Memeluk kedua lutut, Binar meletakkan dagu di salah satu lututnya yang kini tertekuk. Menatap muram langit cerah yang seolah berbanding terbalik dengan suasana hatinya yang masih saja mendung. Sepi. Sesuatu yang sangat familiar di hidupnya. Bahkan sejak dulu. Tapi entah kenapa, kini sepi yang merayap begitu menyesakkan. Waktu bergulir begitu cepat. Tapi kesedihan yang menghantam Binar karena kehilangan sang Nenek, seolah baru saja terjadi. Sudah satu minggu sejak kematian sang Nenek. Dan Binar masih terkurung dalam kesedihan yang enggan melepasnya. Suara ketukan pintu membuat Binar mengangkat kepala. Bangkit dari posisinya yang duduk melantai. Gadis itu menyeret langkah menuju pintu kamar. Membukanya, dan mengerjap-ngerjap bingung, saat menemukan sosok Tara yang wajahnya tak terlihat

