#CH-Menolak Lupa

2084 Kata
Raina masih tidak menyangka bahwa dirinya akan melakukan hal yang paling gila. Rafli memang tidak memaksanya, tapi semua kalimat yang Rafli ucapkan betul-betul berhasil membuat Raina merasa bersalah dan ingin membayar kesalahannya. Tidak ada yang bisa membuat Raina merasa tenang dengan tidak melakukan hal itu. Raina sendiri pun masih bingung, bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi, bingung dengan apa yang bisa ia lakukan selain ia harus menuruti perkataan dan permintaan Rafli. Raina mengakui bahwa Rafli memang tidak pernah minta yang macam-macam, atau apapun. Rafli tidak pernah, sama sekali tidak pernah meminta Raina melakukan apapun. Di mata Raina, Rafli memang sosok yang sangat menerima dirinya. Raina yang justru bersyukur sekali diberikan Rafli sebagai orang yang menyemangati dirinya, orang yang akan mendukung Raina untuk apapun yang Raina lakukan. Dengan permintaan Rafli yang kemarin, meskipun Raina sempat bingung dan sempat merasa keberatan, tapi, apa yang dikatakan oleh Rafli memang benar. Rafli tidak membohongi Raina. Raina tahu bahwa ia memang seharusnya lebih menghargai Rafli kemarin, maka tidak heran kalau Rafli merasakan hal yang tidak mengenakkan atas perlakuan dari Raina. Raina merasa bersalah sekali dengan Rafli. Raina merasa bahwa dirinya yang terlalu banyak meminta, terlalu banyak menuntut, terlalu banyak hal yang membuat dirinya terlena bahwa Rafli menyayanginya dan akan menuruti semua permintaannya. Raina merasa di atas angin. Raina tidak pernah tahu harus berbuat apa yang seharusnya dan harus bagaimana semestinya. Yang Raina tahu, Rafli sangat tulus kepadanya, Raina juga berpikir hanya Rafli, satu-satunya lelaki yang menerima Raina tanpa tuntutan sebaliknya. Raina bahkan tidak ingin pergi dari Rafli, takut bahwa ia tidak bisa menemukan yang lebih baik dari Rafi. Raina takut kalau ia pergi dari Rafli, ia tidak akan bisa dimengerti oleh orang lain, tidak ada yang mampu menerima Raina, sebaik yang Rafli lakukan. Raina butuh waktu lebih banyak untuk berpikir, untuk seseorang yang punya banyak pertimbangan seperti dirinya, mungkin akan jauh lebih baik kalau ia diberikan kelonggaran waktu atas semua hal. Tapi, Rafli terus saja mengirimkan pesan, dan Raina yang membaca pesan itu, pasti akan langsung merasa bersalah dan merasa bahwa dirinya memang harus melakukan hal yang Rafli minta. “Aku nggak pernah minta yang macem-macem kan, Nay. Baru kali ini aku minta, itu pun permintaan aku juga nggak berat. Permintaan aku nggak akan mengancam kamu, karir kamu, atau bahkan uang kamu. Aku selalu nurutin permintaan kamu, Nay. Aku nggak pernah nolak apapun hal yang kamu minta dari aku. Aku bahkan juga tahu, kalau permintaan itu aneh-aneh, aku tetap melakukan sebisa aku dan semampu aku. Kamu harusnya bersyukur ketemu aku, Nay. Aku harap kamu bisa ngerti setelah kamu baca chat aku ini.” Kata Rafli. Raina yang membaca pesan itu semakin bingung. Raina tidak tahu harus berbuat apa yang seharusnya. Belum pernah ada rasa bingung yang melanda dirinya sehebat ini. Raina tidak sempat berpikir bahwa ini adalah suatu kesalahan. Tidak ada batas antara salah dan benar, yang tepat ketika Raina berhadapan dengan Rafli, kekasih tercintanya. Raina tidak tahu harus berbuat apa. Perasaan takut, merasa bersalah, dan ingin melarikan diri, justru sekarang itu juga hinggap di diri Raina. “Aku tunggu, 30 menit, lagi. Aku harap kamu bisa ngerti. Mentari Senja ada di tangan kamu, Nay.” Kata Rafli, lagi. Pesan masuk yang dikirimkan Rafli, kembali membuat Raina merasa bersalah, Raina takut kalau ia tidak melakukan yang Rafli minta. Rafli akan langsung membuang Mentari Senja. Kalau Rafli memang benar akan melakukan itu, Raina pasti akan kehilangan semua yang ia punya. Raina tidak mungkin bisa menerima itu. Raina tidak ingin menuruti begitu saja permintaan Rafli. Tapi, dengan semua pesan yang dikirimkan oleh Rafli, membuat Raina berpikir dua kali untuk menolaknya.Raina juga tidak ingin lagi seakan akan dirinya tidak menghargai Rafli. Raina merasa bahwa ia tidak punya kuasa atas dirinya. Raina tidak punya alasan yang kuat. Raina tidak mengenal Rafli dalam waktu satu atau dua hari saja. Raina sudah mengenal Rafli bertahun-tahun, ditambah lagi dengan hubungan yang telah mereka jalani selama ini. Raina tahu bahwa Rafli memang orang yang bisa dipercaya dengan omongannya. Sudah terbukti juga dengan Mentari Senja yang bisa menempati posisi yang Raina inginkan, meskipun itu butuh waktu yang lebih lama. Raina percaya sepenuhnya kepada Rafli. Termasuk dengan percaya bahwa Rafli tidak akan menyebar info dan menyebar apapun tentang Raina kepada orang lain. Raina tahu bahwa pasangannya ini pasti juga tidak akan rela untuk menyebar. Raina memegang kepalanya dengan kedua tangannya, pusing memikirkan tentang ini. Keinginan Raina untuk menolak permintaan Rafli pun sudah terkikis sedikit demi sedikit. Raina sadar bahwa nasib Mentari Senja sudah ada di tangannya. Tidak lucu kalau Raina dan Mentari akan kehilangan nominal jumlah uang yang cukup besar, hanya karena Raina mempertahankan dirinya sendiri. Raina juga tahu bahwa ini adalah resikonya yang membuat Mentari Senja bisa ada di tangannya. Bukan hanya Mentari Senja, tapi nasib Mentari dan juga anaknya, ada di tangan Raina. Raina sampai tidak bisa membayangkan kalau anak Mentari bisa terancam masa depannya karena Raina. Raina tidak bisa lagi konsentrasi dengan pekerjaan yang sudah ada di depan matanya. Pikiran Raina sudah melayang dan sudah mendarat di dunia lain, bukan tentang pekerjaannya. Raina memikirkan nasibnya, jumlah uang dengan nominal besar yang bisa hilang dari tangannya, kehidupannya yang akan kembali dilanda guncangan, nama penulis Mentari yang akan kehilangan reputasi, nasib kehidupan anak Mentari yang bisa saja tidak akan bisa terjamin lagi. Mentari Senja dan seluruh orang yang terlibat dan terhubung dengan karya ini, ditentukan nasibnya oleh Raina. Raina masih memikirkan ulang, nominal uang yang sangat besar itu, tidak bisa didapatkan dari pekerjaannya sebagai b***k korporat ini. Dengan uang itu, Raina bisa lebih longgar terhadap jam kerjanya. Raina butuh konsentrasi lebih, perencanaanya tentang keuangannya ini sangat tidak bisa ditolerir, dan tidak boleh untuk meleset juga. Raina terdiam lama, sampai satu buah notifikasi hp-nya, menyadarkannya kembali. “Besok, Mentari Senja, sudah siap di take down ya, Nay. Thanks, kamu sudah mempertahankan ego kamu.” Kata Rafli. Raina yang membacanya, merasa gemetar seketika. Pesan dari Rafli itu, seketika saja membuat Raina semakin merasa gemetar. Mentari Senja ada di tangannya. Raina harus punya keputusan untuk menghentikan ini semua, tidak mungkin Raina mengorbankan nominal uang yang dimilikinya. Raina tidak akan pernah bisa merelakan itu. Termasuk dengan nama Mentari Senja yang akan berpengaruh di keputusan Raina saat ini. Raina menyandarkan dirinya di punggung kursinya, mencoba berpikir jernih dengan pilihan yang ada di depan matanya. Raina mencoba menerawang dengan apa yang terjadi selanjutnya. Raina tidak akan pernah bisa dan tidak akan pernah mampu untuk mengulang kejadian apapun nanti. Raina ingin mengambil langkah yang paling aman untuk dirinya dan juga untuk Mentari Senja. Raina ingin bernegosiasi dengan Rafli. Hp Raina kembali berbunyi, ada pesan masuk yang ditujukan untuk dirinya, lagi. Raina melirik ke arah hp-nya, bukan pesan masuk dari Rafli. Raina masih punya waktu untuk berpikir tentang langkah yang bisa diambil selanjutnya, untuk menentukan nasib Mentari Senja. Belum pernah ada pikiran yang membuat Raina pusing seperti ini, terlebih lagi, Raina harus memikirkan orang lain yang terlibat dengan orang lain. Raina juga semakin bingung dengan langkah yang bisa ia ambil. Raina masih harus kembali bergelut dengan pekerjaannya. Beberapa kali rekan kerjanya bertanya dengan Raina, dan Raina hanya menjawab semampunya dan dengan seperlunya. Raina tidak ingin terlalu terfokus pada pekerjaannya, Raina tahu bahwa ia juga tidak bisa fokus dengan pekerjaan yang bahkan ada di depan matanya, pikirannya masih tersita sepenuhnya oleh pikiran Mentari Senja. Tenggg-- Bunyi Notifikasi itu terdengar oleh Raina dan langsung menyita perhatian Raina. “Thanks ya, Nay.” Kata Rafli. Satu kalimat yang dikirimkan oleh Rafli itu, berhasil membuat badan Raina berkeringat. Raina takut. Raina tidak ingin lagi untuk membuat Rafli merasa marah. Aneh rasanya, kemarin, Rafli mengirimkan pesan panjang kepada Raina, Raina tidak merasakan apapun. Raina bahkan hanya bersikap sewajarnya, ya meskipun dengan rasa takut yang sedikit ada di dalam pikirannya. Tapi, Raina tetap merasa punya kuasa untuk menolak itu. Sekarang, saat Rafli yang hanya mengirimkan satu kalimat, dan tanpa kalimat lain, membuat Raina merasa sangat ketakutan. Raina merasa bahwa Rafli sudah betul-betul kecewa dengan apa yang Raina lakukan. Jantung Raina sudah berdebar-debar. Yang Raina tahu selama ini, Rafli memang tidak pernah mengirimkan pesan hanya dengan kalimat singkat seperti itu, Rafli pasti akan mengirimkan Raina pesan yang lebih dari satu kalimat, atau bahkan dengan pesan yang sangat panjang. Raina merasa bahwa tingkat kekesalan Rafli ini sudah sangat meningkat. Tidak perlu lagi dijelaskan bagaimana tepatnya perasaan Raina saat ini. Yang jelas, Raina sangat merasa bahwa dirinya panik, dan takut harus berbuat apapun. Raina takut salah. Raina takut bahwa dirinya akan melakukan kesalahan yang lebih parah dari yang sekarang ia lakukan. Raina panik. Masa depan Mentari Senja, Mentari, anak Mentari, dan bahkan kehidupan Raina yang selanjutnya, ada di tangannya dan ditentukan dalam beberapa menit ke depan. Keputusan yang Raina ambil memang tidak mudah. Tapi, keputusan itu harus keluar dari kepalanya. Raina merasa bahwa dirinya harus melakukan apapun yang Rafli inginkan. Tidak mungkin untuk Raina menolak lagi. Raina langsung bergegas ke kamar mandi dan langsung menjalankan apapun yang Rafli minta. Raina tidak peduli dengan apapun yang ada dipikirannya saat ini, pikiran tentang rasa takutnya, pikiran tentang rasa gelisahnya, pikiran lain yang sedari tadi memenuhi pikirannya. Sekarang, Raina hanya tertuju pada satu hal. Raina ingin ke tempat aman sehingga ia bisa leluasa tanpa takut ketahuan oleh rekan kerjanya. Raina harus melakukan apa yang Rafli inginkan. Jalan Raina yang tergesa-gesa menuju kamar mandi. Berhasil menarik perhatian dari rekan kerjanya yang dekat dengan lorong menuju kamar mandi. Langkah Raina terlalu terburu-buru hingga menimbulkan suara yang cukup mengganggu telinga. Bahkan, ia juga berhasil membuat orang-orang yang ada di sudut ruangan, menoleh ke arahnya. Raina tidak tahu dengan respon orang-orang. Raina hanya ingin bahwa dirinya bisa secepatnya sampai di kamar mandi dan melakukan apa yang Rafli minta dengan waktu yang secepat dan sesingkat mungkin. Tidak butuh waktu lama bagi Raina untuk sampai di kamar mandi. Tidak ada antrian di depan kamar mandi hingga Raina harus menunggu lebih lama. Raina bisa langsung masuk ke dalam bilik dan melakukan hal yang Rafli minta. Ternyata, tidak semudah yang Raina bayangkan. Raina masih harus memilih dan memilah mana yang seharusnya ia kirim dan mana yang tidak. Raina juga tidak ingin untuk mengirimkan foto yang terlalu banyak. Tidak perlu ditanyakan betapa Raina merasa aneh dengan dirinya, Raina bisa dengan semudah ini mengirimkan hal yang seharusnya tidak diketahui oleh orang lain, termasuk Rafli. Raina juga seharusnya tidak perlu menjalankan ini. Tapi, dengan satu kalimat yang Rafli kirimkan kepadanya, dan hanya ucapan terima kasih. Raina jadi kalang kabut, Raina merasa bahwa dirinya sudah terlalu jahat pada Rafli. Raina hanya ingin melakukan apapun yang Rafli minta agar Rafli menggagalkan semuanya. Raina sudah mengirimkan foto yang Rafli minta, meski butuh waktu yang sedikit lebih lama dari normalnya orang di kamar mandi, Raina berharap bahwa perbuatannya ini tidak diketahui oleh rekan kerjanya. Raina tidak tahu harus berkata apa lagi, Raina merasa bahwa dunia sudah berubah, Raina merasa bahwa dirinya sudah tidak punya privasi lagi. Raina berjalan keluar dari bilik kamar mandi. Raina melihat beberapa orang yang sedang bercermin, meskipun bukan teman satu divisinya, tapi Raina merasa kenal dan merasa bahwa ia harus menegurnya. Raina hanya menundukkan kepala, tanda bahwa ia menghormati terlebih dahulu. Aneh, dulu, Raina bisa saja langsung menyalami orang itu dan berkenalan. Tapi, sekarang, dan saat ini, Raina merasa bahwa dirinya sudah tidak sanggup dan tidak perlu lagi. Semangat dalam diri Raina sudah hilang. Raina hanya ingin beristirahat atau kalau perlu, ia ingin menghilang saja. Raina tidak bisa lagi berkata apapun. Seperti semangat dalam dirinya yang telah berkurang atau seperti sudah diambil sepenuhnya oleh Rafli. Tidak ada kalimat yang tepat yang mampu mendefinisikan perasaan Raina saat ini. Raina hanya tahu bahwa dirinya sudah kehilangan apa yang seharusnya masih bisa dirahasiakan kepada orang lain. Jam kerja memang masih lama. Tapi, Raina yang sudah bersandar rapi di kursi kantornya, hanya menatap datar jam dinding yang berada di tempatnya. Raina tidak ingin lagi bersentuhan dengan pekerjaannya, tidak siap. Raina merasa bahwa dirinya sangat tidak siap untuk kembali ke dunia nyata. Raina berharap bahwa ia hanya bermimpi karena sudah melakukan hal yang sangat gila dan sangat ekstrem. Raina tidak ingin melihat ke arah hp-nya, merasa takut untuk melihat jawaban dari Rafli. Raina juga takut melihat dengan apa yang telah ia kirimkan kepada Rafli. Raina tidak tahu ia sudah diberi hasutan oleh siapa, Raina juga tidak sadar dengan apa yang ia lakukan saat ini. Raina ingin lupa ingatan, terlebih lagi dengan ingatan yang ia lakukan beberapa menit yang lalu. Raina ingin melupakan semua itu. Tidak perlu mendapat balasan dari Rafli, Raina sudah merasa cukup. Raina sudah merasa cukup dengan apa yang ia lakukan saat ini. Raina meletakkan kedua telapak tangannya di depan wajah, menutup wajahnya sepenuhnya, berharap ia bisa lupa dengan apa yang terjadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN