yang berada di depannya itu agar tangannya tidak terasa sakit.
Begitu sampai di depan kamar Kaito, Ren menghempaskannya hingga masuk. “Ganti baju dulu.” Dia langsung menutup pintu kamar.
Kaito yang tidak terima kembali membuka pintu kamarnya. Sayangnya, Ren sudah tidak ada di sana. Dia melihat ke depan, kanan dan kiri, tetapi Ren tidak ditemukan juga. Cepat sekali menghilangnya. Namun, benar juga Ren. Kaito memang harus ganti baju. Dia menarik sedikit kerah bajunya lalu membaunya. Amis. Dia ingat saat bermain sepak bola tadi di sekolah.
***
Kaito tiba di meja makan setelah selesai mengganti bajunya. Di sana Mama dan Minami sudah duduk manis menunggu kedatangan Kaito. Benar saja, di atas meja sudah tersaji dua mangkuk ramen. Dia tersenyum melihat tampilan ramen yang sangat menggiurkan itu. Produksi air liur di dalam mulutnya meningkat.
Kaito menarik kursi lalu duduk, kemudian melihat ke kanan dan ke kiri. “Kak Ren belum ke sini?”
Mama menggeleng. “Kai, liat. Minami udah buatin makanan kesukaan kamu. sekarang coba deh kamu makan. Harusnya rasanya nggak mengkhianati penampilannya.”
“Kita tunggu Kak Ren dulu, Ma.”
“Lho. Kenapa?”
Kaito menunjuk dua mangkuk yang ada di meja. “Untuk aku dan Kak Ren, ‘kan?”
“Bukan, Kai. Itu untuk kamu dan mama kamu,” jawab Minami.
Kaito mengernyitkan dahinya. “Terus untuk Kak Ren mana?”
“Barusan dia lewat sini dan nolak diajak makan. Katanya masih kenyang,” kata Mama.
Minami menatap agak bingung pada Mama. Dia ingat benar bahwa sejak tadi dia terus bersama Mama dan Ren sama sekali tidak bertemu dengan mereka. Mama berbohong? Pasti.
“Kai, kok diem aja? Ayo, dong dimakan,” suruh Mama.
Kaito mengangguk lalu mulai menyeruput kuah ramen. Matanya seketika membulat. “Woaaah.”
Mama dan Minami saling melempar pandang sambil tersenyum lalu kembali menatap Kaito.
“Tolong, ini enak banget!” Sekarang Kaito menyeruput mienya. Rasanya semakin enak saja sampai Kaito mengunyahnya dengan mata terpejam.
Minami tertawa kecil melihat tingkah Kaito, sementara Mama tersenyum puas melihat putranya yang makan dengan sangat lahap itu.
“Emm, Tante,” panggil Minami.
Mama berhenti melihat Kaito dan berbalik melihat Minami. “Iya, Minami?”
“Aku pinjam kamar mandinya, ya.”
Mama tersenyum lalu diikuti dengan sebuah anggukan.
Minami bergegas pergi. Dia hampir tidak bisa lagi menahan rasa ingin buang air kecilnya. Sementara itu, Kaito masih fokus dengan ramennya. Mama pun kembali menatap Kaito dengan senyuman yang mengembang, kemudian ikut menyeruput ramen dari mangkuk yang lain.
***
Minami selesai dari kamar mandi dan sekarang berjalan menuju dapur untuk membersihkan sisa-sisa memasak tadi. Sambil mengelap kompor, matanya tertuju pada pintu belakang yang terbuka. Dari tempatnya berdiri, tampak jelas halaman belakang di sana, tempat yang mengingatkannya saat dia melihat Ren sedang berdiri di bawah langit malam dan diguyur derasnya hujan.
Setelah selesai membersihkan dan merapikan dapur, dia berjalan menuju pintu belakang. Entahlah. Kakinya ingin saja melangkah ke sana. Lalu, dia sangat terkejut begitu mendapati Ren sedang berbaring di atas rumput yang ada di sana. Minami mengucak matanya untuk memastikan apakah ini khayalan atau bukan karena memang beberapa hari terakhir ini dia semakin sering memikirkan laki-laki itu.
Begitu dia berhenti mengucak matanya dan kembali melihat tempat tadi, dia lebih terkejut lagi bahwa ternyata itu bukanlah khayalan. Itu nyata. Ren benar-benar berada di depannya.
Di sisi lain, mata Ren menatap langit yang agak mendung di atasnya. Angin berhembus sepoi-sepoi. Suasana di sekelilinya terasa hening. Ini benar-benar menenangkan. Semoga saja Kaito tidak datang dan membuat kegaduhan seperti biasanya. Perlahan Ren memejamkan matanya untuk merasakan lebih dalam keheningan itu.
Dari arah belakang, kaki Minami melangkah pelan. Semakin lama, jaraknya dengan Ren semakin dekat. Dia semakin memelankan langkah kakinya, jangan sampai bunyi yang ditimbulkannya mengganggu Ren.
Begitu kaki Minami sudah sejajar dengan tubuh Ren, dia lalu duduk di sebelah laki-laki itu. Entah Ren yang tertidur atau kehadiran Minami yang tidak menimbulkan suara hingga Ren tidak menyadari kehadirannya.
Gadis itu menatap wajah di sebelahnya. Wajah yang selama ini sangat dia kagumi. Kaito adalah anugrah yang sangat indah dalam hidupnya. Selain memberikan warna dalam hidupnya, Kaito juga menyeret Ren untuk masuk ke hidup Minami.
Semakin lama Minami menatap wajah Ren, semakin bermakna pula senyuman yang tercipta di wajah mungilnya. Perasaannya semakin dalam.
“Tuhan, aku ingin laki-laki ini. Tolong takdirkan dia untukku,” batin Minami.
Minami tersadar begitu rasa hangat di tangannya mulai berkurang. Dia lalu menatap semangkuk ramen di tangannya, kemudian kembali melihat Ren. Tujuannya datang ke sini jangan sampai gagal. Belum cukup kalau hanya Kaito yang menyukai masakannya.
“Ren.” Suara halus Minami memecah kesunyian.
Mata Ren terbuka perlahan. Dia langsung menoleh ke kiri karena merasa intensitas cahaya di sana lebih rendah. Dia lalu beranjak dari tidurnya dan menggantinya dengan posisi duduk sekarang.
“Apa?” tanya Ren.
Minami mendekatkan mangkuk ramen pada Ren. “Untuk kamu.”
Sorot mata Ren menatap tajam pada mangkuk yang berada di tangan Minami sampai akhirnya dia kembali menatap Minami. “Kenapa aku?”
“Kalau Kaito makan ini, kamu juga harus makan.”
Ren membuang muka diiringi dengan tawa sinis. “Nggak ada peraturan kayak gitu di rumah ini.”
“Tapi peraturan itu ada di dalam diri aku.”
Ren spontan kembali menatap Minami dengan alis merapat karena bingung.
Jantung Minami berdegup kencang. Napasnya menjadi cepat. Namun, dia sadar. Jika rasa takut itu selalu bersarang dalam dirinya, perasaannya yang selama ini terpendam tidak akan pernah memberikan hasil bahagia dan melegakan. Lelah juga memendam sesuatu yang begitu dalam seorang diri tanpa menceritakannya pada siapapun. Orang yang paling tepat untuk mengetahuinya juga adalah orang yang menjadi alasan perasaan itu tercipta. Ren.
“Kalau Kaito bahagia, aku juga pingin liat kamu bahagia,” kata Minami.
“Hah?” Alis Ren semakin merapat. Ucapan gadis ini benar-benar membuatnya bingung.
“Ah, itu .… Emm, maksud aku, selama ini kamu sering bantu aku walaupun itu atas permintaan Kaito. Tapi tetap aja aku ingin balas bantuan kamu itu dengan cara ngasih perlakukan yang sama untuk kamu dan Kaito. Jadi, karena aku buatin ramen untuk Kaito, aku juga bakal buatin untuk kamu. Kaito suka sama ramen buatan aku, dan aku juga berharap kamu suka.” Sayang sekali. Keberaniannya ciut lagi.
“Kamu harap aku suka sama ramen buatan kamu, tapi bukan berarti aku HARUS suka, ‘kan? Aku dan Kaito itu beda. Kesukaan kami beda. Jadi jangan kecewa kalo kami kasih respon yang beda untuk hal yang sama, salah satunya ramen buatan kamu. Kamu juga nggak perlu ngasih perlakuan yang sama untuk aku dan Kaito. Aku nggak butuh itu. Cukup kamu buat Kaito bahagia, dan aku nggak butuh dan pingin yang lain.” Ren tertawa sinis. “Maaf, Minami. Aku bingung kenapa aku mendadak cerewet. Mungkin karena ini pertama kalinya ada orang yang bener-bener pingin masuk dalam hidup aku, sedangkan aku nggak mau itu.”
Tanpa diperintah, kepala Minami tertunduk perlahan. Ada rasa sedih dan kecewa. Bahkan ada juga rasa bahwa dia tak memiliki kesempatan untuk bisa masuk ke hidup Ren, sedangkan di sisi lain, Ren telah masuk sangat jauh di dalam hidup Minami. Menyedihkan sekali.
“Iya. Aku paham.” Akhirnya Minami sanggup berucap.
Minami bangkit dari duduknya dan berdiri. Dia kembali melangkah ke dapur untuk memakan ramen itu dengan perasaan kecewa.
“Minami!” cegah Ren dan membuat Minami menoleh. Dari wajah sendunya, terlihat jelas kesedihannya. “Kamu udah terlanjur buatin ramen itu untuk aku. Seenggaknya biarin aku makan.”
Minami seketika tersenyum senang. Kecewa memang mengetahui Ren tak menginginkannya masuk ke dalam hidupnya. Namun, setidaknya saat ini Ren mau menerima pemberiannya. Pemberian di mana dia menaruh banyak cinta di dalam mangkuknya. Anggap saja itu sebagai obat atas kekecewaannya, walaupun entah obat itu manjur atau tidak.
***
“Ren, Kaito mana?” tanya Papa begitu melihat Ren kembali dari dapur.
“Di kamarnya, Pa,” jawab Ren.
“Masih belajar? Kamu tinggalin?”
Ren menggeleng. “Dia udah selesai belajar dan sekarang udah tidur.”
“Sekarang bangunin dia dan bantu dia siap-siap. Teman TK-nya masuk rumah sakit. Kita harus jenguk.”
“Jam segini?” batiin Ren.
“Baik, Pa,” jawab Ren kemudian.
Ren bergegas ke kamar Kaito. Sesampainya di sana, dia melihat adiknya itu tampak sangat nyenyak tidurnya.
“Kai.” Ren mengguncang-guncang pundak Kaito.
Kaito bergerak sedikit, tetapi matanya tetap tertutup hingga akhirnya tak ada gerakan lagi.
“Ck. Kai!” Kali ini Ren sedikit lebih keras.
Kaito menggaruk kesal lehernya lalu membuka matanya. Alisnya merapat. Terlihat jelas dia kesal karena tidurnya diganggu. “Kenapa, Kak Ren? Perasaan baru aja aku tidur.” Dia mengambil ponselnya yang berada di meja di sebelah kanan tempat tidurnya kemudian menyalakannya untuk melihat jam. “Jam 9. Ini malam, ‘kan? Bukan pagi, ‘kan?”
Ren mengangguk. “Papa nyuruh kamu siap-siap. Katanya kalian bakal pergi jenguk temen TK kamu di rumah sakit.”
~bersambung