Kaito menyeka air matanya dengan punggung tangannya. Dia memeluk Ren. Sangat erat. “Aku janji, Kak Ren. Mulai sekarang aku akan selalu hati-hati. Aku akan buat diri aku selalu baik-baik aja, supaya Kak Ren juga baik-baik aja. Kak Ren, aku mohon jangan pernah tinggalin aku.” “Bodoh. Kamu pikir untuk alasan apa aku bakal tinggalin kamu?” Ren melepas pelukan Kaito. “Udah. Hapus air mata kamu. Air mata nggak cocok ada di wajah kamu.” Kaito tersenyum jahil. “Hapusin.” “Tangan kamu baik-baik aja, ‘kan?” Kaito mengangguk. “Meskipun baik-baik aja, tapi aku tetap butuh tangan Kak Ren untuk hapus air mata aku.” Ekor mata Kaito lalu berhasil menangkap sekelebat sosok yang melewati pintu kamar Ren. “Mama!” teriaknya tiba-tiba. Itu benar Mama. Mendengar Kaito memanggilnya, Mama yang tadinya suda

