#CH-Kembali

2004 Kata
Baru satu minggu setelah raina menyatakan putus dengan Rafli. Hari-hari Raina mendadak menjadi sangat sepi, Raina yang biasanya bisa pulang pagi karena bermain dengan teman-temannya, tetap merasakan sepi ketika ia sampai di rumah. Tidak ada lagi pesan singkat yang menanyakan kabarnya. Tidak ada lagi panggilan telepon yang tidak terjawab karena Raina asyik bermain atau hanya sekedar berbincang dengan teman-temannya. Raina sering kali hanya terdiam menatap layar handphone dengan waktu yang cukup lama, berharap ada satu pesan masuk yang ditujukan untuk dirinya, meskipun hanya sekedar menanyakan kabarnya. Raina bahkan berharap bahwa pesan masuk itu berasal dari Rafli. Tentu saja, hubungan Raina dan Rafli bukan hubungan yang baru berjalan satu atau tiga bulan, keduanya sudah terlalu lama berhubungan. Selama ini, Raina memang belum pernah mengucapkan kata putus di dalam hubungan mereka. Meskipun mereka tidak ada yang mengucapkan kata putus, keduanya memang terpisah dalam waktu yang cukup lama, tanpa memberi kabar apapun. Namun, ini adalah kali pertama, Raina mengucapkan kata putus. Raina tidak menyadari kalau kata putusnya, ternyata membuat dirinya merasakan kerinduan yang luar biasa kepada Rafli. Raina ingin dicari tahu kabarnya oleh Rafli, Raina ingin sekali untuk berbincang dengan Rafli, tapi sampai saat ini, Rafli juga belum mencari tahu tentang Raina. Tidak ada pesan masuk dari Rafli, Rafli juga tidak mencarinya sama sekali. Raina mulai bersedih atas ucapannya waktu itu, tapi, Rafli seharusnya bisa mengerti kalau Raina memang orang yang dengan mudahnya mengucapkan kalimat sejenis itu. Awal putus kemarin, Raina masih bersenang-senang, tiada hari tanpa bersenang-senang, Raina berusaha menghabiskan waktu yang lama untuk menghindari Rafli. Butuh 5 hari untuk menyadari kesedihan dan kesepian yang terjadi kepadanya. 2 hari kemarin, adalah hari yang sangat berat untuk Raina. Saat Raina bangun tidur, hal pertama yang Raina liat adalah telepon genggamnya, berusaha untuk langsung mencari tahu apakah ada pesan dari rafli atau tidak. Tapi, usaha Raina itu tidak menghasilkan apa-apa. Pesan dari Rafli, yang ditunggu oleh Raina, tidak pernah masuk sampai hari ini. Raina baru sadar kalau sedih yang ia rasakan datang terlambat, saat Raina sedang tidak bersama siapapun, tidak dikelilingi oleh teman-temannya, di situ lah Raina sadar bahwa ia merindukan sosok Rafli. Sosok lelaki yang membuatnya selalu merasa ‘ramai’ dengan hidupnya. Raina sudah menahan kerinduan yang ada di hatinya. Semua hal yang ada di hati Raina, kini digantikan dan diisi oleh rasa rindunya kepada Rafli. Raina memang tidak pernah juga menghubungi Rafli, selama 7 hari ini, gengsi. Raina hanya terus menunggu kabar Rafli. Berharap Rafli akan mengajaknya kembali untuk merajut asmara. Raina juga selalu memikirkan Rafli, awal putus memang Raina tidak sama sekali kepikiran dengan Rafli. Raina hanya merasa sangat bahagia, merasa bebas, bisa merasakan dunia dengan sebebasnya, bisa bermain dengan siapapun tanpa harus menjaga perasaan siapapun, Raina bebas untuk jalan, nonton dan melakukan aktivitas yang menyenangkan lainnya. Aktivitas yang tidak bisa ia lakukan kalau ia masih pacaran dengan Rafli. Tapi, semua kesenangannya sudah tidak ia rasakan lagi. Kesenangan sementara, hanya membuat Raina lupa sesaat pada sosok Rafli. Hanya sesaat. Raina jadi lebih senang untuk berdiam diri di kantor, tidak terlalu banyak bicara, sudah beberapa hari ini, Raina juga tidak memesan kopi langganannya, Raina tidak punya semangat lagi. Raina seakan kehilangan arah. Rafli masih belum juga menghubunginya, Raina sudah ingin menghubungi duluan, tapi gengsinya terlalu besar, Raina ingin Rafli yang memintanya untuk kembali, berharap itu akan kejadian dalam beberapa hari lagi. Raina juga yakin kalau Rafli memang sedang memikirkannya juga. Tidak ada wanita yang menyayangi Rafli, seperti Raina. Raina sangat percaya diri. ---- 7 hari yang sudah berjalan bagi rafli, 7 hari juga yang membuat Rafli menjadi orang yang sangat lemah. Rafli bahkan beberapa kali harus ditegur oleh temannya, Rafli bengong ketika bekerja, melakukan kesalahan kecil, tidak teliti pada pekerjaannya, dan itu adalah hal fatal yang dilakukan oleh Rafli, sebelumnya Rafli belum pernah melakukan kesalahan sampai berturut-turut seperti ini. Rafli sampai harus meminta maaf berkali-kali karena ia yang terlalu sering tertidur di jam kerja. Rafli sedih dengan kepergian Raina dari hidupnya, sejak Raina mengucapkan kata putus, Rafli hanya terdiam ketika sudah di rumah. Semua memori saat ia masih bersama Raina, masih terus berkeliaran di pikirannya. Semua memori yang mendadak hidup kembali di depan matanya ketika ia hendak tidur. Hampir setiap malam, wajah, mata, hidung, bibir, dan semua hal yang identik dengan Raina, seakan ada di depannya. Rafli berkali-kali merasa Raina ada di depan matanya, itu semua terasa nyata untuk Rafli. Raina yang selalu bersikap manja di depan Rafli, suara Raina yang terdengar nyata di telinga Rafli, tawa Raina yang biasa Rafli lihat, semuanya, semuanya yang pernah ia lakukan dan ia lihat ada di diri Raina, terasa nyata, Rafli yang tidak ingin semuanya menghilang dari ingatannya, penglihatannya dan pendengarannya, rela untuk tidak tidur. Rafli merelakan untuk tidak terlelap agar ia bisa terus membayangkan Raina. Bayangan Raina yang terlalu indah untuk dilupakan. Rafli tidak mau melewatkan itu. Rafli ingin terus ada untuk mengingat Raina. Tidak perlu menanyakan keinginan Rafli yang ingin kembali kepada Raina. Sudah puluhan kali bahkan ratusan kali, Rafli ingin mengajak Raina bertemu untuk membicarakan hal mengenai hubungan mereka. Rafli tidak ingin perpisahan ini terjadi. Sudah sangat menyakitkan untuknya, kembali mengajak Raina untuk tetap bersamanya adalah jalan terbaik. Menurut Rafli, cara Raina memutuskannya kemarin, tidak salah sama sekali, Rafli sangat mengerti kemauan Raina, Rafli juga mengerti bahwa Raina butuh aksi dan bukti nyata atas janji Rafli kemarin, wajar kalau Raina sampai sangat kesal dengan Rafli. Kalau Rafli di posisi Raina pun, mungkin Rafli akan melakukan hal yang sama pada dirinya. Raina mungkin terlalu sakit hati dengan Rafli, sehingga rela untuk mengakhiri hubungan mereka yang sudah terjalin lama itu. Rafli juga tidak sakit hati dengan Raina, Rafli mengerti Raina, sangat. Rafli sangat mengerti semua tingkah laku yang Raina lakukan. Rafli juga menerima dengan sepenuh hati hal yang Raina ucapkan untuknya. Rafli tahu bahwa ia memang melakukan kesalahan, Rafli ikhlas saja kalau Raina marah dengannya. Tapi, berpisah dengan Raina, adalah hal yang buruk yang Rafli tidak ingin terjadi. Berpisah dengan Raina adalah paling menyakitkan untuknya, Raina adalah dunianya, cintanya, Rafli hanya ingin mencintai Raina. Baru satu minggu, Rafli tidak mendengar kabar Raina. Rafli sudah sangat gelisah. Rafli ingin menghubungi Raina, tapi dari info yang Rafli dengar, Raina sedang asyik dengan dunianya, seolah putus dari Rafli adalah hal yang sangat ingin Raina lakukan. Rafli bahkan punya bukti nyata Raina yang sedang bersenang-senang dengan teman sekantornya. Hal itulah, yang membuat Rafli mengurungkan niatnya untuk menghubungi Raina dan mengajak Raina untuk kembali merajut cinta. Rafli memilih untuk bersedih, ia hanya berharap, Raina masih menyimpan cinta untuknya dan tidak akan melupakannya meskipun Raina sedang bersenang-senang dengan yang lain. --------------------- Mentari masih harus bergelut dengan pembacanya yang terus berkomentar tentang versi cetak dari Mentari Senja. Email yang masuk kepada Mentari, terlalu banyak, kebanyakan dari mereka tidak terima dengan alur ceritanya. Mentari hanya bisa pasrah, tidak ingin terlalu kepikiran dengan email yang masuk kepadanya. Tidak ada jalan lain yang bisa Mentari lewati. Mentari hanya harus menerima semua komentar untuknya. Mentari juga tidak lagi memikirkan balasan apa yang harus diberikan kepada para pembacanya. Mentari ingin karyanya dinikmati sepenuhnya oleh pembaca setianya. Biarlah yang lain bilang apa, asal karya Mentari sudah terbit, itu artinya, publik bebas menilai apapun. Mentari juga sempat berdiskusi dengan Raina terkait dengan semua komentar yang ditujukan untuk Mentari Senja. Ketika dihubungi oleh Mentari, Raina hanya menjawab dengan suara yang tidak terdengar, terlalu berisik di sekitar Raina waktu itu. Raina akhirnya mengirimkan pesan suara kepada Mentari, kurang lebih isinya seperti ini, Lo ngapain sih, Tar. ngurusin orang-orang yang komentarin karya lo. Lo kan tau, Tar. Kita berkarya untuk pembaca setia kita. Pembaca setia kita mah tau, kita kaya gimana, Tar. Tahu Mentari Senja. Nggak perlu dijelasin juga mereka sudah tau, Tar. Udah deh, nggak usah ngurusin orang-orang yang kebanyakan komentar. Yang sekarang, yang penting itu duit, Tar. Karya ini nih, harus ada duitnya, Tar. Mentari merasa bahwa Raina mengatakan hal yang benar, termasuk tentang uang. Mentari juga tidak ingin munafik, ia butuh uang untuk kehidupannya yang lebih baik. Mentari butuh nominal dalam jumlah besar yang akan mengisi ATM-nya, jauh lebih banyak dibanding sekarang. Sejak hari itu, Mentari hanya membiarkan semua komentar terhadap Mentari Senja. Mentari tidak ingin menyakiti dirinya sendiri dengan membaca komentar-komentar itu. Biar saja pembaca setianya yang akan menilai Mentari Senja, setiap karya memang punya penikmatnya masing-masing, Mentari tahu konsep itu dan harus menerapkannya. -------- Rafli masih harus bekerja lebih keras untuk menutupi kesalahannya yang kemarin, belum lagi karena hubungannya yang kandas dengan Raina, membuat Rafli jadi ingin membuat Mentari Senja ada di tempat yang Raina inginkan, mungkin, itu adalah salah satu jalan yang menyatukan mereka kembali. Rafli harus kembali membangun hubungan yang sesuai dengan bagian terkait, agar novel itu ada di tempat yang diinginkan Raina. Rafli harus lembur selama beberapa hari berturut-turut agar kesalahannya tidak lagi terlihat di mata atasannya. Rafli harus melakukan ini agar atasannya juga bisa membantu menjalankan rencananya. Sudah 2 minggu sejak putusnya Raina dan Rafli, sudah beberapa hari juga Rafli memantau langsung proses Mentari Senja untuk sampai ke barisan best seller. Orang yang bekerja di bidang terkait itu, bilang bahwa novel itu sesaat lagi akan ada di barisan yang Rafli inginkan, hanya tinggal menunggu beberapa hari lagi, agar barisan buku itu berganti dengan yang baru dan Mentari Senja akan ada di posisi yang dinantikan. Rafli sangat gembira dengan kabar ini. Kabar inilah yang menjadi angin segar untuk hubungannya dengan Raina. Setidaknya, dengan adanya kabar ini, Rafli jadi punya alasan yang jelas untuk menghubungi Raina kembali. Rafli juga jadi tahu bahwa ini pasti akan membuat Raina senang dan bisa jadi kesempatan untuk kembali menjalin hubungan dengan Raina. Rafli sudah berada di rumah dan sudah mempersiapkan dirinya dengan sebaik mungkin untuk kembali berbicara dengan Raina. Rafli juga sudah menyiapkan plan ketika Raina sudah menyetujui ajakan Rafli untuk kembali menjalin hubungan. Rafli juga sudah siap kalau Raina tidak menginginkan Rafli. Rafli punya anggapan, lebih baik ia mencoba lalu gagal, dibanding ia yang tidak pernah berani untuk mencoba. Maka, malam ini, Rafli akan menghubungi Raina. Telepon masuk dari Rafli sudah ada di layar hp Raina. Raina yang memang sedang memandangi hp-nya itu, seketika tersenyum senang, Rafli memang tidak bisa jauh darinya. Rafli memang menginginkan untuk kembali bersama. Raina menjawab telepon itu. Di telepon itu, Rafli bilang bahwa ia memang telah melakukan kesalahan. Rafli meminta maaf atas semua kesalahan yang ia lakukan. Rafli meminta Raina untuk tidak lagi memutuskan hubungan dengannya seperti kemarin, Rafli ingin Raina yang ada di sisinya. Dengan suara Rafli yang sedikit bergetar di telepon itu, Raina tentu saja tersentuh. Raina merasa sangat bahagia bahwa harapannya memang dikabulkan oleh yang maha kuasa. Rafli yang mengatakan bahwa dirinya akan berusaha yang lebih baik lagi di hubungannya dengan Raina, mengatakan dengan sepenuh hatinya, ia menginginkan untuk kembali bersama Raina. Tentu saja, Raina yang memang menunggu hal itu terjadi, langsung mengiyakan. Malam itu, Rafli dan Raina kembali dihujani oleh perasaan masing-masing. Raina kembali merasa seperti ratu dan akan diperlakukan seperti ratu oleh Rafli. Raina merasa memiliki Rafli seutuhnya karena Rafli memang sangat menyayanginya, terbukti dengan mengajak Raina untuk kembali bersama. Raina merasa bahwa dunianya kembali, suasana ‘ramai’ yang selalu dibawa oleh Rafli, akan selalu kembali mengisi hari-harinya. Tidak akan pernah lagi ada sepi di hidupnya, dengan hadirnya Rafli (lagi), Raina merasa bahwa ia menang, karena berhasil membuat Rafli menginginkannya lagi. Di sisa malam yang berharga bagi Rafli dan Raina itu, selain keduanya beradu kasih, Rafli memberi kabar mengenai Mentari Senja yang akan menjadi buku best seller, Rafli meminta maaf karena tidak bisa bergerak terlalu cepat agar ia tidak dicurigai. Hal ini juga ia lakukan, agar semua prosesnya berjalan seperti alami, tanpa ada oknum di dalamnya. Raina sangat gembira dengan kabar yang Rafli sampaikan. Kabar yang sudah lama dinanti, akhirnya menjadi kabar yang sangat worth it untuk ditunggu. Raina berterima kasih kepada Rafli dan meminta maaf karena ucapannya kemarin, yang sudah mengatakan kalau Rafli tidak bisa bekerja atau ucapan lainnya yang mungkin menyakiti Rafli. “It's okay, sayang. Aku ngerti apa yang kamu rasain. Aku yang harusnya minta maaf karena udah bikin kamu nunggu lama untuk Mentari Senja ini. Udah ya, sekarang kita harus jadi pribadi yang lebih baik lagi untuk hubungan kita berdua.” Kata Rafli, di sela-sela teleponnya tadi malam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN