#CH-Changed!

2115 Kata
Tidak ada yang bisa membuat Raina menghentikan perbuatannya kepada Rafli. Raina masih saja melakukan aktifitas itu, seperti sudah menjadi kebiasaan untuk Raina. Kebiasaan yang akan melekat pada Raina. Raina tidak lagi merasa takut. Raina justru merasa bahagia dengan semua gambar yang ia kirimkan kepada Rafli. Entah apa alasan dan penyebabnya, yang jelas Raina masih ingin terus mengirimkan gambar-gambar itu, tanpa harus berhenti. Raina merasa dirinya tersihir dengan setiap pujian yang Rafli berikan kepadanya. Raina tahu, bahwa dirinya sudah lebih menarik di mata Rafli dengan setiap perbuatannya saat ini. Raina bahkan terkesan lebih berani, Raina juga sudah sering menggoda Rafli dengan rayuan yang sudah bukan di batas normal lagi. Raina tidak merasa takut, tidak merasa cemas, atau apapun itu. Raina hanya merasa bahwa dirinya bahagia dengan semua hal yang ia lakukan untuk kekasih tercintanya, Rafli. Sekarang, Raina juga sudah lebih berani, Raina tidak hanya mengirimkan gambar, ia tidak segan untuk mengirimkan videonya, entah apa maksud Raina, ia hanya merasa senang melakukannya. Raina merasakan beban yang hilang dari pundaknya ketika ia melakukan hal itu, karena setiap ia mengirimkan semua hal tentang itu, Rafli pasti akan langsung memujinya. Tentu saja, pujian yang Rafli berikan sudah cukup mampu, ralat, sudah sangat mampu membuat Raina seperti diterbangkan hingga langit ke tujuh. Raina sudah merasa bahwa dirinya berada di antara awan-awan yang sedang ada di langit. Raina merasa diterbangkan oleh Rafli, karena semua pujian dari Rafli. Raina juga sudah mengurangi aktivitasnya bermain di luar dengan teman-temannya. Raina tidak ingin lagi membuang waktu dengan teman kantornya. Raina lebih memilih untuk menghabiskan waktu lebih banyak dengan Rafli. Raina tidak lagi suka mendengar ucapan atau ocehan dari teman kantornya tentang bos nya atau tentang artis terkini di ibu kota. Sudah hampir setiap malam, setelah waktu kerjanya habis, Raina lebih memilih untuk langsung pulang, bersiap untuk mengadakan acara b******u rayu dengan Rafli, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Raina sudah tidak peduli lagi, media apapun yang bisa menghubungkannya dengan Rafli. Hal itu, sudah menjadi candu bagi Raina. Raina seakan ingin lagi dan lagi, tidak ingin berhenti, dan ingin terus berlanjut. Raina tidak peduli waktu, mereka juga tidak segan untuk melihat diri, satu sama lain, melalui telepon. Teman-teman kantor Raina pernah bertanya dan masih terus bertanya tentang alasan Raina mengapa Raina lebih sering pulang sesuai jam kerja dan tidak pernah lagi berkumpul bersama dengan mereka. Raina yang saat itu sudah berjanji dengan Rafli, bahwa hari itu adalah hari mereka untuk bertemu di rumah Raina, sudah terburu-buru dan tidak ingin lagi menjawab pertanyaan dari teman-teman, Raina hanya menjawab dengan penuh canda, duh, gue sibuk ya sekarang, sorry banget nih, ada job, cuannya lebih gede. Kata Raina Tentu saja, Raina kan memang merasa, cinta yang diberikan dan didapat dari Rafli akan jauh lebih besar dan jauh lebih berharga dibanding nominal uang, meskipun agak sedikit berbanding lurus. Kalau Raina terus menuruti dan menjalankan kemauan Rafli, pasti Rafli juga akan menuruti Raina, termasuk dengan permintaan Raina yang ingin terus Mentari Senja berada di posisi teratas. Raina sudah tidak malu lagi, tidak ada lagi kata malu di hidup Raina ketika ia berhadapan dengan Rafli sekarang. Raina sudah tidak ada dalam batasnya, Raina bahkan sudah lupa dengan batas-batas yang ada dalam hidupnya sendiri. Tidak ada lagi Raina yang merasa bahwa dirinya harus menutup dirinya di hadapan Rafli. Tidak ada lagi, Raina yang punya batas ketika berhadapan dengan laki-laki. Raina bahkan sudah bisa nekat berbuat hal-hal yang dulu saja tidak terpikirkan olehnya. Raina tidak ragu lagi, untuk datang ke rumah Rafli saat malam hari, dan pulang ketika pagi saat ingin berangkat kerja. Tidak perlu dijelaskan apa yang mereka perbuat. Yang jelas, hal yang mereka lakukan, bukan hal yang selama ini Raina bayangkan, bahkan Raina tidak pernah terbayangkan dan tidak pernah terpikirkan tentang hal yang baru-baru ini sering mereka lakukan. Bagi Raina saat ini, ia hanya tahu satu hal, Raina akan merelakan apapun untuk Rafli, hanya untuk Rafli. Raina juga tidak tahu keberaniannya saat ini karena siapa atau apa yang jadi penyebabnya, selain karena Mentari Senja, meski Raina memikirkan alasan lain karena keberaniannya, Raina tetap tidak butuh alasan yang lebih kuat, dengan atau tanpa alasan kuat itu, Raina tetap akan melanjutkan apa yang sudah ia lakukan saat ini. Raina tidak memikirkan perkataan orang lain kalau ia akan tertangkap atau akan terkena masalah, atau bahkan akan ketahuan oleh teman kantornya atau dengan siapapun. Tidak ada yang lebih penting dibanding kenikmatan dan kebahagiaan yang kini ia rasakan. Raina yang setiap harinya, merasa dipenuhi cinta, dilindungi dengan kasih sayang dari Rafli, selalu merasa bahwa ia sudah menang dari semuanya, tidak perlu lagi memikirkan apapun kata orang. Raina hanya memikirkan apa yang ada di depannya saat ini. ---------- Rafli masih merasa bahwa dirinya sedang ada di tempat paling menyenangkan di dunia. Rasa bahagianya lebih dari apapun hal bahagia yang sudah ia lakukan. Rafli tidak perlu mengatakan apapun, tidak perlu menjelaskan apapun tentang rasa bahagianya saat ini. Bagaimana Rafli tidak merasa bahagia, Raina hampir setiap malam tertidur di pelukannya. Raina, Raina nya yang sudah berubah menjadi gadis yang bahkan tidak pernah Rafli lihat sebelumnya. Raina nya yang berubah menjadi lebih berani, lebih merasa percaya diri dengan apa yang ia punya, Raina nya yang berubah menjadi lebih penurut. Rasanya, Rafli tidak akan bisa menjauh dari Raina, terutama dengan hal yang saat ini sudah Raina dan Rafli lakukan. Rasa takut kehilangan Raina, tentunya semakin besar, takut kehilangan Raina dan takut kehilangan apa yang sudah ia miliki saat ini. Rafli yang awalnya merasa terkejut karena Raina yang selalu mengirimkan foto dirinya, hampir tiap pagi. meski di samping itu, ia tentu saja merasa bahagia di saat yang bersamaan. Rafli memang sedikit merasa bersalah karena sudah meminta Raina mengirimkan gambar dirinya, tapi melihat perubahan yang ada pada Raina, Rafli justru merasa bersyukur karena dirinya pernah meminta Raina melakukan hal itu. Rafli jadi tidak merasa bersalah, karena Raina juga melakukan hal itu seperti tenang-tenang saja, dan tidak ada beban melakukan itu semua. Raina sekarang ini, malah terkesan seperti sukarela dan merasa bahagia saja melakukan itu semua. “Kamu nggak kenapa-kenapa?” Tanya Rafli. Setelah mereka melakukan hal itu untuk pertama kali. Rafli merasa takut dengan keadaan Raina yang hanya diam. Raina yang mendengar Rafli bertanya hal itu, juga tidak menjawab, dan hanya tersenyum, Raina juga langsung tersenyum dan memeluk Rafli. Seolah menegaskan pada Rafli bahwa dirinya baik-baik saja dan tidak akan merasakan hal yang mengganggu. Rafli yang melihat dan mengamati tingkah laku Raina saat itu, hanya membalas pelukan Raina dengan tidak kalah eratnya. Tidak ada lagi hal yang perlu ditakutkan oleh Rafli. Raina merasa baik-baik saja, dan tidak ada keluhan, Rafli jadi tenang, tidak perlu memikirkan langkah selanjutnya atau apapun. Rafli juga tidak memikirkan jangka panjang atas perbuatannya saat ini dengan Raina. Kesempatan tidak datang dua kali, begitu kata Rafli. Apa yang sudah ada di depan matanya saat ini, akan Rafli manfaatkan dengan sebaik mungin, termasuk dengan Raina yang selalu ada di depannya saat ini. Rafli tidak akan mengakui bahwa kelakuannya saat ini adalah hal yang baik, tapi Rafli juga tidak ingin di cap sebagai orang yang jahat karena telah membuat Raina berani melakukan hal semacam ini. Rafli bukan pihak yang mendorong Raina menjadi seperti ini, Rafli juga tidak memaksa Raina. Raina sendiri yang melakukan semua hal ini, tanpa harus Rafli minta lagi. Termasuk dengan kedatangan Raina yang tiba-tiba di rumahnya dan bilang pada Rafli bahwa ia akan melakukan apapun untuk Rafli, apapun, asalkan Rafli tidak akan pergi dari hidupnya dan meninggalkan dirinya. Rafli hanya diam menatap Raina, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa yang ada di depan matanya saat itu, memang Raina, bukan orang lain, bukan juga sesosok makhluk ghaib yang menyerupai Raina. Rafli juga tidak ingin melewatkan kesempatan berharga itu, kedatangan Raina yang bisa dibilang jarang sekali, Raina yang menyerahkan dirinya kepada Rafli, itu sudah jadi keunggulan besar untuk Rafli. Rafli hanya berusaha untuk menjalankan apa yang ada di depan matanya dan Raina ada di depan matanya, tidak mungkin Rafli melewatkan Raina, kekasihnya, yang sudah lama Rafli inginkan. Rafli tidak munafik juga, Raina memang terlewat sempurna untuknya. Tidak perlu didefinisikan bagaimana tubuh Raina. Yang jelas, setiap Rafli melihat Raina, Rafli tidak berani untuk memikirkan yang lain, Raina terlalu sempurna untuk ditandingkan dengan wanita manapun. Tapi, itu hanya kalau Raina ada di depan matanya, kalau Raina tidak di depan matanya, Rafli memang kadang suka curi-curi pandang ke arah wanita lain. Rafli hanya bisa memandangi Raina yang kini ada di sampingnya, Raina yang sedang tertidur pulas, wajah Raina yang polos, membuat hati Rafli tersentuh. Rafli tidak ingin melewatkan ini, Rafli tidak ingin melewatkan Raina, apalagi Raina yang sudah berubah seperti sekarang ini. Rafli tentu saja tidak ingin kehilangan apa yang ada saat ini bersama dengan Raina. Biarpun Raina memang memanfaatkan untuk kepentingan Mentari Senja, bagi Rafli, itu tidak ada apa-apanya dengan hal yang saat ini ia dapatkan. Rafli bahkan rela untuk bekerja lebih keras dan bahkan kalau Raina meminta hal yang lebih gila lagi. Rafli akan rela melakukan semua hal yang Raina minta, asalkan Rafli tidak kehilangan apa yang ada di depannya saat ini. Di kantornya, Rafli memang terlihat lebih bahagia, teman-teman kantornya juga menyadari itu, Rafli lebih sering untuk menyapa dan mengobrol dengan siapapun. Kali ini, Rafli bahkan lebih ramah. Rafli berubah menjadi sosok yang lebih baik, lebih ramah, lebih sopan, intinya, Rafli berubah ke arah yang lebih baik, sejak ia dan Raina sudah tidak ada batasan. Rafli juga sudah jarang main atau sekedar nongkrong dengan teman-temannya, alasan Rafli ya karena Raina yang sudah menunggunya di tempat yang sudah mereka janjikan. Tapi, teman kantorny justru memahaminya sebagai hal yang lain. Rafli dianggap sudah lupa diri, satu hingga dua orang juga menganggap Rafli diam-diam telah menikah, sampai harus pulang lebih awal demi istrinya. Rafli hanya menanggapi semua itu dengan tertawa, tidak ada satupun jawaban dari teman-temannya yang mendeakti kebenaran yang terjadi padanya. Memang, semua hal terkait dengan cinta pasti akan mengubah salah satu dari dua orang yang terlibat. Raina yang berubah menjadi lebih pendiam dan penurut, serta cenderung lebih menutup diri dari teman-temannya, dianggap telah berubah ke arah yang lebih oleh teman kantornya. Rafli yang juga berubah, dianggap berubah ke arah yang lebih baik di sisi pekerjaan dan dianggap lebih buruk dan tidak asik di sisi sosialnya. Baik Rafli dan Raina tidak merasakan bahwa masing-masing dari mereka, sudah dianggap berbeda dengan temannya masing-masing. Mereka berdua juga masih tidak peduli, tidak peduli dengan apapun yang orang lain katakan kepada mereka. Bagi mereka, kebahagiaan antara mereka saat ini, tidak akan sebanding dengan apapun yang orang lain katakan kepada mereka. “Kamu nggak takut, dibilang apa-apa sama temen-temen kamu?” tanya Rafli kepada Raina, saat mereka sedang makan malam. Raina hanya menatap Rafli. Raina mencoba menemukan jawaban dari sorot mata Rafli untuk membantunya merasakan keberanian, benar saja. Raina menemukan keberanian di mata Rafli. Raina tersenyum, berhenti mengambil makanan yang akan disuap ke mulutnya. “Ada kamu.” Kata Raina, singkat. Entah apa maksud Raina, Raina juga tidak tahu apa arti kalimatnya. Raina hanya ingin mengungkapkan itu saja. Seolah Rafli akan mendukungnya melakukan apapun, seolah Rafli adalah malaikat pendukungnya. Raina merasa bahwa ia tidak perlu takut dengan semua hal yang akan terjadi ke depan, kalau ada Rafli. Raina tahu, bersama dengan Rafli, dunianya akan baik-baik saja, dan akan selalu baik-baik saja. Raina kembali melanjutkan makannya. Rafli yang mendengar itu juga terdiam, Rafli harus berulang kali memastikan kepada dirinya sendiri, bahwa ia tidak bisa semudah itu saja untuk mendapatkan Raina, meski ia sudah mendapatkan tubuh Raina. Rafli sadar bahwa ia punya tanggung jawab yang lebih besar, Rafli harus menjaga Raina, termasuk dengan tetap ada di samping Raina, nanti. Rafli hanya berharap tidak ada siapapun yang mengetahui hal ini. Tidak siapapun dan tidak ada apapun yang bisa membongkar kejadian antara dirinya dan Raina. Rafli memang tidak akan merasakan apa-apa kalaupun ini terbongkar, tapi pasti, Raina akan terlalu heboh, atau bahkan membuat drama baru. Rafli lebih tidak ingin melihat Raina dengan dramanya itu. Rafli tahu bahwa Raina memang sudah punya bos lain, penulis lain lebih tepatnya, yang memperkerjakan Raina juga sebagai ghostwriter, Rafli memang merasa sedikit cemas. Rafli hanya tidak ingin kalau Raina justru tidak fokus dengan kelanjutan Mentari Senja, sedangkan Mentari Senja sudah ada di titik yang tinggi ini. Rafli tidak tahu dan belum mengetaui langkah Raina yang selanjutnya dengan bos barunya ini. Nama penulis baru ini, juga belum terlalu terkenal, bisa dibilang, belum seterkenal Mentari Senja. Rafli juga heran, apa yang menyebabkan Raina ingin kerja juga dengan penulis ini, tidakkah Mentari Senja dan semua ketenaran sudah terbukti dimiliki dan dirasakan sendiri oleh Raina. Rafli memilih untuk diam saja dan belum berkomentar lebih lanjut. Rafli tahu bahwa Raina punya pilihannya sendiri dengan alasannya sendiri. Rafli lebih memilih untuk melanjutkan kegiatannya dengan Raina, melihat Raina yang bermanja-manja dengannya, atau melihat Raina yang sedang merapihkan kamar mereka, hal itu jauh lebih menyenangkan dan lebih menenangkan, dibanding harus memikirkan semua hal yang memenuhi pikirannya saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN