#CH-Bimbang

2039 Kata
Rafli yang mendengar kata-kata Raina, tersenyum di seberang sana. Rafli tahu bahwa Raina akan menolak permintaannya. Inilah kesempatan yang akan Rafli lakukan. Rafli akan menjalankan kunci utama dari permintaan ini. Rafli sudah menduga semua ini, dan bukan tidak mungkin bagi Rafli untuk tetap melancarkan semua rencananya yang sudah ia susun agar ia bisa mendapatkan yang ia inginkan. Rafli tahu, bahwa ia tidak akan bisa dengan mudahnya membuat Raina percaya dan mau. Rafli hanya bisa mencari cara lain bahwa Raina akan menyetujui ide gilanya ini. Rafli memang tidak bisa hanya dengan merayu Raina. Rafli butuh sesuatu yang membuat Raina lebih mempercayainya dan lebih bisa melaksanakan apa yang Rafli inginkan. Rafli juga harus berusaha lebih keras untuk membuat Raina bisa menurutinya. -------- Raina sangat tidak menyangka, Rafli meminta Raina untuk melakukan hal yang sangat gila. Mungkin, permintaan Rafli itu bukan gila lagi, tapi sangat gila. Sangat, sangat, gila. Raina sangat tidak menyangka. Raina, menginginkan kembali untuk bersama Rafli. Itu karena Rafli adalah sosok laki-laki yang sangat menyayangi Raina. Laki-laki yang Raina percaya, tidak akan pernah berbuat macam-macam, atau menuntut apapun kepada Raina. Kini, Rafli yang Raina kagumi itu, telah berubah. Raina tidak bisa lagi menemukan ketulusan dari Rafli. Raina bahkan menjadi sangat kesal dan sangat benci kepada Rafli, untuk saat ini. Raina sudah mematikan teleponnnya dengan Rafli. Raina tidak ingin memperpanjang pembicaraannya dengan orang seperti Rafli. Raina merasa bahwa dunia tidak berpihak padanya, tidak ada cinta sejati di hidup Raina. Raina yang merasa dan menduga bahwa Rafli adalah laki-laki yang tulus menyanyanginya, kini sudah tidak lagi. Raina masih terdiam di depan cermin yang tergantung rapih di kamarnya. Raina bertanya pada dirinya sendiri, apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Apakah Raina sudah menjadi sosok yang berbeda di mata Rafli, kenapa seakan-akan Raina tidak lagi jadi sosok yang harus dilindungi oleh Rafli. Raina tidak merasa ada yang berbeda dengan dirinya. Sosok Rafli di mata Raina, sudah berubah, sepenuhnya berubah. Raina tidak ingin untuk memilih lagi, Raina tidak ingin lagi merasakan bimbang pada dirinya sendiri. Tapi, sekarang, Rafli adalah orang yang membuat Raina merasakan kegamangan yang luar biasa, lagi. Raina tidak ingin berpisah dengan Rafli, Rafli terlalu berharga untuk ditinggalkan. Perasaan yang Raina punya, sangat tidak mungkin untuk dihilangkan dalam satu hari satu malam, hanya karena permintaan Rafli yang sangat tidak logis itu. Raina tidak ingin kehilangan Rafli. Raina tidak ingin kehilangan Rafli karena permintaan Rafli yang ini, padahal sebelumnya, tidak pernah ada kejadian ini. Raina tidak bisa tenang memikirkan yang terjadi dan akan terjadi. Raina masih ingin terdiam di depan cermin, berdiam diri, dan hanya memandang wajahnya, sampai ada notif yang masuk ke hp-nya, mengganggu proses Raina untuk tanya jawab dengan dirinya sendiri. Raina mengangkat alis, pikirannya kembali dipenuhi dengan berbagai kemungkin dan berbagai persepsi yang terjadi. Rafli mengirimkan Raina chat, tentang kabar terkini novel Mentari Senja. Raina tidak mengerti maksud pesan yang Rafli kirimkan. Bahasa yang tertera dalam kabar itu, terlalu rumit untuk Raina mengerti. Raina memang ghostwriter, tapi ia hanya tahu untuk menulis kepada penulisnya, bukan istilah lain yang tidak ada kaitannya dengan dirinya dan pekerjaannya. Raina mencoba mencari tahu arti satu persatu kalimat yang tertera di sana. Raina mengeluarkan keluh kesahnya, berbicara dengan suara yang keras tentang isi hatinya, berharap seisi kamarnya akan mendengar dan memberi ketenangan untuk dirinya. Raina sudah kesal, ditambah kesal juga dengan informasi yang tidak Raina mengerti. Kekesalan Raina, jadi bertambah setelah ia mengetahui, bahwa kalimat itu, memang susah ia cerna. Raina ingin menangis juga untuk dirinya, juga untuk kebodohannya. Raina masih mencari arti dari istilah yang Rafli kirimkan, sampai satu notifikasi itu kembali terdengar di hp Raina. Raina tahu bahwa pesan itu memang dikirimkan Rafli untuk Raina. Raina langsung bergegas membaca pesan itu. Raina mencoba memahami isi pesan yang ingin Rafli sampaikan, dan ingin Raina mengerti. Selesai membaca pesan itu, Raina tahu bahwa dirinya, kembali diselimuti rasa bersalah, rasa tidak enak hati, dan apapun itu, segala perasaan yang tidak semestinya ada di hatinya. Rafli yang semula mengirimkan informasi tentang Mentari Senja, hanya bisa meneruskan informasi yang ia dapat terlebih dahulu, Mentari Senja terdeteksi melakukan kesalahan dan lain-lain, sehingga dampak terburuknya adalah, pihak penerbit yaitu kantor Rafli, tidak ingin mengambil resiko dengan tetap membiarkan Mentari Senja ada di toko buku. Tapi, untungnya Rafli memberikan data yang sangat valid. Data yang diberikan lengkap dengan kuantitas penjualan buku, banyaknya review orang-orang dan segala macamnya. Rafli memang telah mengatur itu semua agar dirinya bisa menang. Rafli juga memfoto dan mengirimkan kepada Raina tadi mengenai informasi itu, bahwa seluruh biaya yang didapat oleh Mentari Senja, tidak akan Rafli ambil atau Rafli gunakan, Rafli ikhlas membantu Raina, kekasih yang sangat ia cintai. Raina jadi sadar, bahwa perlakuan dan perjuangan Rafli untuk Raina, tidak akan pernah berubah, Rafli tahu itu, dan Raina memang merasakannnya. Raina sadar bahwa hati seseorang akan selalu berucap lebih jujur dari kata-kata Raina merasa bersalah dengan Rafli. Tapi, Raina juga sangat merasa bersalah dan tidak sesuai dengan apa yang Rafli lakukan dan harus dibayar dengan Raina, dengan cara seperti itu. Raina tahu bahwa harga dirinya lebih dari itu. Raina tahu, bahwa seharusnya, Rafli tidak melakukan cara itu, cara yang bodoh, sangat bodoh, dan sangat tidak masuk akal. Raina tahu, Rafli sudah mengenalnya bertahun-tahun dan tidak mungkin dengan serius menuntut Raina untuk melakukan itu. Dalam hatinya, Raina berucap bahwa ia ingin Rafli bercanda, hanya bercanda. Raina tidak lagi memikirkan semua permintaan Rafli. Raina memutuskan untuk melawan Rafli. Raina tahu bahwa dirinya pasti bisa melakukan itu semua, keinginan gila dari Rafli ini pasti akan ia tolak. Raina tidak ingin Rafli menganggap dirinya dan untuk seterusnya, bisa diperintahkan melakukan hal yang sama. Raina harus membuktikan pada Rafli, bahwa dirinya tidak akan pernah bisa diperdaya oleh Rafli. Meskipun rasa bimbang memang ada di pikiran Raina, Raina tahu bahwa hatinya memang tidak menginginkan itu terjadi. Raina tahu bahwa dirinya masih mampu untuk menolak dan untuk mempertahankan dirinya sendiri. Raina tidak akan tergoda dan tidak akan mampu digoda oleh Rafli untuk melakukan hal di luar nalar gitu. Raina mencoba untuk berdoa agar Rafli memang benar, hanya untuk bercanda dengan Raina, dan tidak ingin itu semua berlanjut. Raina kembali mengirim pesan pada Rafli. Raina mencoba menguatkan kembali hatinya kepada Rafli. Raina ingin menolak keinginan Rafli. Raina juga tahu bahwa dirinya pasti tidak akan, tidak akan, tergoda dengan rayuan atau permintaan apapun. Raina memang harus tegas pada diri sendiri. Raina yakin itu. Raina bisa saja langsung menelpon Rafli, Raina hanya mengambil langkah yang setidaknya tidak akan memperpanjang obrolan ini. Raina memang terkesan sebagai orang yang santai saja dalam melakukan apapun, apapun. Seberapa besar tantangannya, pasti Raina, akan selalu tertantang juga untuk berusaha menyelesaikannya. Tapi, untuk yang satu ini, permintaan dari Rafli. Raina tidak ingin itu terjadi. Raina tidak ingin melanggar batas yang ada di dirinya. Raina ingin menjalankan komitmen yang ia buat untuk dirinya sendiri. Oleh karena itu, Raina memberanikan diri untuk mengirim pesan ke pada Rafli. Sorry ya, aku nggak bisa nurutin kamu. Kamu terlalu nggak masuk akal di aku Raf. Kata Raina. Raina tidak ingin ada perselihan yang berlanjut antara dirinya dan Rafli. Raina juga tidak ingin berpisah lagi hanya untuk masalah lagi. Satu hal penting lagi, Raina tidak mungkin memutuskan hubungan dan Rafli, karena itu pasti akan sangat berdampak dengan keberlangsungan nafas Mentari Senja di toko buku. Kalau Raina putus dengan Rafli, tidak ada jaminan bahwa Rafli akan tetap objektif memilih karya yang naik, bagaimana Rafli akan objektif setelah ini, memulai ini saja, Rafli malah bersikap subjektif. Raina bukan tidak percaya dengan penggemarnya, Raina hanya butuh kepastian, partnernya, Mentari juga sangat membutuhkan kepastian akal hal ini. Jadi, Raina rasa, ini memang adil dan Raina akan mempertahankan Rafli dengan kemampuan yang Raina miliki. Dengan akal sehat yang Raina miliki saat ini. Raina masih sadar bahwa ia memang harus menolak permintaan Rafli. Raina tidak ingin membayar sesuatu atas hal apapun, bayar dengan uang saja, Raina pasti akan menolak, apalagi dengan benda yang bukan uang, dan melekat pada dirinya. Tentu saja, hal itu tidak akan pernah Raina lakukan. Tidak akan pernah, meskipun itu untuk Rafli. Raina menghapus air mata yang turun di pipinya, Raina tidak ingin bersedih lagi. Raina sudah cukup berani untuk menolak permintaan Rafli. Raina tahu bahwa itu juga jalan terbaik yang ada dan sudah tersedia untuk saat ini. Raina melangkah untuk mengambil satu gelas air. Aliran air dingin yang membasahi dinding tenggorokannya, mungkin juga akan membantu Raina menjernihkan pikirannya kembali. Terlalu rumit memikirkan masalah dirinya dan Rafli. -- Mentari masih terdiam menatap hp-nya, ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa Mentari masih menunggu pesan dari seseorang. Siapa lagi memang, kalau bukan Lelaki yang menjadi ayah dari anaknya. Mentari tidak bisa dan tidak ingin lagi membohongi dirinya sendiri. Lelaki itu memang sudah sangat jahat kepada dirinya, pergi meninggalkan Mentari dan anaknya yang masih begitu kecil, pergi tanpa sepatah kata pun. Sakit hati yang dirasakan Mentari memang belum sembuh, hati Mentari masih suka merasa teriris untuk yang kesekian kalinya, saat Lelaki itu, masih sering kali menyebut hubungan dirinya dan Mentari. Tidak pernah tidak juga bagi seorang Mentari, untuk jatuh cinta lagi, yang kesekian kalinya, untuk Lelaki itu. Belum pernah Mentari temukan, hal istimewa yang ada di diri orang lain, dan ada di Lelaki itu. Lelaki itu adalah sosok yang sempurna, dan sosok yang merupakan cerminan diri Mentari. Tidak ingin membohongi diri sendiri, adalah salah satu cara Mentari untuk bisa merelakan semua yang terjadi. Puluhan atau bahkan ratusan pertanyaan masih menghiasi kepala Mentari. Mentari masih sering menangisi dirinya dan anaknya yang harus ditinggal oleh Lelaki itu. Mentari juga menangisi dirinya yang masih saja cinta pada Lelaki itu. Mentari tidak bisa menghapus begitu saja cinta yang telah mengisi ruang di hatinya selama bertahun-tahun, Mentari menyadari satu hal, Lelaki itu memang pergi, tapi perasaan untuknya tidak akan pernah bisa pergi. Mentari pernah menulis suatu karya tentang ia dan Lelaki itu, tidak banyak memang cerita yang ia buat. Hanya kurang lebih 3000 kata. Mentari hanya ingin mengenang Lelaki itu dalam suatu karya tulis, karena Mentari ingin sosok Lelaki itu bukan hanya ada di kepalanya, Mentari ingin mengabadikannya dalam suatu karya yang semua orang bisa tahu tentang Lelaki itu. Hasil dari karya itu sangat luar biasa, Tulisan itu sudah dibaca 3 juta orang, sayangnya, Mentari memang tidak berniat untuk menjadikan cerita pendek tersebut sebagai sebuah buku. Mentari hanya ingin mengenang, sudah itu saja. Mentari menunggu kabar dari lelaki itu, karena hari ini, adalah hari yang seharusnya bersejarah bagi mereka berdua. Ada kejadian yang sangat menempel dengan kuat, diingatan Mentari. Mentari tidak bisa lagi untuk mengingat ini sendirian. Mentari ingin Lelaki itu juga merasakan apa yang ia rasakan. Didera dengan rindu. Tidak pernah ada penantian yang harus Mentari jalankan untuk saat ini, selain hanya menunggu Lelaki itu menghubunginya, berharap Lelaki itu akan ingat dengan apa yang terjadi hari ini. Mentari tahu, berharap adalah salah satu cara tercepat untuk membuat dirinya sakit hati, tapi itu adalah sakit hati yang juga ditunggu olehnya setiap tahun. Masih belum ada tanda-tanda dari Lelaki itu, Mentari memang tahu bahwa ia tidak sepenting itu untuk diingat oleh Lelaki itu. Tapi, setidaknya, untuk satu hari ini saja, satu hari yang membuat hidup Mentari dan hidup Lelaki itu berubah. Hari saat mereka saling percaya satu sama lain. Hari di mana Lelaki itu mengucapkan janji sehidup semati dengan Mentari. Tapi, itu semua masih menjadi harapan saja untuk Mentari. Lelaki itu masih belum menghubungi Mentari. Mentari sudah tidak terlalu peduli dengan keadaan Mentari Senja, mau bagaimanapun, Mentari Senja harus mengandalkan pembacanya sendiri. Tidak bisa hanya mengandalkan orang dalam yang Raina punya. Mentari juga tidak begitu percaya, Mentari merasa belum pernah dikenalkan dengan orang dalam yang Raina maksud. Memang tidak penting juga sih, tapi Mentari hanya ingin berkenalan, siapa tahu, ada bisnis yang akan berlanjut di antara mereka. Mentari juga sudah tidak lagi mendapat komentar yang begitu banyak tentang Mentari Senja. Mungkin pembacanya sudah mengerti sepenuhnya dan sudah tahu resiko dari karya yang akan diterbitkan dalam bentuk cetak. Pasti akan mengalami perubahan dan pasti akan ada hal yang tidak sesuai seperti apa yang diinginkan. Itu adalah konsep yang seharusnya bisa dimengerti oleh para pembacanya. Tapi, Mentari masih bisa maklum, Komentar yang ia dapat dari pembacanya yang rela untuk mengirim email, adalah salah satu anugerah untuk Mentari, karena mereka, mau meluangkan waktu untuk menyusun kata-kata, menulis, dan mengirimkan pada Mentari Senja. Mentari hanya bisa mengapresiasi niat mereka yang berusaha peduli pada karyanya, meskipun pada prakteknya, beberapa dari mereka mengirim pesan yang terlalu menakutkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN