#CH-Terpaku

2105 Kata
Rafli tidak menyangka kalau dirinya kembali ada di tempat yang sama. Rafli masih menerima ajakan teman-temannya untuk minum bersama di club malam. Rafli duduk di tempat yang sama saat ia kemarin melihat Raina. Rafli berharap bahwa ia bisa kembali melihat Raina, melihat Raina, tapi dalam keadaan Raina yang sendiri dan tidak sedang berbincang dengan siapapun. Rafli juga berharap untuk tidak bertemu dengan Raina, takut kalau semakin sering ia melihat Raina. Rafli jadi tidak bisa melihat siapapun lagi. Rafli meringis, dirinya yang terus mengingat Raina, sedangkan Raina sudah terlihat melupakan Rafli seutuhnya. Rafli ingin menghapus ingatan tentang Raina di otaknya. Rafli ingin agar ia bisa kembali merajut hidupnya dengan benar, tanpa sedikitpun harus mengingat Raina. Dari sudut tempat duduknya saat ini, di tempat duduk yang kemarin Raina duduki, ada seorang wanita dengan pakaian yang persis sama seperti Raina. Rafli bangkit dari tempat duduknya, memberanikan diri, mencoba untuk membuka peluang. Rafli bukan hanya berani mendatangi wanita itu karena ia ingin melupakan Raina saja, tapi juga karena orang itu masih mirip dengan Raina. Mirip sekali. Baju yang dikenakan oleh wanita itu, juga sama bentuknya dengan baju yang dipakai Raina, kemarin. Rafli tidak peduli dengan apa yang terjadi, nanti. Saat ini, Rafli juga ingin membebaskan dirinya seperti Raina yang juga langsung merasa bebas. Rafli harus menikmati saat -saat ini, meski Rafli juga mendekati Wanita yang mirip sekali dengan Raina. Rafli menghampiri wanita itu yang sedang duduk sendiri, dengan satu gelas minuman, yang Rafli tidak tahu dan tidak ingin tahu. Rafli duduk di bangku kosong samping wanita itu, dari jarak sedekat ini, Rafli bisa melihat sorot mata yang dipancarkan, bulu mata yang terlihat sangat sempurna, hidung wanita itu yang sangat menarik untuk dilihat dan disentuh. Ada perasaan berdebar dalam hati Rafli, wanita yang ada di depannya ini, cantik dan mempesona. Rafli tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Rafli ingin sebaik mungkin memberikan kesan, Rafli ingin membangun first impression yang akan terus diingat oleh wanita ini. Tidak butuh bagi lama bagi seorang Rafli untuk mendapatkan nomor telepon wanita itu. Rafli jadi sedikit bersyukur bahwa dirinya, dengan muka yang pas-pasan dan penampilannya yang tidak begitu eye catching, bisa mendapat nomor dari wanita cantik yang sampai sekarang masih duduk di samping Rafli. Mereka menonton dan memperhatikan keadaan sekitar yang sedang terjadi tanpa ada sedikitpun niat untuk bergabung. -------- Raina sudah sampai di depan rumah Rafli. Seharusnya Raina langsung segera turun dan menemui Rafli. Tapi, Raina sudah 10 menit yang lalu hanya ada di dalam mobilnya, melihat ke arah pintu rumah Rafli. Raina mencoba mengidentifikasi bahwa Rafli memang ada di rumah. Tapi, Raina tidak melihat ada mobil di garasi Rafli. Raina masih bingung apakah ia harus masuk atau tidak, mencoba lebih baik daripada tidak sama sekali. Raina juga sudah jauh-jauh datang ke rumah Rafli, usaha Raina akan sia-sia kalau Raina juga tidak mencoba. Raina mengambil nafas panjang, mencoba meyakinkan dirinya sendiri kalau ia tidak salah langkah. Raina percaya kalau dirinya melakukan sesuatu yang benar, Raina tahu bahwa cinta memang tidak sebaiknya didiamkan, harus dijemput dan diperjuangkan. Raina mencoba untuk melakukan itu untuk cintanya. Raina baru saja turun dari mobilnya. Raina baru berjalan beberapa langkah, tangannya hendak meraih kunci pagar Rafli. Raina berusaha untuk membuka pagar