Aku duduk di depan kanvas yang tergambar lukisan diriku. Semua mirip denganku bahkan garis lengkung bibirpun mirip dengan bibirku. Aku tidak menyangka bahwa ternyata seorang Erlangga memiliki jiwa seni yang bahkan lebih baik daripada aku. Entah kenapa aku tersenyum ketika melihat logo yang bertuliskan nama Erlangga itu. Aku merasa bangga bisa dilukis oleh Angga, aku tidak bisa berbohong jika rasa itu memang masih ada untuk Angga, apalagi saat malam kita berbincang sampai pagi. "Kamu tau apa yang membuatku terus berusaha untuk menemukanmu ?" Tanya Angga. "Apa ?" "Karena aku merasa kehilangan kebiasaan yang pernah kamu lakukan padaku." Kata Angga sambil melihatku. "Aku kehilangan bau bunga lili yang setiap hari mengisi ruang kamar dan ruang santai. Kehilangan segala bentuk perhatian k

