Keinginan yang Mengejutkan

1668 Kata
Kaito menggaruk kesal lagi. Kali ini kepalanya yang menjadi sasaran. “Kan masih ada hari esok.” “Kai, ini permintaan Papa.” “Terus kenapa kalo Papa yang minta?” Lalu samar-samar terdengar teriakan Papa. “Kai! Udah selesai belum siap-siapnya?!” Ren langsung menarik kedua tangan Kaito dan membuatnya duduk. “Cepetan sana cuci muka.” “Temenin.” “Ck. Iya. Ayo!” “Gendong.” Kaito benar-benar membuat Ren kesal. Sayangnya kali ini Ren sama sekali tidak bisa memberi alasan untuk menolak karena Papa sudah menunggu Kaito. Ren langsung membuat posisi jongkok di sebelah tempat tidur Kaito dan menunggu Kaito naik ke punggungnya. Ren lalu membawa Kaito ke kamar mandi. Di punggung Ren, terdengar jelas Kaito menguap beberapa kali hingga aroma mulutnya tercium oleh Ren. “Pokoknya harus bersih entar gosok giginya,” suruh Ren. Begitu tiba di depan kamar mandi, Ren menurunkan Kaito dari punggungnya dan mendorong sedikit tubuh adiknya itu agar segera masuk ke kamar mandi. Saat Kaito sudah masuk ke kamar mandi, Ren segera menutup pintunya. “Cepetan!” suruh Ren dari balik pintu. Tak sampai lima menit, Kaito keluar. Kali ini matanya sudah tidak sayup lagi. Ekspresinya pun kembali ceria. “Udah bersih belum gosok giginya?” tanya Ren. Kaito mengangguk yakin. Dia mendekatkan mulutnya pada Ren, membukanya lalu ‘hah’, dia membiarkan aroma mulutnya tercium oleh kakaknya itu. Ren kembali jongkok di depan Kaito. Kaito naik, lalu mereka kembali ke kamar Kaito. Sesampainya di kamar Kaito, Ren menurunkan Kaito dari punggungnya, lalu mengambil sepasang pakaian di dalam lemari Kaito. “Harus ganti baju?” tanya Kaito yang masih nyaman dengan pakaian yang dikenakannya sekarang. Sambil berjalan mendekati Kaito dengan sepasang pakaian di tangannya, Ren bertanya, “Nggak malu pake piyama ke rumah sakit?” Kaito melihat pakaian yang melekat di tubuhnya, lalu kembali melihat Ren. Laki-laki itu hanya cengengesan dan membiarkan kakaknya mulai melepas kancing piyamanya, memakaikan baju yang lebih layak digunakan untuk keluar rumah, melepas celana piyamanya, kemudian menggantinya dengan celana jeans. Ren kemudian mengambil sisir di meja lalu merapikan rambut Kaito. “Parfum, Kak Ren.” Kaito mengingatkan. Ren kembali ke meja untuk meletakkan sisir sekaligus mengambil parfum kemudian menyemprotkannya ke baju Kaito. *** Papa dan Mama sudah selesai bersiap-siap dan sekarang tengah berdiri di teras rumah menunggu Kaito. “Kaito!” teriak Papa sambil melihat arlojinya. “I’m coming …!” balas Kaito yang berlari dari dalam menuju teras. Di belakang Kaito, Ren berjalan cepat dan ikut ke teras rumah. “Semua udah siap? Nggak ada yang ketinggalan?” tanya Mama. “Buah tangan?” tanya Kaito. “Entar kita beli aja di jalan.” Kaito mengangguk-angguk. “Ren, jangan lupa tutup gerbangnya dan langsung buka pas kami balik, ya,” suruh Papa. “Baik, Pa,” jawab Ren. *** Di dalam mobil, tepatnya di kursi tengah Kaito melihat ke luar jendela. Jalanan masih tampak ramai. Kepalanya mangut-mangut mengikuti irama lagu yang diputar Papa. Sesekali dia bernyanyi ketika mengetahui part tertentu lagu itu. 20 menit berlalu dan mereka masih belum sampai. Kira-kira butuh 10 menit lagi. Jarak tempat tujuan dengan rumah mereka memang cukup jauh. Kaito yang tadinya sudah merasa segar setelah membasuh wajah dan menggosok giginya, kini menguap lagi. Matanya mulai terasa berat. Beberapa kali dia kehilangan kesadaran selama sedetik hingga kemudian sadar lagi. Akhirnya, dia tak mampu lagi menahan rasa kantuknya. Dia tak bisa menolak untuk melanjutkan tidurnya yang sempat terpotong tadi. … Papa memberhentikan mobilnya di tempat parkir rumah sakit. Dia mematikan mesin mobilnya lalu melihat ke tempat duduk Kaito. “Kai, bangun. Kita udah sampe,” suruh Papa dengan nada lembut. “Papa!” Mama menepuk-nepuk pundak Papa dengan panik. Matanya tak bisa lepas dari ponsel yang sedang dipegangnya. Tampak sebuah chat sedang aktif di sana. Papa mengalihkan pandangannya dari Kaito ke Mama. “Ada apa, Ma?” “Temennya Kaito udah meninggal.” Papa terkejut dengan mata yang membulat sempurna. Akhirnya dia dan Mama memutuskan tak membangunkan Kaito dan langsung masuk ke gedung rumah sakit. *** “Permisi.” Papa dan Mama masuk ke ruangan tempat teman Kaito dirawat. Di dalam sana tampak ibu dari anak itu tengah menangis sejadi-jadinya dalam pelukan suaminya. Suaminya sendiri tampak begitu hancur, tetapi dia memaksakan matanya untuk tetap terbuka, melihat anaknya yang sedang ditutupi kain oleh dokter. Bagaimana pun juga, ini akan menjadi yang terakhir kali baginya untuk bisa melihat putranya itu. Papa dan Mama berjalan mendekati sepasang suami istri yang sedang dilanda duka itu. Menyadari kehadiran mereka, ibu dari anak itu keluar dari pelukan suaminya dan berusaha untuk menghargai kedatangan Papa dan Mama, setidaknya walau hanya menyambutnya dengan sebuah senyuman. Senyuman itu jelas sekali merupakan keterpaksaan. Mama semakin mendekati ibu itu kemudian mengelus pundaknya untuk memberikan kekuatan, walau hanya sedikit. Ketegaran ibu itu kembali tergoyahkan dan menumpahkan tangisannya lagi ke dalam pelukan Mama. Mama memeluknya. Sangat erat. Isakan tangis ibu itu terdengar sangat jelas bergema di dalam ruangan yang terasa hampa dan dingin itu. “Aku menyesal,” katanya di sela-sela tangisannya, “Waktu anakku sakit, aku nggak pernah punya waktu untuk dia. Aku selalu sibuk sama pekerjaanku. Saat di rumah, berkali-kali dia membantuku menyelesaikan tugas-tugasku. Tapi, bukannya berterima kasih dan menyambutnya dengan kasih sayang, aku malah memberinya tugas lebih banyak dan melupakan kondisinya yang semakin hari semakin memburuk. Dia mau saja menurutiku tanpa menolak sedikit pun. Mungkin menurutnya, hanya itu cara yang bisa dia lakukan agar bisa duduk bersamaku. Selain itu, aku hanya memarahinya, menumpahkan semua rasa kesal dan lelahku dalam pekerjaan. Ibu macam apa aku ini yang tidak memberikan kasih sayang yang selama ini begitu anakku harapkan di detik-detik terakhir hidupnya? Sekarang baru aku rasakan penyesalan yang dalam dan berharap waktu bisa kembali hingga aku bisa memberikan kasih sayang yang dia idam-idamkan.” *** Setelah lebih dari 30 menit Papa dan Mama berada di ruang rawat itu, kini mereka kembali ke mobil. Di dalam sana tampak Kaito masih tidur dengan sangat pulas. Mama terisak. Dia berusaha agar suara tangisannya tak menganggu tidur Kaito. Papa yang duduk di kursi kemudi, menggenggam tangan istrinya itu. Dia paham bahwa Mama bisa ikut merasakan bagaimana perasaan ibu dari teman Kaito tadi. “Kita pulang sekarang, ya?” tanya Papa dengan lembut dan dibalas anggukan pelan dari Mama. *** Pip-pip! Ren bergegas keluar dan segera membuka pintu gerbang. Setelah mobil masuk, dia kembali menutup pintu gerbang dan menguncinya. Papa dan Mama keluar dari mobil bertepatan dengan Ren yang baru saja kembali dari halaman depan rumah. “Ren, bawa Kaito ke kamarnya, ya,” suruh Papa. “Baik, Pa.” Ren membuka pintu bagian tengah dan mengeluarkan Kaito dari dalam sana dengan membiarkan Kaito naik lagi ke punggungnya. Tidur adiknya itu masih sama, terlihat sangat pulas. “Kami duluan masuk,” izin Ren dan dibalas anggukan dari Papa. Mama hanya menatap kepergian anaknya itu dengan penuh kebisuan. “Mama?” panggil Papa yang menyadari Mama melamun. Mama tersadar. Dia menatap dalam pada Papa. “Papa, selama ini Ren udah banyak membantu kita.” Papa mengernyitkan dahinya. Bukannya memberikan penjelasan yang lebih detail, Mama malah masuk begitu saja ke rumah dan meninggalkan Papa. *** Ah. Pagi dengan langit yang cerah kembali menyapa dan menghiasi awal hari setiap keluarga di Jakarta. Papa, Mama, Ren dan Kaito kini tengah menikmati sarapan mereka di meja makan. Suasana terasa begitu damai. Tangan Mama sejak tadi hanya memegang sendok tanpa memasukkan satu suap makanan pun ke mulutnya. Dia hanya menatap Ren. Sangat dalam. Banyak sekali yang dia pikirkan tentang anak itu. “Yey, habis!” Kalimat Kaito itu akhirnya memecahkan lamunan Mama. Ren dan Kaito meminum air mereka, kemudian beranjak sambil mengambil tas mereka yang berada di sebelah kaki kursi. “Pa, Ma, aku dan Kak Ren berangkat sekarang, ya.” Kaito berjalan menghampiri Papa dan Mama lalu mencium tangan mereka secara bergantian diikuti Ren di belakangnya. Saat Ren meraih tangan Mama dan menciumnya, dia berhasil menangkap tatapan yang berbeda dari wanita paruh baya itu. Bola mata Mama tak bergerak sedikit pun. “Kak Ren, ayo!” ajak Kaito. Ren menoleh pada Kaito dan kembali meletakkan tangan Mama. “Gendong.” Kaito merentangkan tangannya ke depan bersiap naik ke punggung Ren dan akan melingkarkan tangannya di depan d**a Ren. Alis Ren merapat. “Kamu nggak lagi sakit ataupun ngantuk.” “Emang.” “Ya, udah. Jalan aja.” “Nggak mau. Aku nggak akan masuk ke mobil kalo nggak digendong sama Kak Ren sampe di depan mobil.” Inginnya Ren menolak lagi. Namun, dia sadar sedang menjadi tontonan orang tua mereka dan merasa tidak enak. Akhirnya dia pasrah saja jongkok di depan Kaito dan membiarkan laki-laki itu naik ke punggungnya. “Berangkaaat!” sorak Kaito. Ren dan Kaito tak terlihat lagi. Suara mobil juga akhirnya terdengar yang menandakan dua anak laki-laki itu sudah berangkat ke sekolah. “Pa,” panggil Mama agak pelan. Papa menghentikan makannya dan menoleh pada Mama. “Ayo, buat Ren keluar dari rumah ini.” “Hah?” Papa hampir saja tersedak karena saking terkejutnya. “Selama ini Ren udah bantu keluarga kita, terutama soal jagain Kaito. Itu terjadi selama belasan tahun dan lihat apa yang terjadi sekarang. Kaito jauh lebih dekat dan sayang sama Ren dibanding orang tuanya sendiri. Pa, Mama nggak mau ngerasain penyesalan kayak yang dirasain sama Karen tadi malam. Mama pingin jagain Kaito sepenuhnya. Mama pingin semua yang kita punya cuma untuk Kaito, nggak dibagi sedikit pun ke anak lain.” “Tapi bukannya selama ini kita udah lakuin itu?” “Nggak, Pa. Uang untuk Ren makan? Sekolah? Dan kebutuhannya yang lain? Seharusnya semua untuk Kaito.” “Ma, kita masih butuh bantuan Ren di rumah ini.” “Mama akan berhenti kerja dan tinggal di rumah untuk fokus jagain Kaito. Jadinya kita nggak perlu Ren lagi, ‘kan?” “Menurut Mama, gaji Papa cukup untuk penuhi kebutuhan dan keinginan Kaito? Kalo misalnya kita nggak bisa memenuhi dia, apa dia nggak akan ngerasa kecewa?” Mama terdiam beberapa saat. “Jadi, Mama harus tetap kerja dan biarin Kaito tetap ditangani sama Ren?” Papa mengangguk yakin. “Sampai kapan?” tanya Mama. ~bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN