Dengan karya Mentari Senja yang sudah sampai di tahap penerbitan, Rafli sudah cukup tenang. Itu artinya, Rafli berhasil melakukan langkah untuk mencapai ke tujuan utamanya. Meskipun, untuk mencapai tujuan utamanya itu, Rafli harus menghadapi tantangan yang lebih besar lagi, yaitu atasannya dan juga Raina. Atasannya mungkin hanya merasa heran kenapa Rafli begitu memperhatikan penerbitan perkembangan dari Mentari Senja, Rafli juga harus berhati-hati untuk itu. Rafli tidak ingin ditegur atau diberi sanksi karena ia tidak professional.
Yang kedua, adalah Raina. Sudah tidak perlu dihitung berapa kali Raffi ditelfon oleh Raina untuk ditanya tentang proses Mentari Senja. Telponan dengan Raina memang hal yang biasa, tapi Rafli juga merasa sedikit malas, kalau terus menerus ditanya tentang Mentari Senja. Hubungan ini bukan hanya berisikan Mentari Senja, Rafli juga ingin bermesraan dengan Raina seperti dahulu, saat belum ada urusan tentang Mentari Senja di antara mereka.
Rafli mulai merasakan lelahnya memperjuangkan Mentari Senja. Rafli juga merasa bahwa Raina terlalu terburu-buru, tidak ingin menunggu lebih lama lagi. Seolah, Raina sedang dikejar-kejar oleh sesuatu. Rafli sudah bilang berkali-kali, kalau proses itu membutuhkan lebih banyak waktu. Meskipun Rafli bisa membantu Mentari Senja hingga ada di rak best seller dan mendapat perhatian lebih di masyarakat, Rafli tetap butuh waktu.
Rafli juga mulai lelah dengan sikap Raina yang terlalu memaksa ia untuk berbuat lebih. Andai Raina tahu bahwa Rafli sudah berjuang sekuat yang ia bisa, Rafli juga sudah menempuh cara yang paling aman untuk karirnya. Tapi, Raina tidak pernah memahami itu. Bahkan Raina juga mulai mengabaikan Rafli yang ingin mengeluh tentang kerjaannya. Setiap Rafli ingin mengeluh, Raina hanya menjawab singkat, seperti tidak tertarik untuk mendengar kelanjutannya. Karena respon Raina yang seperti itu, Rafli juga tidak ingin untuk melanjutkan curhatannya. Rafli juga lelah, andai Raina mau mencoba untuk sedikit memahami dirinya.
Rafli mencoba berpikir secara sehat, hubungannya dengan Raina, mungkin sedang di uji. Rafli mungkin akan jadi sosok yang lebih kuat untuk menghadapi Raina. Mungkin dengan adanya Mentari Senja yang harus rafli perjuangkan, adalah media untuk menjadikan Rafli dan Raina saling mengenal lebih dalam. Rafli harus lebih banyak sabar dalam menghadapi Raina. Rafli yakin bahwa ia bisa.
--------
Mentari masih harap-harap cemas menunggu kabar kelanjutan Mentari Senja. Belum ada info apa-apa. Mentari masih harus hidup sehemat mungkin. Keuangannya masih bisa dibilang cukup untuk membiayai kehidupannya dalam beberapa bulan ke depan. Tapi, itu dengan resiko bahwa Mentari tidak punya uang simpanan yang lebih banyak bagi dirinya dan juga anaknya. Itu juga belum termasuk dengan pengeluaran kalau terjadi apa-apa lagi, misal anaknya yang sakit, Mentari yang sakit, atau biaya lainnya yang tidak terduga dan tidak Mentari rencanakan sebelumnya. Mentari harus lebih pandai mengatur uang sebelum uang dari penerbit itu cair dan ada di tangannya.
Hari-hari Mentari selama menunggu kabar tentu sangat menjadi momen yang tidak ia sukai. Mentari harus bangun di pagi hari dengan puluhan tanda tanya di kepala, puluhan kemungkinan yang mungkin akan terjadi, dan Mentari harus menjalani hari-harinya dengan itu semua. Mentari hanya bisa menarik nafas setiap kali kekhawatiran itu datang dan hinggap di dirinya. Memang, ‘orang dalam’ yang disebut Raina memang bisa membantu segala proses itu menjadi lebih cepat, tapi tetap saja, keterlibatan alam semesta ini juga harus ada dalam setiap proses itu.
Raina masih bergembira atas kabar Mentari Senja yang sudah terbit. Rafli sudah memberi kelanjutan proses Mentari Senja, tadi siang. Raina juga memberi pujian atas kerja Rafli dalam membantunya. Raina merasa bersyukur mempunyai Rafli. Rafli juga berterima kasih atas pujian yang Raina sampaikan. Tentu saja, kabar terbitnya Mentari Senja menjadi angin segar bagi Raina yang sudah menunggu-nunggu kabar itu dari kemarin, Raina hanya tidak sabar mendengar estimasi biaya yang akan ia dapatkan terkait dengan novel itu.
Raina masih terus menghitung uang yang akan ia dapatkan, Raina juga bahkan memberi tanda untuk tanggal yang sekiranya akan menjadi tanggal gajiannya. Maklum, Raina kan harus menyesuaikan dengan jadwalnya, jadwal untuk Raina menghamburkan gajinya.
Dengan terbitnya Mentari Senja di pasaran, membuat Mentari dan Raina sangat senang. Penantian panjang, perdebatan, diskusi malam, dan hal-hal lainnya yang mereka lakukan akhirnya terbayar, karya mereka telah terbit dan bersiap untuk bersaing dengan karya yang lain. Tentu saja, dengan bantuan ‘orang dalam’ yang Raina miliki, Mentari Senja akan dengan mudah berada di jejeran buku best seller, Raina cukup yakin dengan hal itu.
Sudah hampir satu bulan Mentari Senja sudah beredar di toko buku. Tapi, baik Mentari maupun Raina, masih belum juga mendapat kabar bahwa karya mereka, masuk dalam jajaran best seller. Tentu saja, hal ini menjadi seperti mimpi buruk untuk Raina. Raina yang sudah menyusun dengan rapih, jadwal yang bisa ia lakukan setelah ia gajian nanti, sekarang, cahaya untuknya gajian besar, masih belum juga terlihat. Raina mulai gusar, karya yang tidak kunjung naik dalam berisan best seller, menjadi bahan baku dan modal Raina untuk bad mood, memarahi orang dengan seenaknya. Raina juga bahkan selalu mencari celah agar ia bisa meluapkan emosinya kepada Rafli, kekasihnya.
Raina sudah sering membuat rafli kesal, tapi kali ini, kesalnya Raina sudah sangat kelewatan. Rafli sering ditelfon tengah malam oleh Raina. Raina hanya ingin meluapkan kekesalannya, Raina bahkan bilang bahwa Rafli tidak ingin membantunya sama sekali, Rafli hanya ingin membuat Raina menderita, Rafli tidak sayang padanya, Rafli memang hanya ingin untuk memberi harapan palsu kepada Raina, dan masih banyak lagi tuduhan tidak berdasar yang Raian ucapkan kepada Rafli.
Bukan hanya Rafli saja yang menjadi sasaran Raina untuk marah-marah. Raina juga tidak segan untuk melampiaskan emosinya kepada teman-teman kantornya. Teman-teman kantornya sih sudah tidak heran kalau Raina marah-marah, atau bertingkah laku yang membuat risih mereka. Tapi, Raina sudah masuk fase yang sangat tidak wajar. Raina bahkan selalu mengomentari hal-hal yang teman-temannya lakukan, selalu. Contohnya saja, Raina yang mengomentari salah satu dari mereka karena mengenakan sepatu warna hitam sedangkan outfit temannya itu tidak ada yang warna hitam. Raina bahkan sampai memberi toko rekomendasi untuk membeli sepatu. Temannya yang dikomentari juga diam saja, tahu kalau Raina memang lagi badmood dan tidak perlu diladeni atau dibalas dengan apapun. Jadi, temannya hanya diam menanggapi Raina yang sekarang-sekarang ini, semakin terlihat sebagai bossy, orang yang suka mengatur padahal tidak ada yang perlu diatur sampai begitu ketatnya. Teman kantor yang pada dasarnya tidak suka dengan Raina. Ya, jadi makin tidak suka. Raina yang mengetahui itu, juga makin menunjukkan sikap yang layak tidak disukai.
