Hentakkan kaki saat sedang diselimuti amarah pun terasa sangat jelas, msmbuat semua orang yang kini menatapnya aneh bukan kepalang. Rafli menarik gagang pintu secara kasar, "Bae bae lu. Rusak potong gaji." Tegas Dimas. Orang yang berada dalam satu tim dengan Rafli, "Napa tu muka? Lecek banget. Gak ada setrum buat setrika lu, coy?" Kali ini gantian Braga. Orang yang berada dalam satu tim dengannya juga. "Diem deh lu semua. Gue lagi kacau. Pengen berantem sama orang." Serunya kesal. Rafli duduk di meja kerjanya dengan gusar, tangannya terus menekan nomor Raina mencoba menghubunginya. Tapi, tak kunjung ada suaranya terdengar. Hanya dering saja. Itu semua semakin memuncakkan emosi Rafli. Tangannya melempar ponsel dengan kasar, membuat Braga sadar jika temannya sedang dalam mode orang gila.
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


