Tidak! Kumohon! Jangan lagi! Binar berlari cepat, menerobos kerumunan orang yang menghalangi jalannya. Mengabaikan beberapa dari mereka yang memberi umpat*n karena kesal tertabrak tubuhnya. Dengan napas tersengal-sengal, Binar ternganga, menemukan pemandangan mengerikan yang kini tersuguh di depan matanya. Rumah sang Nenek tak lagi berbentuk. Menyisakan puing yang mengepulkan asap, dengan serbuan api yang tampak masih menjilati beberapa sudut puing bangunan yang sebagian besar telah ambruk, rata dengan tanah. T—tidak, tidak boleh, tidak mau, kenapa harus seperti ini? Suara riuh orang-orang di sekitarnya, bak dengungan suara kumpulan lebah di pendengaran Binar saat ini. Ada yang sibuk membantu petugas pemadam kebakaran. Tapi tak sedikit yang sekadar menyaksikannya sebatas penasaran