tersebut, sampai satpam di komplek ini menyapa Raina. Raina yang kaget dengan kedatangan satpam itu, menghentikan aktivitasnya. Raina terdiam, Raina sudah seperti maling yang ketahuan ingin masuk ke rumah targetnya. Raina tidak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang panik. Raina menyembunyikan tangannya ke belakang badannya, gugup. Sekarang, di mata satpam itu, sosok Raina menjadi semakin mencurigakan. “Ada perlu apa, mba?” Tanya satpam itu. “E, eh, ini, Pak. Rumah temen saya, saya mau ngecek, dia ada di rumah atau ngga. Tapi, kayaknya dikunci ya pak, gerbangnya.” Jawab Raina, gugup. “Balik nanti aja ya, mbak. Atau janjian aja sama temennya dulu, mba.” Kata satpam itu. Raina menghela nafasnya, berkata di dalam hati. Ya, saya juga maunya gitu, pak. Tapi kan saya gengsi, pak. “Iya pak, nanti saja saya balik lagi ke sini. Misi, pak.” Kata Raina, sambil jalan menuju mobilnya. Raina mau tidak mau harus meninggalkan rumah rafli yang sedang kosong itu. Raina tidak tau Rafli ada di mana. Tidak biasa, bagi seorang Rafli untuk meninggalkan rumahnya tanpa bilang pada Raina. Raina menepuk jidatnya, lupa. Apa yang harus dilaporkan bagi dua orang yang tidak lagi menjalin hubungan. Raina memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Raina mungkin memang menyerah, untuk hari ini. Tapi, setidaknya Raina telah berani untuk mencoba menghampiri Rafli, meskipun Rafli tidak ada di rumah. Raina sedang berbaring di kasurnya, sampai ia menyadari bahwa teleponnya berbunyi, ada seseorang yang menghubungi dirinya. Raina melihat nama dari pemanggil telepon itu, Rafli. Raina langsung menegakkan badannya, memastikan bahwa suaranya baik-baik saja, Raina mengangkat telepon itu. “Kamu, tadi ke rumah, aku?” Tanya Rafli. Raina yang mendengar itu langsung menyembunyikan wajahnya di atas bantal selama beberapa detik. Raina mengutuk kebodohannya, sekaligus merasa malu karena Rafli mengetahui perbuatannya. Raina hanya menjawab, iya. Sangat singkat. Raina terlalu malu dan tidak ingin melanjutkan hal itu lagi. “Kenapa?” Tanya Rafli. Raina baru ingin menjawab, Rafli langsung melanjutkan kalimatnya. “Mentari Senja, sudah naik, Nay. Itu kan yang kamu mau tau.” Kata Rafli. Raina terdiam, sebetulnya hal itu, adalah salah satu yang ingin Raina tanyakan ke Rafli. Tapi, sekarang, Raina sedang tidak peduli dengan itu. Raina ingin menanyakan kepada Rafli. Kemana Rafli tadi, kenapa Rafli masih belum juga menghubungi Raina lagi, kenapa Rafli seolah sudah melupakan Raina. Apakah benar Rafli sudah melupakan Raina dan tidak ingin kembali lagi pada Raina. “Udah dulu ya, Nay. Ada temen aku di sini. Aku nggak enak.” Kata Rafli, mengakhiri teleponnya. Raina terdiam, Rafli berani mengakhiri teleponnya. Ada teman yang sedang bersama Rafli sekarang. Raina melirik ke arah jam dinding. Sudah tengah malam. Rafli sedang bersama teman, siapa teman Rafli yang sampai rela untuk menginap di rumah Rafli. Mungkinkah teman itu adalah teman Rafli yang selama ini Raina ketahui. Raina mulai bertanya-tanya dalam pikirannya. Raina sampai marah dan sedih karena pikirannya. Raina mulai kehilangan arah. Bagaimana mungkin, Rafli bisa berhenti dari pesona Raina. Raina membanggakan dirinya. Raina yakin, bahwa Rafli memang tidak akan pernah jauh dari dirinya. Tidak lama lagi, Rafli pasti akan mengajak Raina untuk balikan, Raina yakin itu. ----- Rafli baru memarkirkan mobilnya di garasi mobil saat satpam kompleknya menghampiri ia. Satpam tersebut bilang bahwa, baru beberapa jam yang lalu, ada tamu yang datang ke rumah Rafli, dan ingin masuk ke dalam, tapi, pagar rumah Rafli terkunci dan satpam itu langsung menegurnya. Rafli yang mendengar itu hanya heran, merasa bahwa dirinya tidak punya janji dengan siapapun dan tidak ada orang yang mengabari kalau ia akan bertemu Rafli di rumah. Rafli mencoba mengingat siapa temannya yang sering datang ke rumahnya. Tidak ada. Teman-temannya pasti akan mengabari Rafli terlebih dahulu, Rafli kan juga telah bertemu mereka, baru saja. Tidak mungkin kalau mereka datang ke rumah Rafli, ketika Rafli sedang bersama mereka. Rafli cukup lama terdiam, sampai satpam tersebut menunjukkan sebuah foto. Foto plat mobil yang tadi datang ke rumah Rafli. Rafli mencoba mengingat pemilik nomor plat mobil itu. Alkohol yang tadi diminum Rafli agak berefek bagi dirinya saat ini, kepalanya agak pusing, Rafli bahkan tidak bisa mengingat dengan jelas, siapa pemilik nomor plat mobil yang ia rasa sangat familiar dengan dirinya. Rafli hanya minta foto tersebut dikirimkan ke dirinya, mungkin nanti ia bisa lebih jelas mengingatnya. Di dalam rumah, Rafli tidak henti-hentinya mencoba mencari tahu, siapa pemilik plat mobil itu. Rafli merasa sangat familiar. Tapi, otaknya masih tidak bisa mengingat dengan jelas untuk saat ini. Rafli memutuskan untuk membasahi dirinya agar ingatannya segera pulih dan dirinya kembali merasa segar. Di dalam kamar mandi, Rafli menyadari sesuatu. Raina. Plat mobil itu punya Raina. Kode belakangnya adalah NAY. Seharusnya Rafli sadar dengan hal itu lebih awal, Rafli menyalahkan alkohol yang tadi ia konsumsi, pikirannya jadi jauh lebih lambat. Rafli menyelesaikan mandinya dengan cepat. Rafli ingin segera menelpon Raina, dan memastikan kebenaran bahwa Raina memang datang ke rumahnya, tadi. Setelah itu? Rafli juga masih belum tahu, percakapan apa yang akan ia buat, Rafli hanya ingin memastikan bahwa itu Raina. Itu saja, Rafli belum memiliki niat lain. Rafli menelpon Raina, dan tidak sampai 15 detik, Rafli sudah mendapati bahwa Raina telah tersambung dengannya di telepon. Rafli hanya bertanya tentang kedatangan Raina ke rumahnya. Raina tidak membenarkan dan tidak menyalahkan hal itu. Rafli hanya mengambil kesimpulan bahwa kedatangan Raina itu, mungkin ada maksud menanyakan tentang Mentari Senja, atau bahkan Raina ingin menuntut Rafli untuk segera mempercepat ‘naik’nya Mentari Senja. Rafli tidak ingin mengambil pusing masalah itu semua, tanggal pasti pergantian buku best seller akan dimulai esok hari. Rafli juga tahu, Mentari Senja ada di daftar itu. Rafli tidak lagi membebani dirinya dengan Mentari Senja. Rafli juga langsung menutup telepon itu. Tidak ingin berlama-lama terhubung dengan Raina. Rafli bukan sudah melupakan Raina. Tapi, jaga jarak dengan Raina memang jauh lebih aman dibanding ia harus terus menerus memikirkan, dan terjebak dengan pesona Raina. Rafli juga harus rela berbohong, dan bilang bahwa ia sedang bersama temannya, saat ini. Rafli juga tidak peduli Raina akan marah atau tidak. Bukan itu yang ada di pikiran Rafli sekarang. Kalau ada yang bilang bahwa Rafli tidak lagi mencintai Raina, itu salah. Salah besar. Rafli masih mencintai Raina. Tidak mungkin Rafli bisa melupakan Raina secepat itu. Bayangan tentang Raina masih sebagian besar ada di kepalanya. Hati Rafli juga masih berdetak kencang, sesaat sebelum menelpon Raina. Rafli juga belum menghapus foto Raina di hp-nya. Rafli masih belum ingin melepaskan kenangannya dengan Raina. Rafli hanya tidak ingin kembali terjebak dengan Raina. Raina yang dengan begitu saja memutuskan hubungan, masih belum bisa dimengerti oleh Rafli. Rafli juga tidak menuntut Raina untuk minta penjelasan. Rafli ingin kali ini, Raina yang akan kembali padanya dengan sendirinya, bukan dengan ajakan Rafli. Rafli tahu bahwa hal itu memang sulit dilakukan oleh seorang Raina, tapi sulit bukan berarti mustahil untuk terjadi. Tidak akan ada selesainya kalau ia harus memikirkan Raina. Tentang Raina masih terlalu panjang untuk diselesaikan detik ini. Rafli juga tidak ingin menyelesaikan ini. Rafli ingin beralih sementara dari Raina. Rafli tidak ingin terus terjebak dengan Raina. Rafi mencoba mencari nomor wanita yang tadi berkenalan dengannya di club. Rafli tahu, kalau ia menghubungi nomor ini, hatinya hanya mengingkari apa yang ada. Hatinya memang masih tersimpan nama Raina. Nama Raina masih ada di sana, di hatinya, dengan satu tempat khusus. Rafli tidak ingin untuk menyingkirkan nama itu. Rafli butuh tempat pelampiasan, agar dirinya tidak terus menerus terjebak dengan Raina. Rafli memutuskan untuk menghubungi nomor wanita yang ia temui tadi. Rafli tidak berharap bahwa kisahnya dengan wanita tadi akan berlanjut. Rafli hanya butuh pelampiasan, setidaknya untuk malam ini saja, cukup. Tidak butuh waktu lama, wanita itu mengangkat telepon dari Rafli. Rafli tentu saja merasa sangat senang. Tidak butuh waktu lama juga, bagi seorang Rafli, untuk melancarkan godaan dan rayuan yang ia yakini, sebagai kelebihannya di mata seorang wanita. Wanita itu, diseberang sana, juga bereaksi dengan rayuan yang Rafli ucapkan. Seperti gayung bersambut, Rafli bahagia dengan apa yang didapatkannya, malam ini. Di tengah percakapannya dengan wanita itu, Rafli mulai menyamakan suara wanita ini dengan Raina. Suara, reaksi, setiap kalimat yang keluar dari wanita ini, mirip sekali dengan Raina. Rafli mengutuk pikirannya, wanita manapun, mungkin tidak akan pernah bisa menggantikan sosok Raina. Bagaimanapun kehadiran wanita lain, Raina memang masih bertahta di dalam hatinya. Rafli tidak bisa begitu saja melupakan Raina. Rafli juga masih terjebak dengan Raina. Rafli mengakhiri teleponnya dengan wanita itu. Rafli menyesali dirinya sendiri, berusaha melampiaskan pada orang lain, tetapi hati dan pikirannya masih terpaku pada Raina. Rafli tahu bahwa dirinya menginginkan Raina, seutuhnya. Rafli tidak ingin dirinya yang kembali berusaha, sedangkan Raina akan mempermainkan Rafli lagi. Rafli tidak ingin itu semua terjadi lagi dengan dirinya. Rafli ingin mencintai dan dicintai dengan tulus. Lengkapnya, Rafli ingin mencintai dan dicintai Raina dengan tulus, sebagaimana seharusnya. Rafli kembali membuka foto dirinya dan Raina. Gambar diri Raina yang sedang tersenyum, memenuhi layar hp-nya. Rafli tahu apa yang akan ia lakukan saat Raina akan kembali. Rafli juga tahu bahwa Raina akan kembali. Raina yang tiba-tiba datang ke rumahnya, adalah salah satu tanda terbesar untuk Rafli. Raina memang menginginkan Mentari Senja untuk naik, tapi Rafli juga tahu, Raina masih menginginkan dirinya kembali bersama dengan Rafli. Rafli percaya diri. Rafli menemukan kunci agar Raina tidak akan pernah lepas lagi dengannya. Rafli tahu bahwa cara ini adalah satu-satunya cara agar Raina tidak akan berusaha untuk lepas dari dirinya. Rafli tersenyum senang, merasa bahwa dirinya sudah menang. Rafli tinggal menunggu waktu yang tepat agar Raina akan kembali padanya. Rafli hanya menghitung hari-hari itu. Rafli rela menunggu Raina, untuk kembali padanya. Kapan pun hari itu akan datang, Rafli siap menunggu datangnya hari itu. Rafli tahu, hari itu memang akan terjadi. Rafli yakin sepenuhnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN