Raina sudah mencoba untuk mencari cara, kalau Mentari Senja benar-benar akan meredup. Dengan kemampuan Raina yang gemar untuk bersosialisasi, bukan hal yang sulit untuk seorang Raina bisa menemukan penulis lain yang menjadikannya ghostwriter juga. Pekerjaan dengan penulis yang satunya ini, terbilang masih mampu untuk Raina kerjakan. Raina tahu, di tengah kekalutannya memikirkan nasib Mentari Senja, nasib dirinya sendiri yang telah menyerahkan gambar dirinya kepada Rafli, Raina juga harus tetap mencari penghasilan tambahan. Bagi Raina, hidup akan berjalan dengan mulus, kalau ada uang yang bisa melancarkannya.
Raina tidak ingin munafik, meskipun ia senang bekerja dengan Mentari, Raina juga harus bisa untuk mencari penghasilan tambahan, jaga-jaga kalau Mentari Senja akan bubar atau akan menurun ketenarannya. Raina memang terus berupaya untuk tetap bekerja dengan baik dengan Mentari Senja, tapi, kondisi keuangannya dan gaya hidupnya masih terus menuntut untuk lebih banyak menghasilkan lembar-lembar rupiah.
Raina mulai bekerja dengan Chocopie, penulis yang baru mempekerjakan dirinya selama beberapa hari, dan di hari kerjanya itu, Raina memang sudah membuktikan bahwa dirinya mampu untuk mengerjakan apa yang diminta oleh Chocopie. Chocopie, sebagai ‘bos’ baru bagi Raina juga merasa puas dengan kerja yang diselesaikan oleh Raina. Respon pembaca terhadap karya Chocopie juga terlihat dari jumlah pembaca, yang selalu naik dan meningkat. Tentu saja, hal ini menjadi kabar bahagia untuk Chocopie dan Raina. Chocopie merasa terbantu dengan kehadiran Raina, Raina juga merasa bahagia atas hasil kerjanya yang membawa hal yang baik untuk karya Chocopie.
Berita tentang Mentari Senja sudah cukup berjalan dengan tenang. Setelah sebelumnya, Rafli yang mempunyai hak untuk menurunkan Mentari Senja, menggagalkan itu semua. Selain karena Raina yang langsung melakukan apa yang Rafli minta. Raina juga rela untuk menyerahkan dirinya kepada Rafli. Raina melakukannya tanpa paksaan apapun. Raina ingin menyelamatkan semua pihak yang terkait dengan Mentari Senja, termasuk dengan kelanjutan hidup Mentari Senja. Raina tahu bahwa perannya sebagai kekasih dari Rafli, orang yang bisa mengatur ini semua, bisa membantunya. Raina hanya menuruti semua hal yang Rafli minta agar ia dan Mentari Senja, bisa selamat.
Rafli memang sudah tidak terlalu memaksa Raina untuk melakukan apapun. Rafli hanya meminta kepada Raina untuk tetap memotret bagian tubuhnya dan mengirimkan kepada Rafli setiap hari. Raina yang memang punya alasan dibalik itu semua, lebih memilih untuk menuruti apapun yang Rafli minta, demi keselamatan dan keberlanjutan Mentari Senja. Raina tidak ingin lagi berdebat, atau mempermasalahkan Mentari Senja. Raina lebih memilih untuk ‘main aman’ dengan Rafli, orang yang punya kuasa atas ‘naiknya’ Mentari Senja. Raina juga tidak berkomentar apapun lagi tentang Mentari Senja. Raina tidak lagi menanyakan sampai kapan Mentari Senja tetap berada di posisi best seller, atau apapun itu. Raina hanya diam dan menuruti semua alur yang telah disusun oleh Rafli. Yang jelas, Raina sudah tidak mau terlalu banyak komentar tentang Mentari Senja kepada Rafli, atau sekedar mengomentari dan bertanya kepada Rafli.
Raina tidak ingin Rafli kembali marah atau kembali mengucapkan kalimat yang menyudutkan Raina agar Mentari Senja turun atau bahkan menghilang dari pasaran. Raina menuruti Rafli dan tidak akan membantah apapun perintah Rafli, agar mimpi buruknya itu tidak menjadi kenyataan. Raina tidak ingin mengambil resiko atas apapun yang bisa mempengaruhi hidupnya, terutama Mentari Senja yang punya peran besar di hidupnya, khususnya tentang keuangannya.
Beberapa hari yang lalu, Mentari sempat berkomunikasi dengan Raina dan menanyakan mengenai Mentari Senja.
“Gue, kayaknya, udah nggak bisa lanjut lagi, Nay. Gue ada tawaran.” Kata Mentari. Raina yang mendengarnya sontak terkejut. Mentari yang sudah dibujuk oleh Raina untuk tidak vakum beberapa bulan yang lalu. Kini, kembali ingin berhenti dari pekerjaannya. Malah, sekarang, Mentari terlihat tidak ingin lagi untuk meneruskan Mentari Senja.
Raina bukan hanya merasa pusing, Raina sudah merasa bahwa dunia ini terlalu menggoncangkan hidupnya. Raina tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau Mentari benar-benar ingin berhenti dari tulis menulis ini.
Raina yang sudah berusaha dengan susah payah untuk membujuk Mentari, berusaha mengatur rencana agar Mentari Senja bisa naik, bahkan bisa ada di urutan teratas posisi best seller dengan bantuan Rafli, justru tetap ingin agar Mentari Senja bisa terus eksis di toko buku. Raina juga sudah berjuang, termasuk dengan merelakan dirinya untuk memotret tubuhnya dan mengirimkan kepada Rafli, agar Rafli bisa tetap menyelamatkan Mentari Senja. Raina tentu saja, menolak dan berdebat dengan keras. Sampai saat ini, Mentari juga masih berencana untuk berhenti.
Raina tidak tahu pasti apa penyebab Mentari ingin berhenti dari dunia yang telah membawa banyak keuntungan untuk dirinya ini. Raina sendiri belum bicara serius dengan Mentari, masih mencari waktu yang tepat, agar ia bisa lebih leluasa untuk membicarakan mengenai hal ini. Meskipun Raina sudah pasti akan menolak, tapi Raina juga ingin menghargai Mentari selaku ‘bos nya untuk mendengarkan terlebih dahulu pendapat dari Mentari.
Kerja sama antara Raina dengan Chocopie, juga belum diketahui oleh Mentari. Raina mungkin juga tidak akan bilang dengan Mentari, rasanya tidak sopan, dan Raina juga tidak enak hati dengan Mentari. Raina tidak ingin Mentari berpikir bahwa Raina tidak lagi nyaman atau segala sesuatunya tentang pekerjaannya dengan Mentari. Raina kerjasama dengan Chocopie, murni karena ia ingin mencari rencana b, kalau-kalau Mentari Senja memang akan turun. Selain itu, tentu saja, Raina mengincar nominal yang ditawarkan oleh Chocopie, dengan jumlah yang berbeda sedikit saja, Raina lebih memilih untuk mengambil dan menjalani keduanya. Resiko yang cukup besar untuk Raina jalani, tapi itu semua Raina lakukan karena ia tidak ingin hidupnya akan berantakan kalau nanti Mentari Senja akan bubar.
Raina bukan bermaksud untuk mengkhianati Mentari. Tentu saja, tidak, sama sekali bukan itu. Meskipun Raina dinilai orang kebanyakan, sebagai orang yang bisa mengucapkan kalimat apapun. Tapi, Raina masih bisa menghargai dan menjaga omongan yang tidak seharusnya diucapkan kepada lawan bicaranya. Termasuk omongannya tentang kerja sama dengan Chocopie. Raina masih ingin menjaga perasaan Mentari, bagaimanapun juga Mentari adalah ‘bosnya yang sudah lama bekerja dengannya, dan sudah membuat Raina menghasilkan banyak uang dari karya antara dirinya dan Mentari Senja. Raina juga tidak ingin menghancurkan kepercayaan dari Mentari.
Raina juga tidak tahu pasti apa motif Mentari yang ingin berhenti dari pekerjaannya ini. Raina sudah tahu kalau kemarin, saat Mentari Senja masih belum juga ada kepastian untuk bisa di posisi best seller, Mentari memang mencari lowongan pekerjaan yang cocok untuk dirinya lakukan. Tapi, Raina tidak menanyakan kelanjutannya. Raina menganggap hal itu, mungkin hanya hal yang lewat begitu saja bagi Mentari. Raina kaget bahwa ternyata, Mentari masih mencari mengenai hal itu bahkan sampai berniat untuk berhenti sepenuhnya dari menulis. Bukan lagi vacuum. Raina jadi penasaran, apa penyebab hingga Mentari kembali punya ide seperti itu. Raina tidak ingin kerja keras dan usahanya akan sia-sia karena Mentari sebagai pemilik Mentari Senja, justru tidak ingin untuk dibantu.
Raina mencoba menebak tentang hal yang terjadi pada Mentari hingga menyebabkan Mentari ingin berhenti. Kalau Mentari ingin berhenti karena ada tawaran lain. Raina juga penasaran, pekerjaan apa atau mungkin hal apa yang Mentari akan kerjakan hingga menghasilkan uang yang lebih banyak dari Mentari Senja saat ini. Kalau alasan Mentari karena uang, mungkin itu sedikit tidak masuk akal. Raina tidak mengetahui lebih banyak tentang kehidupan Mentari. Raina juga bahkan tidak mengetahui siapa nama asli Mentari. Pembicaraannya selama ini dengan Mentari memang murni hanya sekedar pekerjaan, kalau membicarakan hal lain, hal itu tidak sampai terlalu personal.
Raina juga yang lebih sering bercerita tentang dirinya, dibandingkan Mentari cerita tentang dirinya. Raina juga tidak bertanya kepada Mentari tentang hidupnya, Raina lebih suka dirinya yang dicari tahu dan orang tahu, dibanding ia yang mencari tahu tentang orang lain. Bagi Raina, itu tidak penting, lebih baik orang mengetahui tentang dirinya, dibanding dirinya yang tahu tentang orang lain. Maklum, Raina menjunjung tinggi asas percaya diri. Itu baik, asal Raina tidak terlalu berlebihan tentang itu. Kenyataannya, Raina memang seringkali berlebihan dengan rasa percaya diri yang ia miliki
Rafli masih duduk di kursi kantornya, santai. Kerjaan Rafli hari ini tidak mengharuskan Rafli untuk mengerjakan sesuatu, sehingga Rafli tidak punya tuntutan apapun untuk diselesaikan hari ini. Kekeliruan orang kantornya terhadap Mentari Senja kemarin, sudah diselesaikan. Rafli menggunakan keahliannya untuk menemukan celah agar Mentari Senja bisa tetap hidup dan berada di tempat yang diinginkan oleh kekasihnya itu. Meski banyak komentar dan kritik dari teman-teman kantornya, pada akhirnya, Mentari Senja tetap bisa menempati posisi itu. Rafli juga sudah bisa kembali bekerja dengan seharusnya dan mengerjakan hal yang seperti biasa ia lakukan. Rafli juga tidak perlu lagi merasa cemas dengan nasib Mentari Senja, karena Mentari Senja masih bisa dipastikan aman , setidaknya hingga bulan depan.
Rafli masih saja tersenyum membayangkan foto yang semalam dikirim oleh Raina, pagi ini Raina juga sudah mengirimkan foto terbarunya. Raina mengirim fotonya seperti jadwal harian, tidak perlu lagi Rafli minta kepada Raina, atau Rafli juga tidak perlu untuk membujuk Raina. Raina sudah dengan sendirinya mengirimkan fotonya. Tentu saja, Rafli merasa bahagia untuk itu. Rafli juga menyadari perubahan sikap Raina. Raina terlihat lebih penurut, lebih pendiam, dan lebih kalem dibanding Raina yang sebelumnya. Rafli juga menyambut perubahan yang ada pada Raina ini. Rafli merasa bahwa dirinya lebih sayang kepada Raina saat ini, karena sikap Raina yang lebih melunak dibanding yang kemarin. Raina yang galak saja, menarik di matanya. Apalagi, kalau Raina penurut seperti sekarang ini. Rafli semakin tertarik dan semakin sayang pada Raina.
Rafli masih terus memikirkan hal lain yang bisa saja membuat Raina semakin dekat dengannya. Rafli tidak ingin hanya melihat dari foto saja, Rafli ingin yang lebih dari Raina. Rafli juga ingin melihat secara langsung hal-hal yang ada di tubuh Raina, bukan hanya dari foto. Rafli tahu bahwa dirinya juga sudah berubah, ia yang tadinya tidak menginginkan apapun dari Raina. Kini, ia seperti meminta dan menuntut sesuatu dari Raina. Rafli memejamkan matanya sejenak, mencoba berpikir lebih dalam tentang hal yang ia lakukan pada Raina.
Rafli tidak ingin merasa bahwa dirinya memanfaatkan Raina. Rafli hanya ingin menjaga Raina, agar terus ada di sisinya. Salah satu caranya, Rafli tahu, dengan menguasai semuanya, semua yang ada pada Raina, agar Raina tidak kemana-mana. Raina tetap ada di sisinya. Raina juga tidak akan pernah pergi dari dirinya lagi, karena Raina sudah ditandai milik Rafli sepenuhnya. Rafli tidak tahu apakah cara ini bisa dikategorikan sebagai cara yang jahat atau tidak. Tapi yang Rafli tahu, ini adalah cara terbaik yang Rafli bisa lakukan untuk memiliki Raina.
------
Raina hanya merasa hampa setelah ia melakukan semua hal yang Rafli minta, seperti ada dorongan yang entah dari mana datangnya, hingga bisa memunculkan keberanian untuk Raina, untuk melakukan semua itu. Raina bahkan sudah berani mengirimkan foto dirinya kepada Rafli, tanpa Rafli minta. Raina jadi merasa, hal ini adalah suatu kewajiban yang harus Raina lakukan setiap hari, iya setiap hari. Raina sudah seperti melakukan absen harian kepada Rafli. Raina tidak merasa senang, melakukan ini, tidak juga merasa sedih atau bahkan merasa bersalah. Raina tidak tahu perasaan apa di dirinya saat ini. Di otak Raina, ini semua seperti telah terprogram bahwa ia harus melakukan hal seperti ini. Raina tidak tahu ini benar atau salah, sudah tidak ada kategori yang jelas terkait dengan salah atau benar hal yang Raina lakukan saat ini.
Raina menjalani hari-harinya seperti biasa, ia bekerja dari pagi hingga sore, dan lanjut untuk mengerjakan pekerjaan dari Chocopie atau dari Mentari yang datang sesekali saja. Raina sudah seperti robot, hanya bisa mengerjakan perintah tanpa bisa untuk membantah, mengomentari, atau bahkan menolak perintah untuk dirinya. Raina bukan kehilangan kekuatan, tapi lebih kepada merasakan takut atas hal yang bisa terjadi nanti. Raina belum tentu mampu untuk bisa menerima semua hal yang terjadi, jadi, dibandingkan dengan itu, Raina lebih memilih untuk diam, menjaga semua yang ia punya, agar tidak hilang dari dirinya.
Raina juga lebih merasa bahwa dirinya jauh lebih tenang dibanding ia yang sebelumnya. Raina tahu bahwa dirinya memang mengalami perubahan. Raina tidak lagi sering untuk bermain, atau sekedar nongkrong dengan teman kantornya. Teman kantornya juga merasakan hal yang sama, beberapa dari mereka juga bahkan menanyakan langsung kepada Raina. Tapi, Raina hanya mengaku bahwa tidak ada apapun yang terjadi pada dirinya dan segala hal berlangsung seperti biasa. Raina seperti orang yang sedang menjaga sebuah rahasia, yang tidak ingin diketahui oleh siapapun. Iya benar, rahasia yang menyangkut dirinya sendiri. Rahasia bahwa dirinya ini, telah mengambil gambar atas dirinya dan mengirimkan kepada kekasihnya dengan sukarela. Tentu saja, Raina merasa bahwa orang lain tidak perlu tahu atas hal ini.
Raina juga tidak ingin bahwa Rafli menyebar foto ini. Raina hanya ingin membuktikan kepada Rafli bahwa dirinya bisa melakukan hal yang Rafli minta, karena selama ini, Rafli merasa Raina tidak pernah menuruti omongannya. Raina ingin mematahkan omongan Rafli dengan melaksanakan perintah yang Rafli berikan.