#CH-Penasaran

2139 Kata
Kerja sama Raina dan Chocopie masih berjalan dengan lancar. Raina tidak punya jadwal khusus tentang pekerjaan sampingan yang keduanya ini, ia masih bisa mengatur waktu antara pekerjaan utamanya, pekerjaannya dengan Mentari dan pekerjaan dengan Chocopie ini. Raina sudah pernah bertemu dengan Chocopie ini sekali, sama seperti aturan permainannya dengan Mentari, Raina memang tidak diijinkan untuk mengetahui nama asli Chocopie. Hanya boleh memanggil dengan nama pena saja, tidak diijinkan untuk yang lainnya. Raina sudah pasti harus menyetujui, buat apa juga Raina menolak, hal yang seperti itni, tidak begitu penting di mata Raina. Raina juga merasa bahwa dirinya masih bisa akrab dengan bos nya ini, meskipun ia tidak tahu nama asli mereka. Bagi Raina, itu bukan suatu hal yang harus diperdebatkan, selama tidak menyangkut tentang uang, semua hal masih bisa ditolerir, begitu pendapat Raina. Meskipun Raina tidak mengenal secara personal tentang Chocopie, tapi bekerja dengannya, masih dirasa nyaman oleh Raina. Chocopie bersikap ramah, bahkan memuji juga tulisan Raina. Raina yang haus akan pujian, justru memang merasa tambah senang dengan hal itu. Chocopie juga tidak bertanya tentang hal-hal yang menyudutkan Raina. Raina memang tidak keberatan kalau hal mengenai dirinya dicari tahu oleh orang lain, tapi Raina ingin tahu juga tentang Chocopie. Raina ingin dapat suatu hal yang seimpas, tidak ingin berat sebelah. Kalau Raina ditanya-tanya oleh Chocopie tentang hal-hal personalnya, Raina juga ingin tahu lebih dalam tentang Chocopie, impas. Raina ingin hal yang adil. Kecuali, Raina memang ingin memamerkan atau menunjukkan sesuatu yang berlebih di dirinya, itu hal yang berbeda. Kemarin pun, saat bertemu, Raina dan Chocopie tidak terlalu banyak membicarakan tentang hal personal mereka. Hanya sebatas aktivitas dan tidak menjurus pada hal-hal pribadi lainnya. Raina tidak bertanya lebih lanjut, Chocopie pun begitu. Raina dan Chocopie lebih banyak membicarakan hal-hal terkait dengan pekerjaannya, termasuk dengan karya yang akan mereka kerjakan bersama, tentang pembagian tugasnya, sekaligus membahas masalah keuangan, dan tentng kontrak kerja mereka. Raina juga merasa hal itu Sudah cukup, tidak perlu diperpanjang. Chocopie tidak punya target khusus tentang tulisan Raina, ia lebih membebaskan Raina untuk menulis dengan gayanya sendiri. Chocopie tidak membebani apapun, tidak juga menuntut Raina. Raina juga merasa bebas dengan hal yang Chocopie bilang pada dirinya. Kalau ditanya tentang kualitas tulisan antara Chocopie dan Mentari Senja, ya memang tidak terlalu berbeda jauh. Kualitas antara Chocopie dan Mentari memang tidak bisa dibandingkan, rasnaya tkdak adil kalau harus membandingkan dua karya dari dua orang yang berbeda, pasti keduanya punya ciri khas sendiri dan tidak mungkin untuk dibandingkan. Tapi, menurut Raina sendiri, Mentari Senja memang punya karya dengan konflik yang lebih realistis dan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, sedangkan Chocopie, mungkin lebih memilih untuk mengeluarkan karya dengan konflik yang agak tidak familiar, sehingga punya kesulitan tersendiri untuk menulisnya. Raina memang merasa lebih tertantang menulis cerita dari Chocopie, tapi Chocopie belum punya massa yang lebih banyak dibanding Mentari Senja. Raina tidak merasa keberatan dengan tugas yang diberikan oleh Chocopie, karena tugasnya pun masih sama dengan tugas-tugas oleh Mentari sebelumnya. Raina hanya perlu menulis cerita dengan garis besar yang sudah diberikan terlebih dahulu oleh Chocopie, deadlinenya juga bermacam-macam. Raina perlu menulis dengan target harian, atau perminggu, atau perbulan. Itu semua, tergantung kesepakatan Raina dengan Chocopie. Sampai hari ini, Raina juga masih menikmati semua tugas yang diberikan, bukan hanya karena Raina yang menyukai pekerjaan sampingannya ini, tapi juga karena nominal uang yang akan ia terima di akhir nanti. Tidak bisa dipungkiri dan tidak bisa dihindari, Raina juga tidak bisa menyembunyikan hal yang membuat dirinya seakan terlalu terobsesi atau terlalu memikirkan uang. Hal itu, memang fakta yang terjadi pada dirinya. Tujuan Raina memang itu, mencari pekerjaan sampingan karena takut uang yang diberikan oleh Mentari Senja lama-kelamaan akan menipis dan tidak ada lagi. Raina tidak mau mimpi buruk itu jadi kenyataan. Oleh karena itu, sebisa mungkin, Raina berusaha mencari peluang baru untuk menciptakan uang tambahan yang bisa menopang dan bisa menjadi cadangan kalau-kalau Mentari Senja akan menghilang. Tugas dari Mentari juga sebenarnya masih ada, namun kuantitas tugasnya yang sudah tidak sebanyak kemarin, saat Mentari dan Raina masih berjuang agar Mentari Senja bisa kembali terbit. Saat ini, Mentari juga tidak terlalu keras menerapkan jadwal untuk Raina. Mentari tahu bahwa naskah ataupun karya yang saat ini dibuatnya hanya untuk cadangan. Raina juga tahu bahwa Mentari masih berusaha untuk berhenti dari dunia yang sekarang ditekuninya. Raina juga sudah menyiapkan dirinya untuk itu. Jadi, Raina memang lebih santai ketika berhadapan dengan Mentari yang masih mencoba untuk berhenti. Raina tidak perlu meyakinkan lagi Mentari untuk tidak berhenti, Raina hanya perlu membuat Mentari merasa ragu untuk berhenti. Komunikasi dengan Mentari juga sudah semakin jarang, hanya sesekali Mentari memberi tugas kepada Raina, mungkin hanya satu kali seminggu. Raina tidak tahu apa yang sekarang ini, Mentari kerjakan. Raina masih menuruti apapun yang Mentari perintahkan, tanpa Raina bantah sekalipun. Tugas yang diberikan Mentari jauh lebih sedikit dibanding tugas yang diberikan Chocopie. Maklum Chocopie juga penulis yang masih ingin untuk naik, berusaha untuk meraih popularitas, berusaha terlihat di hadapan publik. Raina masih memaklumi saja, kalau kerjaan dari Chocopie banyak, itu artinya, Raina akan dapat lebih banyak uang dari sana. Raina yang saat ini punya satu pekerjaan utama dan dua pekerjaan sampingan, kadang memang merasa berat. Raina juga sering mengeluh dengan semua tanggung jawabnya ini, belum lagi, kalau pekerjaan utamanya mengharuskannya untuk lembur atau harus pergi dinas ke luar kota. Raina pasti akan merasa bingung sendiri. Makin banyak tugasnya, Raina juga harus punya tanggung jawab yang lebih. Belum lagi, ia dan Rafli yang sekarang semakin menempel, jadwal Raina semakin padat. Sekali saja ada kegiatan yang berjalan di luar jadwal yang telah ditetapkannya, pasti Raina harus merelakan jam tidurnya. Tidak perlu dijelaskan dengan jadwal tidur Raina yang sudah semakin tidak teratur. Pekerjaan yang menuntut untuk diselesaikan, tulisan-tulisannya yang sudah ditunggu oleh para penulisnya, dan Rafli yang juga tidak bisa diabaikan, sudah membuat Raina merasa pusing dan harus beberapa kali memilih untuk diam-diam mengerjakan tulisannya di tengah pekerjaan kantornya. Harus ada salah satu yang dikorbankan, dan Raina tidak mungkin untuk mengorbankan Rafli lagi. Rafli adalah salah satu prioritas utamanya saat ini. Bisa dibilang, Raina lebih mengutamakan pekerjaan sampingannya karena nominal uangnya lebih besar dibanding pekerjaan utamanya, dan Rafli adalah asetnya yang bisa lebih banyak membantu Raina mendapatkan uang, bukan hanya uang, tapi kebahagiaan dunia pun, ada di Rafli. Tidak mungkin kalau Raina merelakan Rafli. Omongan dari teman kantor Raina sudah sedikit berkurang, Raina tidak lagi diejek karena pulang selalu tepat di jam pulang dan tidak pernah lagi untuk berbincang atau nongkrong bersama mereka. Teman kantornya juga sudah jarang menawarkan Raina untuk ikut bermain. Bagi mereka, Raina memang sudah jadi lebih sibuk dan lebih susah ditemui. Teman kantornya hanya masih penasaran dan ingin tahu pekerjaan sampingan dan hal yang buat Raina jadi berubah menjadi orang yang super duper sibuk seperti ini. Bahkan ketika Raina masuk kantor pun, teman-temannya sudah tidak bisa lagi untuk bergosip ria dengan Raina, Raina bahkan sudah tidak tahu juga pembicaraan atau topik terkini di antara teman-temannya. Sudah banyak kejadiannya, Raina yang tidak lagi diajak main, Raina yang tidak gabung di pantry, Raina yang tidak diajak untuk pesan go-food, bahkan Raina sudah tidak lagi ditanya kalau ia baru datang ke kantor. Teman-temannya hanya menyapa Raina singkat saja, tidak ada basa-basi apapun. Raina memang menyadari perubahan ini, tapi dirinya juga cuek saja. “Nay.” Sapa salah satu temannya, saat Raina sedang berada di lift, dengan tangan kirinya memegang cup kopi dari kedai kopi di lantai bawahnya. Raina juga tidak menyahut, hanya menganggukkan kepala, respon yang sangat singkat. Seakan Raina juga menegaskan kalau dirinya juga tidak ingin untuk melanjutkan percakapan antara dirinya dan temannya itu. Raina cuek saja, saat itu meskipun di lift hanya ada dirinya dan temannya itu, mereka lebih banyak diam, mungkin memang selama menuju lantai tujuannya, diam dan tidak ada percakapan sama sekali. Keduanya lebih disibukkan oleh isi kepala masing-masing. Raina juga tidak ambil pusing, untuk sekedar memikirkan percakapan apa yang harus diucapkan kepada temannya ini. Raina seperti menemukan kesenangan baru, bersama dengan Rafli adalah kebahagiaannya saat ini. Raina merasa tidak butuh temannya, teman-temannya tidak akan mengerti sepenuhnya tentang dirinya, tetapi Rafli mengerti Raina sepenuhnya, Raina yakin tentang hal itu. Raina tidak ingin membuang waktu untuk teman-temannya, Raina ingin selalu punya waktu lebih banyak dengan Rafli. Ingin rasanya Raina membeli waktu agar ia dan Rafli bisa selalu bersama, selalu menghabiskan waktu berdua. Raina ingin selalu berada di dekat Rafli. Tidak butuh penjelasan lagi tentang Raina dan Rafli. Mereka sudah seperti pasangan yang tinggal dalam satu atap. Raina yang tertidur di rumah Rafli atau sebaliknya. Raina sudah tidak malu lagi untuk datang ke rumah Rafli, buat apa malu, perasaan yang ada di hati Raina, sudah mengalahkan rasa malu yang ada. Raina lebih memilih untuk menghalau dan menantang semua yang ada di depan matanya, demi ia bisa bersama dengan Rafli. Baik Raina dan Rafli, keduanya sudah tidak peduli lagi kalau ketahuan atau dilihat oleh siapapun. Namanya juga pasangan yang sedang di mabuk cinta, tidak ada hal yang tidak masuk di logikanya. Raina sudah menjadikan rumah Rafli sebagai rumahnya juga. Puluhan baju Raina sudah berada di lemari Rafli. Begitupun dengan baju Rafli yang juga ada di lemari rumah Raina. Menurut mereka berdua, akan jauh lebh gampang kalau mereka ingin berpindah tempat dan ingin menginap di rumah siapapun. Raina dan Rafli tidak peduli dengan siapapun yang akan mengomentari mereka berdua. Sampai saat ini, masih belum ada yang mengetahui tentang kelakuan mereka itu. Meskipun mereka berdua sering update insta story, tetap saja, mereka masih tahu aturan dan masih tahu Batasan tentang area-area mana saja yang akan mereka abadikan di social medianya. Raina juga masih ada kesadaran sedikit, bahwa dirinya tidak akan upload apapun yang bisa saja menyebabkan hal ini bocor ke teman-temannya. Raina memang tidak peduli dengan omongan orang lain, tapi kalau ketahuan, Raina juga masih mikir-mikir. Rafli dan Raina juga masih berhati-hati kalau ada orang tua dari salah satu mereka akan datang dan main ke rumah. Kalau orang tua Raina akan datang ke rumah Raina, Raina pasti akan melarang Rafli untuk datang dan menginap di rumahnya, hal yang sama juga berlaku dengan Rafli. Rafli juga menganggap enteng tentang hal yang terjadi di antara mereka berdua. Ini adalah Jakarta, semua orang bebas untuk melakukan hal apapun yang bisa dilakukan. Termasuk kalau mereka ingin melakukan seperti Rafli dan Raina. Rafli juga mengenal teman-temannya yang melakukan hal semacam ini. Jadi, hal yang dilakukan temannya itu, juga sedikit memancing Rafli untuk melakukan hal yang sama dengan Raina. Seingat Rafli, dirinya juga belum berani untuk bercerita dengan temannya terkait hal ini, Rafli masih menjaga Raina. Buat apa juga Rafli sebar tentang hal ini, Rafli takut Raina akan pergi darinya, kalau Rafli menyebar hal ini. Kalaupun, ia dan Raina akan ketahuan oleh siapapun, Rafli tidak akan ambil pusing. Rafli lebih memilih untuk menganggap santai dan tidak ingin terbebani oleh omongan orang. Menurut Rafli, semua hal ini kan, dia yang jalani bersama Raina. Tidak perlu ada ikut campur dari orang-orang tentang hal ini. Tidak akan berguna juga saran orang-orang. Rafli memilih untuk tutup kuping saja. Sampai saat ini juga, Rafli merasa bahwa dirinya belum melakukan apapun yang bisa membuat orang-orang menyadari perilakunya ini. Chocopie masih terdiam menatap laptopnya, ia mencoba membaca dengan teliti hasil kerja Raina yang telah diserahkan kepadanya 5 menit yang lalu. Dirinya masih mengagumi hasil kerja Raina. Coco mengakui bahwa Raina memang mengerjakan cerita ini dengan cukup baik, pengalaman kerjanya dengan salah satu penulis lain, memang membuahkan hasil. Coco tahu bahwa Raina memang bisa mengerjakan hal ini. Kesan pertama Coco terhadap Raina, cukup baik, Coco bahkan sedikit terkesima dengan penampilan Raina. Raina yang saat itu memakai barang-barang yang Coco tahu, lumayan mahal untuk seorang penulis seperti dirinya, dan apalagi untuk seorang ghostwriter seperti Raina. Ada satu hal yang mengusik tentang Raina di pikiran Coco, kehidupan Raina menjadi hal yang ingin diketahui lebih banyak oleh Coco. Coco penasaran tentang tempat kerja Raina, penulis lain yang bekerja sama dengan Raina, bahkan kalau bisa, Coco juga ingin tahu, siapa pacar Raina. Tidak ada maksud lain dari keingintahuan Coco tentang Raina. Coco murni hanya ingin tahu bagaimana hidup Raina, itu saja. Jejak digital tentang Raina cukup banyak, belum sampai sepuluh menit, Coco sudah menemukan tempat kerja Raina, teman-teman kerja Raina. Coco masih harus terus mencari berita tentang Raina atau apapun yang berkaitan dengan Raina. Coco tahu bahwa perbuatannya mencari tahu tentang hidup Raina, bisa dibilang tidak sopan atau apapun. Coco hanya penasaran saja dengan orang yang saat ini bekerja dengannya. Mungkin, Raina punya sisi hidup yang lebih menarik dibanding dengan Coco dan bisa diangkat menjadi sebuah cerita. Coco masih terus berusaha untuk mencari lebih banyak info tentang Raina. Belum cukup dengan info yang ia dapatkan saat ini, Coco harus rela menghabiskan untuk beralih dari social media satu ke yang lain, demi lengkapnya info yang dia inginkan. Coco menarik kesimpulan tentang Raina, dan kesimpulan inilah yang menguntungkan untuk dirinya. Coco tahu, bahwa Raina memang pribadi yang suka untuk mengabadikan momen dirinya. Orang yang ingin tahu tentang hidup Raina, pasti akan dengan mudah mendapatkan informasi itu, seperti Coco saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN