Rafli masih duduk di kursi kerjanya, dengan santai. Rafli tidak terbebani dengan semua kalimat yang diucapkan kepada Raina. Tidak semua perkataan Rafli itu benar, sih. Rafli hanya ingin menyadarkan Raina bahwa Raina memang harus melakukan hal yang Rafli minta. Rafli mendapatkan hal yang ia inginkan, tapi dengan itu, Rafli tidak merasa bersalah. Rafli merasa bahwa dirinya tidak jahat. Bagaimana bisa Rafli dibilang telah melakukan kejahatan, kalau Rafli telah melakukan hal yang membuatnya merasa baik. Menolong Raina untuk Mentari Senja, dan mempertahankan Mentari Senja tetap di posisi itu, adalah suatu hal yang baik.
Rafli menunggu reaksi Raina. Tidak pernah terbayangkan oleh Rafli, kalau dirinya bisa menjadi orang yang manipulatif seperti ini. Rafli masih tersenyum membayangkan apa yang akan Raina lakukan saat Rafli mengirimkan satu pesan hanya dengan satu kalimat, hanya ucapan terima kasih.
Rafli bukan berniat menakut-nakuti Raina, tapi ia ingin memberikan ketegasan terhadap perilaku Raina. Rafli masih menunggu apakah Raina memang akan menuruti yang Rafli minta, atau tidak. Rafi tahu bahwa Raina pasti akan bersikap egois, mementingkan dirinya sendiri dan tidak akan rela untuk melakukan hal yang tidak ingin dilakukannya. Rafli tahu betul apa yang menjadi incaran Raina, Raina pasti hanya memikirkan tentang uang atau hal-hal lainya, hal yang bisa hilang dan bisa hancur dalam waktu singkat bahkan hanya dalam sehari semalam.
Rafli tahu Raina pasti akan mempertahankan pendapatnya sendiri. Belum pernah Rafli menemukan, bahwa Raina yang mengorbankan dirinya untuk orang banyak. Rafli tahu dan mengerti bagaimana sikap Raina ketika ada orang yang mengganggu kehidupannya, apalagi kehidupan pribadinya. Meskipun Raina terkesan pamer pada orang banyak, tapi Rafli tahu bahwa Raina hanya ingin menunjukkan apa yang ia punya dan tidak ingin ada orang yang ikut campur dengan urusan Raina sendiri.
Rafli tidak tahu pasti juga alasannya meminta suatu hal yang pasti akan sulit Raina pastikan. Rafli hanya ingin memberi Raina tantangan baru dalam hidupnya. Meskipun Rafli juga tidak tahu pasti, tantangan itu yang akan menantang dirinya sendiri. Rafli tidak bermaksud jahat dengan Raina. Rafli juga tidak memanfaatkan Raina dari sudut pandang manapun. Rafli ingin Raina merasakan pengorbanan yang selama ini orang lain lakukan untuk dirinya. Agar Raina tahu bagaimana rasanya, dan agar Raina tidak lagi sewenang-wenang terhadap orang lain.
Rafli masih menunggu hal yang seharusnya ia dapatkan, setelah pesannya tadi dikirim kepada Raina, Raina masih belum juga menunjukkan tanda-tanda mengirimkan apa yang Rafli minta. Rafli masih bersandar di kursinya, mencoba untuk tetap bekerja meskipun hati dan pikirannya masih tertuju pada Raina. Tentu saja, memikirkan Raina adalah salah satu hal yang sudah menjadi kebiasaan sejak lama.
Terlebih lagi, Raina yang nanti, mungkin saja, akan menuruti permintaan Rafli. Rafli mungkin akan merasa sangat senang, bukan senang karena pada akhirnya ia membuat Raina tunduk dan patuh kepadanya, tapi juga itu artinya ia telah berhasil membuat Raina mengalahkan egonya sendiri. Yang paling penting dan ini adalah bagian terpentingnya, Rafli membuat Raina menuruti apapun perkataannya. Itulah yang Rafli cari dan itu yang Rafli inginkan. Dengan cara itu, Rafli yakin bahwa dirinya akan sepenuhnya bisa terus bersama dengan Raina.
Khayalan Rafli seketika berhenti. Ada pesan masuk untuk dirinya di dalam handphonenya. Rafli menoleh ke arah Hp-nya, tentu saja, Rafli mengharapkan pesan masuk itu berasal dari orang yang sudah ditunggu sejak tadi. Harapan Rafli memang terkabul, orang yang ia tunggu sejak tadi, sudah memberinya kabar dan mengabulkan keinginan Rafli. Rafli tidak munafik, siapa yang tidak merasa bahagia atau merasa senang atas terwujudnya keinginan dirinya.
Tidak ada kata yang mampu mendefinisikan bagaimana perasaan bahagia Rafli saat ini. Melihat foto yang dikirim oleh Raina, sudah mampu membuat Rafli bahagia, sesaat. Menit kemudian, Rafli tersadar bahwa yang dikirim Raina tidak memuat apa yang Rafli minta semuanya. Rafli mengerutkan alisnya, merasa heran dengan apa yang Raina kirim. Rafli tidak pernah merasa bahwa dirinya melihat baju yang Raina kenakan. Rafli mulai curiga, Raina menggunakan foto orang lain untuk dikirimkan kepada Rafli. Rafli langsung mengirimkan pesan kepada Raina, menanyakan kepastian dan kebenaran tentang foto yang Raina ambil.
“Kenapa harus pake foto orang lain, Nay.” Kata Rafli.
“Foto orang lain apanya?” Tanya Raina.
“Nggak usah bohong dan nggak usah repot-repot untuk cari alasan, Nay.” Kata Rafli.
“Kamu ngomong apa sih.” Balas Raina.
Rafli yang kesal dan tidak ingin untuk melanjutkan perdebatan ini di pesan singkat, langsung menelpon Raina. Tidak perlu menunggu lama, Raina juga langsung mengangkat telepon itu, Raina sudah terlebih dahulu menepi dari ruangan kerjanya, memastikan bahwa telepon yang dari Rafli tidak akan terdengar oleh siapapun, apalagi rekan kerjanya. 700
“Apa sih.” Raina mengawali percakapan di telepon itu.
Rafli tertawa, mengejek Raina yang kini sudah kesal, karena dituduh berbohong oleh Rafli. Raina sudah mengungkapkan kejujuran yang paling jujur yang bisa ia lakukan.
“Kamu sekarang jadi jago bohong gini ya, Nay.” Kata Rafli.
‘“Aku nggak bohong, aku berani jujur. Aku sudah jujur, aku sudah ngomong yang paling jujur sama kamu. Kenapa kamu malah bilang kau bohong sih, aku nggak bohong, aku nggak bicara bohong. Aku jujur.” Kata Raina.
“Sudah, Nay. Cukup. Kamu nggak perlu nerusin lagi. Kamu memang nggak niat ngelakuin hal yang aku minta.” Kata Rafli.
“Apaan sih, ko jadi gini. Aku udah nurutin kamu. Aku udah kirimin kamu foto yang kamu mau itu. Emangnya aku kurang apa lagi. Kamu masih kurang sama foto yang aku kirimin?” Tanya Raina.
“Udah, Nay. Cukup. Aku nggak mau lagi bicara sama pembohong kayak kamu. Aku udah cape. Kamu terusin saja kebohongan kamu, biar nggak terungkap lagi. Kalau perlu kamu rancang lagi kebohongan yang baru biar kamu lebih ahli lagi, Nay.” Kata Rafli.
“Aku nggak bohong, aku udah jujur. Kok kamu jadi gini, sih. Apa perlu aku take ulang? Biar kamu percaya sama omongan aku.” Tanya Raina.
Rafli seketika terdiam. Rafli tidak menyangka bahwa Raina akan menawarkan untuk mengambil ulang foto itu. Rafli ingin menolak tawaran itu, tidak sampai hati untuk membuat Raina sampai melakukan hal itu dua kali.
“Kamu jangan diem aja dong. Jawab aku. Kamu marah, ya?” Tanya Raina.
Rafli sebetulnya sudah tidak ingin menjawab apapun yang ditanyakan oleh Raina. Dalam hati Rafli, Rafli sudah merasa cukup atas apapun yang Raina kirimkan. Rafli hanya menduga bahwa foto yang tadi Raina kirimkan bukan foro dirinya sendiri, tapi karena perkataan Raina barusan, Rafli merasa bahwa Raina memang mengatakan hal yang sejujurnya dan Raina tidak berbohong atas perkataannya.
Tapi, sisi lain dari diri Rafli memiliki pendapat yang berbeda dengan sisi satunya. Sisi yang seolah membisikan kepada Rafli bahwa ia ingin yang lebih dari Raina. Rafli tahu bahwa itu tidak benar, ia juga tidak ingin membuat Raina jadi kepikiran atau apapun. Rafli ingin menyudahi apapun yang Raina tawarkan untuk dirinya lagi.
“Aku nggak maksa kamu ya, Nay.” Kata Rafli. Isi pikiran Rafli dan apa yang keluar dari mulutnya menjadi berbeda. Sepenuhnya berbeda, dan entah siapa yang mengingkari. Rafli juga kaget dengan ucapan itu. Rafli sungguh tidask ingin untuk memperpanjang hal ini. Rafli memang tidak puas dengan hasil yang Raina kirimkan. Tapi Rafli juga tidak ingin untuk menyuruh Raina melakukan hal yang sama.
Raina yang mendengar kalimat dari Rafli, langsung mematikan teleponnya. Raina langsung bergegas ke kamar mandi lagi, untuk melakukan hal yang sama. Tidak tahu pasti apa penyebab Raina mau melakukan hal ini untuk kedua kalinya. Raina juga tidak tahu keberanian yang ada pada dirinya ini datang dari siapa. Raina merasa bahwa dirinya memiliki efek kontrol sendiri pada aktivitasnya yang bersinggungan dengan Rafli.
Entah apa yang merasuki pikiran Raina hingga ia rela untuk membuka sebagian bajunya dan mengambilnya dalam beberapa kali, lalu mengirimkan kepada Rafli. Raina tidak menyadari dengan pasti apa yang akan terjadi selanjutnya. Raina hanya tidak ingin untuk memperpanjang atau bahkan memperluas masalahnya dengan Rafli. Rasanya, Raina juga ingin langsung menenggelamkan dirinya tanpa harus ada orang yang tahu atas perilakunya saat ini.
Raina masih berada di dalam kamar mandi kantornya. Pakaiannya masih berantakan, Raina masih merasa terkejut atas dirinya sendiri yang bisa dengan mudah dan dengan semudah itu mengirimkan gambar tentang bagian dari dirinya. Raina duduk di atas kloset yang sudah ia tutup, mencoba merenungi apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Tidak Raina temukan semua hal tersebut. Raina hanya menemukan ketakutan ketika Rafli menghilang lagi. Raina tidak menyiapkan rencana apapun agar mempertahankan Rafli, tapi, melihat Rafli yang memintanya melakukan ini, membuat Raina jadi berpikir dua kali, untuk meninggalkan Rafli.
Bukan hanya itu, permintaan Rafli ini juga menjadi tanggung jawab untuk Raina. Bagaimana tidak , Rafli meminta ini dengan mengikutsertakan Mentari Senja yang menjadi sumber bagi beberapa orang. Bukan hanya Raina, Mentari yang menulis novel ini juga pasti merasakan hal yang sama. Belum lagi dengan anak Mentari yang menjadi tanggungan terbesar Mentari. Sumber ini juga bukan hanya sumber yang Raina butuhkan, tapi sumber ini menjadi keinginan besar Raina untuk terjadi. Raina masih harus tetap menyusun dan merencanakan kegunaan nominal uang yang akan ia gunakan nanti kalau ia sudah menerimanya.
Bagian terpenting dari ini juga kelangsungan hidup Mentari Senja, nama yang sudah bertahun-tahun akrab di telinga pembaca, juga harus tetap dilanjutkan. Publisitas dan perhatian publik kepada Mentari Senja tidak boleh hilang dan tidak boleh terkikis, kalau Mentari Senja, tidak bisa mempertahankan itu semua, akan sulit bagi Mentari Senja untuk kedepannya. Hal ini yang juga ditakutkan oleh Raina, sangat menakutkan.
Raina tidak ingin menurunkan standar kehidupannya, Raina sudah susah payah untuk ikut berjuang menulis karya ini. Raina juga harus merelakan beberapa kegiatan penting demi ia bisa menulis Mentari Senja yang kala itu, sedang dikejar-kejar oleh waktu. Raina tahu bahwa dirinya memang menginginkan nominal uang itu. Terlalu besar untuk dilewatkan, uang yang diterima juga bukan hanya kali ini saja. Tapi, dengan naiknya Mentari Senja ke barisan buku best seller, bisa membantu karya ini menemukan pembacanya dan mampu membuat pembacanya menemukan Mentari Senja sebagai salah satu rujukan penulis yang karyanya bisa dibeli.
Raina sudah bergegas untuk merapihkan pakaiannya. Raina juga memastikan bahwa tidak ada orang banyak di luar toilet ini. Raina terlalu malu dan tidak ingin ditatap dengan sorot mata yang menajam ke arahnya. Raina tidak ingin dicurgai oleh siapapun. Dengan memastikan semua baju yang sudah ia rapihkan, Raina tidak ingin dirinya ditanya atau bahkan dicuragai telah melakukan apapun. Sebelum melangkah ke luar toilet, Raina juga memastikan bahwa dirinya sudah mengirimkan foto tadi, berharap kali ini saja, Raina mampu menuruti perkataan Rafli dengan baik. Raina yang melangkah keluar dari toilet sudah cukup membuktikan bahwa ia telah selesai menjalankan tugas.
Sepanjang jalan menuju kursi kerja Raina, Raina merasa bahwa semua orang menatap dirinya. Raina hanya bersaha percaya diri. Raina melangkah seiringan dengan rasa cemas. Belum pernah Raina rasakan berjalan dengan rasa yang berat, diiringi dengan perasaannya bahwa seluruh orang yang berada di lantai ini, sudah melihat dan sedang mengidentifikasi penampilan dari Raina. Raian merasa seperti sedang diintimidasi dengan tatapan mereka. Padahal tidak ada satupun orang yang melihat kearah Raina saat ini.
Saat Raina baru duduk di kursinya lagi. Raina mendapat balasan dari Rafli. Pesan Rafli hanya singkat, Rafli bilang bahwa Raina terlalu takut hingga menghapus semua foto yang diminta. Raina yang membaca pesan itu, merasa kebingungan dan merasa bahwa dirinya tidak seperti itu, meski kenyataannya Raina memang menghapus foto itu, tapi itu juga bukan karena Raina yang takut. Itu semua, karena Raina yang memang tidak ingin lagi melihat dan mengingat apa yang telah ia lakukan di kamar mandi tadi.
Raina masih terdiam, memikirkan balasan yang tepat yang bisa gunakan untuk kembali membuktikan bahwa Rafli itu berasumsi yang salah pada Raina. Bukan makud Raina untuk tidak melaksanakan apa yang Rafli minta. Raina hanya tidak ingin mengingat hal yang kini melekat pada ingatannya itu.
Rafli kembali mengirimkan Raina sebuah pesan. Dalam pesan yang dikirimkan oleh Rafli, ia bilang bahwa, Rafli tahu bahwa Raina memang sengaja melakukan hal yang bisa memancing emosi Rafli. Raina memang ingin mendapat perhatian lebih dari Rafli, terutama dengan hal ini. Rafli tidak kecewa dengan Raina, Rafli hanya ingin Raina bilang juga tentang hal yang Raina inginkan dari Rafli.
“Udah lah, Nay. tanpa aku suruh pun, kamu juga mau kan.” penggalan dari pesan Rafli.
Raina yang membaca pesan itu, langsung menutup kedua matanya, berharap ia tidak bisa lagi melihat apa yang sekarang ada di dalam pikirannya. Tapi, melupakan saut hal memang buakn perkara yang mudah. Bahkan melupakan, bukan hal yang mudah untuk diterapkan. Raina masih memikirka balasan yang tepat untuk Rafli.
Raina sama sekali tidak memiliki keinginan untuk melakukan hal sejenis ini. Raina hanya ingin hidup tenang dan damai, seperti kehidupannya yang lalu, termasuk dengan keberadaan Rafli di dalamnya. Tapi, Raina juga terlalu memikirkan ucapan Rafli bahwa, Rafli bisa dengan mudah akan mengganti posisi Mentari Senja. Raina tentu saja harus mempertimbangkan ini semua, Mentari Senja tidak mudah untuk sampai di posisi ini meskipun dibantu oleh Rafli, karya Mentari Senja juga bisa menjadi tabungan untuk masa depan ketika Mentari Senja butuh publisitas dan ingin lebih terkenal.