Adriana pov
Aku masih berdiri mematung di balik pintu kamar mandi,sembari meremas dadaku yang tak henti hentinya berdebar serta menimbulkan rasa sesak yang mulai melanda ,
Batinku berkata Ada yang salah dengan diriku,lebih tepatnya pada hatiku,aku harap ini bukanlah perasaan cinta,kalaupun benar aku akan kembali mengubur perasaanku yang memang sedari dulu ada untuknya,
Aku tak menyangkalnya aku mempunyai perasaan pada kak dave, sudah sedari lama aku menyimpan rasa itu, awalnya perasaan benci yang menyelimuti tapi seiring berjalannya waktu kabut itu mulai menghilang dan berganti dengan perasaan cinta,
Aku tau perasaan benci dan cinta itu bedanya sangat tipis,dan cinta itu tak mengenal status,tapi aku masih tak percaya perasaan itu hadir kembali secepat ini, dan dapat ku rasakan pada hatiku, aku pernah menolak perasaan itu tapi semakin aku berusaha menghindar perasaan itu seperti menelanku hidup hidup.
saat kak dave pindah dari rumahku saat usianya hampir menginjak 12 tahun,saat itulah aku menyadari ada setitik rindu yang terselip di sela hatiku,dan tanpa ku sadari aku telah memiliki perasaan yang sering orang sebut cinta,
Ya dia adalah cinta pertamaku,aku terpaut 3 tahun dengannya usiaku saat itu masih sangat belia,
Awalnya aku bertanya tanya akan perasaan aneh yang menerpa hati ku,
Hingga saat aku memasuki bangku sekolah menengah pertama,aku baru menyadari bahwa aku merindukan kak dave dalam artian yang berbeda,
Aku hanya berharap itu hanyalah cinta monyet atau hanya rasa kagum pada dirinya,tapi sekali lagi ternyata aku salah,
Saat kak dave di jodohkan dengan kak dinda di situlah aku menyadari akan perasaanku padanya,rasa cemburu akan kabar itu membuat hatiku memanas seakan ada bara api yang siap melalap habis diriku,tapi apalah daya aku hanya wanita biasa dan jauh dari kata sempurna,yang takkan pernah mampu untuk jujur padanya
Aku Berbeda dengan kak dinda,aku dengannya bagaikan langit dan bumi,
Dia wanita yang cantik,mandiri,dan juga anggun, sangat berbeda dengan ku,wanita manja yang bisanya hanya bergantung pada ayahku,
Sekuat dan sebesar apa rasa cintaku padanya kami takkan bisa bersatu,
Dia saudaraku,ada ikatan darah yang memisahkan kami,dan aku sadar akan hal itu,
°~°~°~°~°~°~°~°~
Aouthor pov.
Langkah semampai itu berhenti di depan ranjang king size itu,manik hitam itu tertuju pada setelan pakaian kerja juga bra serta celana dalam yang tergeletak di atas ranjang,
Jemari lentiknya meraih bra serta cd berwarna merah itu dan senyuman itu terukir di bibir manisnya,
Ckkckck..teryata dia pria yang sangat m***m,batin aria
Perlahan ia mengedarkan pandangannya dan tak menemukan sosok yang di carinya,
Dengan secepat kilat ia mengenakan semua yang tlah di siapkan saudaranya itu,
tangan meraih hand bag dan mengeluarkan alat make upnya,
Bagi aria seorang wanita takkan bisa hidup tanpa make up,jadi kemanapun ia berada tas make up takkan pernah terlupakan olehnya,
Dipolesnya wajah putih semulus porselen itu dengan bedak tipis juga lipstick berwarna soft pink yang membuatnya semakin natural,
Aria sangat asyik dengan acara berdandannya dan tanpa ia sadari sosok pria memakai kemeja putih dengan setelan jas itu sudah berada di belakangnya,
Dave menunduk mendekati tengkuk aria dan berbisik lembut,
"Tolong pasangkan dasiku sayang.."
membuat desiran desiran aneh merambat dalam d**a nana,
Jemari lentiknya mengayun,mengambil dasi dari tangan dave
Posisi mereka saat ini sukses menghilangkan jarak antara keduanya,
Dan tanpa sadar nana menggigit bibir bawahnya,rona merah menghiasi wajah gadis itu ,dave yang mengamati akan hal tersebut,dan dengan cepat mengangkat dagu gadis pujaannya,
Tatapan keduanya bertemu,
Tersirat perasaan yang tak tersampaikan dalam binar manik mata keduanya,tatapan mata itu membuat aria tak mampu berkata,
"Apa aku begitu menggoda bagimu aria,hingga membuat wajahmu bersemu?"
Tatapan dan ucapan dave membuat nana tercengang,bagaimana tidak aroma dave yang maskulin membuatnya semakin gila,tatapan itu seketika membuatnya sesak
"Sebenarnya apa yang ada pada dirimu,kenapa aku sangat menginginkanmu!!"
Aria tak dapat mencerna apa yang kakaknya ucapkan,
Dave menjatuhkan tangannya di bahu nana,wajah mereka semakin mendekat menghapuskan jarak yang ada,nafas mereka saling beradu
Tanpa banyak bicara dave melumat
Bibir yang bisa membuatnya mabuk kepayang
Tangan nana berusahan mendorong tubuh kekar itu,namun kekuatannya tak sebanding dengan nafsu pria yang sedang mencumbunya, percuma ia melawan usahanya itu takkan membuahkan hasil dan keputusan terakhirnya adalah mengalah,dan menikmati ciuman panas yang di berikan oleh dave
Debar jantungnya mulai menggila,
Membuatnya ingin merasakan lebih dan lebih,ciumannya mulai semakin menuntut,
Hingga ketukan pintu membawa kesadaran dave kembali pada kenyataan dan menghentikan aksinya itu,pintu perlahan terbuka dan memperlihatkan sosok pria tampan dengan tatapan tertunduk
"Tuan,sudah saatnya anda berangkat!"
Ucapnya singkat
Kak dave memegang tanganku dan menarik untuk ikut bersamanya,
~°~°~°~°~°~°°~°~°~
Mobil itu berdecit berhenti di parkiran sebuah perusahaan ternama di jakarta,pintu mobil terbuka terlihat sesosok pria turun dengan mengapit lengan wanita sexy itu,
Para karyawan yang berlalu lalang sengaja berhenti untuk memberikan salam pada atasan mereka,
Sempat terlihat tanda tanya besar pada raut wajah mereka,ketika tertuju pada sosok wanita misterius yang sedang bergandengan dengan dave..
Sosok wanita yang mampu menakhlukkan setiap lelaki,oleh pesonanya juga paras cantiknya,
Tak butuh waktu lama para karyawan laki laki mulai memperhatikan setiap lekuk tubuh nana dan memandangnya dengan tatapan lapar,
Mencium akan hal itu dave hanya bisa berdoa pada tuhan agar pintu lift menuju ruangannya cepat terbuka,
"Dia adalah sekertaris baruku,namanya adriana francesca"
Saat meeting hari ini aku memperkenalkannya pada semua karyawanku,Seketika mereka menatapku dengan raut wajah penuh tanda tanya dan sulit untuk di artikan,Aku takkan terlalu memikirkan semua itu mungkin hanya perasaanku saja.