Pelukan antara dua kekasih yang kembali menjalin cinta itu, harus dihentikan paksa oleh telepon Rafli yang berbunyi, ada seseorang di seberang sana, yang ingin bicara dengan Rafli. Rafli dan Raina terlihat tidak rela untuk melepaskan pelukannya.
Raut wajah Rafli tampak kecewa setelah menerima telepon itu. Raina mengangkat kedua alisnya, penasaran dengan isi telepon yang membuat Rafli seperti tidak senang saat membacanya. Raina ingin langsung bertanya kepada Rafli perihal telepon itu, tapi Rafli langsung memeluk erat Raina, tanpa kata-kata dan tanpa isyarat apapun yang keluar dari mulutnya. Raina yang kebingungan dengan perlakuan Rafli, hanya membalas pelukan itu, tidak kalah kencang dengan yang memeluknya.
Rafli baru saja berniat untuk mengajak Raina keluar, atau mungkin nonton. Apapun jenis kegiatan, ingin Rafli lakukan dengan Raina sekarang. Tetapi, karena telepon yang baru diterima Rafli, Rafli sadar bahwa dirinya punya tanggung jawab yang lebih. Rafli harus merelakan bahwa itu semua tidak akan terwujud untuk saat ini.
Ada urusan kerja yang harus Rafli selesaikan, Rafli harus pergi ke kantor sekarang juga. Resiko Rafli yang bekerja di rumah juga seperti ini, ia harus siap untuk pergi secepat dan sesegera mungkin, tanpa mempertimbangkan apapun. Rafli memang bukan prajurit negara, ia adalah salah satu karyawan yang diandalkan di divisinya. Rafli juga harus melaksanakan tugas yang diberikan. Rafli tidak tahu pasti apa yang sedang terjadi di kantornya saat ini, ia hanya diperintahkan untuk datang ke kantor sesegera mungkin. Rafli tahu, bahwa ia memang harus secepatnya tiba di kantor.
Rafli menatap Raina, beberapa detik. Raina yang ditatap seperti itu, merasa salah tingkah. Raina memalingkan wajahnya dari Rafli, tidak ingin ditatap lebih lama oleh Rafli. Raina penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan Rafli. Rafli tiba-tiba saja langsung memeluknya, tanpa aba-aba terlebih dahulu. Raina bahkan tidak sempat mengucapkan apa-apa dan Rafli malah semakin kencang memeluknya.
Raina mulai berpikiran yang tidak-tidak, apakah Rafli akan meninggalkannya lagi ?
Apakah Rafli tidak ingin balikan dengan dirinya.
Raina terdiam di tempatnya, Rafli mulai merapihkan bekas makan mereka tadi, termasuk mengembalikan gelas yang ada di ruang tamunya. Raina makin dibuat bingung dengan perilaku Rafli. Kalau Rafli menolaknya, kenapa Rafli malah memeluknya. Tetapi, kalau Rafli menerima ajakannya untuk balikan, kenapa Rafli tidak menjawab pertanyaan Raina tadi. Raina menghentikan langkah Rafli yang sedang berjalan ke dapur.
Raina berdiri di depan Rafli, matanya menatap Rafli. Raina mencoba mencari kejujuran dan kebenaran dari sorot mata Rafli. Dalam pikiran Raina, Raina ingin rasanya langsung berteriak dan memukuli Rafli habis-habisa, sampai Rafli akan minta ampun kepada dirinya. Tetapi, akal sehat Raina masih berjalan. Tidak mungkin Raina melakukan hal itu, kalau Raina baru saja mengatakan kalau ia menyayangi Rafi. Bisa-bisa, ajakan Raina akan ditolak langsung oleh Rafli.
“Kamu, nerima ajakan aku buat balikan, nggak sih?” Tanya Raina. Raina penasaran. Rafli juga dari tadi tidak membahas itu. Malah main asal peluk saja, Raina kan jadi makin bingung.
Rafli menghentikan aktivitasnya, berhenti menaruh gelas di sink, ia berbalik menatap Raina. Rafli ingin sekali untuk membahas tentang ini lebih lanjut. Tapi, Rafli tahu bahwa pekerjaan dan kantornya sedang membutuhkan dirinya. Kehadiran Rafli di kantor pasti akan jauh lebih dibutuhkan. Rafli bukan tidak menghargai Raina yang sudah jauh-jauh datang ke rumahnya dan akhirnya kembali mengajaknya untuk merajut cinta. Rafli sadar akan hal itu, hanya saja ia tahu prioritasnya untuk saat ini.
Rafli harus pergi ke kantornya, meski hatinya masih ingin berlama-lama bersama dengan Raina, saat ini. Raina dan urusan kantornya, sama-sama penting untuk masa depannya. Tapi, urusan kantornya harus ia prioritaskan untuk saat ini. Rafli mendekati Raina, memegang kedua tangan Raina.
“Nay, aku ada urusan yang lebih penting di kantor. Aku bukannya nggak ngehargain kamu yang udah jauh-jauh dateng ke sini. Tapi, sekarang, aku harus ke kantor, Nay. Mendadak, aku ditelfon sama atasan aku. Ada problem di sana.” Rafli mulai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di kantornya. Rafli juga menjelaskan bahwa ia sangat berterima kasih dan menghargai Raina yang sudah jauh-jauh datang ke rumahnya dan mengajak Rafli untuk balikan.
“Terus, kita gimana sekarang” Tanya Raina.
Rafli diam, ia memang ingin kembali bersama Raina. Tapi, ada satu bagian dalam hatinya yang masih tidak ingin untuk begitu saja kembali dengan Raina. Rafli butuh waktu untuk berpikir lebih lama, tentang Raina agar Raina tidak melakukan hal yang sama lagi, seperti kemarin-kemarin. Rafli masih melihat ke arah wajah Raina, masih tidak rela untuk pergi ke kantor, tapi ia harus pergi.
“Nay, nanti begitu aku selesai dari kantor, aku telepon kamu, oke?” Jawab Rafli.
Raina, yang ada di depan Rafli masih bingung dan tidak mengerti tentang maksud dari perkataan Rafli. Raina hanya diam di tempatnya, melihat Rafli yang kini sudah menuju lantai 2 rumahnya. Tidak lama setelah itu, Raina sudah mendengar suara barang-barang yang berjatuhan dan Rafli yang kembali menuruni tangga.
“Aku harus berangkat, sekarang, Nay.” Kata Rafli.
Raina menuruti kata Rafli. Meski sebagian dirinya sangat tidak menginginkan ini. Raina ingin jawaban pasti yang keluar dari mulut Rafli bahwa Rafli akan mau untuk kembali bersamanya. Tapi, Raina juga tidak ingin Rafli dimarahi atau kena sanksi dari kantornya karena tidak secepatnya sampai di kantor dan menyelesaikan urusannya.
Raina akhirnya merelakan Rafli untuk pergi, ke kantor. Raina sadar bahwa Rafli memang punya urusan yang harus diprioritaskan. Sebelum Rafli pergi, Rafli memeluk Raina, sekali lagi. Telepon Rafli sudah berdering lebih dari 3 kali. Tapi, Rafli tidak menjawabnya sama sekali. Rafli baru mengetik pesan saat dirinya sudah di mobil dan siap untuk berangkat.
Raina kembali ke rumahnya. Raina memikirkan keberaniannya dan kemampuannya sudah melawan gengsinya. Dugaan Raina memang tidak salah, Rafli memang mau kembali menjalin hubungan dengannya. Raina tahu bahwa Rafli memang mencintainya dan tidak akan pergi semudah itu dari dirinya. Raina tahu bahwa Rafli memang tidak bisa jauh dari dirinya. Raina bangga dengan dirinya sendiri. Setidaknya untuk hari ini, Raina tahu bahwa dirinya kembali menang, dan memenangkan Rafli lagi.
--
Rafli sudah berada di tempat kerjanya. Rafli yang tidak tahu apa yang terjadi, harus segera menghadap bosnya. Rafli sangat terkejut begitu mengetahui kalau ‘naiknya’ Mentari Senja terdeteksi ada kecurangan, oleh tim yang lain. Rafli bingung harus berbuat apa. Mentari Senja pasti juga salah satu hal yang Raina cari dari Rafli. Rafli tahu bahwa Raina harus mempertahankan Mentari Senja juga, kalau Rafli ingin Raina tetap bersamanya.
Rafli harus membuktikan semua dokumen terkait dengan Mentari Senja. Bukan hanya itu, Rafli juga harus melibatkan saksi dan emmbuktikan bahwa Mentari Senja memang melalui semua prosedur yang ada dan sudah sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan. Rafli tahu itu bukan hal yang mudah, dengan Rafli yang terlibat dan ia yang berusaha untuk membuktikan semua itu, ia pasti akan terbawa lebih jauh dengan masalah ini.
Rafli tidak menyadari bahwa langkah awalnya, saat ia bernegosiasi dengan salah satu anggota tim lain, terdengar oleh yang lain dan dicurigai. Tentu saja, Rafli langsung diperiksa dan ditanyakan mengenai itu semua. Rafli tidak menyangka bahwa memperjuangkan Mentari Senja untuk diposisi ini, sangat membahayakan Rafli juga. Rafli hanya bisa mengatur nafasnya, butuh oksigen yang cukup untuknya kembali berpikir jernih. Rafli menyadari satu hal, perjuangan yang ia lakukan untuk Mentari Senja, agar Raina tetap ada di sisinya, Raina juga harus membayar dengan sesuatu agar tidak pergi dari hidup Rafli.
Rafli mulai berpikir mengenai rencana yang akan ia lakukan. Siapapun orang di dunia ini, pasti tidak akan menginginkan dirinya berpisah dengan orang yang dicintainya. Rafli tahu pasti, dirinya mencintai Raina dengan sepenuh hati. Niat Rafli yang pada awalnya tulus membantu Raina agar mendapatkan apa yang diinginkan, sekarang agak berbelok. Niat Rafli masih tulus, tapi begitu ada tantangan yang juga membahayakan dirinya, Rafli jadi sadar bahwa perjuangannya untuk Raina, tidak main-main. Rafli tidak akan terima kalau Raina kembali bermain-main dengan dirinya. Rafli tidak ingin itu terjadi, lagi.
Setelah Rafli membuktikan pada atasan dan juga tim lain bahwa ia tidak melakukan kecurangan apapun dalam proses ‘naik’nya Mentari Senja, Rafli harus segera kembali ke rumah. Rafli ingin istirahat, perjuangannya untuk Raina tidak sia-sia, Rafli juga tidak ingin di sia-siakan. Rafli sudah menemukan rencana agar Raina tidak akan menjauh dari hidupnya. Rafli tahu bahwa cara ini mungkin sedikit jahat, atau apapun itu, tapi Rafli tahu bahwa rencana ini akan berjalan.
Rafli juga punya kemungkinan bahwa Raina mungkin akan menolaknya, tapi justru itu adalah tantangan baru unuk Rafli agar Raina tidak menolaknya. Rafli harus bisa membujuk atau merayu, atau apapun itu agar Raina bisa melakukan ini. Rafli hanya tidak ingin kehilangan Raina, lagi. Rafli ingin ada bersama dengan Raina, tidak peduli dengan semua perbuatan yang akan ia lakukan. Rafli juga tidak tahu dan tidak ingin tahu jahat atau baik, perbuatannya nanti.
Rafli sudah bersiap untuk menghubungi Raina. Dengan semua percakapan yang sudah disusun oleh Rafli, ia siap untuk menjalankan itu. Rafli siap untuk mengungkapkan keinginannya kepada Raina. Tidak butuh waktu lama untuk Rafli dapat mendengar suara Raina. Raina mungkin telah menunggunya sejak tadi, Rafli percaya diri. Rafli hanya tersenyum senang, sadar bahwa dirinya akan memenangkan Raina, lagi, dan kali ini, kemenangan itu, akan sepenuhnya menjadi miliknya. Raina tidak akan pergi lagi setelah ini. Rafli yakin.
Butuh penyampaian dengan urutan yang sudah ditetapkan oleh Rafli, Rafli tidak ingin terburu-buru menyampaikan rencanannya. Rafli ingin membuat Raina bisa senyaman dan merasa bahwa dirinya akan aman ketika melakukan ini. Sampai akhirnya, tiba waktu yang percakapan yang pas untuk Rafli menyampaikan keinginannya.
“Aku punya syarat buat kamu.” Kata Rafli.
Di seberang sana, Raina terdiam, Raina penasaran apa yang sebenarnya syarat yang akan Rafli ajukan untuk dirinya. Rafli terkesan sangat misterius dengan syaratnya ini.
“Apa?” Tanya Raina.
“Aku mau foto kamu.” Kata Rafli.
“Ya ampun, kalo itu mah, kapanpun kamu mau, kamu bisa. Bilang dong dari awal, aku nggak akan keberatan mau 100 foto yang kamu minta. Kamu nggak perlu minta foto aku, aku juga pasti bakalan ngasih foto aku, sayang.” Kata Raina, diiringi dengan tertawa.
“Bukan foto itu.” Kata Rafli. Rafli menjelaskan tentang apa yang ia mau kepada Raina. Rafli menjelaskan dengan sedetail mungkin, agar Raina mengerti maksud dan tujuan Rafli. Tentu saja, Rafli menjelaskan dengan kalimat dan kata-kata yang sudah diperhalus, agar Raina tidak salah sangka.
Raina yang mendengar itu, langsung dipenuhi keringat yang keluar dari tubuhnya. Tubuhnya bereaksi atas setiap kalimat yang terlontar dari mulut Rafli. Tidak pernah ada orang yang sebelumnya meminta kepada Raina untuk hal ini. Raina tidak mengerti dengan Rafli. Tapi, dengan alasan logis yang Rafli jelaskan, Raina juga sedikit mengerti.
Raina tidak sadar bahwa perjuangan Rafli untuknya memang benar-benar besar, Raina juga merasa bersalah pada Rafli. Raina masih diam memikirkan tawaran Rafli. Menerima apa yang Rafli inginkan akan mempererat hubungannya dengan Rafli, dengan begitu, Rafli juga akan bersedia untuk memperpanjang masa Mentari Senja agar terus dilirik dan diincar orang, dan itu berarti uang yang akan Raina terima juga akan lebih banyak.
Akal sehat Raina masih berdebat. Untuk apa Raina melakukan itu, kalau Rafli sayang pada Raina dengan setulus hati, Rafli pasti tidak akan ingin untuk melakukan apapun. Rafli pasti akan menjaganya bukan malah membuat Raina seperti ini. Raina dilanda perasaan yang tidak karuan untuk saat ini. Raina tahu hal ini adalah hal yang besar, tapi menolak permintaan ini, juga tetap akan menghancurkan hal-hal besar lainnya, Raina tidak ingin itu terjadi.
Tapi, Raina juga tidak ingin melakukan hal yang menurutnya sangat tidak masuk akal ini. Raina tidak mengerti dengan jalan pikiran Rafli saat ini. Rafli adalah laki-laki yang ia kenal sangat baik, dan sangat tulus dengannya. Raina tidak ingin menuruti permintaan Rafli yang sangat tidak mencerminkan dirinya yang kemarin. Raina takut, takut bahwa Rafli akan menyebarkan foto ini dan meninggalkan dirinya. Raina tidak ingin diperdaya oleh Rafli. Raina ingin Rafli yang dulu, yang menerima dirinya apa adanya dan tidak menginginkan hal-hal lain. Raina tidak ingin Rafli berubah, apalagi berubah atas perilakunya kepada Raina. Raina ingin bersama dengan Rafli yang selalu membuatnya nyaman. Bukan Rafli yang punya penawaran yang sangat gila ini.
Raina masih terdiam di teleponnya, Rafli sudah memanggil namanya sejak tadi. Raina masih terus berpikir tentang keputusan yang akan ia ambil. Raina tidak ingin kehilangan Rafli, tidak ingin kehilangan Mentari Senja, dan semua yang ada pada dirinya. Raina butuh Rafli karena Rafli juga salah satu orang penting yang bisa membantu Mentari Senja agar tetap ada di sana. Raina menarik nafas panjang, ia ingin menerima tawaran Rafli.
Tunggu, Raina seolah ingin menampar dirinya sendiri. Raina tidak mungkin merelakan hal-hal berharga dalam dirinya begitu saja, kepada Rafli. Raina memang cinta dan tidak ingin Rafli pergi. Tapi, kalau Raina melakukan hal ini, apakah Rafil tetap ada disisinya sampai kapanpun? Raina masih berdebat dengan pikirannya sendiri. Tidak cukup bagi Raina untuk berpikir dengan waktu yang sangat singkat, ditambah dengan Rafli yang masih menunggunya di telepon. Raina butuh waktu yang lebih lama untuk mempertimbangkan ini semua.
“Aku, nggak bisa.” Kata Raina.