Raina tahu bahwa sumber dari kekesalannya akhir-akhir ini adalah karena Mentari Senja yang belum juga naik di pasaran. Raina juga tahu, penyebab utamanya adalah Rafli, kekasihnya. Rafli yang menjanjikan kepada Raina bahwa Mentari Senja akan naik secepatnya. Rafli yang janji bahwa ia akan berusaha sekuat tenaga yang ia mampu untuk membantu Raina mewujudkan keinginannya, Rafli juga yang mengatakan bahwa ia sudah mengatur semua rencananya agar Mentari Senja bisa ada di deretan buku best seller. Raina sudah teramat kesal dengan Rafli. Raina hanya ingin berpisah dari Rafli, si pembuat masalah, salah, si penyebab utama dari masalah yang tercipta saat ini. Raina dengan jujur mengatakan itu di telepon, Saat rafli menghubunginya malam tadi.
Di telepon itu, Raina menjelaskan bahwa ia sangat kesal dengan Rafli. Raina bahkan mengatakan kalau ia kecewa dengan Rafli. Raina bilang, kalau Rafli hanya mengumbar janji, tidak bisa sesuai dengan omongannya, Rafli yang hanya bisa memberi harapan palsu, Rafli sudah tidak ingin membantu Raina lagi. Raina berusaha untuk meluapkan semua kekesalannya tanpa sekalipun memikirkan Rafli. Raina hanya peduli dirinya harus meluapkan emosinya, tanpa perlu memperhatikan orang lain, termasuk kekasihnya sendiri.
Raina juga berubah menjadi orang yang sangat sensitif. Benar-benar sensitif. Raina bisa saja berteriak saat ada orang yang menghalangi jalannya, contohnya saja beberapa hari yang lalu. Raina sedang mengambil pesanan kopinya seperti biasa, saat ia berbaik dan menuju arah pintu keluar, ada seorang wanita yang memang berdiri di depan pintu sedang menunggu seseorang, Raina yang melihat itu hanya langsung berteriak tanpa konfirmasi terlebih dahulu apa kepentingan wanita itu.
Lo bisa minggir nggak, lo tuh ngalangin jalan orang. Mikir dong, lo pikir ni jalan, punya lo. Raina hanya bisa berteriak dan membuat beberapa orang menoleh kepadanya. Raina -yang meneriaki orang itu- juga tidak merasa bersalah, ia malah terus melanjutkan jalannya, tidak peduli dengan apa yang terjadi di belakangnya, sekalipun mereka membicarakan Raina. Raina hanya ingin berbuat sesuai dengan apa yang ia mau, tanpa memperhatikan orang lain.
Raina lebih sering mengabaikan Rafli. Menurut Raina, Rafli jadi sosok yang tidak bisa diandalkan. Sudah memasuki 3 minggu, semenjak Mentari Senja diterbitkan di toko buku. Tapi, karya itu masih belum juga naik di urutan best seller. Raina yang sudah marah dengan Rafli, jadi merasa tambah kesal dengan hal itu. Raina memilih untuk tidak memberi kabar pada Rafli mengenai dirinya. Raina juga tidak menjawab satupun pesan dari Rafli. Telepon dari Rafli, juga dibiarkan berdering tanpa henti. Raina sudah merasa malas karena Rafli tidak bisa memenuhi omongannya. Raina lebih memilih untuk bersenang-senang dengan teman-temannya seharian penuh, tanpa sekalipun memberi kabar kepada Rafli. Raina sama sekali tidak mengindahkan pesan dari Rafli.
Rafli, bahkan sudah rela untuk menunggu Raina di depan pintu rumahnya. Rafli sudah menelpon Raina, hingga puluhan kali. Raina sudah mengeluarkan semua alasan untuk tidak membiarkan Rafli masuk ke dalam rumahnya. Raina yang tiba-tiba saja pergi, padahal Rafli sudah di jalan rumahnya. Raina yang sudah janjian pada tetangga rumahnya, dengan mengatakan kalau ia pergi, padahal Raina ada di lantai 2 rumahnya. Bahkan, Raina yang juga berbohong kalau dirinya sedang flu berat, sehingga tidak bisa menemui Rafli, takut Rafli tertular flunya, Raina tidak ingin Rafli sakit. Alasan demi alasan selalu dibuat oleh Raina.
Pada akhirnya, di suatu malam. Raina sudah tidak tahan lagi. Mentari Senja yang tidak kunjung naik ke dalam jajaran best seller, menjadi alasan paling kuat untuk Raina memutuskan hubungannya dengan Rafli. Raina juga sudah mulai bosan dengan Rafli, Rafli yang begitu-gitu saja, tidak ada peningkatan dalam hidupnya, tidak berusaha untuk menjadi lebih baik, terutama dalam hal keuangan. Raina kan juga tidak ingin untuk tinggal bersama dengan Rafli, yang hidupnya hanya seperti itu saja. Raina, akhirnya mengucapkan kata putus kepada Rafli pada malam itu, Raina juga tidak mengatakan dengan jelas. Raina juga tidak ingin mendengar pendapat Rafli mengenai hubungannya, bagi Raina, kalau ia sudah mengucapkan kata putus, ya artinya memang putus, Raina tidak ingin lagi ada alasan apapun atau ada hubungan apapun dengan orang itu.
Rafli yang mendengarnya, tentu saja terkejut. Rafli tidak menyangka, perjuangannya yang selama ini ia lakukan untuk Raina, tidak ada artinya untuk Raina. Raina hanya terus menuntut hasil kepada Rafli, Raina tidak mau menunggu untuk lebih bersabar lagi. Rafli bahkan tidak sempat mengutarakan pendapatnya mengenai hubungan ini. Raina langsung mematikan teleponnya, sesaat setelah mengucapkan kata putus. Rafli yang tiba-tiba saja diputusin Raina, hanya bisa terdiam, meratapi kesedihannya, ditinggal oleh wanita kesayangannya setelah melakukan perjuangan yang sangat berarti. Rafli masih berharap bahwa Raina, akan kembali padanya. Rafli juga tidak bisa jauh dari Raina. Rafli sangat menyayangi Raina.
------
Mentari sangat terkejut ketika membuka email Mentari Senja. Begitu banyak pesan masuk yang dikirimkan oleh pembacanya mengenai Mentari Senja. Banyak yang mengomentari bahwa versi cetaknya terlalu cepat alurnya, ada yang bilang buku itu seharusnya tidak dicetak karena tidak layak, bahkan ada yang bilang bahwa Mentair Senja sudah menjadi karya paling buruk yang pernah mereka baca. Mentari bingung, bagaimana seharusnya merespon ini semua. Dikomentari buruk oleh pembaca memang sudah menjadi hal yang biasa bagi penulis, Mentari juga sudah pernah mengalami hal ini sebelumnya. Tapi, kali ini, kejadian itu terasa lain bagi Mentari, karena Mentari sedang mengejar sesuatu di karya ini, tidak lain dan tidak bukan, Mentari sedang mengejar uang dan popularitas dirinya juga. Mentari takut, dengan adanya komentar buruk yang lumayan banyak mengenai karya Mentari Senja, akan mengganggu jalannya menuju keinginannya.
Mentari juga bersedih, karena belum juga mendapat info mengenai Mentari Senja yang masuk dalam barisan buku terlaris. Raina sudah mengabarinya, Raina bilang, ‘orang dalam’ yang Raina janjikan itu, tidak dengan sungguh-sungguh melakukan pekerjaannya, sehingga proses Mentari Senja untuk bisa sampai di ‘atas’ sangat butuh waktu yang lama. Raina juga bilang, bahwa ia sudah tidak percaya lagi dengan ‘orang dalam’nya, mereka bahkan sudah tidak berhubungan lagi. Mentari yang mendengarnya tentu saja terkejut, Mentari yang sudah dibujuk sedemikian rupa oleh Raina, sudah disogok dengan kehadiran ‘orang dalam’ Raina agar tidak jadi hiatus, sekarang, Raina yang justru seolah lepas tangan dengan semua yang telah terjadi.
Mentari yang ingin kecewa pada Raina juga akhirnya mengambil kesimpulan bahwa, apapun hasilnya nanti, Meskipun Mentari senja tidak ada di ‘atas’, ia tetap bisa bersyukur dapat terus meneruskan karyanya. Setidaknya, dengan itu, Mentari harus cari jalan lain untuk bisa populer dan bisa menghasilkan lebih banyak uang. Mentari juga harus tetap berkonsentrasi untuk memberi pengertian kepada pembacanya setianya yang mengiriminya berpuluh-puluh komentar tentang Mentari Senja, Mentari sudah coba untuk menghubungi Raina, bermaksud meminta saran Raina, tapi Raina, juga tidak membalas dan mengabari Mentari kembali. Mentari pasrah, Raina mungkin memang sudah lepas tangan dengan ini. Mentari yang harus menanggung resikonya.