Raina tidak bisa tidur semalaman. Raina memikirkan citranya di mata Rafli. Raina sekarang terlihat seperti pencuri yang tertangkap basah, tidak ada gunanya Raina mengelak dan berbohong bahwa yang datang ke rumah Rafli bukan dia. Rafli pasti sudah menemukan bukti, atau satpam tadi sudah memberi tahu Rafli. Raina merasa dirinya ada di jalan buntu. Tidak bisa mundur lagi, harus mencari jalan keluar satu-satunya.
Keberanian dalam diri Raina bersuaru jauh lebih kencang dibandingkan dengan gengsinya. Raina tahu bahwa ia memang sudah seharusnya melangkah, bukan hanya diam di tempat. Raina sadar bahwa kelakuannya kemarin, saat masih bersama Rafli, sangat menyebalkan. Raina ingin berjanji pada dirinya sendiri, jika ia kembali dengan Rafli, ia akan menuruti apapun yang Rafli katakan. Raina merasa semakin tidak bisa jauh, Raina merasa bahwa dirinya yang terlalu menuntut Rafli dan selalu berburuk sangka pada Rafli.
Raina seharusnya sadar lebih awal, kalau Rafli memang sedang berusaha. Terbukti, pagi hari tadi, Raina mendapat telepon dari Mentari bahwa Mentari Senja sudah naik dalam jajaran best seller, termasuk dengan jumlah uang yang akan mereka terima pada akhir bulan ini. Raina yang mendengar kabar itu juga semakin ingin kembali dengan Rafli. Bagaimanapun, Rafli juga orang yang mempunyai jasa besar pada hasil ini. Raina seharusnya tahu dari awal, bahwa Rafli memang berusaha untuk menepati omongannya, Rafli memang berusaha membantunya, Rafli memang berjuang untuknya. Raina seharusnya sadar lebih awal, seharusnya.
Raina menutup mukanya dengan telapak tangan. Raina ingin menangis, meluapkan kesedihan atas kesalahannya, telah melewatkan dan memutuskan orang yang sangat luar biasa. Raina malu. Raina merasa sangat malu pada semua hal yang telah ia lakukan dan ia ucapkan pada Rafli. Raina memang salah, menyebutkan bahwa Rafli adalah orang yang egois ,itu juga sebuah kesalahan yang sangat besar. Seharusnya, Raina sadar lebih awal. Raina sudah mengeluarkan air matanya. Bagi Raina, menangis memang jalan satu-satunya untuk meringankan masalah yang dihadapi.
Raina hari ini tidak masuk kerja. Raina ingin memperbaiki dirinya, untuk satu hari ini. Raina juga berniat untuk mendatangi rumah Rafli lagi. Mungkin, Rafli juga tidak bekerja di kantor, hari ini. Raina tahu, bahwa, kembali bersama Rafli mungkin adalah permintaan maaf terbesarnya dan tanda terima kasih kepada Rafli karena sudah bekerja dengan sangat baik, dan hasil yang sangat membuat Raina merasa senang. Hubungannya dengan Rafli, mungkin juga salah satu jalan yang akan mempercepat dan mempertahankan Mentari Senja. Tentu saja, bukan hanya itu, hati Raina juga masih tertuju pada Rafli.
Raina harus menyiapkan dirinya untuk bertemu dengan Rafli. Raina harus menyiapkan kata-kata yang tepat agar Rafli bisa mengerti maksud sepenuhnya. Raina tidak ingin Rafli salah paham. Tujuan utama Raina untuk bertemu Rafli, tentu saja, untuk mengajak Rafli balikan dengannya, kembali menjalin cerita cinta. Tujuan lainnya, ya tentu saja, agar Mentari Senja bertahan lebih lama di jejeran buku best seller. Raina tidak merasa dirinya licik, Raina tahu Rafli sayang kepadanya, dan Rafli akan melakukan apapun untuk Raina. Raina merasa dirinya cerdas, Rafli juga pasti mau membantunya tanpa alasan apapun. Rafli akan dengan tulus membantu Raina. Raina yakin.
Raina sudah bersiap dan berhias secukupnya untuk bertemu Rafli. Raina ingin menciptakan kesan yang baik atas pertemuan pertamanya, setelah mereka putus. Raina ingin Rafli kembali jatuh cinta hanya padanya, saat Rafli melihatnya. Raina juga sudah memesan makanan yang ia bawa ke rumah Rafli. Raina menyiapkan rencana cadangan saja, kalau Rafli tidak ada di rumah, Raina bisa beralasan bahwa ia sedang membawakan makanan dan minta tolong untuk dititipkan saat nanti Rafli ada di rumah. Raina tidak ingin mengalami kejadian seperti kemarin, saat dirinya tertangkap oleh satpam.
Raina sudah berada di mobilnya. Raina berharap jalanan Jakarta hari ini akan bersahabat dengannya. Kalau jalanan menuju rumah Rafli akan lancar, itu artinya Raina akan lancar memperjuangkan hubungan ini. Tetapi, kalau jalanan tidak lancar, mungkin itu tandanya bahwa Raina. Pemikiran Raina yang cukup aneh, mencoba menebeak kelanjutan hubungannya dengan keadaan jalanan Jakarta.
Raina sudah menuju rumah Rafli. Sebenarnya, tidak butuh waktu lama untuk Raina sampai di rumah Rafli. Raina juga sudah hapal dengan jalan menuju ke sana. Raina juga sudah hapal dengan jumlah lampu merah menuju rumah Rafli. Seperti perkataannya tadi, Raina justru menghadapi jalanan Jakarta yang tidak bisa ditebak. Beberapa jalan, tidak sesuai dengan kenyataannya. Di google maps, jalan yang akan ia lewati tidak macet. Kenyatannya, jalanan itu justru macet. Rasanya, Raina ingin menarik kata-katanya tadi. Raina ingin semua rencananya berjalan dengan lancar. Seperti hubungannya dengan Rafli yang Raina harapkan akan berjalan lancar juga. Raina menghela nafasnya, berharap macet ini tidak menghambatnya untuk sampai di rumah Rafli. Raina sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Rafli, lelaki yang ia cintai.
-----------
Mentari masih sibuk di depan laptopnya, membaca ulang email yang dikirimkan oleh penerbit Mentari Senja. Mentari membaca satu persatu kalimat yang tertera di file itu, memastikan bahwa dirinya telah membaca dengan benar, dan memahami kalimat demi kalimat itu. Mentari sudah mengabari Raina tadi pagi, kabar bahagia memang harus disampaikan secepat mungkin. Mentair juga merasa bahwa Raina memang berhak mengetahui kabar ini, bukan dari ‘orang dalam’nya.
Mentari merasa bersyukur dengan ‘naik’nya Mentari Senja, artinya, Mentari dan Raina akan dapat penghasilan tambahan dari situ, bukan hanya itu saja, popularitas Mentari Senja juga pasti akan disorot. Mentari tahu bahwa langkahnya kali ini, tidak tulus dan tidak natural, tapi ia butuh jalan cepat. Ada anaknya di rumah yang butuh kepastian tentang makanan, ada anaknya di rumah yang butuh biaya pendidikan nanti, ada anaknya yang butuh uang untuk membeli s**u yang terbaik. Mentari hanya memikirkan bahwa biaya yang ia dapatkan ini memang untuk anaknya.
Ayah dari anaknya ini, masih belum juga ada itikad baik untuk memberi nafkah. Setelah telepon terakhirnya, lelaki itu menghilang dan tidak ada kabarnya hingga detik ini. Mungkin, itu lebih baik bagi Mentari, Mentari tidak perlu lagi menangis, atau tidak perlu lagi merasa dihujani oleh kenangannya bersama dengan lelaki itu. Bagi Mentari, memang lebih baik Mentari itu pergi jauh dari hidupnya dan hidup anaknya. Mentari yakin bahwa ia bisa menghidupi anaknya seorang diri.
------
Rafli tidak masuk ke kantor hari ini, atasannya mengijikannya untuk kerja dari rumah. Pekerjaan yang harus diselesaikan oleh Rafli memang tidak terlalu mengharuskan Rafli untuk ke kantor. Bahkan, Rafli memang bisa saja bekerja dari mana pun yang ia mau. Tapi, selama ini, Rafli tetap masuk kantor karena ia tidak merasa bahwa suasananya kondusif. Kalau Rafli kerja dari rumah, Rafli juga kebanyakan memilih tidur dibanding bekerja, suasananya sangat mendukung. Menurut Rafli, rumahnya adalah tempat ternyaman untuk istirahat, dibanding untuk bekerja. Hari ini saja, Rafli memang tidak ingin ke kantor dan minta ijin untuk kerja dari rumah, karena ia merasa efek alkoholnya masih ada di badannya. Rafli merasa tidak cukup sehat untuk datang ke kantor dan untuk bekerja di sana.
Teman-teman Rafli juga meledek Rafli, katanya, Rafli itu lemah karena tidak bisa datang ke kantor, padahal baru minum sedikit. Rafli yang diledek oleh temannya itu, hanya tertawa. Memang sih, Rafli minumnya sedikit, tapi Rafli minum di samping wanita cantik, semalam, Rafli sampai melewati batas minumnya yang biasa. Rafli lupa diri.
Wanita yang semalam ia telepon dan ia rayu itu, masih terus menggoda balik Rafli. Rafli sekarang sudah cuek, malas untuk berurusan dengan wanita itu. Menurut Rafli, wanita itu bawel dan banyak minta. Sekilas, memang mirip dengan Raina. Tapi, Rafli sadar kalau wanita itu bukan Raina.
Nanti saja, kalau ada Raina, Rafli akan langsung menggoda Raina secara langsung, bukan orang yang mirip Raina, Kata Rafli sambil tertawa di dalam hati.
Perkataan Rafli seperti langsung dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa. Beberapa menit setelahnya, pintu rumah Rafli diketuk. Rafli yang sedang beristirahat, langsung turun dari kamarnya dan membuka pintu. Betapa terkejutnya Rafli, mendapati orang yang mengetuk pintu itu, Raina. Raina, wanita kesayangan Rafil, ada di depan Rafli. Raina, lengkap dengan tentengan makanan hasil drive thru. Rafli yang terkejut hanya bisa terdiam. Tidak tahu harus mengucapkan kalimat apa. Rafli masih terdiam menatap Raina, mencoba memastikan bahwa itu memang Raina. Raina yang beberapa menit yang lalu, ada di pikiran Rafli. Raina, seorang wanita yang juga dirindukan Rafli.
Butuh beberapa menit hingga Rafli sadar, sadar bahwa yang berdiri di depannya memang Raina, sadar bahwa ia sudah beberapa menit ini hanya diam dan menatap Raina, bahkan ia tidak mempersilahkan Raina untuk masuk. Rafli akhirnya membuka suara,
“Masuk, Nay. Kamu duduk dulu ya, kamu mau minum apa? Apa yang ada di rumah aku aja ya, Nay.” Rafli langsung menuju ke dapurnya. Rafli menuangkan air, untuk Raina minum nanti. Rafli menyesali dirinya yang tidak pernah punya makanan yang layak untuk disajikan kepada tamu. Rafli seharusnya menuruti kata-kata Raina, dulu. Raina pernah bilang bahwa Rafli harus punya makanan yang layak untuk disajikan kepada tamu, meskipun rumah Rafli sangat jarang kedatangan tamu. Rafli tidak pernah menuruti kata-kata itu, sampai hari ini, Rafli tahu bahwa ia memang harus menuruti kata Raina, untuk yang satu itu.
Raina hanya duduk dan melirik ke seisi rumah Rafli. Sudah lama sekali Raina tidak datang ke tempat ini. Raina juga lupa kapan terakhir kali ia datang ke sini. Raina menghirup dalam udara yang ada di rumah ini. Raina rindu sekali dengan suasana rumah ini. Tidak ada yang begitu special di sini. Hanya rumah 2 lantai yang diisi oleh Rafli, tidak banyak barang-barang juga yang ada di sini. Rafli suka malas membeli sesuatu untuk menghias rumahnya. Raina juga belum sempat untuk memilih beberapa perlengkapan untuk menghias rumah Rafli.
Raina menunggu Rafli, menebak, apa yang akan disajikan oleh Rafli, untuknya. Raina tahu bahwa Rafli tidak akan punya makanan apapun yang akan disajikan untuknya, tapi mungkin Rafli akan menyajikan jus atau minuman lain yang menjadi kesukaan Raina. Dulu, Raina suka menitipkan minuman kesukaannya di kulkas Rafli, dengan tujuan, setiap Raina ke sini, Raina tidak bingung harus minum apa, bosan kalau hanya air putih. Tapi, Raina kenal Rafli, tidak mungkin Raina tidak tahu tentang laki-laki yang paling ia sayangi. Raina tersenyum ketika melihat Rafli keluar dari dapurnya, membawa nampan dengan isi dua gelas air, air putih. Senyum Raina perlahan memudar. Seharusnya, Raina memang tidak berharap lebih.
Masing-masing dari mereka, belum ada yang membuka percakapan tentang hubungan. Raina dan Rafli, masih sibuk untuk memandangi satu sama lain. Rafli masih memberi waktu pada Raina untuk minum air putih yang telah disediakannya, dan Raina yang masih ingin minum air putih ini, Raina juga berharap ia bisa lebih banyak minum air putih sekarang, untuk mengulur waktu bicara pada Rafli.
“Kamu bawa makanan ini, maksudnya buat kita makan bareng, kan?” tanya Rafli, memastikan. Raina meletakkan gelas yang tadi ia minum, menganggukkan kepala. Tanda bahwa ia membenarkan apa yang Rafli tanyakan barusan.
Rafli langsung membuka makanan itu, siap untuk makan bersama dengan Raina. Raina yang memperhatikan itu juga membantu Rafli, menyiapkan semua perlengkapan untuk mereka makan. Rafli memilih untuk berbasa-basi lagi, dibanding harus bertanya, sebab Raina datang ke rumahnya. Rafli merasa ia tidak butuh alasan itu, Rafli ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan Raina, itu saja.
Rafli dan Raina akhirnya makan bersama, Raina memang jarang, makan makanan yang ada di depannya ini. Tapi, tadi di tengah jalan, sembari ia berpikir tentang rencana percakapan yang akan ia buat, ia justur mampir di salah satu restoran fast food, ia drive thru beberapa menu makanan yang akan bisa dinikmati bersama Rafli. Raina tidak ingin menciptakan suasana yang canggung di antara mereka. Keinginan Raina memang dikabulkan, Raina dan Rafli, sekarang, justru asik makan bersama, sesekali membicarakan pekerjaan. Tanpa menyinggung sedikitpun perasaan atau hubungan mereka. Keduanya masih merasa canggung atau masih menunggu menit yang pas untuk menyampaikan itu.
Selesai makan, Rafli ingin memulai percakapan ini. Rafli juga ingin Raina megutarakan perasaannya, bukan hanya dirinya. Rafli juga ingin dianggap berharga oleh Raina. Melihat Raina yang sedang asyik makan, Rafli seketika merasa bahagia, Raina memang ada di depannya saat ini, tapi Raina belum menjadi miliknya seutuhnya. Rafli ingin Raina jadi miliknya seutuhnya. Rafli mengakhiri makannya, mulai juga membereskan sisa makanannya. Raina juga melakukan hal yang sama. Rafli sudah tidak ingin mengulur waktu lagi, Rafli tahu, bahwa semakin lama mereka terdiam di sini, mereka hanya saling mengulur waktu dan menunda untuk jujur masing-masing. Rafli tidak ingin itu terjadi. Rafli ingin mendengar kalimat jujur yang keluar dari mulut Raina.
“Kamu, kesini, cuma mau ngasih aku makanan doang?” Tanya Rafli.
Raina diam.
“Atau, ada yang mau kamu sampein, Nay?” Tanya Rafli, lagi.
Raina mengangkat kepalanya, menatap Rafli yang kini tengah menatapnya.
“Aku mau kamu balikan sama aku. Aku janji akan nurutin semua mau kamu. Aku nggak mau kehilangan kamu, lagi.” Jawab Raina.
Rafli di depannya tersenyum senang, tidak butuh waktu 5 detik, Rafli langsung memeluk Raina. Rafli tidak menyangka, bahwa Raina akan mengucapkan kalimat itu kepadanya, di depannya, secara langsung, tidak dengan malu-malu, tidak dengan gengsi.
Raina yang dipeluk Rafli secara mendadak juga terkejut. Ini adalah pelukan yang dicari oleh Raina. Bukan pelukan yang lain. Bukan yang lain-lain yang Raina cari, Raina butuh ini, dari orang yang ia inginkan. Raina ingin Rafli, bukan yang lain. Raina dengan mata yang berkaca-kaca, membalas pelukan Rafli, jauh lebih erat.
Raina rela tidak masuk kantor demi memperjuangkan hal yang memang seharusnya bisa ia lakukan dari awal. Raina tidak peduli dengan apa yang terjadi di depannya. Raina ingin ada di samping Rafli, ingin bersama Rafli, dan ingin Rafli. Raina tersenyum dibalik pelukannya dengan Rafli.