Sekarang giliran Papa yang terdiam sejenak, memikirkan kira-kira sampai kapan mereka akan mempertahan Ren di rumah itu. “Sampai Kaito punya penghasilannya sendiri.”
Mama tertawa sinis. “Itu terlalu lama, Pa. Sekarang Kaito masih SMA kelas 2. Dia masih butuh 1 tahun untuk selesaikan sekolahnya dan 4 tahun untuk kuliahnya.”
“Kita nikmati aja dulu prosesnya, Ma. Biarin takdir yang nunjukkin jawabannya. Siapa yang tahu hari esok? Semua yang terjadi adalah yang terbaik, ‘kan?”
Akhirnya Papa berhasil meyakinkan Mama. Mama tampak lebih lega dibanding beberapa saat setelah bertemu orang tua teman Kaito tadi malam.
***
“Ren, ini udah yang ketiga kalinya secara berturut-turut kamu nggak ngerjain PR,” kata Ibu Kiara.
Ren terdiam berdiri di depan meja guru dan membelakangi teman-temannya yang duduk rapi di bangku mereka masing-masing. Dia sedang menjadi pusat perhatian sekarang. Dia tahu itu dan dia tidak peduli. Dia masih memikirkan kalimat Ibu Kiara tadi. Kalau dia mengatakan semua halangan yang menjadi penyebab dia tidak mengerjakan PR-nya mulai dari selalu saja ada tugas dari orang tuanya yang harus segera dia selesaikan, buku PR-nya yang hilang, dilarang menghubungi teman kelasnya, dan halangan mengerjakan PR yang lain, apakah Ibu Kiara akan mempercayainya dan tidak menganggap jika Ren hanya membela diri dengan mengatakan alasan yang tidak benar? Ah, biarlah, pikir Ren. Lebih baik dia diam saja daripada berkata bohong maka dia berdosa, dan berkata jujur maka orang tuanya kemungkinan akan dipanggil ke sekolah karena dianggap menghalanginya mengerjakan PR.
“Ren, jadi kali ini kamu nggak akan bilang juga apa alasan kamu nggak ngerjain PR?” tanya Ibu Kiara karena tak mendapat tanggapan apapun dari muridnya itu.
Ren tetap diam.
Dengan kuat insting Ibu Kiara mengatakan bahwa penyebab Ren tidak mengerjakan PR-nya ada hubungannya dengan orang tuanya.
“Ren, beritahu Ibu apa alasan kamu nggak ngerjain PR. Ibu percaya sama kamu.”
Bola mata Ren yang sejak tadi hanya menatap lantai, kini perlahan menatap Ibu Kiara. “Hukum aja lagi saya, Bu. Tapi tolong jangan beritahu apapun tentang saya ke orang tua saya.”
Hati Ibu Kiara luluh seketika. Sekarang dia semakin yakin bahwa ini ada hubungannya dengan orang tua Ren.
“Karena kamu nggak ngerjain PR, sesuai peraturan kamu harus dapat hukuman. Lagi. Pulang sekolah entar, bersihin kelas ini. Jangan pulang sebelum benar-benar bersih.”
“Orang tua saya nggak akan tau hal ini kan, Bu?”
Ibu Kiara mengangguk pelan dan itu menciptakan sebuah senyum kecil di wajah Ren.
“Tapi, Bu. Saya mohon izin untuk anterin adik saya pulang dulu. Setelah itu saya pasti akan langsung balik ke sekolah dan jalanin hukuman saya.”
Ibu Kiara mengangguk lagi.
***
Pagi itu di dalam sebuah ruang kelas, para murid masih saling bercengkrama sembari menunggu kadatangan guru mereka yang sudah memberitahu akan terlambat masuk karena urusan mendadak yang tak bisa ditinggalkan.
Sambil menopang dagunya di atas meja, Kaito memperhatikan Kana yang sedang asyik mengobrol dengan teman-temannya.
“Minami,” panggil Kaito agak pelan dan tetap fokus memperhatikan Kana.
“Kenapa, Kai?” tanya Minami yang mendekatkan kepalanya pada Kaito.
“Liat deh Kana. Kok dia makin cantik aja, ya?”
Minami sontak terkejut dan langsung memegang kepala Kaito hingga membuat kepala itu berbalik menghadap ke arahnya. “Jangan mulai lagi, Kai. Ingat masalah waktu itu. Tolong, jaga Ren juga.”
“Kaito!” panggil Kana.
Kaito sontak mengangkat kepalanya dan menoleh ke sumber suara. Kana sudah berdiri di sebelah mejanya.
Minami semakin khawatir. Tangannya sudah bersiap-siap mengirim pesan pada teman Ren karena bukan rahasia lagi bahwa Ren tidak memiliki ponsel. Dia juga mengedarkan pandangannya ke seisi kelas. Tidak ada Jin di sana. Semoga saja laki-laki itu tidak datang saat Kaito dan Kana sedang dekat seperti ini.
“Geser dikit dong pantatnya,” pinta Kana pada Kaito.
“Eh?” Kaito tampak terkejut.
“Geser dikit.” Kana menepuk paha Kaito dan membuat laki-laki itu menggeser sedikit bokongnya.
Kana ikut duduk di sana, berbagi kursi dengan Kaito. Gadis itu lalu menidurkan kepalanya di meja sambil menatap Kaito. Tentu itu membuat Kaito salah tingkah, tetapi bingung juga.
“Bantu aku putus sama Jin. Dia udah nggak perhatian lagi sama aku tapi selalu nolak tiap kali aku minta putus,” kata Kana.
Minami menggigit jemarinya. Dia takut sekali Kaito akan melakukan hal yang diminta Kana.
“Kamu suka kan sama aku, Kai? Aku juga, Kai. Aku suka sama kamu. Udah lama aku pingin akhiri hubungan sama Jin dan mulai hubungan yang baru sama kamu. Tapi, Jin selalu aja jadi penghalang. Bantu aku, Kai.”
Kaito langsung beranjak dari bangkunya. “Nggak bisa, Kana. Selama kamu masih pacaran sama Jin, aku nggak akan ikut campur urusan kalian. Apapun itu.”
“Lho, kenapa? Kamu suka kan sama aku?”
“Iya, tapi aku nggak mau ikut campur urusan kalian.”
“Kalo kamu suka sama aku, harusnya kamu ikut campur, Kai. Ini demi aku. Demi bakal hubungan kita juga.”
Kaito menggeleng cepat. “Aku nggak mau kejadian waktu itu keulang.”
“Kamu takut dipukul sama Jin lagi?”
Kaito menggeleng lagi. “Nggak ada satu hal pun yang buat aku takut kecuali Kak Ren. Aku nggak mau dia kenapa-kenapa apalagi kalo itu gara-gara aku.”
Mata Minami membulat. Dia tak menyangka akan seperti ini respon Kaito atas permintaan Kana.
Kana tertawa sinis. Dia beranjak dari duduknya. “Kamu nggak berani perjuangin cinta kamu demi kakak kamu?”
“Iya lah,” yakin Kaito.
“Apapun yang jadi pilihannya, kalo kakak kamu jadi salah satunya, kamu pasti bakal milih dia?”
Kaito mengangguk yakin.
Lagi, Kana tertawa sinis. “Bodoh kamu, Kai! Sikap kamu yang kayak gini bakal jauhin kamu dari cinta kamu.”
“Kalo aku bisa hidup berdampingan sama Kak Ren dan cewek yang aku suka sekaligus, kenapa aku harus korbanin Kak Ren demi orang lain?”
Kana menatap tak menyangka. “Gila. Bener-bener gila. Nggak akan ada yang mau sama kamu yang kayak gini.”
Kaito tersenyum tipis. Sekarang dia tahu bagaimana Kana. Rupanya selama ini yang dia lihat hanya sampulnya saja, belum isinya. Untunglah ada Minami yang selalu mencegahnya melangkah lebih jauh untuk memperjuangkan Kana.
“Pergilah, Kana,” suruh Kaito.
Kana begitu terkejut bahkan sampai tercengang. Dia tak menyangka laki-laki yang selama ini mengaguminya, bisa mengerluarkan kalimat seperti itu padanya.
Kaito tak lagi menghiraukan Kana. Dia kembali duduk dan menopang dagunya sambil melihat Minami. “Ternyata kamu yang paling cantik, Minami. Luar dalam.”
“Eh?” Mata Minami membulat.
Kana yang semakin kesal akhirnya memutuskan pergi meninggalkan Kaito. Hentakan kakinya sampai terdengar.
***
Bel pulang berbunyi. Kaito memasukkan alat tulisnya ke dalam tas dan bergegas keluar kelas. “Daaa, Minami.”
Di luar kelas, seperti biasa dia mendapati Ren sudah berdiri menunggunya. “Ayo, Kak Ren!”
…
Di dalam mobil, Ren dan Kaito berbincang-bincang sedikit.
“Kak Ren, tau nggak. Aku nggak suka lagi sama Kana.”
“Oh.”
“Kak Ren nggak mau nanya apa alasannya?”
“Mau nanya atau nggak, kamu pasti tetep ceritain.”
“Ehehe. Iya juga. Kana, dia nggak suka kalo aku lebih milih Kak Ren.”
Ren tertawa sinis. “Apaan, dah.”
“Dia itu aneh.”
“Semuanya aja kamu bilang aneh.”
Tak terasa mereka sudah tiba di rumah. Mereka sama-sama keluar dari mobil. Bedanya, Kaito mengarah ke dalam rumah, sedangkan Ren ke arah gerbang.
“Lho, Kak Ren!” panggil Kaito yang tak mendapati Ren di sebelahnya dan malah melihatnya berjalan menjauh.
Ren berhenti melangkah dan berbalik badan pada Kaito. “Ganti baju kamu dan pergi ke rumah Minami aja. Jangan sendirian di rumah.”
Kaito mengernyitkan keningnya tak mengerti. “Kalo Kak Ren sekarang pergi dan aku ganti baju, itu namanya aku sendirian dong di rumah.”
Ren tersentak. Benar juga kata Kaito. “Cepetan sana ganti baju. Aku tunggu di sini.”
“Ih. Kak Ren mau ke mana emang?”
“Ganti baju dulu.”
“Ih. Iya-iya. Awas ya kalo aku balik tapi Kak Ren nggak ada.”
“Ck. Bawel. Iya!”
Kaito yang penasaran akan ke mana Ren, bergegas masuk dan mengganti pakaiannya. Tak sampai 10 menit dia sudah kembali. Tidak seperti Kaito yang biasanya, yang memerlukan waktu sampai setengah jam hanya untuk mengganti pakaian. Dia takut Ren akan meninggalkannya sendirian.
Untunglah. Ren masih berada di halaman depan. Kaito bergegas menghampirinya.
“Kak Ren mau ke mana?”
“Balik ke sekolah.”
“Eh, ngapain?”
“Ada urusan.”
“Urusan apa?”
“Bukan urusan kamu. Udah sana ke rumah Minami.”
“Nggak mau. Aku mau ikut Kak Ren.”
“Kamu mau aku nggak balik-balik lagi?”
Kaito mendadak murung. “Kak Ren,” panggilnya agak pelan, “Jangan pernah jadiin ‘Kak Ren nggak akan balik lagi’ sebagai ancaman.”
Ren terdiam beberapa saat. “Maaf.”
Kaito kembali tersenyum. “Aku akan ke rumah Minami sekarang. Kak Ren jangan lupa pulang, ya.”
Ren mengangguk.
Begitu memastikan Kaito sudah berada di rumah Minami, Ren bergegas menuju halte bus.
***
“Minami!” panggil Kaito sambil mengetuk-ngetuk pintu rumah Minami.
Tak butuh waktu lama, pintu dibuka oleh nenek Minami.
“Eh, Kai-chan. Tumben ke sini lagi. Ayo, masuk,” ajak Nenek.
“Hehehe. Iya, Nek.”
Mereka masuk dan berhenti di ruang tamu.
“Minami! Ini ada Kai-chan!” teriak Nenek.
“Iya, Nek!” Terdengar balasan dari Minami yang samar-samar.
“Kai-chan udah makan? Makan di sini, yuk. Nenek masak ramen.”
“Wah. Ramen lagi. Kesukaan aku. Hehehe. Entaran aja, Nek. Aku masih kenyang.”
Nenek tertawa kecil. “Ya, udah kalo gitu. Kalo laper, langsung ke dapur aja, ya.”
Kaito mengangguk ceria.
Minami datang.
“Nenek ke kamar dulu, ya,” pamit Nenek yang dibalas anggukan dari Kaito dan Minami.
Kaito menjatuhkan tubuhnya di atas sofa dan rebahan di sana. “Minta minum dong, Minami.”
“Iya, Kai. Emm, ngomong-ngomong .…” Kepala Minami mendongak ke sana ke mari. “Kamu sendiri ke sini?”
“Yap.”
“Ren?”
“Cieee yang nanyain calon suaminya.”
“Eh?” Minami sontak menatap kaget pada Kaito.
Kaito tertawa lalu bangkit dan sekarang posisinya duduk. “Beberapa waktu lalu aku mimpi kamu dan Kak Ren nikah. Di mimpi itu suasananya romantis banget. Aku baper. Tapi pas aku udah kebangun, aku malah ketawa tiap kali inget mimpi itu.”
“Ah, mimpi rupanya. Kamu ceritain ini ke Ren juga?”
“Pastinya.”
“Terus gimana tanggapan dia?”
“Nggak ada.”
Minami mendadak tak bersemangat. Sayang sekali.
“Minami, minuman aku?” tagih Kaito.
“Ah, iya. Aku ambilin dulu.”
~bersambung