#CH-Mengalah

2144 Kata
Masalah mengenai Mentari Senja, sudah Rafli tangani dengan baik. Rafli berhasil untuk bernegosiasi dengan atasannya. Atasannya hanya meminta Rafli untuk melengkapi data-data meskipun data yang digunakan bukan data yang asli. Tidak ada jalan lain. Rafli harus menuruti permintaan itu, agar Mentari Senja tetap aman dan tidak terkena masalah apapun di masa depan. Rafli tidak ingin Mentari Senja, sekaligus Raina yang terlibat di dalamnya terkena masalah, Rafli tahu bahwa dirinya memang tidak terlalu serius mengerjakan project ini. Tapi, Rafli tahu bahwa dirinya hanya terus berusaha untuk membuktikan pada Raina. Rafli memang masih terkejut atas perkataan Raina yang mengajaknya balikan. Rafli tidak menyangka bahwa Raina akan punya keberanian yang sehebat itu. Rafli bahagia, sangat bahagia dengan semua hal yang Raina katakan. Tidak perlu Raina katakan pun, Rafli juga mengerti, tapi, semua terasa beda saat Rafli mendengar Raina berkata jujur tentang apa yang dikatakannya. Dengan begitu, Rafli tahu bahwa ia tidak sendirian berada dalam hubungan ini. Rafli tahu, bahwa Raina memang merasakan hal yang sama. Rafli memang tidak tahu apa isi hati Raina sepenuhnya, biarlah isi hati Raina menjadi urusan Raina sendiri. Rafli akan bertindak dan berjuang untuk hubungan ini semampunya dan sesuai keinginannya. Rafli juga masih tidak mau hubungan ini berakhir. Meskipun godaan untuk mengakhirinya ada di depan mata, tapi Rafli masih tidak ingin berpaling dari Raina. Rafli bisa saja melirik dan berpaling dari Raina, hal itu juga sangat mudah bagi Rafli. Rafli merasa bahwa dirinya mampu, bisa, dan punya kemampuan untuk tidak bersama Raina lagi, tapi Rafli masih bertahan meskipun Raina suka bertindak dengan semaunya. Rafli masih mewajarkan itu, bagi Rafli, sayang itu artinya ia bisa mengerti Raina. Mengerti Raina bahwa Raina memang seperti itu, kelakuannya, sifatnya, bahkan sifat-sifat yang jeleknya, Rafli sudah mengerti. Memang butuh waktu untuk memahami Raina, tapi menurut Rafli, 2 kali berpisah dengan Raina, setidaknya ia tahu bahwa dirinya memang masih ingin bersama dengan Raina, meskipun Raina suka seenaknya dan tidak memperhatikan Rafli. Rafli tetap menerima Raina. Rafli tidak pernah menuntut apapun dari Raina. Tidak pernah. Rafli bukan cuma mengerti dengan keadaan Raina. Rafli menerima sepenuhnya. Menerima Raina dengan semua ketidaksempurnaanya. Raina dan semua keegoisannya, Raina dan semua keras kepalanya, Raina dan semua tingkah menyebalkannya. Rafli masih menerima itu semua. Rafli tahu bahwa Raina memang layak dan memang seharusnya ia terima, tanpa alasan khusus apapun. Rafli sadar bahwa Raina memang orang yang ia cari. Rafli sadar bahwa Raina adalah perempuan yang tidak pernah mengomentari Rafli tentang kepribadiannya. Rafli tahu bahwa Raina memang menerimanya, Rafli sadar bahwa Raina adalah perempuan yang mencintainya dengan tulus. Tidak peduli dengan sifat Raina yang sering orang bilang dengan boros, tidak menghargai orang lain, atau sebagainya. Karena yang Rafli tahu, Raina dihadapan Rafli, menghargai dan menyayangi Rafli, menerima Rafli dengan seluruh ketidaksempurnaan Rafli, mengerti Rafli dan seluruh kehidupan Rafli. Rafi juga tahu bahwa ia tidak bisa berpaling dari Raina. Tentang Mentari Senja, memang itu masih menjadi persoalan untuk Rafli. Raina yang pernah kelewatan menanyakannya kepada Rafli, memang membuat Rafli sedikit kesal dan merasa dimanfaatkan. Tapi, itupun Rafli hanya kesal sesaat kepada Raina. Mau bagaimanapun kesalnya, Rafli tahu bahwa ia tetap akan memaafkan Raina, tidak peduli Raina melakukan apapun, Raina hanya berbuat kesalahan yang masih bisa ditegur dan akan diperbaiki oleh Raina. Setelah itu, Raina pasti akan memperbaikinya. Rafli yakin itu. Rafli tidak ingin membebani atau menuntut apapun dari Raina, sampai kemarin. Rafli tidak tahu apa yang merasuki pikirannya hingga ia meminta hal yang tidak biasa. Rafli tidak terpancing atau dipengaruhi oleh siapapun. Tapi, yang Rafli rasakan adalah ia yang sangat ingin untuk melihat bagian lain dari Raina. Rasa penasaran yang dimiliki Rafli, jauh lebih besar dengan apapun yang ada didepannya. Selain itu, Rafli tahu, dengan hal itu, Raina pasti tidak akan bisa jauh dari dirinya lagi. Rafli tahu itu. Rafli bukan mencurangi Raina atau apapun itu. Rafli hanya mencari jalan tengah dari semua peristiwa yang terjadi di antara dirinya dan Raina. Memangnya, di dunia ini, ada orang yang ingin begitu saja kehilangan orang yang disayanginya? Rafli tidak ingin itu terjadi pada dirinya untuk yang kesekian kalinya. Cukup 2 kali saja, ia kehilangan Raina dan merasakan sangat tersiksa menghadapi kondisi itu. Rafli tidak ingin lagi dirinya yang menengguk minuman alkohol hanya untuk berusaha melupakan Raina. Rafli terlalu pengecut untuk mengakui bahwa dirinya sangat mencintai Raina dan tidak ingin kehilangan Raina, tapi yang Rafli lakukan adalah sebaliknya. Rafli memaksa dirinya melupakan Raina dengan bantuan minuman-minuman itu, seolah minuman itu mampu menyelesaikan dan mampu membuat Rafli dalam sekejap saja, berhasil melupakan Raina. Rafli tidak punya kekuatan untuk mengakui itu. Rafli terlalu payah, terlalu menghindar dari kenyataan yang terjadi di depan matanya. Dari kejadian itu, Rafli tahu bahwa dirinya tidak ingin kehilangan Raina lagi. Menemukan cara terbaik agar Raina tidak kembali menghilang adalah usaha yang bisa ia lakukan. Rafli tidak tahu pasti apakah cara ini adalah cara terbaik atau tidak. Yang saat ini Rafli tahu, ini adalah cara dan jalan yang bisa Rafli lakukan untuk membuat Raina tetap ada di sisinya. Rafli masih harus tetap membujuk dan menggunakan segala cara agar Raina bisa mengikuti rencananya ini. Rafli belum menghubungi Raina lagi terkait dengan permintaanya. Rafli tidak ingin menjalankan rencananya dengan terburu-buru dan tanpa persiapan yang jelas. Rafli mau menjalankan rencana ini dengan sebaik-baiknya dan dengan langkah yang perlahan tapi pasti. Yang harus menjadi perhatian adalah Raina yang akan melakukan hal ini dengan sepenuh hati. Dan untuk mencapai hal itu, Rafli lah yang harus menggunakan seribu cara agar bisa tercapai. Rafli baru mengirimkan info kepada Raina tentang Mentari Senja. Menurut Rafli, info itu memang dikirim, agar Raina bisa punya waktu dan bisa punya pemikiran bahwa ia harus melakukan sesuatu kepada Rafli, atau sebagai balas budi. Itu harapan Rafli. Rafli tidak tahu pasti Raina akan berpikiran ke sana atau tidak. Yang pasti, Rafli menggunakan informasi itu sebagai pancingan untuk Raina, agar Raina bisa melakukan apa yang Rafli minta. Rafli tahu pasti butuh pertimbangan yang banyak bagi Raina untuk membagikan foto yang Rafli minta. Tapi, Rafli ingin sekali saja Raina menurunkan egonya bagi Rafli. Rafli ingin menguji Raina saja. Menurut Rafli juga, Raina adalah pacarnya, kekasihnya yang sudah seharusnya melakukan sesuatu untuk membuat Rafli senang, agar hubungan ini bisa terus berjalan. Rafli merasa tidak melakukan kesalahan apapun. Rafli merasa bahwa ia memang wajar saja meminta Raina melakukan hal semacam ini. Ini bukan hal yang sulit dan bukan hal yang berbahaya, ini hanya hal yang menurut Rafli sangat sederhana, Rafli juga tidak akan menyebar tentang info ini, Rafli hanya mengonsumsi ini untuk dirinya sendiri, tidak ingin berbagi dengan orang lain. Kalau Raina merasa permintaan Rafli membahayakan dirinya, seharusnya Raina berkaca pada permintaannya kepada Rafli kemarin. Hal itu, lebih membahayakan bagi Rafli dan karirnya. Rafli bisa saja dihukum, dipecat, atau bahkan yang lebih parah adalah Rafli akan di blacklist, dan tidak diperbolehkan lagi untuk melamar kerja di industri yang sama. Raina pasti tidak memikirkan sampai ke sana. Rafli juga tidak ingin membuat Raina berpikiran ke arah sana, tapi Rafli ingin Raina juga sadar dengan apa yang ia lakukan kepada Rafli kemarin. Rafli belum ingin membicarkan ini lebih lanjut. Biarkan Raina yang mungkin akan memulai pembicaraan ini, atau nanti, kalau Rafli sudah tidak ingin lagi menahan diri, Rafli akan meminta Raina untuk secepatnya melakukan hal yang ia minta. Sampai detik ini, Rafli masih bisa menahan diri, tidak tahu kelanjutan untuk detik berikutnya. Rafli masih bergelut dengan kerjaannya, kekeliruan yang ia lakukan tadi harus ia tebus dengan kerja yang lebih maksimal. Rafli menamakannya dengan sistem plus and minus. Plus adalah dirinya yang melakukan kerja maksimal untuk menutupi semua pekerjaannya yang bisa dibilang minus atau ketika ia melakukan kesalahan. Ya, setidaknya, sistem kerja Rafli itu, sudah ia terapkan dan terbukti mampu membuatnya aman di kantor. Rafli memang masih berusaha untuk menyelesaikan pekerjaannya, tapi pikirannya tidak berhenti untuk memikirkan Raina. Rafli sudah tidak ingin untuk menahan dirinya. Rafli ingin berbicara dan membujuk Raina untuk melakukan hal yang Rafli minta. Rafli tahu bahwa dirinya saat ini terlihat seperti orang yang tergesa-gesa, tapi ini adalah jalan terbaik yang bisa lakukan untuk membuat Raina melakukan hal yang ia minta. Rafli mengambil hp-nya, mempertimbangkan untuk langsung menelpon Raina, atau hanya mengirimkan pesan saja. Tapi, sepertinya, menelpon Raina dengan keadaan kantornya yang cukup sepi ini, akan membuat Rafli bisa dicurigai atau bahkan telepon Rafli bisa saja didengar oleh teman kantor yang lain. Rafli memutuskan untuk mengirimkan teks kepada Raina. Raina juga pasti akan punya waktu untuk berpikir yang lebih lama dibanding harus menjawab dengan begitu cepat, yang ada, Raina akan memarahi Rafli saat itu juga. “Nay, mana yang aku minta?” Tanya Rafli. Rafli tidak mengirimkan pesan dengan basa-basi atau dengan pendahuluan. Rafli hanya ingin langsung mendapat jawaban atas pertanyaannya. Tidak butuh waktu yang begitu lama untuk Rafli mendapat balasan dari Raina. Mungkin ini adalah waktu istirahat Raina, atau kebetulan saja Raina sedang membuka hp-nya, di saat yang bersamaan dengan Rafli yang mengirim pesan kepadanya. “Kamu gila, ya. Aku nggak mungkin lah. Kamu sadar diri dong.” Balas Raina. Rafli yang melihat pesan balasan dari Raina, seketika merasa takut. Rafli mempertanyakan dengan maksud dari kalimat ‘sadar diri’ yang disebut oleh Raina. Rafli ingin membahas tentang arti kalimat itu. Tapi rasanya, membahas kalimat itu, sama saja Rafli membuang waktu berharga yang ia punya. Rafli memilih untuk mengabaikan saja tentang kalimat yang ingin ia tanyakan itu. Rafli langsung beralih menuju senjata utamanya. “Nay, aku udah berusaha untuk naikin Mentari Senja. Aku udah dipanggil berkali-kali sama atasan aku karena Mentari Senja. Aku harus malsuin semua data, demi Mentari Senja bisa naik dan ada di posisi yang kamu mau itu. Aku rela ngebahayain diri aku sendiri, Nay. Ibaratnya nih, Nay. Aku kaya rela kamu suruh berdiri di pinggir jurang. Aku bisa ngelakuin itu, dan aku lakuin itu. Kamu juga udah bisa liat kan hasilnya kaya gimana. Aku nggak pernah minta apapun dari kamu, Nay. Aku nggak pernah sama sekali. Aku selalu nurutin kamu, apapun yang kamu minta, apapun yang kamu mau, pasti aku cariin, aku lakuin. Waktu kamu minta Mentari Senja buat naik di posisi best seller, juga aku lakuin kan, Nay. Aku berusaha semampu aku, sebisa aku, buat mewujudkan apapun yang kamu mau. Aku selalu berusaha, Nay. Tapi ini balesannya, Nay?” Rafli mengirimkan pesan itu. Pesan yang bisa menyuarakan isi hatinya dengan tujuan untuk menyadarkan Raina, bahwa Raina memang harus melakukan hal yang Rafli minta. “Nggak, Raf. Aku nggak bisa.” Jawab Raina, singkat. Rafli tidak kehilangan akalnya. Rafli menggunakan cara terbaik agar ia tetap mendapatkan apa yang ia mau. “Oke, kalau kamu nggak mau. Hari ini, tim aku dan tim terkait dengan data penjualan, akan meeting. Kamu bisa terima hasilnya. Mentari Senja mungkin besok udah nggak ada di rak best seller. Nominal uang yang waktu itu kamu lihat dan kamu rencanain itu, nggak akan terjadi. Oke, Nay.” Balas Rafli. Rafli menghela nafasnya, berharap Raina akan mengalah dan berusaha untuk memberikan apa yang Rafli minta. Rafli sudah mengeluarkan cara terbaiknya, membahas tentang angka di hadapan Raina memang yang termudah, dan cara termudah yang bisa Rafli lakukan. Raina pasti akan berpikir dua kali atau bahkan puluhan kali untuk menolak Rafli. Rafli mencoba menduga tentang Raina, Raina mungkin akan mengalahkan egonya demi nominal uang yang akan ia dapatkan nanti. Rafli hanya bisa berharap. “Kok bisa secepat itu?” Tanya Raina. “Apapun bisa, Nay. Aku udah berusaha untuk mertahanin Mentari Senja kemarin, tapi angka penjualan buku kamu itu, nggak naik dengan signifikan, itu yang bikin kita ragu, Nay. Disitu peran aku yang sangat penting. Aku harus meyakinkan mereka, bahwa Mentari Senja itu sangat layak untuk naik ke posisi itu. Aku udah berjuang banyak, Nay. Aku berjuang bukan cuma buat kamu aja. Tapi, buat penulis kamu itu juga, dan anaknya. Aku berjuang banyak, Nay. Nggak sebanding dan nggak ada apa-apanya dibanding aku minta ke kamu kan, Nay.” Jawab Rafli. “Aku butuh secepatnya, atau Mentari Senja nggak akan kamu lihat lagi di toko buku. Akan aku tarik sekalian semuanya.” Rafli mengirimkan pesan tambahan. Raina yang membaca pesan itu, sangat ketakutan. Raina lebih takut kehilangan nominal uang yang seharusnya bisa menjad miliknya. Raina juga tidak akan kehilangan apa-apa. Raina tahu bahwa Rafli, kekasihnya itu, akan merahasiakan segala hal yang terjadi pada dirinya. Rafli pasti akan menyimpannya untuk dirinya sendiri. Raina tahu bahwa ia akan aman dari orang-orang, dan pasti tidak akan ada yang tahu bahwa Raina akan melakukan apa yang diminta oleh Rafli. Raina mencoba untuk berpikir dengan sehat, sekali lagi. Raina memang tidak begitu yakin melakukan ini. Ini adalah pertama kalinya Raina melakukan hal yang sangat amat konyol. Raina merasa aneh sendiri. Tidak pernah terpikirkan dan tidak pernah terbayangkan dalam hidup Raina. Bahwa ia akan melakukan hal yang bahkan sangat menjijikan bagi dirinya. Raina tidak bisa berpikir lebih lama. Rafli sudah mengirimkan chat lagi untuk dirinya. Raina tahu bahwa Rafi mungkin juga sudah emosi terhadap dirinya. Raina tidak ingin kehilangan apapun yang sudah jadi miliknya dan akan jadi miliknya, apalagi hal itu adalah uang. Raina tahu, mungkin ini saatnya untuk mengalah dan menurunkan egonya, demi Rafli dan demi Mentari Senja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN