“Kai,” kata Ren tanpa mengeluarkan suara, hanya sebatas pada pergerakan mulut. Dari balik jendela, Kaito yang mengetahui Ren telah menyadari keberadaannya melompat-lompat pelan agar tak menimbulkan suara sambil mengangkat kedua kepalan tangannya sebagai isyarat bahwa dia sedang memberikan semangat pada Ren. Alis mata Ren merapat melihat tingkah adiknya itu. Kepalanya membuat pergerakan dengan menggeleng cepat dan tampak agak kaku sebagai isyarat meminta Kaito untuk berhenti. Hal itu dipahami oleh Kaito dan membuatnya berhenti melompat. Senyumnya semakin mengembang, menikmati situasi di mana matanya bertemu dengan mata Ren. Setelah lebih dari setengah jam Kaito menunggu, akhirnya ujian hari itu berakhir dan Ren keluar dari kelasnya sambil menggendong ranselnya. Dia menghampiri Kaito.

