Dengan gontai, Binar memasuki apartemen. Hari yang benar-benar melelahkan, tak hanya menguras tenaga, tapi juga perasaan. Tapi ... Ini baru permulaan. Dan Binar tau, langkahnya ke depan akan jauh lebih berat. Meski begitu, ia tak akan mengurungkan rencana yang sudah dibuatnya. Mengempaskan tubuh ke atas sofa, gadis itu menyandar dengan kepala mendongak, menatap langit-langit ruangan. Sudut bibir Binar terangkat, membantuk senyuman sinis. Hal yang benar-benar tak ia duga sebelumnya. Bisa bertemu saudari tirinya secepat ini. Ini pertemuan kedua, tapi interaksi pertama diantara mereka. Karena ... Sewaktu pertama kali Binar mendapati sosok Patricia dulu, dia hanya bisa memandang dari kejauhan, tersenyum kecut, saat melihat gadis itu bersandar manja dibahu sang Papa. Hal—yang mungkin seu

